
Saat itu, Theo berdoa dengan memegang kalungnya. Theo melepaskan bandul tersebut dari tangannya segera setelah dia selesai berdoa tanpa melihatnya kembali. Di saat itu, bandul tersebut kembali menunjukkan sinar yang aneh. Meskipun dirinya tidak menyadari hal itu, namun Michaela sempat melihatnya.
“Theo-niichan, kalungnya bersinar lagi!”
“Apa?”
Setelah Theo menyadarinya, cahaya kalung tersebut lenyap. Dia hanya bisa melihat bandul kalungnya.
“Bukan karena terkena efek cahaya?”
“Hmm…sepertinya bukan. Aku yakin tapi…um…” gadis kecil itu kembali bingung
“Anggap saja memang terkena cahaya, Michaela”
“Begitukah? Hmm…baiklah kalau begitu”
Theo hanya tersenyum mendengar jawaban polos dari gadis kecil itu. Stelani dan Fabil yang berjalan di depannya sekarang hanya bisa saling berbisik.
“Nee, bukankah Theo jadi sedikit lebih dewasa? Apakah hanya aku yang merasa begitu, Fabil?”
“Aku mengerti yang kau maksud. Aku sendiri juga merasa begitu. Aku rasa selama kita tidak ada, Theo telah melakukan sesuatu pada anak-anak ini”
“Syukurlah. Ternyata, tidak adanya kita di dekatnya berdampak cukup baik untuknya. Aku senang, dia tidak mencuri lagi” Stelani tersenyum mendengarnya
Sepanjang jalan, mereka membahas banyak hal termasuk apa yang anak-anak itu dapatkan di kota.
“Stelani-neechan, Fabil-niichan…apakah kalian suka dengan baju yang kami beli?” tanya seorang anak kecil
“Tentu saja suka. Pakaian ini benar-benar bagus. Terima kasih sudah membelinya untuk kami” kata Fabil sambil tersenyum
“Ehehe, kami memilihnya bersama ketika belanja. Theo-niichan juga memilihkan banyak baju untuk kami. Kita punya banyak baju bagus dan bersih sekarang!”
“Benar. Baju yang bagus dan tidak bau” kata anak kecil lainnya
“Tidak ada yang rusak dan bolong. Sama seperti anak-anak lainnya~” anak kecil lain menyaut
Theo bisa melihat dan mendengar apa yang dibicarakan oleh orang-orang di depannya.
Benar. Sejak dua hari telah berlalu, Stelani dan Fabil telah memakai pakaian bagus yang mereka dapatkan begitu pulang dari rumah sakit.
******
Ini semua terjadi dua hari yang lalu di siang hari, saat Theo dan anak-anak sampai di kawasan pertokoan di kota.
Mereka mengelilingi banyak tempat di sekitar kios yang lokasinya tidak jauh dari altar. Dari toko pakaian dan sepatu, kini mereka beralih ke kios makanan.
“Theo-niichan, kami beli daging tusuk tadi di tempat ini” seru Michaela
“Dagingnya lembut dan empuk sekali~”
“Benar. Aku menyukainya”
Anak-anak lain mulai ikut menceritakan hal yang sama. Ketujuh anak tersebut mulai mengunjungi toko pakaian dan sepatu.
Secara tidak sengaja, Michaela sempat menghentikan langkahnya.
“Michaela?” Theo yang menggandengnya jadi ikut berhenti dan menatap gadis manis itu
Ada sebuah toko sederhana yang menyediakan pakaian anak-anak dan orang dewasa di dekat tempat mereka berhenti. Tempat itu tampaknya berhasil menarik perhatian gadis kecil tersebut.
“Theo-niichan!! Lihat itu, lihat itu!!” Michaela menarik tangan Theo dan berlari ke arah sebuah toko
“Mi–Michaela!!” Theo terkejut karena ditarik oleh gadis kecil itu
Mereka berhenti di kaca jendela depan toko dan melihat banyak hal. Anak-anak lain berlari mengikuti keduanya.
“Ada apa, Michaela?” Theo bertanya pada gadis kecil itu
“Lihat ini! Banyak baju bagus dan murah! Lebih bagus dari tempat yang kemarin aku datangi bersama Joel-ojichan! Ayo masuk!”
“O–oo….”
Theo tidak bisa menolak keinginan Michaela dan mereka masuk ke dalam. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk mendapatkan pakaian yang mereka inginkan. Anak-anak lain tampak langsung mengambil banyak hal.
Cukup mengejutkan bahwa semua itu sangat murah. Untuk ukuran pakaian anak-anak, Theo bisa membelinya dengan uang yang diberikan oleh Joel.
‘Ini…apa benar kami boleh menggunakan semua uang ini untuk membeli belanjaan sebanyak ini?!’ Theo mulai bertanya-tanya dalam hati
Sebenarnya tidak ada gunanya dia bertanya begitu, sejak uang yang jumlahnya banyak itu memang diberikan untuk semua anak-anak itu. Joel sangat dermawan sekali, meskipun dia mesum di mata Theo.
“Apa ada sesuatu yang dicari olehmu, anak manis?” tanya seorang pelayan wanita yang datang menghampiri Theo
“Ah! Itu…”
Theo terkejut sampai-sampai tidak bisa berkata apapun. Walaupun begitu, ada anak yang dengan cepat menghampiri pelayan wanita itu dan meminta beberapa hal.
“Kakak cantik, aku mau beli gaun main yang itu dan itu. Aku minta celana tidur itu jug ya. Boleh dibungkus juga untuk dibawa pulang?”
“Mi–Michaela!!” Theo langsung teriak karena panik dengan kalimat gadis itu
“Ada apa, Theo-niichan?”
“Ka–ka–ka–kau!! Ba–bagaimana bisa kau meminta kakak pelayan membungkus belanjaanmu?!”
“Tapi aku memang ingin yang itu semua. Ada baju yang cocok untuk Stelani-neechan juga, nee~” jawabnya polos sambil tersenyum
“Bukan itu maksudku! Maksudku, darimana kau belajar hal seperti itu?!”
“Belajar yang mana?”
“Belajar mengambil belanjaan yang ingin kau beli!”
“Hmm? Dari Joel-ojichan” sekali lagi, jawaban polos dari gadis kecil itu
“Hah?”
“Joel-ojichan tadi belanja seperti itu. Hanya tinggal bilang ingin yang ini dan ingin yang itu. Kakak pelayan langsung membungkusnya. Iya kan, kakak pelayan?”
“Benar. Nanti akan aku bungkus untuk adik kecil yang manis ini. Jadi, apa ingin membeli yang lain?” tanya pelayan itu dengan senyum ramah
“Se–sebentar! Maaf sebentar!” Theo langsung menarik tangan Michaela ke pojok toko
“Kau! Sudah kubilang jangan ikut-ikutan paman mesum itu! Kalau uangnya kurang bagaimana?” bisik Theo dengan panik
“Uangnya ada banyak, Theo-niichan. Kalau kau perhitungan begitu, nanti Theo-niichan tidak akan dapat pacar. Stelani-neechan tidak akan mau menikah denganmu nanti”
“A–apa maksudmu?! Siapa yang ingin menikahi Stelani?!” Theo jadi memerah seperti tomat matang yang setelah dibuat sup
Michaela hanya tersenyum manis dan pergi ke tempat pelayan wanita itu. Bagian terbaiknya adalah karena Joel mengalungkan tas kecil berisi semua uangnya pada gadis itu. Sekarang, gadis kecil itu benar-benar menerapkan apa yang dilakukan Joel saat belanja bersama mereka hari ini.
“…Perempuan…jadi sangat menakutkan jika sudah belanja…” gumam Theo pelan dari kejauhan
Hanya butuh waktu kurang dari setengah jam, total kantong belanja di tangan mereka sudah mencapai 12 kantong. Dan itu semua hanya pakaian saja, termasuk pakaian dalam dan kaos kaki. Ketika menerima struk belanjaan, Theo nyaris terkena serangan jantung.
“Du–du–dua ri…2.370 Franc?!! Ini namanya perampokan!!” teriak Theo di depan pintu toko pakaian tersebut
Semua anak-anak itu tampak membawa kantong belanjaan di kedua tangannya dan tidak menghiraukan teriakan Theo yang nyaris menjadi butiran debu.
Theo langsung menatap sinis dan menarik Michaela kembali.
“Anak nakal! Apa yang baru saja kau lakukan?!”
“Belanja” jawabnya dengan polos
“Bukan itu maksudku!!”
“Tapi kita memang habis belanja, Theo-niichan” sahut seorang anak kecil laki-laki yang berdiri di samping Michaela
“Kau diam dulu sebentar! Aku sedang bicara dengan anak ini”
“Theo-niichan, kita membayarnya dengan uang. Jadi kita tidak mencuri atau merampok. Lihat itu, kakak pelayan tadi masih memberi kita lambaian tangan”
Theo melihat arah yang ditunjuk Michaela. Terlihat pelayan wanita itu masih memberikan senyuman manisnya pada anak-anak yang sudah di luar toko pakaian tersebut.
“Demi Kino-nii, aku tidak akan membiarkanmu mengeluarkan uang lagi! Awas kau ya!” ancam Theo
Tapi, sepertinya ancaman sederhana itu tidak mempan pada anak-anak itu.
“Theo-niichan, kau jahat. Kita baru belanja untuk bagian Stelani-neechan dan Fabil-niichan. Kita bahkan belum membeli kue krim dengan buah untuk menyambut Kino-niichan nanti. Kino-niichan akan membencimu nanti. Lihat saja” Michaela membalas Theo sambil cemberut
“Anak nakal…” Theo bergumam sambil mengepalkan tangannya
Semua anak-anak lain hanya tersenyum dan tertawa melihat wajah Theo. Pada akhirnya, Theo hanya bisa menghela napas dan berkeliling lagi untuk mencari toko kue.
“Dengar! Kali ini, biar aku yang akan membeli kue untuk Kino-nii” kata Theo pada Michaela dengan membawakan belanjaannya di tangan
“Oke!” gadis kecil itu hanya tersenyum ceria sambil memberikan jempolnya pada Theo
Selang beberapa menit, mereka melihat sebuah toko roti yang menjual kue krim yang dimaksud.
“Theo-niichan!!” semua anak-anak menunjuk tempat tersebut
Saat mengunjungi tempat itu, pemilik toko sempat memandangnya dengan tatapan tidak biasa.
“Selamat da…tang? Huwaa~pelanggan yang manis-manis sekali. Ada yang bisa dibantu?”
“Tuan, aku ingin beli kue krim ini. Berapa harganya?” tanya Theo
Kue yang ditunjuk memiliki banyak buah strawberry di atasnya dan dengan krim berwarna putih yang terlihat menggoda sekali. Semua anak-anak begitu menyukainya dan langsung menargetkan kue itu untuk dibeli.
“Ini kue ulang tahun. Harganya 25 Franc”
Harga yang cukup mahal untuk ukuran kue krim. Tapi, dengan ukuran yang besar membuatnya cukup layak untuk dibeli. Theo tidak mau memilih banyak hal dan akhirnya memutuskan untuk membelinya.
“Terima kasih banyak, anak-anak”
Setelah keluar dari toko. Mereka tampak begitu senang sekali dengan kuenya.
“Kita pulang ke bar dulu ya agar kuenya tidak rusak. Setelah meletakkan semua belanjaan ini, kita pergi lagi. Bagaimana?” usul Theo
Semua anak-anak hanya mengangguk setuju dengan wajah ceria. Memang terlalu membuang tenaga jika harus kembali demi mengantarkan semua belanjaan tersebut. Tapi mengingat jumlah tangan mereka yang kosong hanya satu sampai dua saja membuat anak-anak itu tidak memiliki pilihan lain.
Mereka berjalan kembali menuju altar dan melewati jalan di belakangnya untuk kembali ke bar. Tidak banyak hal yang diceritakan mereka saat ini. Hanya senyum ceria yang menemani mereka serta suara tawa.
Theo yang membawa kantong belanja dan kue di tangannya terus memandangi bingkisan yang baru saja dia beli.
“Kue untuk Kino-nii dan yang lain” gumamnya pelan dengan senyum tipis
Sekitar 25 menit mereka berjalan dan akhirnya sampai di bar. Awalnya mereka sangat senang karena membawa semua belanjaan tersebut.
“Joel-ojichan! Kami pulang~” seru anak-anak itu
“Paman mesum, lihat yang kami beli i…kau kenapa?”
Theo melihat Joel seperti sedikit gelisah dan bingung. Dia bertanya pada pria besar itu tapi hanya dijawab dengan senyuman dan sambutan selamat datang dari mulutnya.
“Oi, ada apa?” tanya Theo
“Kalian…teman-teman kalian dan juga orang-orang itu, sekarang berada di rumah sakit di pusat kota” Joel memberitau mereka dengan wajah ragu
“Mereka sudah…mereka sudah ada di sini?! Bagaimana keadaannya?! Bagaimana dengan Kino-nii?!”
Semua anak-anak itu menjatuhkan belanjaannya dan langsung berpelukan satu sama lain sambil menangis. Theo berjalan ke arah Joel dengan posisi masih memegang semua belanjaannya.
“Katakan, bagaimana bisa kau tau?! Bagaimana kau tau mereka telah kembali?! Apa kau yakin? Jawab aku, paman mesum!”
“Beberapa saat lalu, kenalanku yang bernama Riz datang memberitauku bahwa mereka berhasil menyelamatkan dua temanmu dan remaja bernama Kino. Tapi, karena kondisi Kino-niichan kalian cukup parah jadi dia segera dilarikan ke rumah sakit di pusat kota”
Mendengar hal itu, Theo menjatuhkan semua belanjaannya. Dia nyaris menghancurkan kue yang telah dibelinya juga, tetapi reflek Joel cepat sehingga berhasil menggagalkannya.
“Oi! Kau hampir menjatuhkan kue ini, bocah! Percuma saja kau membeli…bocah? Oi! Bocah?!”
Theo langsung menjatuhkan dirinya dan duduk di lantai karena syok mendengarnya.
“Kino-nii…terluka…Kino-nii….” wajahnya berubah pucat seketika
Joel yang saat itu memegang bingkisan kue di tangannya menjadi serba salah.
******