Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 320. Ujian Masuk Akademi Sekolah Sihir: Area Level C bag. 12



“Aku ingin tau apakah kalian akan menyukai hadiah”


Setelah semuanya lenyap, di hadapan ketiga peserta hanya ada Mark dan dua tabung besar yang melayang. Salah satu sisi tabungnya bercahaya dan sisi lainnya tidak.


Kaito melihat kemungkinan yang akan terjadi.


‘Kami kalah atau kami mati. Hanya itu kemungkinannya sekarang. Haruskah aku menyerah melihat perbedaan kemampuan sihir yang begitu jauh ini?’


Di saat Kaito mulai berpikir hal yang akan terjadi, Mark mulai bicara kembali.


“Aku ingin kalian melihat penggabungan antara serangan angin dan bulu hitam milik peserta nomor 89 dengan serangan api milik peserta nomor 480. Itu akan jadi kombinasi paling bagus saat ini”


“Kombinasi serangan?” Kaito bergumam pelan. Dia mulai menyadari bahwa sihirnya kemungkinan tertelan oleh tabung besar itu. “Mungkinkah…semua sihir yang tadi itu…”


“Tampaknya kamu pintar ya” puji Mark


Virgo mulai bersiap dengan sihir miliknya dan berteriak ke arah gadis naga yang telah berubah menjadi sosok naga.


“Jangan diam saja! Itu adalah [Magical Cylinder] yang bisa menelan dan  membalikkan semua serangan kita secara utuh! Kalau sampai dia memuntahkan kembali serangan yang tadi ditembakkan, kita akan–”


Belum selesai bicara, Mark langsung benar-benar melakukannya. Dia langsung menyerang ketiganya dengan menembakkan semua sihir yang ada dalam tabung tersebut.


Sihir tersebut dilontarkan dari sisi tabung yang satunya lagi.


‘Tabung itu…menembakkan sihir kami?!’


Keterkejutan Kaito tidak banyak membantu. Virgo langsung berteriak, “Gadis naga, keluarkan tembakanmu lagi dan benturkan ke arah serangan itu sekarang!!”


“Apa?!” sosok naga itu menjadi sangat syok


“Pilih satu, mau hidup atau mati?!”


“Je–jelas ingin hidup! Aku belum menikah! Begini-begini aku masih perawan!”


“Aku tidak peduli kau masih perawan atau tidak, tembak itu sekarang!!”


Virgo berteriak dan berlari ke samping sosok naga tersebut. Kaito segera mundur dan sejajar dengan keduanya.


“Virgo, kau punya rencana?” tanya Kaito


“Aku tidak punya rencana menyerang, tapi aku punya rencana bertahan!”


Sosok naga itu menembakkan kembali tembakan apinya dan benar saja, kedua kekuatan itu berbenturan menghasilkan daya ledak yang cukup besar seperti perang sesungguhnya.


[Field Barrier]


Sebuah penghalang dengan cakupan seluas area ketiga peserta itu tercipta dan berhasil membuat mereka terlindungi dari efek ledakan sebelumnya.


Di dalam arena sekarang, dampak ledakan cukup besar hingga menyebabkan angin dan bulu-bulu hitam berhamburan lalu menghilang. Itu adalah bekas sihir yang sebelumnya dikeluarkan oleh Kaito.


Meskipun begitu, kerusakan dari dalam keluar tidak ada sama sekali berkat penghalang sihir yang terpasang.


“Kita selamat untuk sekarang, tapi aku tidak yakin setelah ini” kata Virgo lirih


“Kau sudah menyelamatkan kami. Terima kasih. Sekarang tinggal bagaimana kita menghadapinya serangan yang da–”


Belum selesai dengan kalimatnya, Mark rupanya sudah menyerang mereka kembali dengan kedua pedangnya kali ini.


Dia mencoba menerobos penghalang sihir tersebut dengan gerakan super cepat sampai hanya terlihat garis cahaya dan bunyi tanpa bisa memprediksi berapa banyak tebasan yang telah dilakukannya.


“Jangan bercanda!” Virgo tidak percaya


Serangan pedang dengan kecepatan tinggi itu semakin cepat dan akhirnya sebuah retakan kecil terlihat.


“Peri–perisainya retak!” sosok naga itu perlahan-lahan kembali menjadi manusia seiring dengan rasa takutnya yang muncul. Tubuhnya yang sudah kembali menjadi gadis naga seperti sebelumnya mulai mundur perlahan.


Kaito memperhatikan apa yang dilakukan oleh Mark di luar perisai tersebut.


‘Dia hanya mengarahkan serangan cepatnya pada satu titik saja dan kecepatan gesekan serta benturan itu membuat titik yang diserang menjadi tipis dan akhirnya dapat tertembus’


‘Sepertinya ini tidak akan bertahan lama’


Kaito langsung bersiap dengan pedangnya kembali dan mulai membayangkan sihir yang mungkin bisa mengimbanginya.


‘Sihir yang mungkin bisa digunakan untuk menghentikan serangannya…sihir apa itu?’


‘Kemampuanku dalam mengolah sihir masih sangat terbatas dan juga begitu rendah. Jika gegabah, maka akan kalah saat itu juga. Pertahanan ini hanya tinggal menunggu waktu dan retakan kecil itu akan segera menjadi titik kehancuran untuk kami’


Kurang lebih sama seperti Kaito, Virgo juga berpikir. Namun yang ada di otaknya bukanlah cara untuk membuat penghalang kembali, melainkan bertindak serius sepenuhnya dalam ujian ini atau terlihat seperti seorang pemula.


‘Terlalu ekstrim menunjukkan seluruh sihir kuat yang aku miliki akan membuatnya sedikit curiga. Terlebih lagi, beberapa dari sihir itu adalah sihir tingkat atas yang setara dengan sihir [Art]’


‘Tapi jika dia menerobos dari titik ini, maka aku hanya akan terkena masalah’


‘Gadis naga itu juga menciut begitu melihat serangan cepat dari Mark Vermillion, dasar tidak berguna!! Tampaknya hanya Kaito yang bisa aku andalkan sekarang’


“Punya rencana atau sihir yang bisa dipakai?”


“Aku hanya perlu menghadapi pedangnya”


“Kau bercanda? Dia akan menghancurkannya sebentar lagi!”


“Tapi melihat tabung di belakangnya itu membuatku yakin bahwa kita akan menerima sihir yang kita lakukan untuknya. Serangan fisik mungkin akan cukup berdampak padanya walau tidak banyak”


Penjelasan Kaito cukup masuk akal, namun di dalam pikiran Virgo itu terlalu bermain aman.


Di saat mereka masih sibuk dengan pendapat dalam kepala masing-masing, satu pukulan keras dari dua pedang Mark berhasil memecahkan semua penghalang sihir tersebut.


-CRAAAASH


“Tidaaak!!!” gadis naga itu berteriak keras sekali


“Cih!” Virgo langsung mengeluarkan anak panah dan busurnya. Namun sayang, itu sedikit terlambat. Gerakan cepat Mark berhasil menendang Virgo.


Tendangan Mark diarahkan ke bagian perutnya dan gerakan cepat gadis itu yang menyilangkan tangannya, membuat tendangan Mark tidak mengenai bagian yang dituju.


Namun, tetap saja dampak serangan itu terasa hingga membuat gadis itu terdorong ke belakang cukup jauh dengan busur dan anak panahnya yang lepas dari tangannya.


Kini, Mark langsung mengarahkan serangan cepatnya pada Kaito dan pertarungan kecepatan tangan dimulai.


-Claang…Claaaang…


-SLAAASH


Serangan cepat kembali dilakukan.


“Kamu bisa menahan seranganku sampai seperti ini rupanya. Menarik, aku akui kamu menarik”


“Jadi…apakah itu tandanya aku lulus ujian?”


“Hmmm…biar aku pikirkan. Kalau kamu bisa menggores sedikit pakaianku ini, aku akan meluluskanmu”


“Baiklah kalau begitu”


Mata Kaito menyipit dan dia mulai terlihat seperti orang lain.


Ada sebuah ingatan yang mulai terlihat. Sebuah teknik yang sangat tidak asing untuknya. Itu adalah teknik saat dia melihat pemuda bernama Adler Klaue itu bertarung melawan Giant Serpent.


‘Aku akan bertaruh pada ingatan itu dan aku akan menang’ katanya dalam hati


Dia melompat jauh ke belakang demi menjaga jaraknya dengan Mark. Dengan mengeluarkan kuda-kuda yang tidak pernah diperlihatkan oleh Kaito sebelumnya, mata merah Mark menyala dan seketika dia mengaktifkan sihir pertahanan.


[Ice Barrier]


Sebuah dinding es tebal dan lebar mulai muncul. Benda itu melindungi Mark.


‘Aku tidak suka ini, tapi sepertinya kuda-kuda itu tidak bagus. Dalam ilmu berpedang dari Negara Timur dan Barat, belum pernah aku melihat kuda-kuda menyerang seperti itu’ dalam batin Mark


Kuda-kuda asing itu seperti memiliki banyak celah untuk diterobos namun entah kenapa justru itulah yang sangat tidak wajar bagi Mark.


Benar saja, dari balik dinding es itu, Mark melihat bayangan Kaito hilang begitu saja dari hadapannya.


“Hilang?!”


Tidak disangka, Kaito sudah ada di sisi samping kanannya dan langsung menebasnya.


-SLAAASH


Mark menahannya. Kedua penjaga yang menyaksikan hal tersebut hampir tidak bisa berkata apapun dibuatnya.


“Apa yang…terjadi?”


“Aku melihatnya. Dia mengeluarkan sebuah sihir terlebih dahulu lalu memanfaatkan kecepatan untuk berlari ke sisi kanan kemudian melompat untuk menyerang Mark-sama”


“Tapi bagaimana bisa?!”


“Kalau soal itu…”


Di dalam arena, Virgo dan gadis naga itu juga takjub dengan Kaito. Virgo bahkan sangat tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


‘Mustahil! Tidak mungkin, tidak mungkin, tidak mungkin, tidak mungkin! Itu sihir [Art]! Aku yakin dia menggunakan sihir [Art]. Kalau tidak, mustahil bisa berlari tanpa suara seperti berpindah tempat seperti itu!’


‘Sihir angin tidak ada yang meningkatkan kecepatan dengan mengirimkan seseorang ke tempat yang diinginkannya. Kalau begitu, bukankah Kaito bisa disamakan dengan seorang anggota divisi dari Dewan Sihir?!’


Tapi tidak lama setelah itu, sebuah senyum terlihat di bibir Virgo.


‘Ini bagus. Setelah ujian ini selesai, aku akan menjadikan dia sebagai rekanku untuk melancarkan rencana master’


******