
“Sejujurnya aku tidak pernah tau bahwa ada ruangan rahasia di dalam gedung ini” kata Xenon
“Tapi kami menemukannya. Ruangan putih tanpa jendela namun memiliki suhu yang cukup dingin dengan tiga pintu tanpa lubang kunci” jelas Kaito kembali
“Pintu tanpa lubang kunci?”
“Xenon-san, ketiga pintu tersebut kemungkinan menuju ruang rahasia lainnya. Kami bisa keluar dari sana karena memilih pintu yang dialiri sihir airku. Itu juga Kaito-san yang memilihnya”
“Kaito yang memilih? Kau ternyata hebat juga” puji Xenon. Tampaknya dia sudah belajar mengenai tingkat keberuntungan Kaito yang sedikit lebih rendah darinya.
Bukannya senang, Kaito memilih diam dengan tatapan datar. Dia tidak mau menanggapi komentar apapun mengenai tingkat keberuntungannya itu.
Kino kembali bicara, “Pintu yang kami pilih membawa kami ke sebuah ruangan lain yang tidak kalah dingin dan…ada sebuah bola kristal besar dengan sebuah buku di dalamnya”
“Buku?”
Xenon mulai berpikir sekarang. Di sini, dia adalah orang polos yang tidak mengetahui apapun mengenai ruang rahasia itu juga soal bukunya. Tapi, ada sebuah tebakan yang muncul dalam benaknya.
“Ar…tifact?” gumam Xenon pelan
“Rupanya Xenon-san juga berpikir demikian ya?”
“Kino, kau juga?” Xenon terkejut
“Aku juga berpikir demikian. Benda sepenting itu tidak mungkin disimpan di tempat yang mencolok dan dari letak ruangannya, benda itu benar-benar jauh dari jangkauan manusia. Aku ragu pernah ada yang ke sana selain kami”
“Setidaknya jika bukan kami bertiga, pasti pemegang otoritas lain yang ke sana selain Dewan Sihir”
Penjelasan Kino masuk akal. Sebagai anggota divisi, Xenon yang merupakan anggota Dewan Sihir tidak tau menau soal ini. “Aku tidak yakin juga, tapi bisa jadi Lucas-sama tau soal ini. Atau mungkin juga tidak”
“Xenon, memang kau tidak tau Artifact apa yang tersimpan di Akademi Sekolah Sihir ini?” tanya Ryou
“Tidak. Aku tidak tau. Selain itu, hanya ada dua Artifact yang aku tau. Dread Scythe milik Mark-sama dan pedang bernama [Artifact: Celestial Sword]. Benda itu disimpan di istana raja di wilayah barat”
“Begitu”
“Tapi bukannya ada lagi?” Ryou mencoba mengoreksi
“Ada di istana namun aku tidak tau” jawab Xenon
Ketiga remaja dari dunia lain itu saling berpikir satu sama lain.
“Berarti asumsikan bahwa buku itu adalah salah satu dari Artifact yang dicari Rebellenarmee”
“Dan mereka mungkin akan mencari lokasi keberadaan buku itu”
“Sekarang, kita sudah menemukan tempatnya. Tinggal mencegah Vares dan teman-temannya mendapatkan itu semua. Juga menggagalkan rencana pembunuhan Lucas Xelhanien”
Melihat ketiga teman barunya bisa sangat diandalkan, Xenon merasa sangat senang.
‘Aku beruntung bertemu dengan mereka. Karena mereka, aku jadi bisa mendapatkan informasi yang sangat berharga. Semua ini mungkin belum diketahui oleh para petinggi Dewan Sihir lain’
‘Ini bisa sangat berguna bagi Lucas-sama dan Rexa-sama nantinya’ pikirnya dalam hati
Xenon bertanya pada mereka, “Apakah kalian mengizinkanku untuk memberitau semua informasi ini kepada para kapten nantinya?”
“Tentu. Jika itu membantu. Namun tetap pada perjanjian utama, mengenai pencarian ingatanku, tolong dirahasiakan untuk saat ini. Hanya itu yang tidak boleh sampai ketauan. Tapi jika terlanjur…apa boleh buat”
“Hmm?”
“Niatnya aku ingin mempertemukanmu dengan Rexa-sama, Kaito. Sejak permata ingatan itu hanya kau yang tau, mungkin akan lebih cepat begitu”
Kaito mengangguk.
Sedikit informasi menarik lainnya diberikan oleh Ryou. Kejadian yang diceritakan selanjutkan kepada Xenon adalah soal Misha yang terlibat pertengkaran dengan Emilia dan dirinya.
Xenon langsung berdiri dan berubah syok seketika, “Kau apa tadi?!”
“Aku memaki dia di depan umum dan mendorongnya hingga jatuh karena dia menampar kakak gadis kecil sombong itu dan bicara seenaknya”
Xenon seperti terkena serangan jantung. Bukan main syok yang dialaminya sekarang. Tangannya langsung dingin dan dia juga berubah pucat hingga duduk kembali di atas kasurnya sambil menundukkan kepala.
“Jangan bercanda. Ini bisa jadi serius…” gumamnya sambil menutupi wajahnya
Wajah syok itu jelas membuat naluri Kino mulai bangkit. Dia duduk di samping Xenon dengan ekspresi cemas dan berusaha menenangkannya.
“Xenon-san, kamu tidak apa-apa? Apa kamu merasa pusing?”
“Tidak…tidak apa-apa, Kino. Hanya saja aku…aku seperti akan berhenti bernapas tadi. Ini–...bagaimana bisa hal ini terjadi?”
Dengan santainya Ryou berkata, “Tentu saja bisa. Selagi aku masih ada di sana, dia tidak akan bisa berkata seenaknya. Kuberitau ya, kakakmu itu punya kelainan jiwa karena memilih orang seperti itu sebagai tunangannya!”
Xenon semakin lemas mendengar kalimat Ryou. Dia bahkan menjatuhkan tubuhnya ke bantal dengan posisi wajah yang tenggelam ke bantal tidurnya.
“Aku akan berakhir di sini. Maafkan aku semuanya, selamat tinggal” katanya
“Oi! Jangan berdrama ya! Tidak lucu!”
“Kau yang berdrama! Kau tidak tau bahwa itu akan membuatku dalam masalah serius!”
“Masalah serius?!” Kino terkejut mendengarnya
Xenon kembali bangkit dan bercerita sedikit soal hal yang tidak pernah diceritakan sebelumnya kepada mereka.
“Misha-sama itu bukan tunangan pilihan Rexa-sama, melainkan pilihan ibunya”
“Ibu…nya?”
Ketiganya bingung. Kata ‘nya’ dalam konteks ucapan Xenon seperti merujuk pada orang lain. Itu artinya orang itu bukanlah orang terdekat Xenon atau bisa dibilang bukan ibu kandung.
“Apa artinya itu?”
“Aku ini adalah adik tiri dari Rexa-sama dan bukan adik kandungnya”
“......!!”
Akhirnya, sebuah fakta yang pernah membuat Kino dan lainnya penasaran bisa diketahui sekarang.
“Aku adalah anak dari hasil perselingkuhan antara Marquis van Houdsen dengan pelayannya sendiri. Ibuku adalah pelayan keluarga tersebut sebelum akhirnya menikah dengan Marquis”
Syok mendengar cerita itu membuat ketiganya tidak bisa berkata apapun.
******