
Arkan mengabaikan kedua lengan milik Justin dan lanjut berjalan. Cara berjalannya mirip seperti seorang ballerina dengan alasan utama yang sangat penting, sepatunya tidak boleh kotor lebih dari ini.
Bukan hanya karena noda darah dan kedua lengan itu saja yang harus dihindari, bisa dilihat juga kalau sampah yang sebelumnya ada di kantong besar juga berserakan di sekitar tempat itu.
“Padahal membutuhkan waktu lama untuk memungut sampah ini dari ruangan Justin tadi. Rasanya usahaku sia-sia sekarang. Menyebalkan!!” gerutu Arkan
Sambil menatap semua yang berserakan di jalan, Arkan langsung mencoba lari dari kenyataan dan berpura-pura tidak melihat hasil kerja nyata dari Kaito beberapa waktu lalu.
“Pokoknya itu semua bukan salahku! Akan kuminta si Kaito itu yang membersihkan semua pecahan botol serta plastik yang berserakan! Dia juga yang harus memungut kedua lengan Justin!” gerutu Arkan
Setelah berhasil melewati semua ‘rintangan’ berat agar sepatunya tetap bersih, dia berjalan normal kembali dan tanpa banyak berpikir panjang Arkan mulai berlari.
‘Ini bukan saatnya untuk membuang waktu! Kuharap Riz tidak sedang tidur. Meskipun aku harus siap menghadapi reaksi berlebihan darinya, setidaknya hanya cara ini yang bisa kulakukan!! Sejak dialah yang memiliki akses khusus untuk bertemu dengan pasangan suami-istri itu selain si gorilla’ kata Arkan dalam hati
Tidak salah jika Arkan berpikir begitu sejak Riz adalah salah satu pedagang di pasar gelap, tentu saja dia memiliki akses untuk selalu bertemu dengan pengelola tempat tersebut.
Dengan berlari secepat yang dia bisa, Arkan sudah tidak mau lagi membuang-buang waktu.
Matahari semakin tinggi meskipun teriknya cahaya siang tidak bisa tersalurkan dengan baik di wilayah asing itu dan hanya masalah waktu sampai keberuntungan Kino dan kedua anak itu habis dan benar-benar berakhir menjadi barang dagangan di pasar gelap itu.
Arkan berpikir tentang banyak kemungkinan tidak menyenangkan yang akan terjadi pada ketiga sandera tersebut.
‘Meskipun aku mengatakan bahwa kemungkinan ketiganya belum akan dibunuh, sebenarnya aku tidak yakin 100%. Habis kalau dipikirkan kembali dengan logika, mana ada pembunuh yang akan menunda dirinya terlalu lama untuk membunuh mangsanya? Kalau aku jadi Seren-sama, aku tidak akan membuang-buang waktuku untuk menunggu. Akan langsung kupotong mereka lalu…oops!!’
Arkan berhenti berlari sebentar dan menutup mulutnya dengan satu tangannya. Ekspresinya menjadi terkejut dan pucat.
“Apa yang kau pikirkan itu, dasar bodoh!! Ini sama saja kau berdoa agar ketiga orang tersebut cepat mati!! Tidak tidak tidak, kau jangan berpikiran negatif, Arkan!! Kau harus ingat hukum tidak tertulis di sini, dimana firasat dan pikiran buruk akan lebih cepat terjadi dibandingkan harapan baik!”
Selesai meluruskan pikirannya kembali, Arkan kembali berlari dan kali ini dia tidak mau meracuni pikirannya dengan hal-hal aneh. Yang dilakukannya hanya berlari agar bisa sampai di tempat Riz.
******
Di dalam bar, Kaito masih merasakan sensasi aneh. Sama seperti perasaan benci hingga nafsu membunuh Justin yang tiba-tiba muncul beberapa waktu lalu, sekarang dia juga merasa terburu-buru harus menyelamatkan Kino dan yang lain.
‘Ini…sama seperti beberapa waktu lalu tapi rasanya jauh berbeda. Kenapa aku terus merasa seperti dikelilingi perasaan aneh?’ gumamnya dalam hati sambil terus mencoba menenangkan dirinya
Kaito adalah tipe yang selalu mencoba menempatkan dirinya sebagai orang yang berpikir dahulu sebelum bertindak, meskipun tidak selalu diterapkan dalam beberapa kasus nyata yang dihadapi.
Tapi perasaan ini seperti bertentangan dengan pemikirannya itu.
Kaito bahkan masih memikirkan hal itu di dalam pikirannya.
‘Sejujurnya aku masih memikirkan apa yang dikatakan tuan bartender mengenai hal-hal aneh yang kukatakan padanya. Apakah aku memang sempat dikuasai oleh perasaan aneh semacam ini sebelumnya? Aku bahkan tidak bisa mengingat beberapa kejadian yang kulakukan ketika bertarung dengan Justin atau setelahnya. Ini tidak bagus untukku sama sekali’
Semakin lama dia memikirkan hal-hal tersebut, semakin dia merasa begitu tergesa-gesa seakan tidak bisa menunggu lebih lama. Dengan mengepalkan kedua tangannya begitu kuat, dia mencoba menahan dirinya untuk tidak bertindak diluar kendalinya.
‘Tenang Kaito, kau harus tenang. Ini sama seperti sebelumnya. Kendalikan dirimu agar tidak–’
-JLEEEB
“……!!!” suara itu mengejutkan Kaito
Belum selesai dengan isi pikirannya, dia merasa mendengar sesuatu. Seperti ada benda yang tertancap senjata atau semacamnya.
Kaito menengok ke belakang dan dia begitu kaget dengan pemandangan yang dia lihat.
“Ke–kenapa…” Kaito terlihat begitu syok
Selama dia bertarung dengan pikirannya sendiri, ternyata dia tidak menyadari bahwa Ryou pergi ke arah tubuh Justin yang tidak berdaya. Dengan mencabut pedangnya perlahan, dia menusuk leher Justin agar tidak bisa berteriak. Tentu saja setelah itu dia mati.
Mata Ryou dingin dan dia tidak terlihat menyesalinya sama sekali. Darah segar keluar semakin banyak tidak lama setelah pedangnya dicabut oleh Ryou. Sekali lagi terdengar suara pedang yang menusuk tubuh Justin.
-JLEEEB
Ryou menusuk leher Justin sekali lagi. Demi bisa memberikan tubuh besar Justin rasa sakit yang lebih lama, dia melakukannya sebanyak tiga kali di tempat yang sama.
Kini, Justin telah menjadi mayat sekarang. Bersamaan dengan itu, Ryou memiliki gelar baru di depan namanya.
“Ryou!!!” Kaito berteriak
Dia menghampiri remaja itu dan langsung menghampiri Ryou. Dengan cepat Kaito mengambil pedang yang dipegang olehnya dan melemparnya ke pojok ruangan tersebut.
Ryou yang pada awalnya terlihat kosong dari sorot matanya dan tidak merespon gerakan Kaito seperti biasanya akhirnya kembali mendapatkan kembali cahaya matanya dan dia mulai menyadari apa yang dia lakukan.
**
Dari luar ruangan Justin, Theo dan anak-anak lain yang mendengar teriakan Kaito langsung terkejut dan berhenti menangis. Kali ini, bukan hanya Theo yang penasaran dengan apa yang terjadi namun semua anak-anak itu menjadi penasaran.
Michaela mulai berlari menuju ke ruangan tersebut sebelum akhirnya Theo menghentikan dan melarang mereka untuk pergi ke sana.
“Jangan membuat Ryou-nii dan Kaito-nii lebih sedih dari ini”
“Tapi, Theo-niichan–”
“Michaela, dengarkan aku” Theo menatap tajam Michaela yang mencoba membantahnya
Theo melanjutkan apa yang ingin dikatakan olehnya agar mereka semua mengerti situasi sulit yang ada di ruangan Justin tersebut.
“Kalian harus tau bahwa di dalam itu ada Justin-sama, tapi dia tidak lagi seperti Justin-sama yang kita tau. Kalian tidak boleh melihat hal kejam dan mengerikan lebih dari ini atau kalian tidak akan bisa hidup normal lagi!”
“Theo-niichan..” Michaela seperti ingin menangis mendengarnya
Semua anak-anak itu akhirnya menghilangkan rasa penasaran mereka dan memeluk Theo dengan tubuh gemetar.
“Stelani dan Fabil akan baik-baik saja. Kino-nii juga akan baik-baik saja. Aku yakin itu!”
Cahaya bandul kalung itu masih belum hilang. Walaupun redup, itu benar-benar masih bercahaya. Sungguh aneh karena tidak ada satupun dari mereka termasuk si pemilik yang menyadari cahaya indah itu.
**
“Ryou, apa kau sadar apa yang kau lakukan itu?!” Kaito menggenggam erat pundak Ryou sambil melihatnya dengan tatapan serius
Jawaban Ryou yang tenang seakan tidak menyesal membuat Kaito semakin marah dan menamparnya.
-Plaak
“Kenapa kau melakukannya, dasar bodoh?! Apa yang harus aku katakan pada Kino nanti?! Sudah kuperingatkan bahwa kakak kesayanganmu itu akan sedih mengetahui adiknya menjadi pembunuh! Kenapa kau tidak bisa berpikir dengan kepala dingin!!”
“Kau tidak mengerti perasaanku!!” Ryou menepis tangan Kaito dari pundaknya sambil berteriak
“Ryou…” Kaito terkejut mendengarnya
“Karena iblis ini, Kino menghilang! Karena iblis ini, aku tidak bisa melindungi kakakku!! Karena iblis ini, aku bahkan tidak tau bagaimana nasibnya sekarang. Karena iblis ini, aku–”
Belum selesai dengan semuanya, Ryou tiba-tiba menangis lagi. Dia tertunduk dan mulai menyalahkan dirinya sendiri.
“Bukan. Ini semua karena aku lemah. Aku tidak bisa melindunginya karena kelemahanku. Ini semua salahku. Hiks…Karena aku lemah…karena semua ini…adalah salahku…Kino…Kino…”
Ryou terlihat begitu syok dan sulit menerima situasi ini.
Kaito yang awalnya begitu marah sekarang justru merasa kasihan padanya. Tamparan yang dia lakukan pada Ryou bukan karena dia ingin balas dendam atas kejadian sebelumnya di ‘dunia malam’, ini murni karena dia ingin menyadarkan remaja di depannya sekarang.
Tapi sekarang, Kaito menyesal sudah menamparnya dan berbalik menyalahkan dirinya sendiri.
“Ini salahku karena tidak bisa melindungi kalian. Maafkan aku. Seharusnya akulah yang melindungi kalian berdua”
Kaito melihat Ryou dengan tatapan dan ekspresi bersalah.
Melihat remaja itu menangis dan menyalahkan dirinya sendiri, sepertinya situasi tidak akan berakhir baik.
Kaito menghela napas sebelum akhirnya dia berjalan ke pojok ruangan itu untuk mengambil pedang yang dilemparnya tadi dan membersihkan noda darah yang ada pada mata pedangnya.
Dia berjalan dan meraih tangan Ryou untuk mengembalikan pedang tersebut ke tangannya.
Ryou mulai sedikit tenang dan berhenti menangis sambil melihat tangannya yang telah menggenggam pedangnya kembali.
“Kurasa kau benar, aku tidak mengerti perasaanmu dengan baik. Aku benar-benar lupa kalau kau begitu protektif pada kakakmu sehingga bisa melakukan hal gila semacam ini”
“……” Ryou terdiam mendengarkan Kaito
“Aku ingin sekali menyalahkanmu lagi karena sudah membunuh Justin. Akan tetapi setelah dipikirkan kembali, kondisinya sebelum mati juga karena ulahku. Bisa dikatakan bahwa akulah yang sudah membuatnya sekarat hingga dia bisa dengan mudah dibunuh”
“……”
“Jadi, aku hanya ingin bilang kalau ini bukan hanya kesalahanmu. Aku juga seperti telah membunuhnya perlahan. Bukan kau yang membunuh Justin, tapi kita. Kita berdua yang telah membunuhnya dan itulah kenyataannya. Aku tidak akan membiarkanmu memiliki gelar baru di depan namamu sendirian” Kaito tersenyum untuk menghibur Ryou
Mata Ryou menjadi lebar karena terkejut mendengarnya.
Seakan kalimat itu menyelamatkannya dari rasa bersalah, Ryou mulai terlihat begitu tenang. Air matanya berhenti mengalir dan cahaya matanya terlihat bersinar seperti mendapatkan harapan baru.
Ryou hanya membutuhkan dukungan mental untuk sekarang ini dan Kaito melakukannya dengan baik.
“Kau tidak lupa apa yang kita bicarakan ketika berbelanja semalam, kan? Kau dan aku harus minta maaf pada Kino setelah ini. Kita berdua harus minta maaf karena sudah menyembunyikan rencana kita sebelumnya dan karena sudah membuatnya dalam bahaya”
Kaito mencoba membuat Ryou tenang dengan mengingatkannya akan beberapa hal baik yang berkaitan dengan Kino.
Ryou yang awalnya diam tanpa merespon kata-katanya mulai membuka mulutnya.
“Aku…akan minta maaf padanya karena sudah menjadi adik yang buruk untuknya”
“Itu tidak benar. Kau adik yang baik. Kita hanya perlu menambahkan daftar permintaan maaf kita kepadanya. Permintaan maaf karena sudah menjadi rekan yang melakukan pembunuhan bersama”
Ryou tersenyum mendengarnya sambil meneteskan air matanya.
“Artinya aku tidak bisa lagi memanggilmu kriminal, ya?”
“Tentu saja tidak bisa. Karena sekarang kau juga seorang kriminal. Hanya Kino seorang yang boleh memanggilku kriminal sekarang, meskipun aku yakin dia tidak akan pernah memanggilku begitu” Kaito membalasnya dengan senyuman
Terdengar seperti kalimat hiburan yang cukup sarkas. Namun, justru karena sikap Kaito yang seperti ini membuat Ryou seperti memiliki seorang kakak baru setelah Kino.
Selesai dengan semua itu, kali ini Ryou benar-benar menghapus air matanya dan mulai bisa mendapatkan ketenangannya. Dia memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung pedang dan menatap mayat Justin yang masih mengeluarkan darah dengan tatapan jijik.
“Kita akan menjual iblis berwajah gorilla ini, kan?” tanya Ryou dengan ekspresi serius
“Itu yang direncanakan tuan bartender. Bagaimanapun juga, dialah yang menyewa wanita bernama Seren untuk menemukanku dengan memberikan Theo dan teman-temannya sebagai bayaran”
“Dasar iblis!. Bahkan setelah matipun, dia tetaplah iblis!” ejek Ryou sambil menginjak mayat Justin
Kaito berpikir sebentar. Setelah beberapa menit, dia mulai memanggil Ryou dengan nada serius.
“Ryou, ini hanya dugaanku saja tapi aku ingin menyampaikan sesuatu padamu”
“Apa itu?”
“Mengenai hal ini, aku ingin kau mendengarkan rencana B dan C yang aku punya”
“Rencana B dan C?” Ryou terlihat serius
Di dalam ruangan itu, terlihat Kaito sedang mengatakan sesuatu. Ekspresi Ryou mulai berubah beberapa kali. Sampai akhirnya ekspresi terakhir yang ditunjukkannya adalah sebuah senyuman sinis dengan sorot mata tajam.
“Aku mengerti. Kalau memang seperti itu, aku akan sangat senang melakukannya”
“Kau yakin tidak akan menyesali apapun?” Kaito bertanya kepada Ryou dengan wajah cemas
“Sudah sangat terlambat menyesali apapun. Sejak aku dan Kino datang ke ‘dunia’ yang tidak jelas ini, tujuan kami adalah menemukan jalan kembali ke Jepang. Aku akan menerima rencanamu itu”
“Aku mengerti. Kalau begitu, kita harus menemui Theo dan yang lain. Aku yakin masih ada satu atau dua hal yang bisa kita dapatkan sebagai keterangan”
Ryou mengangguk dan keluar dari ruangan itu bersama Kaito.
******