
Ryou dan Kaito baru saja keluar dari ruangan Justin. Pemandangan yang mereka lihat adalah ketujuh anak-anak yang saling berkumpul dan berpelukkan satu sama lain dengan Theo sebagai pusatnya. Tidak lupa juga jejak darah yang banyak milik Justin.
Keduanya berhenti sebentar sambil menikmati pemandangan mengharukan itu.
Kaito menepuk pundak Ryou dan berbisik padanya sambil memberikan sesuatu dari dalam sakunya.
“Ryou, simpan ini baik-baik”
“Ini…”
Benda yang dikeluarkan oleh Kaito adalah jam saku tua milik mereka yang hilang. Ryou begitu terkejut melihatnya dan berbisik.
“Oi, apa kau mendapatkannya setelah mengalahkan gorilla itu?!”
“Bukan. Aku mendapatkan ini dari tuan bartender itu. Siapa yang menyangka kalau ternyata dia yang menyimpan jam saku ini. Aku tidak bertanya bagaimana dia bisa memiliki benda itu tapi yang jelas satu tujuan kita sudah tercapai”
“……” Ryou melihat jam saku itu baik-baik
Sambil membuka jam itu, dia memeriksa semuanya. Tiap goresannya masih sama, warnanya juga tidak berubah. Hanya saja sekarang ada yang berbeda.
“Jarum detiknya bisa berputar sekarang!!” Ryou terkejut
Sampai sebelum menghilang, jarum detik pada jam saku tersebut tidak bergerak sama sekali meskipun dilihat beberapa menit. Namun sekarang, semuanya bekerja dengan baik.
Kaito mengeluarkan jam saku miliknya dan menyamakan waktu pada kedua jam saku tersebut.
“Sama. Sepertinya jam saku milik kalian tidak apa-apa. Syukurlah benda itu tidak rusak”
“Aku justru tidak yakin benda ini bisa rusak, Kaito. Pada dasarnya jam saku kita berdua tidak berasal dari ‘dunia’ gila ini, jadi sepertinya nyaris mustahil untuk merusaknya”
Jawaban Ryou masuk akal. Bahkan Kaito sendiri masih penasaran kenapa jam saku milik kedua kakak beradik itu bisa persis seperti miliknya. Pikiran awal Kaito tentang hubungan dia dengan jam saku mereka berdua tidak berubah.
Ada benang takdir lain yang mengikat mereka namun masih tertutup oleh misteri.
Ryou tidak membutuhkan keterangan apapun dari mulut Kaito dan menganggap masalah jam saku ini telah selesai. Dia memasukkannya ke dalam saku celananya.
Sebelum memasukkannya kembali ke saku dalam jubahnya, Kaito melihat waktu pada jam sakunya telah menunjukkan pukul 11.37.
‘Hanya dalam waktu kurang dari enam jam sejak meninggalkan penginapan, semuanya berubah drastis. Aku tidak yakin apakah ini akan berakhir hanya dalam waktu satu hari atau tidak, tapi kita tidak memiliki banyak waktu!’ gumam Kaito dalam hati
Ryou berjalan lebih dulu mendekati lingkaran anak-anak yang masih berdiri di pojok ruangan dekat pintu masuk yang rusak, sedangkan Kaito memasukkan jam sakunya kembali dan masih diam di tempatnya sambil berpikir.
Kaito bahkan kembali melihat ke dalam ruangan tempat mayat Justin berada.
‘Setelah mendapatkan jam saku itu kembali, sekarang giliran pemiliknya yang menghilang. Aku tidak yakin apakah ini benar-benar akan berakhir baik atau tidak tapi aku tidak punya waktu lagi. Seperti yang dikatakan tuan bartender itu, jika memang malam ini pasar gelapnya akan dibuka maka waktu kami untuk menyelamatkan mereka kurang dari sore hari. Kalau tidak cepat mungkin semua akan terlambat’ katanya dalam hati
Sambil berjalan menuju tempat anak-anak itu, Kaito sempat bergumam dengan suara pelan.
“Kemungkinan terburuk yang kupunya adalah mereka bertiga tidak akan selamat sampai nanti sore”
Awalnya pikiran buruk tidak terlintas dalam benaknya. Namun dipikirkan secara rasional olehnya, Kaito tentu menyadari bahwa wanita bernama Seren yang dikatakan oleh Arkan itu sangat berbahaya.
Dia bahkan berpikir wanita itu tidak akan selemah Justin yang bermulut besar.
‘Setidaknya aku harus berpikir bahwa wanita itu lebih kuat dariku. Anggap saja dia adalah dark wolf atau satyr dalam kondisi aneh seperti kemarin malam. Atau jika ingin dibandingkan dengan semua makhluk aneh yang kulawan, aku akan menganggap dia sebagai Chimera versi manusia’ pikirnya dalam hati
Memang pikiran Kaito itu sedikit berlebihan jika membandingkan wanita bernama Seren ini dengan chimera. Tapi, itu sangat beralasan mengingat dia belum pernah bertarung melawannya.
Intinya, mereka tidak boleh lengah demi bisa menyelamatkan ketiga orang yang diculik dan mendapatkan petunjuk tentang kepingan ingatannya.
******
Di wilayah gelap, [Région Crâne Rouge], Seren dan Will tampak sudah sampai di depan sebuah bangunan di samping bangunan berlantai enam [La porte du Paradis].
Mereka berdua masuk ke dalamnya.
Bangunan tersebut adalah sebuah toko biasa berlantai tiga dengan kaca tertutup di setiap sudutnya. Tidak ada tulisan nama toko tersebut dan hanya ada penanda di pintunya dengan tulisan ‘tutup’ yang menggantung.
Seren membuka pintunya dan hanya terlihat etalase dan lemari yang tertutup kain putih.
“Madame, apa semua rak itu tidak kau isi lagi?. Barang-barang kemarin tidak laku terjual atau kau buang?” Will bertanya sambil melihat sekeliling ruangan tersebut
“Mereka sudah dipindahkan ke toko-toko lainnya yang kekurangan barang. Karena kebanyakkan yang tersisa hanya bagian kaki manusia dan sepasang telinga jadi suamiku memberikan potongan harga bagi yang mau membelinya” jelas Seren dengan santai
“Hoo, begitu. Sepertinya bisnis Monsieur setelah membuka tokonya sendiri di samping rumah cukup bagus. Apa malam ini, semua barang-barang ini akan dipajang juga?”
“Kurasa suamiku akan memajangnya sebagai barang utama yang dijual. Aku yakin kau juga tau bahwa harga organ dalam dan tubuh anak-anak semakin meningkat akhir-akhir ini. Orang-orang kaya itu hanya menginginkan semua manusia dan mayat-mayat ini untuk kesenangan mereka”
Mendengar jawaban Seren, Will tersenyum lebar sambil menggangguk setuju lalu menjawabnya sambil tertawa.
“Kau benar, Madame. Hanya orang-orang tanpa hati yang bisa datang ke tempat ini dengan wajah senang. Itu juga tidak berbeda dengan Madame dan aku. Ahahaha”
“Ya, kurasa begitu. Jadi Will, karena aku orang tanpa hati…artinya kenaikkan gaji dan bonusmu tidak diperlukan lagi ya” Seren tersenyum manis sekali sambil melihat pria besar itu
Will langsung pucat dengan hati yang hancur berkeping-keping mendengarnya.
“Tidak, kumohon jangan kejam begitu, Madame!!. Kau sudah berjanji akan menaikkannya 60% tadi!!. Ayolah, Monsieur akan semakin mencintaimu!!. Madame-ku yang tercinta, kau sangat cantik dan baik!!. Pokoknya yang paling cantik dan baik di seluruh tempat ini!!. Aku mohon tolong naikkan gajiku dan bonusnya!!” sekarang Will mulai merengek
“Pfft, hanya bercanda. Gajimu akan tetap naik dengan bonusnya bulan ini. Tidak bisakah kau bercanda denganku sedikit, Will” Seren tertawa kecil sambil berjalan
“A…hahaha”
Sekarang tawa Will yang terpaksa itu mewakili isi hatinya.
‘Madame, candaanmu itu menakutkan!!. Aku lebih senang membunuh banyak orang dibandingkan kehilangan gaji dan bonusku’
Menaikki tangga menuju ke atas, keduanya sampai di sebuah ruangan. Seren membuka pintu ruangan tersebut dan dilihatnya Jack sedang memegang kepala seorang wanita.
“Jack~” nada bicara Seren langsung berubah manis dan manja
Jack yang mendengar suara itu langsung meletakkan kepala wanita itu dan tersenyum lebar.
“Oh Seren istriku yang tercinta~” Jack langsung memeluknya dengan erat
Ruangan tempat Jack berada benar-benar mencerminkan sifatnya sebagai penjual tubuh manusia.
Darah segar dimana-mana, bahkan pakaiannya juga berlumuran darah. Wajah tampannya dan kedua tangannya tidak luput dari noda darah.
Bersama dengan kepala yang sebelumnya dipegang oleh Jack, ada sebuah kepala lainnya berbentuk anak kecil di sana. Lubang bola matanya sudah kosong dengan banyak darah serta mulut terbuka membuktikan lidahnya telah dipotong.
Namun dengan jumlah kepala yang ada di atas meja di ruangan itu ada dua, bisa dipastikan orang yang dibunuh dan dipotong itu berjumlah dua orang.
Meskipun tubuhnya bermandikan darah, dia tidak mau melepaskan kesempatan untuk memeluk sang istri. Lagipula, Seren tidak mempermasalahkan noda darah itu sejak mereka sama-sama terbiasa dengan itu semua.
Ketika Jack memeluk sang istri, dia sempat melihat seseorang di belakang sang istri dan melepaskan pelukannya.
“Kenapa kau ada di sini, William?”
“Mo…Monsieur. Selamat siang Monsieur yang tampan dan berwibawa. Hahaha” wajah Will tampak canggung berhadapan dengan pria tampan itu
“Hoo, siang. Jadi, William sayang, kenapa kau ada di sini dan bukannya menjaga gerbang di luar?. Apa kau akhirnya menyerahkan dirimu padaku untuk dijadikan pajangan di toko ini nanti malam?” Jack bertanya dengan senyumannya
“Itu tidak seperti yang kau pikirkan, Monsieur!. Aku..aku membawakan ini untuk Madame”
Dengan ringannya, Will meletakkan anak dalam plastik yang dibawanya di pundak serta melemparkan tubuh Kino hingga cipratan darah yang ada di lantai mengotori hampir seluruh pakaiannya.
“Huwaa~~” Jack membuka mulut dan matanya lebar-lebar
“Madame mendapatkan ini ketika menuju tempat anak-anak itu, Monsieur” jelas Will
Seren menurunkan plastik yang dibawanya juga dan meletakkannya ke lantai, namun perhatian Jack tidak ke arah kedua plastik itu.
Dia tersenyum lebar dan sangat antusias melihat wajah remaja yang ada di hadapannya.
Sambil terus melihat bentuk jari, warna kulit, membuka matanya untuk melihat bola matanya, mencium aroma rambut sampai memeriksa gigi dan lidahnya, Jack melakukannya dengan detail.
Setelah itu dia tidak bisa menahan rasa senangnya.
“Lihat yang kalian bawa ini!!. Warna kulit yang putih tapi berbeda dengan yang kita punya, giginya begitu rapi tanpa ada yang berlubang, lidahnya pink, bola mata coklat yang tidak pernah kita temui sebelumnya. Anak ini pasti orang asing dan jauh dari negeri lain!!” Jack mendeskripsikannya dengan sangat jelas
“Be…Begitukah menurutmu, Monsieur?” tanya Will dengan heran
Seren yang mendengar hal itu tidak mengatakan apapun dan hanya tersenyum melihat sang suami merasa bahagia.
Belum puas dengan rasa kagumnya, Jack melanjutkan komentarnya kembali.
“Kau lihat ini, William manisku. Jarinya lentik sekali. Agak sedikit aneh memang karena aku tidak mencium aroma keringat atau apapun. Bahkan yang lebih tidak biasa, dari luka sayatan yang kalian buat tidak ada aroma amis darah dari tubuhnya. Ini benar-benar langkah!!. Pasti akan laku keras nanti malam!!”
Seren semakin senang mendengar komentar bagus dari sang suami. Jack berdiri dan langsung memeluk kedua orang yang ada di hadapannya.
“Aku cinta kalian berdua!!”
Tidak lama setelah itu, dia melepaskan Will dan hanya memeluk sang istri sambil berteriak “Seren sayangku yang terbaik!!” dengan lantang.
Will hanya bisa menghela napas sambil tersenyum terpaksa. Namun setelahnya, dia harus menelan ludah karena takut. Hal itu karena Seren mengatakan sesuatu.
“Jack sayangku, karena Will sudah membantuku jadi aku berniat memberinya kenaikkan gaji dan bonus padanya. Tidak masalah kan?”
“Naik gaji?. Bonus?. Memang berapa yang dia minta?”
“60% dari yang sekarang”
“Ma…Madame!!” Will nyaris berteriak penuh keringat dingin
Jack melihat Will dan tersenyum sangat manis untuk memberinya respon paling positif.
“William, aku senang kau mengatakan hal yang selalu kau inginkan”
“Monsieur itu…Ehehehe” Will hanya bisa tertawa dengan penuh keringat dan rasa takut
“Kau akan menerima kenaikkan gaji setelah kau menjual kepalamu itu padaku. Aku bisa membantumu memproses itu sampai akhir bulan. Kau mau?”
Sebuah ucapan sarkas dengan senyum menawan dari Jack.
“Tidak jadi naik gaji, Monsieur. Yang sekarang juga sudah cukup untuk membuatku bernapas di dunia ini. Selama gaji dan bonusnya masih rutin tiap bulan, itu cukup. Ahahaha” Will hanya bisa pasrah
“Begitu. Padahal aku akan menaikkan gajimu 100% kalau kepalamu itu dijual padaku. Sayang sekali”
Dalam hati, Will hanya bisa bergumam.
‘Kalau aku iyakan tawaran itu sama saja aku mati, dasar majikan kejam tidak punya hati!!!. Lelaki berhati sempit!!. Sudah kuduga kalau mengatakan itu di depan Monsieur maka kepalaku yang akan ditawar!!. Madame, kau jahat sekali’
Will mulai terlihat seperti anak kecil yang meneteskan air mata. Tapi sepertinya nasib baik cukup mendukungnya sekarang.
“Suamiku, kalau tidak mau memberinya tambahan bonus kau kurasa tidak masalah. Tapi karena aku sudah berjanji padanya, tidak bisakah kau menaikkan gajinya 30% saja?. Kurasa tidak akan terlalu buruk. Suamiku berhati besar dan baik, benar kan?” suara manja Seren benar-benar godaan untuk Jack
Menghela napas panjang karena tidak mau mengecewakan sang istri, akhirnya Jack menyetujui permintaan Seren.
“Baiklah, William. Hanya 30% saja yang akan kuberikan padamu bulan ini. Berterima kasihlah pada malaikat cantikku ini dan pindahkan kedua plastik itu. Bawa ke ruang sebelah saja”
“Oh, terima kasih banyak, Monsieur, Madame~” Will benar-benar terharu sekarang
Seperti gambaran ballerina yang sedang menari, dia membawa kedua kantong plastik itu dengan mudah sambil bersenandung.
Pasangan suami-istri itu melihat remaja yang ada di lantai.
“Kau yang melukainya kan?” Jack bertanya pada Seren
“Benar. Dia sempat melawan. Kukira saat itu aku berhasil melukai perutnya, tapi dia berhasil menahannya dengan tangan kirinya sendiri. Meskipun tidak bertahan lama. Karena kupikir Jack mau memotongnya sendiri jadi aku sengaja membawanya dalam keadaan hidup”
“Begitu. Kerja bagus. Sekarang biarkan aku melakukan tugasku. Akan kucongkel bola mata indah itu dan kupotong lidahnya” kata Jack sambil berjalan ke meja untuk mengambil pisau
Namun sebelum melakukannya, Seren mencegahnya.
“Nee, tidak bisakah kita bersantai dulu. Sejak pagi kau sudah sangat sibuk. Selain itu kau sama sekali belum melihat malaikat kecil milik Justin. Jack tidak mau memeriksanya sebentar ke samping?”
“Hmm…” Jack berpikir
Setelah berpikir beberapa detik akhirnya dia mengangguk setuju dan pergi menutup pintu ruangan itu.
******