Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 327. Ryou dan Drama dengan si Kembar



Di tempat lain yang disebut kantin. Atau mungkin memiliki sebutan lain di mata Ryou sekarang. Terlihat dari wajah anehnya itu.


“Apa…ini? The Christ Church College Great Hall di Oxford?”


“Apa yang kau bicarakan. Ini kantin biasa” jawab Jene


“Jangan mencoba membodohiku, anak muda. Aku tau sebutan kantin biasa dengan kantin luar biasa”


“Ini luar biasa untukmu? Kau dari kalangan bawah ya? Kasihan sekali” Jene mulai mengejek


“Jangan mencoba mengejekku ya! Di tempatku, aku termasuk dalam kalangan atas! Kalau hanya makan makanan mewah, aku juga sering karena sekolahku itu sekolah berbasis internasional. Sembarangan sekali mulutmu itu bicara, dasar orang kaya kampungan!”


“Berani sekali kau bicara begitu pada seniormu?!”


“Kenapa? Tidak terima?! Salah kalian sendiri membawaku bersama kalian!”


“Dasar tidak sopan! Mulut kurang etika!”


“Dasar senior gadungan! Penculik tidak bermoral!”


Di keramaian para siswa yang sedang hendak makan, Ryou dan Jene sukses membuat mereka berdua menjadi tontonan gratis. Sudah begitu, Jessie hanya bisa menutup wajahnya karena malu dengan sikap kakak kembarnya.


‘Malu sekali. Habislah kami! Jika ada anggota divisi lain yang lihat, Lucas-sama mungkin akan menegur kami berdua’ keluhnya dalam hati


Sekarang, Ryou sedang duduk di dalam sebuah kantin di Akademi Sekolah Sihir.


Tempat itu benar-benar mirip dunia fantasi, atau lebih mirip dengan kantin sekolah elit di luar negeri yang belum pernah dia masuki dan hanya berbekalkan keingintauannya di internet.


Ryou mulai bicara dengan tangan menyilang di dada, “Setelah kalian mencoba menculikku, bukan…setelah dibawa ke tempat asing mirip kantin di Hogwart, mau apa kalian?”


Jessie menarik lengan baju Jene sekali dan berbisik, “Aku yang bicara, kamu diam saja”


“Tapi kalau dia mengeluarkan kata-kata menyebalkan bagaimana?” bisik Jene


“Diam dan lihat saja”


Jessie berdiri dan berjalan ke meja menu makanan. Di sana, makanan diambil sendiri jadi bebas mengambil yang disukai.


Dan yang paling hebatnya, makanan di sana semuanya gratis dari akademi. Hal itu karena semuanya sudah masuk dalam biaya masuk dan sumbangan keluarga bangsawan.


Ryou hanya diam melihat wajah menyebalkan Jene dan Jene sendiri melihat Ryou dengan tatapan sinis.


‘Kenapa juga aku harus berurusan dengannya. Bagaimana dengan Kino? Bagaimana kalau dia menungguku sendirian?’


‘Kalau sampai Kino tersesat di sini dan tidak bisa kembali karena dibawa pergi oleh gadis kecil nakal kemarin, akan kugoreng si kembar ini! Terserah saja dia itu calon ipar Xenon atau apapun!’


Ryou bergumam sendiri karena kesal dan rupanya Jene sendiri juga tidak kalah kesalnya. Dia juga menggerutu dalam hati.


‘Menyebalkan! Jika dia bukan orang yang tau apa yang Xenon sembunyikan dari kami berdua, aku tidak mau berurusan dengan anak ini!’


‘Aku tidak peduli siapa dia, yang aku butuhkan hanyalah informasi tentang Xenon. Kalau sudah, akan kulempar dia ke kolam jika berani macam-macam’


‘Mulut dan sifatnya itu sama menyebalkannya! Aku yakin dia tidak akan tahan di akademi ini! Dasar laki-laki cerewet seperti perempuan!’


Ada sebuah sengatan listrik di dekat mata mereka, persis seperti anime yang ditonton Ryou. Menakjubkan.


Tidak lama kemudian, Jessie datang membawa nampan berisi beberapa makanan. Di belakangnya, ada pihak kantin yang membantunya juga.


“Terima kasih banyak” ucapnya


“Sama-sama, Lady. Kami permisi dulu”


Makanan itu adalah makan siang yang dipesan Jessie untuk tiga orang. Tentu saja, semua itu adalah bentuk sogokkan untuk Ryou karena hampir semua menu mahal diberikan padanya.


Setidaknya mahal di mata Ryou, mungkin.


“Apa…ini?”


“Orang kampungan belum pernah melihat makanan ini, benar kan?” ejek Jene


“Jene!” Jessie membentak kembarannya


Sebenarnya bukan karena itu Ryou terkejut. “Kalian kenapa tidak membawakan lebih banyak lagi? Kasihan sekali kalian mengambilnya terlalu sedikit. Diam di sini, aku mau ambil makanannya lagi”


“Hah?!”


Ryou berdiri dan pergi untuk mengambil makanannya lagi. Kalau orang lain, mungkin akan memilih untuk kabur selagi sempat, lagipula kedua kembaran itu juga tidak curiga sama sekali.


Aneh sekali Ryou justru pergi mengambil makanan di saat dia bisa lolos dan kabur.


‘Mumpung makanannya enak, kenapa tidak dicicipi. Aku akan sedikit pamer pada Kaito nanti. Meskipun tidak merasakan haus dan lapar, tapi kalau makan banyak masih aman. Benar kan?’


Ryou benar-benar memanfaatkan situasi dengan baik. Dia kembali ke meja membawa beberapa makanan lain.


“Nah, kalau mau menyogokku itu sebaiknya jangan setengah-setengah. Aku sendiri malas mengurusi kalian kalau setengah-setengah begini”


“……”


Kedua saudara kembar itu benar-benar merasa dikerjai. Siapa yang mengira kalau remaja di depan mereka mengambil menu mahal lain.


“Oh iya, hampir lupa. Tadi kau bilang apa? Baru pertama kali makan makanan mahal? Yang benar saja! Di sekolahku makanan ini juga banyak. Perlu kusebutkan namanya?”


“Hah?”


“Ini Scotch Egg, Fish n Chips, Cornish Pasty, Steak and Kidney Pie, Bubble and Squeak dan makanan penutup pilihanku, Victoria Sponge Cake. Aku benar, kan?”


“……” Jene terdiam dengan wajah syok


Ryou langsung mengeluarkan ulti miliknya.


“Begini saja juga aku sering makan. Sombong sekali mengatakan aku kampungan. Padahal sendirinya saja belum pernah makan makanan yang dimasak orang biasa dan bukan koki bintang 3”


“Sebaiknya kampungan tidak berkata kampungan pada orang lain. Kalau butuh cermin, kebetulan pisau dan sendok di tanganmu kan terbuat dari perak. Pakai saja untuk berkaca sebentar. Bagaimana?”


Benar-benar serangan pedas menusuk hati, menghancurkan mental dari Ryou. Tampaknya Jene harus menerima kekalahannya.


Skor sementara dipimpin oleh Ryou dengan 1-0.


Ryou yang santai memakan makanan di mejanya tidak memikirkan seberapa besar damage dari serangan mulutnya itu pada si kembar.


‘Salah sendiri mencoba menyerangku. Lagipula, aku tidak peduli pada mentalnya. Dia kan anggota divisi, kalau kata-kataku bisa membuat mentalnya lemah berarti dia menyedihkan’


Pikiran Ryou lebih realistis dari yang diduga dan tampaknya Jessie mencoba menenangkan Jene yang sudah kesal dengan sikap Ryou.


“Jene, tenanglah”


“Cih!”


Ryou hanya melihat mereka dengan wajah penuh kemenangan.


Selama makan, mereka tidak mengatakan apapun dan hanya saling melihat satu sama lain. Ryou juga tampaknya tidak banyak bicara.


Ketika alat makannya diletakkan di meja kembali, Ryou mengelap bibirnya dengan serbet makan di meja dan memuji makanannya.


“Aku suka makanan di sini. Tempat ini cukup bagus untukku. Enak sekali bisa makan seperti ini setiap hari. Sayang, di kantin sekolahku menunya selalu ganti-ganti. Tentu saja, makanannya mewah juga. Ahahaha!”


Ryou mencoba memanas-manasi Jene yang ternyata terpancing juga.


“Berisik! Ini waktunya makan!”


“Kau belum selesai, tapi aku kan sudah selesai makan. Kau saja yang makan dengan tenang, aku bebas bicara”


“Ukh!”


Lagi-lagi kemenangan untuk Ryou. Skor sementara kembali dipimpin Ryou dengan 2-0.


Jessie yang melihat kakaknya seperti itu menjadi pusing.


“Kita ingin bertanya mengenai Xenon, bukan adu mulut di kantin sekolah. Siapa saja…tolong aku”


Tampaknya doa Jessie terkabul.


“Ryou? Ternyata kamu di sini. Aku mencarimu dari tadi”


Tebak siapa yang datang? Benar, itu adalah satu-satunya orang yang bisa mengendalikan mulut pedas dan emosi Ryou.


“Kino!!”


Ryou bangun dan menghampiri sang kakak yang baru saja tiba. Di sini, Jessie dan Jene melihat secerca harapan di mata mereka.


‘Akhirnya ada malaikat yang bisa membantu kita!’


Dan dimulailah sedikit perjalanan setengah hari keempat orang itu di kantin.


******