Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 216. Event Horror: Kunci Untuk Menyelesaikan Event bag. 3



Sementara Ryou dan Kaito yang masih asyik membunuh zombie di belakang mulai mengkhawatirkan Kino dan Song Haneul.


“Dimana kakakku?”


“Di depan. Aku sudah memintanya untuk pergi lebih dulu dengan Song Haneul”


“Kau bodoh ya! Di depan sana banyak yang lebih agresif dari mereka semua yang sedang kita bunuh sekarang!” Ryou jadi marah-marah pada Kaito


“Itu karena kau sendiri sibuk dengan mereka semua. Lebih baik kita susul mereka!”


Sementara di tempat Kino dan Song Haneul sekarang, keduanya harus menerima kenyataan bahwa yang ada di depan mereka sekarang adalah zombie Lee Seung Chan.


“Seung…Chan…” Song Haneul begitu syok melihatnya


Begitu dipanggil olehnya, zombie Lee Seung Chan langsung berteriak dan mencoba menyentuh Song Haneul.


“Kyaa!!!”


“Song Haneul-san!!”


Kino reflek menarik tangan Song Haneul dengan cepat dan langsung mengarahkan ujung tongkat pel yang terikat pisau kepada zombie tersebut. Pisau tersebut berhasil menusuk lehernya dan membuat zombie Lee Seung Chan berhenti bergerak sejenak.


“Song Haneul-san, sebaiknya kamu lari dari sini sekarang!!” ucap Kino dengan wajah panik


“Seung…Chan…itu benar-benar dirimu…Seung Chan?”


“Song Haneul-san…” Kino mulai terlihat panik


Dia menyadari bahwa Song Haneul begitu syok hingga tidak bisa melangkahkan kakinya sedikitpun.


Ryou dan Kaito sempat mendengar teriakan Song Haneul.


“Itu teriakan Song Haenul! Kaito, kita harus cepat! Kino bisa jadi dalam bahaya!”


“Aku mengerti”


Dengan cepat, Kaito berlari sedikit di depan Ryou sambil memenggal kepala zombie yang mendekatinya. Ryou juga tidak segan-segan memotong tangan dan tubuh zombie yang berada dalam jangkauannya.


Kino yang saat ini sedang mencoba menahan diri untuk menarik pisaunya mulai terlihat tidak tenang.


‘Jika aku memenggal kepalanya di depan Song Haneul, aku khawatir dia akan sangat syok. Tapi, ini bukan waktunya untuk ragu. Apa yang harus aku lakukan?’


Pikirannya mulai memperlihatkan ekspresi keraguan yang sangat pekat. Song Haneul yang memegang pisau dengan gemetar mulai menangis.


“Kenapa…aku harus bertemu denganmu dalam keadaan seperti ini, Seung Chan? Hiks…”


“Song Haneul-san…ini bukan waktunya untuk memikirkan hal itu! Cepat lari dari sini!”


Song Haneul masih belum bergerak. Keadaan ini diperparah dengan banyaknya zombie yang semakin mendekati mereka berdua.


-GRAAA


Dalam waktu singkat, para zombie itu seperti akan membentuk lingkaran yang mengelilingi keduanya. Kino semakin panik dan tidak memiliki pilihan lain.


Dengan menggenggam erat tongkat pel di tangannya, dia memutar tongkat tersebut seperti gerakan memutar tombak dan langsung menariknya ke atas.


Serangan Kino berhasil membuat bagian leher zombie tersebut robek hingga menciptakan belahan panjang pada bagian tengah wajah.


Darah mulai keluar dari wajah dan leher zombie Lee Seung Chan.


Kino tidak lagi menghiraukan hal itu dan menarik tangan Song Haneul. Sambil membunuh dan menyerang zombie-zombie lain yang bermaksud mendekatinya, dia terus menyerang mereka tanpa melepaskan tangan perempuan malang tersebut.


“Lari! Jangan memikirkan hal lain dan lari! Sudah terlambat menyesali semuanya! Kita harus selamat dan menghentikan semua ini! Bukankah Song Haneul-san juga berpikir begitu?”


“……!!” ucapan Kino membuat Song Haneul tersadar


Jelas dia sudah berjanji untuk tidak meninggalkan penyesalan setelah nasib buruk yang menimpa dua sahabatnya tersebut.


‘Apa yang membuatmu begitu lemah, Song Haneul? Aku tidak bisa seperti ini!’ pikirnya


Kaito dan Ryou yang berhasil menyusul kedua orang itu, segera memotong dan memenggal kepala zombie yang ada dalam jangkauan senjatanya.


“Kino! Song Haneul!” teriak Kaito


Kino menengok ke belakang dan hampir berhasil keluar dari pintu gerbang. Tidak lama setelah itu, ada zombie lain yang mencoba mendekatinya dari arah depan.


“Itu…Park Cho Joon-san?!” Kino terkejut


Dia sempat berpikir untuk menghentikan langkahnya, namun hal itu batal dilakukan setelah kepala Park Cho Joon terlempar dan jatuh ke tanah.


-Pluuk


Kepalanya menggelinding tepat di depan kaki Kino kembali. Di sampingnya, dia melihat Kaito sedang bersiap dengan pedangnya.


“Dia sudah bukan masalah lagi. Kita keluar dari sini sekarang”


“……” Kino hanya diam dan berlari kembali


Di belakang, Ryou yang masih sibuk memenggal kepala zombie untuk mengurangi jumlah mereka melihat seekor zombie yang tengah terdiam dengan luka di wajahnya.


Dengan menggenggam erat pisaunya, dia langsung menuju zombie tersebut dan mengayunkan pisaunya untuk membunuh zombie tersebut.


-CRAAAT


Darah mengenai pipi kanan Ryou. bersamaan dengan kepala Lee Seung Chan yang jatuh ke tanah, tubuhnya ikut jatuh dengan banyak darah.


“Selamat beristirahat. Kami akan menghentikan kegilaan ini dan kau bisa tidur tenang di alam akhirat sana”


Ryou mengabaikan zombie lainnya dan segera menyusul lainnya.


Akhirnya, mereka berhasil mencapai pintu gerbang asrama dan keluar dari sana. Sekarang, keadaan kembali seperti sebelumnya. Seluruh zombie tersebut mulai menyebar, namun fokus mereka tetap satu yaitu menangkap keempat remaja tersebut.


Ryou menyusul tiga orang di depannya.


“Ryou, kamu baik-baik saja? Apa kamu terluka?” tanya sang kakak panik


“Aku baik-baik saja. Beberapa waktu lalu, aku baru melihat mayat Lee Seung Chan yang ada di video waktu itu dan berhasil memenggal kepalanya. Tampaknya dia memang sudah terluka. Apa kau yang melukainya, Kino?”


“Itu…”


Kino melihat wajah Song Haneul yang pucat mendengar hal itu. Namun, beberapa detik kemudian ekspresinya berubah. Wajah Song Haneul memperlihatkan ekspresi serius. Dia juga sempat melihat Kino.


“Aku baik-baik saja, Kino. Ryou…”


“Hmm?”


“Terima kasih sudah membuat Seung Chan tidak menjadi semakin buruk. Aku yakin, dia juga pasti senang”


“Tentu. Dia dan Jung Leon itu hebat. Hanya saja, keberuntungan mereka pergi meninggalkan mereka dengan sangat kejam. Kali ini, berdoalah agar kau cukup beruntung untuk keluar dari sini dengan selamat”


“Aku mengerti. Kino, lepaskan tanganmu. Aku juga akan melindungi diriku sendiri”


Kino tidak melakukan apapun dan melepaskan gandengan tangan itu. Kini, mereka berempat yang masih harus bermain kejar-kejaran dengan zombie harus bertaruh dengan waktu.


Di sebuah jalan, sosok mayat tanpa kepala dengan sebuah cahaya kecil di sakunya mulai menelusuri jalan lurus.


Di tengah banyaknya mayat dan kepala di jalan, hal itu tidak membuatnya berhenti.


Langkahnya tidak begitu cepat seperti saat mayat tersebut memiliki kepalanya. Akan tetapi dengan sepinya lokasi tersebut dan hanya berisikan kepala manusia dan mayat, dia tidak perlu khawatir ada yang menyenggolnya atau mendorongnya hingga jatuh. Kecuali jika dia tersandung sesuatu.


Sesekali, mayat tersebut benar-benar tersandung lalu terjatuh. Namun bagaikan anak kecil yang baru saja belajar berjalan, dia berusaha untuk berdiri dan kembali berjalan.


Hal itu terus dilakukan beberapa kali sampai akhirnya dia tiba di suatu tempat.


Di sana terdapat banyak sekali zombie yang berdiri namun tidak bergerak maju. Semuanya hanya diam di tempat tanpa melakukan apapun.


Lucunya, mayat tanpa kepala itu bergabung dengan pasukan itu dan berdiri paling depan. Tentu saja itu terlihat sangat mencolok.


Entah apa yang dipikirkannya. Padahal sudah mati dan tidak punya kepala, namun masih ingin bergabung dengan teman-temannya.


Cahaya kecil dari saku celananya itu masih bersinar dan kali ini terlihat lebih terang.


Bagai mengendalikan semua zombie-zombie tersebut, begitu cahaya benda dalam saku zombie tanpa kepala itu terlihat semakin terang, mereka semua mulai berhenti mengeluarkan suara dan berdiri dengan tenang tanpa bergerak sedikitpun.


Di sisi lain, keempat remaja itu masih dalam pengejaran zombie.


“Kita harus ke gerbang utama. Dari sini, kita harus kemana lagi?” teriak Ryou


“Kita ambil rute di depan dan belok ke kanan. Setelah melewati gedung Fakultas Psikologi, kita akan sampai di dekat gerbang utama”


Mereka menyadari sesuatu.


“Ini…berlawanan dengan perpustakaan…” ucap Kino pelan


“Benar. Kalau lewat sini, kita bisa lebih cepat sampai”


Kaito terdiam dan berhenti berlari. Kino yang menyadari hal itu langsung berhenti dan melihat ke belakang.


“Kaito-san?”


“Maaf. Aku masih belum bisa merubah keputusanku untuk mencarinya”


“Apa maksudnya itu, Kaito?”


“Maafkan aku. Pergilah duluan! Aku akan menyusul kalian nanti!”


Kaito meninggalkan mereka dan pergi menuju perpustakaan. Kino begitu panik melihat itu.


“Kaito-san, tunggu dulu! Kaito-san!”


“Kaito! Kembali ke sini!”


Kaito terus berlari mengabaikan ketiganya. Di saat yang sama, para zombie mulai sedikit demi sedikit mendekat.


******