
“Kino…diculik katamu?!” Kaito terlihat sangat syok
Arkan yang mendengarnya tidak bisa menebak hal lain karena dia sudah memiliki dugaan siapa dan kenapa mereka melakukannya.
Kaito memang syok namun dia sedikit bingung dengan pernyataan Ryou.
“Ryou, tenangkan dirimu dulu. Apa maksudmu Kino? Bukankah dia sedang ada di kota dan tidak mengetahui kita ada di sini?”
“Kino di sini!! Anak-anak itu bertemu dengannya di altar dan Kino pergi ke tempat ini untuk mencari Theo!!. Mereka…”
Ryou menjadi diam setelah itu dengan perasaan hancur. Dia langsung duduk di lantai dengan air mata yang terus menetes.
“Ryou? Ryou!!” Kaito memanggilnya
“Kino…pergi ke tempat ini karena dia mencari Theo yang berpisah dengannya. Mereka…bicara bahwa Kino dibawa bersama dengan anak bernama Stelani dan Fabil. Wanita dan pria berotot yang melakukannya…”
“……!!!” Kaito kaget dan tidak bisa mengatakan apapun
Arkan yang mendengar nama Stelani dan Fabil langsung mendekati Ryou dan berlutut.
“Kau bilang Stelani dan Fabil?! Kau serius?! Anak-anak yang kau maksud…apakah mereka baik-baik saja?!”
“……” Ryou tidak menjawabnya sama sekali
Pikirannya penuh emosi dan seperti kehilangan sesuatu yang berharga, dia tidak bisa mengendalikan pikirannya dari rasa bersalah. Tiba-tiba dia menengok ke lantai di sampingnya dan bertanya dengan nada datar.
“Darah…siapa itu…?” Ryou bertanya dnegan tatapan matanya yang kosong tanpa cahaya
“Itu…Justin. Aku dan dia bertarung ketika kau pergi mengejar Theo dan…”
Mata Ryou seakan menemukan kembali cahayanya dan bertanya pada Kaito.
“Dimana dia sekarang?”
“Ryou…tenanglah…”
“Dimana iblis itu sekarang!!” Ryou berteriak ke arah Kaito
“……” Kaito dan Arkan hanya bisa diam dengan wajah panik dan cemas
Ryou seperti benar-benar kehilangan kendali atas tindakan dan perkataannya. Dia mungkin tidak menyadari bahwa dia terlihat marah sambil mengeluarkan air matanya.
Tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya, Ryou tidaklah bodoh dan hanya menunggu.
Jelas terlihat olehnya jejak darah yang panjang dan segar itu mengarah pada suatu ruangan dengan pintu tertutup. Tidak membutuhkan waktu lama untuk Ryou menyadarinya walau sedang dalam keadaan terpukul.
“Dia…ada di sana rupanya” Ryou berdiri dan berjalan menjauhi kedua orang yang berada di dekatnya
“Oi, Ryou!!” Kaito berdiri dan berjalan untuk mencegahnya
Arkan yang ikut berdiri juga ikut menghampiri mereka berdua. Terlihat tangan Ryou digenggam oleh Kaito demi menghentikannya.
“Kalau kau sudah tau dia ada di sana, apa yang mau kau lakukan?!. Lihat aku sekarang, Ryou!” teriak Kaito
“Lepaskan aku–”
“Ryou!!” Kaito mencoba memanggilnya kembali
Arkan hanya terdiam dengan ekspresi bersalah. Dia tidak mencoba mendukungnya namun dia juga tidak memiliki niat untuk menghentikannya. Sejak semuanya memang karenanya.
‘Seandainya aku tidak memberitau Seren-sama tenang ini…hal ini mungkin tidak akan terjadi. Tapi…jika aku menolaknya saat itu, akulah yang akan mati’
Setidaknya, itulah yang ada di dalam pikiran Arkan.
Tidak ada yang bisa disalahkan kecuali satu orang yaitu Justin. Kebodohannya itulah yang membuat semua orang menjadi terlibat dalam benang hitam bernama masalah.
Kaito tidak melepaskan tangan Ryou dan genggamannya semakin kuat.
“Aku sudah katakan bahwa dia sudah kukalahkan. Apa yang mau kau lakukan padanya?”
“Lepaskan aku–”
“Ryou!!”
“Aku bilang lepaskan aku!!” Ryou menatap mata Kaito sambil berteriak
Tidak lama setelah itu, Theo dan anak-anak lain akhirnya sampai. Dengan napas terengah-engah mereka berhenti di pintu masuk bar yang rusak.
“Ryou-nii!!” Theo yang sudah berdiri di depan pintu bar memanggil Ryou
Mendengar suara itu, Arkan langsung melihat ke belakang dan dia tidak bisa menyembunyikan perasaan leganya. Dia berjalan ke arah Theo dan Michaela kemudian berlutut dan memeluk mereka.
“Syukurlah kalian tidak apa-apa”
Hal yang sangat tidak biasa dilakukan oleh seorang bartender yang bahkan tidak peduli pada nyawa orang lain dan lebih mementingkan gajinya itu.
Arkan telah memiliki rasa simpati dan kemanusiaannya lagi sejak dia mendengar kalimat kejam yang dikatakan Kaito beberapa waktu lalu.
Selesai memeluk keduanya, dia melihat di belakang mereka ada anak-anak lainnya. Tanpa banyak menunggu, Arkan langsung meminta mereka masuk dan duduk untuk menenangkan diri.
Mungkin karena kejadian semalam, tidak ada pengunjung yang datang ke bar itu dan hal tersebut merupakan keberuntungan tersendiri dengan suasana berat seperti ini.
Belum selesai anak-anak itu masuk dan duduk, Ryou sudah membuat perasaan anak-anak itu kembali sedih dan hampir menangis keras dengan teriakannya.
“Lepaskan aku sekarang!! Kau ingin bertanya apa yang akan aku lakukan pada iblis itu? Akan kubunuh dia!! Akan kupotong tangan dan kakinya itu!! Akan kupisahkan kepalanya itu dari lehernya dan akan kuseret tubuhnya mengeliling area tempat ini dan kota!! Aku tidak akan pernah memaafkannya!! Kakakku…kakakku terluka karena dia!!”
“……”
Semua orang tidak bisa mengatakan apapun, termasuk Kaito.
Theo yang melihat betapa sedih dan marahnya Ryou hanya bisa memanggil nama “Ryou-nii” dengan nada pelan dan sendu sambil meneteskan air mata. Anak-anak lain yang mendengar teriakan itu terisak-isak menahan air mata dan suara tangisan mereka.
Bahkan Michaela memeluk pisau milik Kino sambil menangis.
Kaito mencoba sebisa mungkin untuk tenang agar tidak terpancing emosi Ryou.
“Aku tau kau membencinya. Aku sendiri juga membencinya, karena itu aku sudah mengalahkannya. Justin sudah tidak berdaya sekarang dan hanya tinggal menunggu waktu sampai dia benar-benar mati. Percayalah padaku”
“……!!!”
Termasuk Ryou, Theo dan anak-anak lain terkejut mendengarnya. Theo bahkan memberanikan dirinya menghampiri Kaito dan bertanya langsung dengan penuh antusias.
“Apakah itu benar, Kaito-nii? Gorilla itu…Justin itu sudah dikalahkan?”
“A, benar. Aku bertarung dengannya beberapa waktu lalu dan dia sudah tidak berdaya. Kalau kau mau lihat bukti paling nyata dari itu, di luar sana kedua lengannya yang kupotong masih ada. Kau bisa melihatnya sekalian tolong ambilkan untukku ya”
“Eh?”
Seperti sedang melawak. Di saat situasi sedang memanas, entah tingkat kepekaan Kaito memang buruk atau dia mengatakan hal itu secara sadar. Arkan bahkan sampai menutupi wajahnya dengan tangan sambil bergumam.
‘Aku tau bukan hanya aku yang akan menjadi gila di sini tapi dia juga. Dalam situasi seperti ini, bisa-bisanya dia menyuruh anak kecil melihat benda menyeramkan begitu dan bahkan meminta tolong untuk membawakannya kemari. Kau harus sadar diri, dasar bodoh!!’
Sepolos apapun anak kecil, pasti tidak akan ada yang mau melihat hal mengerikan itu. Tentu saja Theo tidak mengatakan apapun lagi dan mundur ke belakang dengan wajah pucat.
Dia pergi menuju Arkan dan bertanya padanya.
“Jadi…Arkan-nii…”
“Itu benar. Di dalam ruangan itu ada Justin-sama yang mungkin hanya tinggal menunggu kematiannya. Sekalipun dia bisa bertahan tanpa kedua tangannya, dengan luka separah itu dia mungkin tidak akan bisa melakukan perlawanan berarti”
Penjelasan Arkan lebih rasional daripada Kaito. Theo dan anak-anak lain merasa senang mendengarnya. Meskipun masih merasa sedih namun dengan berita tersebut membuat mereka tau bahwa Justin tidak bisa lagi menyakiti mereka.
Yang menjadi masalah tetaplah kenyataan bahwa Kino beserta dua anak lainnya dibawa oleh wanita bernama Seren dan pria berbadan besar berotot itu.
Tidak ada jaminan mereka akan selamat sekarang. Cara halus juga tidak mungkin bisa dilakukan dengan mudah. Satu-satunya cara adalah pergi ke tempat dimana mereka berada yaitu pasar gelap di wilayah hitam di tempat terasing.
Dia melepaskan genggaman tangan Kaito secara paksa dan berjalan menuju ruangan Justin.
“Ryou!!” Kaito berteriak dan mencoba menghentikannya
“Jangan menghalangiku” kata Ryou
Dia tidak membalikkan tubuhnya sama sekali dan hampir membuka pintu ruangan Justin. Sudah tidak ada hal lain yang bisa dilakukan Kaito kecuali menggunakan senjata terakhir.
“Aku sudah bilang padamu berkali-kali kalau Kino tidak akan menyukai adiknya menjadi pembunuh!”
-Deg
“……” Ryou terdiam
Tangannya yang hendak membuka pintu ruangan itu akhirnya berhenti.
Sepertinya segila apapun emosinya, nama sang kakak tetap bisa jadi senjata paling kuat untuk membuat Ryou menjadi tenang dan berkepala dingin. Harusnya seperti itu.
Nyatanya, Ryou lebih menganut paham manusia kebanyakan.
Di dunia ini, kadang ada orang-orang yang tidak bisa mengendalikan emosinya dengan baik jika menyangkut hal paling berarti untuknya, dan hal itu berlaku untuk dirinya sendiri.
“Aku tidak bisa melakukan apapun untuknya….Bahkan ketika aku telah bersumpah untuk melindunginya, aku….sama sekali tidak bisa melakukan apapun…”
Ryou mengatakan semua itu sambil menangis, namun dia tidak melihat Kaito yang berada di belakangnya.
“Ryou…”
Matanya tetap tidak berubah. Mungkin tangannya tidak lagi berniat untuk membuka pintunya tapi tidak dengan kakinya. Dia mundur sedikit dan dengan amarah yang telah memuncak dia menendang pintu itu pada bagian gagangnya hingga rusak. Tentu saja setelah itu pintunnya terbuka akibat serangan tersebut.
-BRAAAAK
Semua orang dalam bar kaget mendengar tendangan yang dilakukan Ryou.
Ini tidak seperti Kaito tidak bisa melakukan apapun menyaksikan hal itu, tapi karena dia juga mengerti betapa berharganya sang kakak untuk dirinya.
Dari tempatnya berdiri sekarang, Arkan sudah menjadi sangat panik sampai bergumam dalam hatinya.
‘Kalau dibiarkan, ini akan semakin gawat!!’
Arkan langsung dengan cepat berjalan ke arah ruangan Justin.
Di dalam ruangan, Ryou berjalan dan melihat ke bawah dengan tatapan dingin tanpa perasaan.
“……”
Tepat di bawah lantai tersebut, ada tubuh besar Justin yang masih mengeluarkan darah dah bernapas. Meskipun dengan napas yang terengah-engah dan luka di bagian wajahnya, itu tidak merubah ekspresi dingin Ryou.
“Ryou! Aku sudah katakan kalau aku akan melakukan apapun untuk melindungimu dan kakakmu!!”
“Lalu bagaimana kau akan menjelaskan ini semua?!” Ryou berbalik melihat Kaito dengan amarah
“……”
“Aku sudah berusaha untuk menjauhkan dia dari tempat ini!. Kita berdua bahkan melakukan semua pencarian jam saku itu diam-diam karena tidak ingin melibatkannya!. Aku berjuang untuk tetap membuat Kino tidak terlibat dalam masalah lagi, tapi apa kenyataannya sekarang!!. Bahkan aku tidak tau dia datang ke tempat ini dan terluka!!”
“Lalu apa yang mau kau lakukan pada Justin sekarang?”
“Akan kubunuh dia sekarang!! Akan kupotong seluruh bagian tubuhnya itu!!”
“Lalu kau akan membuang rasa kemanusiaanmu?!” Kaito berteriak dengan wajah serius
“Persetan dengan kemanusiaan!! Untukku, Kino lebih penting dari itu! Dia adalah satu-satunya kakak yang kupunya dan dia lebih penting dari apapun di dunia ini termasuk rasa kemanusiaan!! Bahkan jika kau ingin menyebutku pembunuh setelah ini, aku tidak peduli!!”
“……!!!” Kaito terkejut dan syok
“Kalian berdua jangan coba-coba menghancurkan tempat kerjaku lebih dari ini!!” Arkan berteriak ke arah Kaito dan Ryou yang ada di dalam ruangan Justin
Kedua orang itu diam dan melihat Arkan yang terlihat marah. Theo dan anak-anak lainnya pun ikut terkejut dan diam. Tidak ada lagi suara tangisan di dalam ruangan bar itu.
“Dari tadi aku sudah cukup mendengar drama kalian!! Kalian harus ingat ada lima nyawa yang harus diselamatkan di sini. Pertama adalah temanmu yang diculik, lalu Stelani dan Fabil, setelah itu kalian harus memikirkan cara agar aku selamat dari pemecatan dan terakhir…kalian harus menyelamatkan gajiku!!!”
“……” semua terdiam mematung
Pernyataan gila milik Arkan setidaknya bisa membuat suasana kembali tenang. Atau lebih tepatnya menjadi aneh.
“Ini hanya perkiraanku saja tapi kita masih belum terlambat”
“……!!!” Ryou dan Kaito terkejut
Ryou yang saat itu belum mengenal Arkan langsung ke arahnya dengan cepat dan memegang kerah pakaiannya dengan cengkeraman yang kuat.
“Apa maksudmu belum terlambat?! Katakan bagaimana bisa menyelamatkan Kino!!”
“Ji–jika itu adalah Seren-sama yang membawa ketiganya, mereka kemungkinan kembali ke wilayah hitam. Lebih tepatnya pasar gelap. Di sana adalah tempat yang dikelola langsung oleh Seren-sama beserta suaminya dan hanya menjual satu jenis barang yaitu manusia, baik itu yang masih hidup atau yang sudah mati.
“Manusia!!” Ryou terkejut
Dia ingat apa yang dikatakan oleh Theo ketika dia mengejarnya.
[Mereka akan membunuh teman-temanku dan menjual mereka!!]
Arkan melanjutkan kembali keterangannya.
“Karena mereka dibawa dalam keadaan masih hidup, itu artinya ada kemungkinan mereka tidak akan dibunuh sekarang. Paling tidak kedua suami-istri itu tidak akan langsung membunuh manusia hidup yang mereka dapatkan. Mereka hanya akan memotong dan memisahkan isi organ dalam manusia yang telah menjadi mayat”
“Tapi anak-anak itu mengatakan bahwa Kino tertusuk pada bagian perutnya!! Bagaimana kau bisa mengatakan hal seperti itu dengan tenang!!”
“Aku bilang selama dia masih hidup!! Kakakmu itu kemungkinan masih hidup sekarang dan dia masih belum mati, paling tidak percayalah pada kemungkinan itu dulu!!”
“……” Ryou menjadi sedikit tenang meskipun belum melepaskan cengkeramannya dari kerah baju Arkan
Melihat anak remaja di depannya sudah sedikit tenang, Arkan memutuskan untuk mengeluarkan semua keluhan dan protesnya.
“Kau adiknya, kan? Tidak bisakah kau yakin bahwa kakakmu itu baik-baik saja?! Jangan cengeng dan hanya bisa melampiaskan emosimu pada bar orang lain!! Kau kira siapa yang akan mengganti kerusakannya, hah!!”
“……” Ryou melepaskan cengkeramannya dan mundur dua langkah
Dengan merapikan pakaiannya kembali, Arkan melihat ke arah tubuh Justin di lantai lalu melihat Kaito dengan tatapan aneh.
“Kenapa melihatku begitu?” tanya Kaito heran
“Aku mungkin akan mulai disebut iblis juga mulai sekarang” gumam Arkan dengan suara pelan
“Apa yang kau bilang tadi?” Kaito mendekatinya dan bertanya
“Kaito, kurasa aku akan mengikuti saran dan ide gilamu itu”
“……?” Kaito terdiam dengan wajah bingung mendengar Arkan berkata begitu padanya
“Ini bisa disebut pembalasan dendam terselubung atau penyelamatan diri dari krisis berkepanjangan. Intinya, aku mencoba menolong di sini jadi tolong dukung aku!”
“Aku mengerti. Kalau kau punya rencana, katakan! Aku akan membantu. Ryou juga tidak akan keberatan. Nyawa temanku dan anak-anak itu sedang dipertaruhkan” Kaito menatap Arkan dengan serius
Dengan menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya, Arkan mengatakan ide cemerlangnya itu.
“Aku akan menjual Justin kepada Seren-sama untuk menyelamatkan mereka bertiga”
“……”
Seketika, seluruh ruangan menjadi hening.
******