
Di dalam bangunan yang gelap dan tanpa cahaya sedikitpun, Stelani dan anak-anak lain telah tertidur setelah makan. Berselimut kain tipis kotor yang usang penuh lubang, mereka tidur dengan nyenyak. Tidak ada benda yang menunjukkan waktu di sana dan tidak ada satupun dari mereka yang peduli. Mereka telah merasa kenyang dan puas dengan roti dan air yang mereka makan. Obat-obatan yang mereka beli telah di simpan di dekat tumpukan puing-puing bangunan di sana
Theo, menjadi satu-satunya anak yang masih terjaga setelah semua hal berat yang dia lalui. Secara fisik dan mental, dialah yang paling merasa lelah. Namun, malam itu justru dia yang masih terbangun dan tidak bisa tidur.
Theo bergumam pelan melihat Stelani dan anak-anak lain tidur pulas.
“Syukurlah mereka sudah lebih baik”
Perlahan, Theo bangun dan keluar dari ruangan itu menuju ke lantai bawah. Di lantai itu hanya ada sebuah kursi dan sebuah meja. Theo memutuskan untuk duduk di sana. Angin malam berhembus masuk ke dalam bangunan tanpa pintu dan kaca jendela. Malam itu dia tidak bisa berhenti memikirkan tentang apa yang dia dengar saat bersembunyi dari anak buah Justin.
“Padahal aku sudah memutuskan untuk tidak memikirkannya lagi, kenapa aku tidak bisa benar-benar menghilangkan rasa penasaran ini?”
Theo seperti tertekan dengan pikirannya sendiri. Bukan hanya itu, sosok pria berpedang tanpa sarung pedang yang dilihatnya sore tadi masih jelas di dalam ingatannya.
“Pria itu…orang yang diinginkan si gorilla? Sebelum aku tau apa masalahnya, aku masih mengingatnya dengan jelas seperti apa wajahnya”
Theo merasa ada yang aneh sekarang. Wajahnya kini berubah dari raut wajah tertekan karena pikirannya sendiri menjadi wajah penuh pertanyaan dan bingung.
‘Kalau dipikir-pikir saat aku melihatnya aku sama sekali tidak tau apapun tentang masalah antara gorilla itu dengan pria berpedang itu. Tapi jika dibandingkan dengan mata dingin gorilla itu setelah membunuh ketiga wanita di bar, aku jauh lebih takut untuk bertemu dengan pria berpedang tanpa sarung pedang itu. Kenapa?. Padahal aku tidak mengenalnya, kenapa bisa perasaan takut itu muncul?’
Pikiran Theo tidak berhenti sampai di sini. Dia masih merasakan ada sesuatu yang tidak benar dengannya.
‘Selain itu, walaupun aku bermaksud menyapa kakak baik itu tetapi saat melihat dia bersama pria berpedang itu, tiba-tiba dadaku terasa sesak seakan ada tekanan yang membuat kakiku tidak mau bergerak mendekat. Perasaan takut…benar, entah kenapa aku merasa begitu takut melihatnya. Meskipun aku ingin menyapa kakak baik itu, tapi begitu aku melihat pria itu bersamanya entah kenapa aku merasa sangat takut. Ada apa sebenarnya denganku?’
Semakin dipikirkan, wajah Theo semakin terlihat bingung dan berangsur-angsur berubah pucat. Keningnya pun berkeringat meskipun angina malam ada yang berhembus di dalam bangunan itu walau sedikit.
Theo menarik napas panjang dan menghembuskanya, menarik napas panjang dan menghembuskanya. Hal itu
terus dilakukan berulang-ulang sampai dia merasa tenang. Setelah dia merasa sudah membaik, dia mengeluarkan sesuatu dari balik kerah bajunya. Sesuatu yang selama ini dia genggam dengan erat di beberapa kesempatan.
Di lehernya, dia terlihat memakai sebuah kalung dari tali tipis yang sekilas tidak begitu penting. Tetapi saat dia mengeluarkan bandul kalung yang selama ini tersembunyi di balik kerahnya, pikiran itu mungkin akan berubah. Bandul berbentuk permata panjang berukuran sekitar 5-6 cm berwarna ungu cerah yang cantik.
Theo melihat kalung miliknya dan mulai terlihat sendu. Wajah sedih yang sudah tidak bisa disembunyikan lagi olehnya malam itu.
“Hanya benda ini satu-satunya yang tersisa untukku”
Theo menggenggam bandul kalung miliknya dan memejamkan matanya sebentar dan berdoa dalam hatinya. Doa yang selalu dia sebutkan setiap malam.
‘Aku bisa bertahan hidup selama ini dengan semua kebencian yang kupunya pada Justin. Aku mengutuk tempat asing bagaikan neraka ini, aku mengutuk mereka semua yang terus menerus memanfaatkan anak-anak seperti kami seenaknya. Tempat tanpa masa depan dan harapan ini…aku berharap mereka menghilang selamanya!’
Tanpa Theo sadari, kalung permata itu bersinar.
“Aku berharap Justin dan tempat ini menghilang bersama dengan kebencianku pada mereka semua”
******
Di penginapan, Yuki bersaudara telah tidur sangat pulas. Ryou yang baru saja tertidur kurang dari lima belas menit sudah berada dalam alam mimpi, sedangkan Kaito yang paling lelah justru masih mencoba mencari posisi nyamannya.
“Aneh sekali. Aku tau aku terbiasa untuk terjaga saat di ‘dunia malam’, tapi sejak perulangan aneh itu aku seharusnya sudah tidak tidur lebih dari 12 jam. Kenapa sampai sekarang aku susah sekali untuk tidur?”
Kaito bangun dari tempat tidurnya dan duduk sambil mengeluarkan gerutuan panjang. Bukan seperti Ryou yang bisa menggerutu panjang lebar hanya karena hal kecil, Kaito hampir menahan dirinya untuk mengatakan kalimat gerutuan. Tapi kali ini dia melakukannya karena iri dengan Ryou yang sudah pulas hanya dalam waktu lima belas menit.
“Ini benar-benar tidak adil. Aku juga sama lelahnya dengan kucing liar itu, iya kan?”
Kaito masih melanjutkan gerutuan kecilnya itu sambil menengok ke sisi kanan tempat kedua kakak beradik itu tidur pulas.
Meskipun dia menggerutu karena iri tidak bisa tidur secepat Ryou, tapi melihat wajah mereka berdua tertidur nyenyak membuatnya senang. Tanpa sadar dia tersenyum dan berkata dengan suara lembut.
“Aku senang bisa bertemu kalian berdua. Terima kasih telah datang padaku”
Kaito memandangi keduanya sebentar sebelum dia mulai merebahkan dirinya kembali.
Baru saja mencoba untuk tidur, Kaito langsung bangun dari tempat tidurnya dengan wajah penuh keringat dan pucat.
“Aah!!”
Kaito benar-benar terlihat terkejut. Napasnya terengah-engah bagaikan terbangun dari mimpi buruk walaupun dia bahkan belum tidur sama sekali. Entah apa yang sebenarnya terjadi, dia seperti kehilangan ketenangan dirinya sesaat. Dia mengusap keningnya yang penuh dengan keringat saat itu dan bergumam sendiri.
“Apa itu?! Kenapa seperti ada yang memanggilku? Rasanya begitu sesak dan perih. Apa yang sebenarnya terjadi?!”
Kaito benar-benar dibuat tidak tidur dengan sensasi kejutan itu. Sekarang bisa dikatakan dia 100% terjaga dari tidurnya. Dia masih belum bisa melupakan rasa sesak dan perih yang baru saja dia rasakan. Seperti terkena sengatan listrik, kedua tangannya gemetar tanpa henti. Keringat dingin sedikit demi sedikit mulai keluar membasahi kedua telapak tangannya.
“Aku…kenapa perasaanku masih belum tenang? Siapa yang memanggilku barusan?”
Di temani cahaya bulan yang masuk dari jendela kamar tersebut, Kaito hanya bisa menunggu sampai hatinya tenang dan kedua tangannya berhenti gemetar. Malam itu menjadi malam tersulit lainnya bagi Kaito.
******
Setelah beberapa menit, cahaya pada kalungnya berangsur menghilang dan kembali seperti semula saat Theo membuka matanya.
“Aku tidak akan pernah berhenti berdoa. Aku akan tetap berdoa semoga tempat ini lenyap. Aku ingin mendapatkan cahaya baru untuk kami semua agar bisa hidup lebih baik”
Selesai melepas doanya, dia memasukkan kembali bandul kalungnya ke dalam kerah baju dan mulai berpikir jernih.
“Sekarang Theo, kamu harus memikirkan hal yang lebih penting dari masalah milik si gorilla. Apa yang sebaiknya dilakukan olehmu sekarang?. Mencuri lagi di altar setelah seminggu penuh itu akan menimbulkan kecurigaan jadi sebaiknya besok tidak dilakukan”
Dia mencoba untuk memikirkan cara yang lebih baik dari sekedar mencuri permata dan emas. Lagipula, ketiga wanita yang biasa mengenakannya sudah menjadi mayat. Tidak mungkin mayat memakai perhiasan di tubuhnya. Fokusnya sekarang adalah uang.
“Tidak perlu permata lagi, sekarang aku hanya membutuhkan uang!. Sejujurnya, bekerja seperti hari ini tidak begitu buruk untukku. Hanya saja jika terus seperti ini, dengan tenagaku yang terbatas dan perut yang jarang terisi…kurasa aku hanya akan membunuh diriku perlahan. Aku tidak bisa terus seperti ini!”
Malam terasa panjang untuk Theo. Semua pikirannya hanya berisikan hal-hal berat. Siapa yang menyangka anak usia 11 tahun bisa berpikir hal yang seberat itu. Beban Theo benar-benar melebihi orang dewasa.
Seakan tidak lelah, dia masih terus terjaga memikirkan semuanya sendirian.
Di malam hari di kota itu ada orang yang terjaga karena tidak bisa menghentikan rasa penasarannya, ada pula yang terbangun memikirkan seperti apa esok hari. Ada orang yang sudah tidur dengan nyenyak melepas lelahnya dan ada pula yang masih mencari sesuatu yang tidak pasti. Di malam itu, tempat terasing di kota dan di kota itu sendiri menjadi saksi banyaknya hidup yang bertaruh dengan waktu.
******
Matahari terbit dengan cerah. Hari yang baru telah berganti. Kino membuka matanya perlahan dan melihat adiknya masih tidur di sampingnya. Kino tersenyum melihatnya dan bangun dari tempat tidur.
“Kaito-san?”
Kino terkejut melihat Kaito berdiri di depan lemari pakaian itu dengan rambut basah.
“Selamat pagi, Kino. Bagaimana tidurmu?”
“Selamat pagi, Kaito-san. Apa Kaito-san baru saja mandi?”
“Begitulah”
“Apa semua baik-baik saja?”
“Semua baik, jangan khawatir. Aku merasa perlu mendinginkan kepalaku sebentar jadi aku menggunakan waktuku untuk mandi. Kau tau Kino, seperti katamu kemarin aku benar-benar tidak mencium aroma keringat sedikitpun di tubuhku. Aku juga tidak merasakan perasaan lengket atau tidak nyaman setelah berlari seharian kemarin”
“Begitu. Ternyata benar ya, peraturan anehnya masih ada”
“Tampaknya begitu. Tapi bukankah itu lebih baik?. Kalian tidak perlu ke toilet sama sekali atau merasa tidak nyaman karena tidak mandi. Pakaian kalian juga tetap bersih tanpa bau apapun”
“Kedengarannya memang lebih mudah begitu tetapi aku merasa seperti bukan manusia lagi” Kino menjawab sambil tersenyum mendengar ucapan Kaito barusan
Kaito hanya tersenyum tipis dan mengambil handuk kecil di lemari tersebut. Dia mengeringkan rambutnya dengan membelakangi Kino yang masih berada di atas tempat tidur. Wajah Kaito langsung berubah saat mendengar Kino bertanya hal yang tidak disangka oleh dirinya secara tiba-tiba.
“Kaito-san, kamu tidak sedang baik-baik saja benar kan?”
“Kenapa–”
“Kaito-san tidak terlihat baik-baik saja untukku saat ini. Apakah kamu tidak bisa tidur semalam atau mimpi buruk?. Kaito-san bisa mengatakannya padaku, aku pasti akan mendengarkanmu”
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Kaito sudah dibuat diam dengan kata-kata Kino. Sekarang, Kaito hanya menatap Kino yang melihatnya dari tempat tidur dengan wajah cemasnya. Hatinya berkata dengan penuh keyakinan.
‘Aku benar-benar tidak bisa membohonginya. Sepertinya rencana untuk pergi ke tempat asing bersama Ryou tanpa diketahui olehnya harus dipikirkan dengan matang’
Kaito mencoba menenangkan diri seakan tidak terjadi apa-apa.
“Kino, kenapa pagi-pagi sudah bertanya hal yang aneh seperti itu?”
“Itu tidak aneh. Kaito-san harus melihat seperti apa wajah yang kamu buat sekarang. Seandainya ada cermin”
“Wajah? Apa maksudmu? Memang wajah seperti apa yang kubuat sekarang ini di matamu?”
Kino menatap Kaito dengan tatapan serius lalu berkata “wajah penuh dengan rasa sakit dan sesak seakan ada sesuatu yang dirasakan”
“……!!”
Dan satu lagi skakmat dari Kino. Kaito kali ini tidak bisa menyembunyikan ekspresi syok dan kagetnya. Kino benar-benar mengenainya tepat sasaran.
“Kaito-san terlihat begitu cemas dan seperti memiliki pikiran yang memberatkanmu. Jika tidak keberatan aku akan mendengarkan. Apakah ini masalah kepingan ingatanmu?. Apakah ada sesuatu yang terjadi?”
“……”
Kaito memilih diam. Kalau dia menjawabnya, dia yakin Kino akan mengetahui semuanya. Tentang dirinya yang merasakan sesak dan perih tiba-tiba, tentang dirinya yang merasa terpanggil oleh sesuatu dan tentang rencananya dengan Ryou. Kaito memilih untuk tersenyum dan menjawab “semua baik-baik saja” pada Kino.
Kino terlihat sedih mendengarnya dan seperti tidak terima dengan kalimat itu. Hanya saja dia tidak mau memaksanya bicara.
“Begitu. Aku mengerti. Jika Kaito-san sudah memiliki kepecayaan yang cukup kepadaku, aku akan siap mendengarkanmu”
Itu terdengar seperti kalimat biasa yang sederhana. Akan tetapi, penekanan pada kata ‘kepercayaan’ membuatnya seperti pedang tajam yang menusuk hati. Kaito merasa bahwa Kino mungkin sedang beranggapan kalau dirinya masih belum pantas sepenuhnya dipercaya olehnya.
Sekarang Kaito mulai merasa kesal.
“Kh…”
“Kaito-san?. Ada apa?”
Kaito berdiri dan terdiam tanpa menjawab pertanyaan Kino. Dia tidak melihat wajah Kino secara langsung dan dalam sekejap keadaan berubah menjadi canggung. Seakan ada garis pembatas yang tergambar di sana membuat dia dan Kino seperti orang asing sekarang.
“…Mmm…Pagi”
Ryou yang sudah membuka matanya langsung bangun sambil melihat ke arah kakaknya. Kino yang senang melihat Ryou bangun langsung menyambutnya dengan senyuman.
“Selamat pagi, Ryou”
“Pagi Kino. Kaito, pagi”
“Pagi. Aku tidak tau kau bisa bangun sendiri tanpa harus ada drama pembukaan di pagi hari. Terakhir aku melihatmu tidur di kedai makan saat berada di ‘dunia siang’ waktu itu, kau bahkan tidur seperti orang mati. Aku sampai mempertanyakan status hidup atau mati mu itu pada kakakmu”
“Ini masih pagi, Kaito. Meskipun aku baru bangun, tapi kalau hanya meledek atau mengeluarkan kritik tajam menyakiti hati aku masih bisa melakukannya sambil menutup mataku. Mau mencobanya sebagai sarapan hari ini?”
Pemanasan pertama Ryou pagi itu adalah menatap tajam Kaito sambil mengeluarkan kalimat pedas dari mulutnya seperti biasa.
Kaito sepertinya menyesal sudah meledek kucing liar yang baru bangun tidur itu. Salah, bukan kucing liar tapi singa. Dia menyesal menggoda singa yang baru saja bangun dari tidurnya. Ini seperti dia menggali kuburannya sendiri di pagi hari.
Kino tidak mungkin membiarkan hal itu berlanjut sejak mereka semua baru menyambut pagi hari pertama di kota normal itu.
“Ryou, ini masih pagi. Kurasa sebaiknya Ryou mandi agar pikiranmu dingin. Lihat, Kaito-san baru saja selesai mandi. Dia sudah terlihat lebih baik dari sebelumnya. Kurasa kamu juga harus melakukannya”
“Lebih baik dari sebelumnya? Memang ada apa?” Ryou heran dengan kata-kata Kino
Kaito hanya menoleh ke samping untuk menghindari tatapan Kino yang melihat ke arahnya dengan senyum. Ryou tidak bisa menghentikan rasa penasaran di dalam pikirannya.
‘Kaito seperti menghindari tatapan Kino. Mereka tidak bertengkar kan? Kino bukanlah orang yang suka bertengkar dengan orang lain. Berbeda denganku yang sulit mengontrol emosi, pembawaan Kino sangat tenang sehingga nyaris mustahil dalam hidupnya untuk punya musuh. Artinya ada sesuatu yang disembunyikan Kaito darinya dan Kino sepertinya sudah menebak itu’
Cukup dengan semua hal rumit di pagi hari, Kino memutuskan untuk mandi terlebih dahulu agar pikirannya tenang.
Ryou melihat Kaito dengan tatapan serius dan berdiri dari tempat tidurnya untuk menghampirinya.
“Kau tidak sedang menghindarinya, iya kan? Apa yang terjadi?” Ryou mendekatinya dan bertanya dengan tatapan tajam
Suaranya pelan sehingga Kino tidak bisa mendengarnya. Kaito menghela napas dan sorot mata tajam ditunjukkan pada Ryou.
“Ryou, aku akan jujur padamu, Kino itu sangat berbahaya. Aku merasa rencana kita untuk pergi ke tempat asing berdua tanpa melibatkan dirinya tidak bisa dilakukan sendiri tanpa bantuan pihak ketiga. Aku punya firasat dia mungkin akan dengan mudah mengetahui rencana kita kalau begini”
“A–apa yang kau kata…Hmph!!” Ryou bicara sedikit keras sekarang
“Ssst…kecilkan suaramu!” Kaito langsung menutup mulut Ryou dengan tangannya
Ryou melepas paksa tangan Kaito dari mulutnya dan terlihat kesal. Sekarang giliran dia yang mencengkram tangan Kaito dengan kuat.
“Aku tau ada sesuatu yang terjadi antara kau dan Kino. Kau mencoba menyembunyikan sesuatu dari kami lagi, benar begitu kan? Jangan lupa apa yang kau katakan di ‘dunia malam’ waktu itu, Kaito! Jangan membuatku kecewa padamu. Kau harus ingat, satu tamparanku masih tersimpan untukmu!”
Kedua kakak beradik itu sama saja. Mereka begitu percaya dan peduli padanya. Karena terlalu percaya dan peduli itu membuat Kaito bingung menyampaikan apa yang dirasakan olehnya. Kaito hanya diam.
Setelah selesai mandi, Kino keluar dengan rambut basah dan melihat kedua orang di depannya berdiri diselimuti suasana tegang. Dia juga melihat sang adik seperti memegang tangan Kaito secara paksa dengan kuat.
“Ryou, kenapa?! Apa yang terjadi? Kalian berdua kumohon jangan bertengkar pagi hari seperti ini!”
“Kino…”
“Ryou, kumohon lepaskan Kaito-san. Tenangkan dirimu sekarang”
Kino mencoba melepaskan tangan Ryou yang ternyata mencengkram tangan Kaito dengan kuat. Ryou tidak banyak melawan sang kakak dan langsung melepaskannya dengan perasaan kesal.
“Cih!”
“Ryou…Kaito-san, maafkan Ryou. Aku yakin dia tidak bermaksud buruk padamu” Kino merasa bersalah langsung minta maaf padanya.
Ryou menatap Kaito dengan dingin dan mengatakan kalimat dingin padanya.
“Aku tidak akan minta maaf karena kau tau dengan baik siapa yang salah di sini!”
Ini masih pagi dan semua sudah menjadi panas kembali. Kino hanya bisa melihat mereka berdua yang saling menatap dingin dengan wajah sedih. Kaito tau ini tidak akan berakhir dengan cepat dan dia memutuskan untuk mengatakannya.
“Kino, soal tadi pagi…aku minta maaf padamu”
“Kaito-san?”
“Aku minta maaf pada kalian. Aku rasa memang tidak ada gunanya menyembunyikan apapun. Aku hanya bingung dari mana harus mengatakannya, itu saja. Setelah semua hal yang terjadi dan hal yang kita alami bersama, aku tidak mungkin mengabaikan kalian”
“……” keduanya terdiam
“Tadi malam aku merasa ada seseorang memanggilku”
******