Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 149. Permata dan Jiwa yang Indah bag. 10



“Aku rasa Theo harus memberikan kalungnya itu pada Kaito” Arkan berkata dengan sangat yakin


“Arkan-niichan, kenapa kau berkata bergitu?” tanya Fabil


“Memang itulah yang harus dilakukan. Ini bukan hal sederhana lagi sekarang. Selain itu, seandainya mereka berubah menjadi orang yang mampu melakukan sesuatu dengan kekerasan, menghadapi Kaito akan menjadi masalah serius” jelas Arkan


“Kaito-niichan tidak akan melakukannya!”


“Kaito-niisan sudah menolong kami saat berada di pasar gelap! Aku tau mereka bukan orang jahat!” teriak Stelani


“Lalu bagaimana kalian memandang mereka bertiga barusan?”


Arkan bertanya dengan nada dingin. Semua anak-anak itu langsung diam tanpa berkata apapun. Maggy masih memeluk mereka sambil mengusap kepala mereka untuk menenangkannya.


“Arkan, hentikan itu” Joel berusaha menenangkan Arkan


“Aku tanya pada kalian semua, bagaimana kalian memandang mereka tadi? Bagaimana kalian melihat Kino saat meminta maaf pada kalian sebelum dia meninggalkan bar? Kalian takut padanya, kan?”


“Itu tidak–”


“Kalian tidak mendekatinya seperti saat berada di rumah sakit. Kalian takut. Setelah mengetahui siapa dia sebenarnya dan apa tujuan mereka, kalian tidak mendekatinya dan–”


“Aku tidak mau mendekati Kino-niichan karena aku takut Kino-niichan akan pergi!!” Michaela berteriak sambil mengeluarkan air mata


“Apa?”


“Kalau…hiks…kalau aku memeluknya…itu artinya aku mengatakan perpisahan dengan Kino-niichan. Aku tidak mau Kino-niichan pergi. Hiks…kami belum makan di restoran keluarga itu bersama. Kami bahkan belum…hiks…belum makan…huwaaaa”


Michaela menangis sekeras-kerasnya sambil memeluk Maggy. Anak-anak lain ikut menangis memeluknya. Tiba-tiba semuanya menjadi penuh dengan air mata kesedihan.


Joel mendekati anak-anak itu dan ikut memeluk mereka. Dia sempat menggendong Michaela.


“Jangan menangis lagi, Michaela”


“Hiks…Joel-papa, kami belum pergi ke restoran dengan semuanya. Hiks…dan Kino-niichan ingin pergi. Hiks…aku tidak mau…tidak mau…tidak boleh pergi…huwaa”


Joel mengerti kesedihan itu. Kalimat mereka saat menunggu kepulangan semuanya di bar ini masih lekat di ingatannya.


[Aku ingin makan dengan Kino-niichan lagi]


[Aku ingin bisa berkumpul dengan Stelani-neechan dan Fabil-niichan, lalu makan bersama dengan Kino-niichan dan Ryou-niichan dan Kaito-niichan]


Itu adalah keinginan kecil anak-anak itu saat semuanya selesai. Tidak ada yang menyangka akan jadi seperti ini.


“Cup cup cup, anak manis jangan menangis lagi ya. Joel-papa akan melakukan sesuatu, tenang saja. Lihat, makanan buatan Maggy-mama belum habis. Kalian sebaiknya menghabiskan semuanya”


“Ayo, nanti kita makan kue krim lagi seperti kemarin” Maggy merayu anak-anak lainnya


Stelani dan Fabil yang bersikap seperti kakak mulai membantu Maggy menenangkan anak-anak itu. Tapi, sepertinya merayu anak kecil yang menangis itu tidak mudah. Mereka masih diam dan tidak mau berhenti menangis.


“Aku tidak mau makan”


“Aku…hiks…aku ingin Kino-niichan tidak pergi”


“Hiks…Maggy-mama, Kino-niichan tidak boleh pergi”


Dan sekarang semua kebingungan. Arkan memilih untuk diam tanpa ikut mencampuri urusan keluarga baru managernya. Hal itu terus berlangsung selama beberapa menit sampai suara Joel seakan memaksanya untuk terlibat.


“Karyawan durhaka yang di sana! Kau juga harus membantuku karena sebagian ini adalah salahmu! Jangan coba-coba diam setelah membuat putri kecilku menangis ya!” Joel memanggil Arkan dengan nada tinggi


“Aku mencoba memberikan kesempatan untuk manager agar bisa menjadi orang tua terbaik”


“Apa maksud ucapanmu itu? Aku telah menjadi orang tua terbaik di sini! Lihat, aku punya sembilan anak menggemaskan dan sekarang delapan diantaranya menangis karena ulahmu!”


Arkan menggaruk-garuk kepalanya dan menghela napas. Dia berjalan mendekati Stelani dan Fabil dan bertanya pada mereka.


“Kalian berdua. Kalian yang mengetahui seperti apa Ryou dan Kaito saat menolong kalian. Kalian juga yang selalu merengek pada manager untuk menjenguk Kino saat di rumah sakit. Meskipun aku dan orang tua kalian sudah membuktikan kebenaran cerita mereka, apa kalian sendiri mempercayainya?”


Pertanyaan ini adalah pertanyaan serius dari Arkan. Kalimat kejamnya yang beberapa waktu lalu dia katakan tidak akan ditarik kembali. Dia masih merasa anak-anak itu takut pada ketiga remaja itu.


“Michaela sudah menjawab bahwa dia hanya ingin bersama Kino. Lalu bagaimana dengan kalian? Walaupun kalian berdua mengatakan Ryou dan Kaito baik karena telah menolong kalian, tapi Kino juga orang yang berusaha melindungi kalian sampai dirinya terluka”


“……” Stelani dan Fabil terdiam


“Sikap kalian yang mengabaikan air mata Kino itu benar-benar membuatku tidak bisa mempercayai ucapan dan pembelaan yang tadi akudengar”


“Oi, karyawan durhaka! Aku memintamu membantuku menghibur anak-anak itu, bukan membuat mereka terlihat seperti penjahat!” Joel protes


“Ini adalah satu-satunya cara agar mereka menyadari satu hal yang penting, manager. Ketiga remaja itu ingin pergi dari sini dengan mendapatkan permata yang terdapat pada kalung Theo!” bentak Arkan


“Kh…”


“Sedekat apapun mereka pada Kino dan sesuka apapun mereka pada ketiganya, kenyataan itu tidak berubah. Kino juga mengatakan bahwa dia dan adiknya ingin menemukan cara untuk kembali ke tempat asal mereka. Bukankah itu sama saja dengan anak-anak ini?” lanjut Arkan


“Arkan-niisan…” Stelani cukup terkejut mendengar ucapan Arkan


“Itu sama seperti kalian yang ingin bebas dari Justin dan menemukan kebahagiaan yang baru. Aku yakin perasaan itu juga yang dirasakan oleh ketiganya. Jika tidak, Kino tidak akan menangis seperti itu”


“Arkan-niisan…itu…”


“Kino sampai berpikir bahwa dirinya jahat pada kalian dan meminta maaf dengan ekspresi sedih. Kalian mengerti maksudku? Aku tidak ingin membela mereka, tapi aku ingin kalian tau bahwa–”


“Itu sudah cukup, Arkan-nii. Aku mengerti apa yang mau kau katakan”


Arkan terkejut mendengar suara yang tiba-tiba muncul dari arah belakangnya. Dari arah pintu masuk bar, ternyata Theo telah berdiri di sana dengan ekspresi wajah sedih.


“Theo!” Stelani dan Fabil langsung berlari menghampirinya


Anak-anak lain yang awalnya menangis juga melepaskan pelukan mereka dari Maggy untuk memeluk Theo. Michaela juga jadi ingin menghampirinya. Joel menurunkan gadis kecil itu lalu berjalan mendekati mereka.


“Bocah kecil, dari mana saja kau? Apa yang terjadi pada Kaito yang mencarimu?”


Theo hanya dia dan berjalan mendekati Joel. Seperti terkena serangan tiba-tiba, Joel terkejut karena Theo langsung memeluknya dan menangis histeris.


“Hiks…huwaaaa…..huwaaaa…”


Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Joel selain memeluknya. Stelani dan Fabil hanya bisa tertunduk sedih dan tangisan kembali terdengar dari anak-anak itu.


******


Theo yang tau bahwa dia tidak bisa lari dari Kaito. Dengan cepat dia masuk ke salah satu bangunan kosong tanpa pintu yang ada di sekitar jalan itu. Ryou menyusulnya.


“Kaito!”


Dia berteriak. Langkah kaki Kaito langsung terhenti. Theo merunduk di balik dinding bangunan yang dimasukinya dan bersembunyi agar tidak diketahui dua orang yang mengejarnya.


“Kaito, kau sudah menemukan bocah nakal itu?”


“Dia bersembunyi. Dia masih di sekitar sini”


“Kalau begitu, kita cari anak itu sampai ketemu. Permata milikmu sudah ada di depan mata. Jika kau tidak segera mengambilnya maka–”


“Ryou…”


“Apa?”


“Kita sudah mengacaukannya”


“Kau baru menyadarinya?”


“Dimana Kino?”


“Dia…dia mungkin masih berada di bar. Aku mengikutimu karena kau mengejar Theo. Sekarang kita harus mendapatkan permata itu dan pastikan tidak ada permata lain di tempat ini. Kau harus keluar dari ‘dunia ini’ secepatnya”


Ryou mendesak Kaito. Bukan tanpa alasan dia mengatakan semua itu. Sejak mendengar penjelasan Kaito saat mereka berada di ‘dunia siang’, kedua remaja yang baru ditemuinya menyadari bahwa ada banyak kemungkinan.


Akan tetapi, Kaito mulai berpikir ulang dengan apa yang terjadi di bar tadi.


“Permata milikku yang berasal dari ‘dunia malam’ sudah dapatkan. Tapi setelahnya, kita berada di ‘dunia’ ini sekarang. Bisa saja setelah ini–”


“Setelah ini kita masih berada di kota ini, begitu maksudmu?”


“Benar. Permata milik Theo mungkin bukan satu-satunya dan kemungkinan besar itu bisa saja terjadi”


“Lalu kenapa?! Kita sudah sepakat untuk mendapatkan ingatanmu! Kau juga tau bahwa aku dan Kino harus kembali ke Jepang. Jika terlalu lama di sini, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada nasib kita!”


Suara tinggi Ryou terdengar menggema. Itu membuat Theo mendengar semuanya. Dia mencoba untuk tidak bersuara dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Perdebatan panjang antara Ryou dan Kaito mulai terjadi.


“Dengar, Kaito. Aku sudah banyak mengakui semua kebodohan dan kesalahanku pada Kino. Aku juga yang membuat keadaan ini sulit. Meskipun begitu, kakakku sama sekali tidak menyalahkanku. Aku hanya ingin dia terbebas dari masalah!”


“Aku tau. Aku mengerti itu”


“Kalau begitu, sebaiknya kita menemukan Theo dan meminta permata itu”


“Tapi, itu adalah benda yang terpenting untuknya. Aku ingin mendengar alasan kenapa benda itu bisa berada di tangannya. Mereka memiliki kehidupan, Ryou. Mereka semua hidup, sama seperti kita”


“Kita semua punya kehidupan, Kaito! Dan hidup di ‘dunia’ aneh yang nyaris membunuh Kino dua kali itu tidak pernah ada dalam daftarku! Kakakku bukan hanya hampir mati sekali, tapi dua kali! Bahkan kalau diingat saat pertama kali kita bertemu, kau sendiri nyaris menjadi mayat!”


“……” Kaito tidak membantahnya


Ryou berjalan perlahan mendekati Kaito. Dengan tubuh lemas, kedua tangannya memegang lengan Kaito. Dia menggenggamnya dan berkata dengan nada lirih serta ekspresi sedih.


“Aku tidak bisa melihat Kino terluka seperti ini lagi, Kaito. Aku tidak ingin dia terluka seperti ini. Aku terlalu lemah untuk bisa melindunginya. Berkali-kali aku berjanji untuk melindunginya dan berkali-kali juga aku gagal melakukannya”


“Ryou…”


“Aku tau aku egois karena memaksamu mengambil permata ingatanmu dari Theo, tapi pilihan apa yang kita punya sekarang? Kami sudah banyak berhutang padamu juga. Dan Kino…Kino juga berpikir bahwa dia masih belum ingin berpisah denganmu dan anak-anak itu. Tetapi sejak awal tujuan kita berbeda”


“……”


“Kau harus mendapatkan ingatanmu kembali dan kami harus kembali ke Jepang. Seandainya benar jam saku kami memiliki ikatan denganmu, aku hanya bisa berhadap kami pulang setelah ingatan itu kembali padamu” Ryou bicara dengan nada putus asa


Kaito mulai berpikir bahwa ini tidak seperti Ryou yang dia kenal. Ryou yang biasa bicara kasar padanya terlihat begitu cengeng dan lemah. Namun semua itu sangat dimakluminya sehingga Kaito hanya terdiam.


Dari arah belakang Ryou, Kino datang dengan wajah panik dan napas yang terengah-engah.


“Kalian berdua, rupanya di sini”


Ryou langsung berdiri tegap dan menghampiri sang kakak.


“Maaf meninggalkanmu sendiri”


“Tidak apa-apa. Apakah Theo-kun sudah ketemu?”


“Kaito bilang kalau dia bersembunyi”


Kino terdiam beberapa saat lalu tersenyum.


“Kita sudahi semua ini dan pulang ya”


“Pulang?!” Ryou terkejut


Dia sempat memperhatikan wajah kakaknya dan menyadari sesuatu.


“Kau…menangis? Kau habis menangis, kan?”


“Kau tidak apa-apa, Kino?” Kaito menghampirinya


“Aku tidak apa-apa. Sekarang kita pulang ya. Kita sudah menghancurkan momen indah anak-anak itu. Selain itu, kita juga sudah mendapatkan senjata kita. Sudah saatnya kita pulang dan istirahat sejenak. Kaito-san juga harus mengganti pakaiannya kembali karena basah terkena wine”


“Kino…”


Meskipun begitu, Ryou masih bersikeras.


“Permata itu sudah ada di depan kita! Bagaimana bisa kau mengabaikannya seperti itu?”


“Ryou, apa kamu tidak ingat kalau aku baru saja keluar rumah sakit hari ini? Aku merasa bahwa kita jauh membutuhkan istirahat sekarang”


Kino mencoba menggunakan alasan itu untuk membuat sang adik tenang dan menuruti keingiannya. Setelah diam beberapa saat, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.


Keadaan telah kembali tenang. Dan meskipun terpaksa, Ryou mengikuti keinginan sang kakak untuk kembali ke penginapan.


******