
Sebuah pemikiran mustahil akhirnya muncul dalam benak Kaito.
“Mungkinkah…mayatnya bergerak dan pergi dari tempat ini?”
Awalnya tidak percaya akan hal itu, namun dengan mengamati tiap mayat dan pakaiannya dia yakin bahwa mayat Jung Leon memang sudah lenyap dari tempat itu.
Jika berpikir mayat zombie yang sudah tidak bergerak dimakan oleh zombie lain, hal itu lebih tidak masuk akal lagi. Kenapa hanya mayat Jung Leon yang hilang? Kenapa bukan mayat lain saja?
Sekarang, sikap egois Kaito berbuah pahit.
“Jika tau begini…aku tidak akan meninggalkan mereka…”
Dia langsung sadar bahwa dia meninggalkan dua remaja yang selalu menyelamatkan nyawanya. Kaito langsung bergegas turun dan berlari keluar perpustakaan untuk menyusul Kino dan yang lain.
Begitu sampai di luar, Kaito langsung berlari ke arah sebelumnya.
Di dalam pikirannya, dia merasa bahwa mungkin saja mereka sudah menuju pintu gerbang utama.
Karena jalan menuju tempat itu berlawanan arah dengan perpustakaan ini, maka mau tidak mau dia harus berlari kembali ke jalan sebelumnya.
Setelah separuh jalan meninggalkan perpustakaan, dia tiba-tiba berhenti berlari.
“Kenapa mereka ada di sini?”
**
Di jalan menuju perpustakaan, ketiga remaja itu masih berlari sambil menghindari zombie yang mengejar.
Song Haneul melihat ke belakang.
“Mereka masih jauh”
“Tapi bukan berarti kita berhenti”
“Kamu benar. Ryou, perpustakaan sebentar lagi” teriak Song Haneul
“Aku tau. Kali ini, aku sudah punya target untuk kupotong” gumam Ryou kesal
“Dipotong…katanya…”
Song Haneul tidak tau seberapa serius kalimat yang dia dengar barusan, tapi dia tau bahwa ketiga remaja itu memang menyembunyikan sesuatu.
Hanya tinggal sedikit lagi, langkah mereka terhenti dengan sosok yang berdiri mematung di depan mereka.
“Kenapa mereka ada di sini?” gumam sosok tersebut
Kino langsung berteriak memanggilnya.
“Kaito-san!”
Ryou berlari sambil memegang kedua pisau dagingnya dengan satu tangan. Dia menyisakan satu tangan kosong dan tanpa basa-basi dia langsung memberikan Kaito sebuah ‘hadiah’
-PLAAK
Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya.
Kaito tidak menolaknya sama sekali meskipun dia bisa menghentikan gerakan Ryou dengan mudah. Dia hanya diam menerima tamparan itu lalu melihat wajah si ‘pemberi hadiah’ tersebut.
“Masih ada lagi yang mau diberikan padaku?” tanya Kaito dengan nada tenang
“Masih ada! Kau mau dalam bentuk tangan yang dikepal atau tangan terbuka?”
“……” Kaito terdiam
“Aku membuka opsi penggunaan senjata kali ini. Kebetulan ada dua pisau daging tajam yang bisa memberikan tebasan rapi. Kebetulan aku sudah melakukan latihan memotong mayat baru-baru ini dalam 4 jam terakhir dan ini bisa memperbaiki cara kerja otakmu yang mulai tidak sehat!!” Ryou membentak Kaito
Kekesalan itu diluapkan dalam bentuk emosi di tiap kalimatnya. Namun, tidak ada pembelaan dari mulut Kaito.
“Aku…aku minta maaf”
“Maaf tidak cukup! Aku tau kau gila sejak kita bertemu, tapi yang ini lebih gila lagi! Berani sekali kau meninggalkan aku dan Kino seperti itu!”
Kino dan Song Haneul mendekati keduanya. Tidak membutuhkan waktu lama, Kino langsung menenangkan sang adik agar berhenti marah-marah.
“Ryou, sudah hentikan. Jangan marah seperti itu”
“Aku benar-benar lelah dengan kebiasaan jeleknya ini!”
“Aku paham. Tenangkan dirimu. Kaito-san juga. Kamu salah. Aku sudah katakan untuk tidak gegabah”
Kino mulai memperlihatkan wajah marahnya pada Kaito. Kaito sadar dirinya salah kali ini.
“Aku tidak akan membela diriku. Aku salah dan kalian pantas marah karena tindakan egoisku”
“Kami marah bukan karena itu. Kami marah karena Kaito-san tidak mengajak kami bersamamu!”
Kaito terkejut mendengarnya.
“Bukankah kita semua saling terhubung? Jika memang Kaito-san ingin pergi mencari permata itu, meskipun aku menentangnya di awal…tapi kami pasti akan mengikutimu!”
“Kino…”
“Aku mohon, jangan seperti itu lagi ya”
Tidak bermaksud merusak suasana, tapi tampaknya Song Haenul sadar bahwa drama harus segera berakhir.
“Teman-teman…kalau kalian bisa bertengkar, kalian harusnya bisa mengatasi situasi seperti ini sekarang. Mereka semakin mendekat!!”
Song Haneul mulai menunjuk ke arah kawanan zombie yang sudah siap menangkap mereka.
“Sebaiknya kita tunda dulu pembahasan mengenai reuni indah ini dan segera lakukan sesuatu pada mereka!”
Ryou langsung mengarahkan dua pisau di tangannya kepada Kaito. Dengan penuh emosi dia berkata padanya.
“Kalau kau mau dimaafkan, urus tamu-tamu milikmu itu sekarang!”
Kaito hanya tersenyum dan tanpa mengatakan apapun, dia langsung mengeluarkan pedangnya dan menyerang mereka.
“Kau harus lakukan yang benar agar aku tidak menamparmu lagi, Kaito! Ingat ya, opsi penggunaan senjata untuk memotongmu itu masih berlaku di sini!”
“Ryou, jangan bicara seperti itu pada Kaito-san”
“Biarkan saja! Aku masih belum puas memarahinya”
“Sebaiknya kita lakukan sesuatu juga untuk menolongnya!” Song Haneul kembali bicara
Kino dan Ryou saling melihat satu sama lain. Niat hati di awal mereka ingin sekali membantu Kaito, tapi tampaknya semua itu sia-sia.
Tanpa perlu dibantu, separuh dari pasukan zombie itu sudah terpenggal sempurna. Ketiga orang itu hanya menjadi penonton dari ‘atraksi’ seru yang dilakukan oleh Kaito.
“Dia sepertinya semangat sekali menyambut tamunya” gumam Ryou sambil menggelengkan kepalanya
“Jangan bicara santai begitu, Ryou! Kita harus membantu Kaito-san sekarang juga!”
“Tidak perlu mengkhawatirnya dia, Kino. Percaya padaku, nanti juga selesai sendiri. Kita lihat saja dulu dari sini”
Entah kenapa Ryou terlihat santai dan Kino terlihat begitu panik. Song Haneul hanya bisa diam sambil memegang kedua pisau di tangannya dengan gemetar.
‘Apa ini? Kenapa mereka membiarkan temannya bertarung sendiri seperti itu? Apa mungkin mereka ini sebenarnya bukan anak baik-baik?’
Sekarang, Song Haneul jadi berpikiran yang bukan-bukan. Terima kasih kepada sikap ‘lemah lembut’ dan ‘baik hati’ milik Ryou.
Kaito dengan gerakan cepat membunuh zombie-zombie yang datang. Jumlahnya tidak berkurang sama sekali karena hampir sebagian besar berhasil menyusul mereka.
Kino melihat jam saku miliknya dan menjadi panik setelanya.
“Kita tidak punya waktu untuk ini! Kita pergi sekarang!”
Begitu memasukkan kembali jam sakunya, dia bergegas lari. Diikuti oleh Song Haneul yang langsung berlari di belakangnya, mereka berdua segera melewati Kaito yang sibuk membunuh zombie lain.
“Kaito-san, kita pergi dari sini! Tidak perlu membunuh mereka semua. Kita cari cara lain untuk lolos!”
Tampaknya Kaito merasa dia masih harus melakukan sesuatu dengan para zombie itu dan memilih untuk tetap membunuh mereka yang datang. Ryou yang sudah melihat sang kakak berlari lebih dulu ikut berlari dan membunuh zombie di dekatnya.
“Kino sudah bilang untuk mengabaikannya. Kita pergi dari sini. Kali ini aku yang akan mengawasimu dari belakang agar kau tidak hilang seperti anak kecil yang tersesat di mall!”
“Aku mengerti”
Berlari kembali ke rute awal, Kino berpikir untuk mencari cara agar lolos dari sini.
‘Bagaimana kita bisa lolos dari sini jika zombie-zombie itu mengejar? Apa cara terbaik yang bisa kami laku…sebentar. Rasanya aku ingat sesuatu’
Pikiran Kino mulai mengingat sesuatu. Dia sempat melirik ke arah Song Haneul.
[Ini benar-benar foto yang dikirimkan dari luar. Tapi, sepertinya jarak waktunya sedikit membuatku penasaran]
[Jaraknya hanya sekitar 10-15 menit? Kenapa bisa? Dengan semua makhluk itu di luar dan jumlah yang banyak seperti itu, apa ada penjelasan masuk akal mengenai hal ini?]
[Tidak. Ini mungkin saja bisa dilakukan kalau dia mengetahui jalan rahasia atau semacamnya]
Kino akhirnya bisa mengingat bahwa perempuan yang bersamanya mungkin memiliki cara untuk lolos dari kejaran para zombie itu dengan cepat.
“Song Haneul-san…bagaimana caranya kamu bisa lolos dari kejaran mereka ketika mengirimkan foto-foto yang ada di chat grup aplikasi?”
“Itu…”
“Sekarang, kami membutuhkan itu untuk lolos dari mereka sekarang”
“Tapi, aku tidak ingat”
“Apa?” Kino terkejut mendengarnya
“Aku berani bersumpah aku tidak ingat apapun. Saat ada keributan mengenai event di mulai, aku yang sedang mencari Seung Chan mendengar suara teriakan banyak orang dan aku tidak ingat apapun. Begitu tersadar, aku berada di depan gedung Fakultas Seni Rupa dan langsung bersembunyi ke dalam asrama”
“Tidak mungkin…”
Kino merasa bahwa itu sangat tidak normal.
‘Bagaimana bisa hal ini terjadi? Apakah itu artinya Song Haneul-san tidak sadar bahwa dirinya telah mengirimkan semua foto-foto tersebut? Jika benar ini ada hubungannya dengan kekuatan permata milik Kaito-san, itu berarti tindakannya waktu itu mungkin telah diatur sebelumnya. Tapi, aku tidak ingat ada catatan seperti itu di dalam laptopnya’
Di saat titik terang lain sudah terlihat, ternyata bagian redup lain masih belum lenyap seutuhnya.
******