Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 222. Event Horror: Kunci Untuk Menyelesaikan Event bag. 9



Beberapa menit sebelumnya, di sebuah ruangan kelas.


“Sekarang, kita harus memberitau mereka yang ada di gedung arsip” usul Kino


“Memberitau mereka itu…”


“Mahasiswa yang selamat, Song Haneul-san. Seperti yang kami ceritakan, juniormu yang selamat berkumpul di sana dan aku rasa mereka harus tau hal ini untuk membuat mereka waspada”


Song Haneul tersenyum. Terbesit sebuah ide agar semua mahasiswa yang ada di gedung arsip bisa percaya bahwa mereka telah selamat.


“Aku ingin mengirimkan bukti pada mereka”


“Bukti”


Song Haneul mengambil ponsel yang ada di tasnya.


“Kalian berkumpul di sini, kita berfoto sebentar”


“Foto? Di dalam ruangan gelap ini?” Kaito bertanya dengan wajah tidak yakin


“Tenang saja”


Dengan mengatur ponselnya sebentar, dia mendekati ketiganya lalu mengarahkan layar ponselnya.


“Sudah siap? Katakan keju!”


“Keju?” Kaito bingung


-Clik


Sebuah kilatan cahaya sedikit mulai muncul. Kaito sempat tidak bereaksi karena terkejut.


“Selesai. Coba aku lihat hasilnya. Hmm~bagus. Kita kirim”


Karena tidak ingin terlihat aneh dan mencurigakan, Kaito bertanya pada Kino dengan suara pelan.


“Itu tadi apa? Seperti kilatan cahaya lalu menghilang. Apa tadi itu proses pengambilan foto?”


“Song Haneul-san menggunakan flash mode untuk mengambil foto di ruangan gelap ini agar wajah kita bisa terlihat jelas di kamera”


“Begitu. Aku tidak tau. Teknologi di dunia asal kalian seperti ini, ya?”


“Benar. Mungkin setelah ini Kaito-san akan terbiasa”


“Aku rasa begitu. Aku akan mencoba membiasakan diri”


Begitu Song Haneul selesai mengirimkan fotonya ke aplikasi [Event Horror Apps], ada beberapa balasan yang diterima olehnya.


“Ini…”


Isi balasannya adalah sebuah beberapa foto dan ada pesan lainnya.


“Sunbae! Syukurlah kau selamat”


“[Foto]”


“Sunbae, aku senang kalian baik-baik saja. Mereka bertiga juga telah menyelamatkan kami. Kami semua ada di gedung arsip sekarang”


“Kenapa wajah kalian sedikit gelap? Dimana kalian sekarang?”


“[Foto]”


“[Foto]”


“Bagaimana keadaan di sana?”


“Kami menunggu kalian kembali. Kami menunggumu, Song Haneul-sunbae”


Membaca isi pesan yang diterimanya, dia terlihat begitu senang. Rasanya seperti ada harapan lain untuk bisa berjuang sedikit lagi.


“Mereka baik-baik saja…”


Wajah Song Haneul memerah karena menahan air mata bahagia. Ryou dan Kaito menghampiri Song Haneul yang sedang melihat layar ponselnya. Mereka ingin tau isi chat itu juga.


“Itu adalah orang-orang yang selamat. Sebagian sudah ada di gedung arsip itu bersama Baek Hyeseon” jelas Ryou


“Tampaknya mereka juga mengirimkan foto padamu sebagai bukti kalau mereka baik-baik saja”


Song Haneul terus melihat ponselnya dengan senyum.


“Bisakah aku menghubungi mereka juga? Aku ingin mendengar suara mereka”


“Tentu saja, Song Haneul-san. Kita memang harus memberitaukan situasi di luar pada mereka semua. Apa di daftar kontakmu ada yang kamu kenal selain Seo Garam-san?”


“Ha Jinan. Aku hanya memiliki nomor mereka berdua. Ha Jinan mengirimkan foto dari akunnya ke aplikasi [Event Horror Apps] yang artinya dia masih memiliki ponselnya. Aku akan mengubunginya”


Song Haneul mencari nomor yang dituju dalam kontak ponselnya dan menghubungi nomor Ha Jinan.


******


Di gedung arsip, Ha Jinan yang masih melihat layar ponselnya untuk menunggu balasan menerima panggilan masuk.


“Ini dari Song Haneul-sunbae!”


“Sunbae?!”


Semua orang mendekatinya kembali.


“Jinan, angkat dan aktifkan mode speaker!” seru Kim Yuram


“Aku mengerti”


-Tuut


“Halo, Song Haneul-sunbae? Sunbae!”


“Ha Jinan? Ini Ha Jinan? Jinan, kalian baik-baik saja?”


“Sunbae! Kami semua baik! Apa sunbae bersama Kino-ssi dan yang lainnya?”


“Benar. Kino, Ryou dan Kaito. Tapi, maaf karena aku belum bisa ke tempat kalian. Keadaan kami cukup sulit karena para zombie itu mulai menyebar ke seluruh tempat lainnya. Kemungkinan di tempat kalian juga”


“Eh?”


Seo Garam dan Kang Ji Song serta dua orang mahasiswa segera berjalan sambil mengendap-endap untuk mengintip keluar jendela.


Saat keempatnya mengintip keluar, terlihat ada beberapa zombie yang mulai berjalan di sekitar gedung arsip. Wajah keempatnya menjadi pucat.


“Mereka benar-benar di sini” ujar mahasiswa lainnya.


Mendengar hal itu, mendadak keadaan jadi tegang kembali. Mereka mulai berubah pucat.


“Bagaimana bisa? Mereka mulai menyebar ke jalan lagi?” tanya Kim Yuram panik


“Ha Jinan, matikan mode speakernya. Biarkan kau saja yang bicara dengan sunbae!” Kang Ji Song memperingatkan


Dengan panik, Ha Jinan langsung mematikan mode speaker. Sekarang hanya dia seorang yang bisa mendengar suara Song Haneul.


“Song Haneul-sunbae…”


“Jinan, tenangkan diri. Selama tidak ada yang nekat keluar atau bersuara, kalian akan aman. Kami berempat telah menemukan cara untuk menghentikan semua ini”


“Benarkah!” Ha Jinan tersenyum senang


“Jinan?” Kim Yuram bingung melihat senyum tersebut


“Memang beresiko untuk kami karena kami harus menghadapi mereka semua dalam jumlah yang mungkin sepuluh kali lipat lebih banyak. Tapi, hanya itu caranya”


Wajah senang Ha Jinan langsung berubah menjadi panik.


“Song Haneul-sunbae itu berbahaya! Kino-ssi dan yang lainnya bisa mati! Sunbae juga bisa mati!”


Kalimat Ha Jinan itu sontak membuat semua orang di ruangan ikut panik.


“Ha Jinan, ada apa?! Kenapa dengan Kino-ssi dan yang lainnya? Kenapa dengan Song Haneul-sunbae?!” Seo Garam segera berlari mendekati Ha Jinan


“Jinan, aku tidak bisa menjelaskannya secara detail. Aku mohon, kalian jaga diri kalian dan jangan sampai melakukan hal gegabah. Tolong, doakan kami berempat ya”


“Song Haneul-sunbae…aku pasti akan mendoakan kalian. Kami akan mendoakan kalian! Kalian harus selamat! Aku ingin bertemu denganmu. Aku ingin bertemu Kino-ssi dan yang lain”


“Tentu Jinan, tentu. Sudah waktunya kami pergi. Sampaikan salamku pada semua yang ada di sana. Dan…maafkan aku karena berakhir seperti ini”


“Sun–”


Panggilan berakhir.


******


Di ruang kelas tempat Kino dan lainnya bersembunyi, Song Haneul baru saja menutup telponnya. Dia terlihat hampir menangis.


“Apa kamu baik-baik saja, Song Haneul-san?” Kino bertanya dengan wajah khawatir


“Aku tidak apa-apa”


Setelah memasukkan kembali ponselnya, Song Haneul mulai terlihat lebih percaya diri. Dia bahkan bisa mengatakan kalimat yang menunjukkan perubahan emosinya.


“Kita harus segera keluar dari sini. Aku ingin bertemu dengan hoobae dan lainnya. Kita harus menghentikan kegilaan ini”


“Memang itu yang akan kita lakukan sekarang” Ryou tersenyum penuh percaya diri


Kino mengembalikan laptop milik Song Haneul setelah selesai. Setelah itu, Kino bertanya pada semuanya.


“Apa kalian semua sudah siap?”


“Siap. Pokoknya ingat rencananya ya” jawab Ryou dengan penuh percaya diri


“Rencana? Ryou, kita tidak membahas rencana tadi”


“Apa maksudmu, Song Haneul. Kita membahasnya barusan. Rencananya adalah penggal kepala mereka semua yang menghalangi. Cukup itu saja”


“Penggal kepala ya…”


“Benar. Penggal, potong serta hancurkan kepala mereka sampai tidak bisa bergerak. Kau mengerti itu kan, Song Haneul?”


“Aku mengerti. Aku akan berusaha untuk bertarung seperti kalian”


“Tidak perlu benar-benar seperti kami, yang terpenting kau cukup mampu untuk melindungi dirimu sendiri. Kami juga akan sebisa mungkin melindungimu”


“Baik, aku mengerti Kaito”


Kaito mengangguk. Mereka mulai bergerak.


Setelah memindahkan semua kursi dan meja dengan sangat hati-hati, Kaito yang berada di depan sudah siap membuka pintunya.


“Begitu aku buka pintunya, kita lari menuju pintu keluar. Apapun yang terjadi, ingat untuk membunuh semua yang mencoba mendekati kita”


“Mengerti”


Semua menjawab Kaito dan pintu segera dibuka.


“Sekarang lari!!”


Mereka langsung berlari tanpa peduli dengan suara yang diciptakannya. Sepanjang lorong tersebut sudah ada beberapa ekor zombie di depan. Dengan cepat, Kaito langsung menebas tubuh mereka menjadi dua.


Mengikuti hal yang dilakukan Kaito, Ryou juga membunuh zombie yang mendekatinya dengan memotong bagian perut mereka dengan pisau daging di tangannya, sedangkan Kino menghentikan pergerakan para zombie tersebut dengan menusuk wajah atau leher mereka hingga terjatuh.


“Bukannya kita potong kepalanya?” Song Haneul bertanya pada Ryou


“Yang penting tidak bergerak lagi. Memangnya mereka bisa jalan kalau tidak punya kaki?” Ryou yang menjawab


“Tapi tadi kau bilang hancurkan dan potong kepalanya?”


“Kau itu jangan terlalu kaku. Intinya mereka tidak bergerak, paham tidak?”


“Kalau menjelaskan itu jangan setengah-setengah, Ryou!”


“Kau kan programmer, wanita lagi. Seharusnya yang seperti itu sudah paham. Kalian para wanita bisa menerjemahkan semua bahasa isyarat dari laki-laki. Masa harus benar-benar detail?" Ryou seperti sedang mengajak Song Haneul ‘berdiskusi hebat’ sekarang.


“Tidak ada hubungannya dengan programmer dan wanita!” Song Haneul jadi berdebat dengan Ryou


"Kalau begitu jangan dipermasalahkan! Praktek itu lebih penting dari teori!”


Kaito yang berada di depan langsung bicara dengan keras pada dua orang di belakangnya.


“Bisakah kalian berdua diam sebentar? Kita hampir sampai di pintu keluar!”


Kino hanya menghela napas panjang.


Setelah keluar dari pintu gerbang, keempat remaja itu telah disambut oleh ‘tamu kesayangan’ lainnya. Kaito yang ada di paling depan sampai memberikan komentar 'hangatnya' untuk penyambutan tersebut.


"Aku sudah muak bertemu mereka lagi"


******