Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 117. Setelah Kejadian bag. 2



Sebelumnya, ketika Ryou masih berdebat panas dengan semua anak-anak itu…


“Tidak! Jangan dekati kami, setan! Roh jahat! Orang jelek! Wajah merah Ryou-nii membuktikan kalau kau masih memiliki aura hitam! Jangan nodai Kino-nii!!” Theo membalas teriakan Ryou


“Akan kulempar kalian semua dari jendela kamar ini! Jangan sembarangan bicara kalian, dasar bocah-bocah tidak sopan! Menjauh dari Kino!!” balas Ryou pada semua anak-anak itu


“Kurasa…aku butuh udara segar sekarang” gumam Kino pelan


Joel yang mendengar gumaman pelan dari remaja itu langsung berinisiatif untuk menghentikan Theo dan yang lainnya.


“Bo–bocah kecil, oi! Tidakkah kalian memikirkan Kino-niichan kalian itu? Dia pasien yang baru saja sadar, ingat? Jangan membuatnya tertekan dengan pertengkaran kalian!” Joel berusaha menenangkan semua anak-anak itu


Mendengar itu, Theo dan yang lain memandang Kino yang terlihat memaksakan senyumannya.


“Apa…Theo-kun dan yang lain sudah tidak apa-apa?” tanya Kino sambil tersenyum


“Ma–maafkan kami, Kino-nii. Kami semua membuatmu tidak nyaman” Theo terlihat murung dan merasa bersalah padanya


“Maafkan kami, Kino-niisan”


“Kami minta maaf”


“Kino-niichan tidak marah, kan?”


Kino tersenyum mendengar mereka semua dan mengusap kepala anak-anak itu.


“Tidak apa-apa, aku tidak marah. Ryou juga, jangan terbawa emosi ya” seru Kino pada sang adik


“Cih!” Ryou hanya berdecak sambil menolehkan wajahnya yang masih cemberut


Joel yang melihat itu cukup kagum dengan remaja itu.


‘Jadi dia orang yang bocah kecil itu sukai. Mereka memilih orang yang tepat. Aku hanya selalu mendengar anak-anak itu mengatakan ingin bertemu dengan Kino-niichan yang ini dan Kino-niichan yang itu, tapi setelah melihatnya aku mengerti kenapa mereka begitu menyukainya’ puji Joel dalam hati


Stelani dan Fabil yang masih sibuk mengusap-usap lengan kiri Kino terlihat murung.


“Kino-niisan, apa tangannya masih sakit?” tanya Stelani dengan wajah menahan air mata


“Sudah tidak lagi. Jangan melihatku dengan wajah sedih seperti itu. Aku benar-benar tidak apa-apa”


“Umm…” gadis kecil itu hanya menganggukkan kepalanya


Kino ingin bicara dengan Ryou dan Kaito karena banyak hal yang harus ditanyakan, tapi mengusir semua orang yang peduli padanya bukanlah hal baik. Sepertinya, keberuntungan cukup berpihak padanya.


“Oh! Aku lupa, bukankah kita harus mengambil kue yang sudah kalian beli untuk Kino-niichan kalian?” Joel berinisiatif untuk mengajak mereka pergi


“Oh! Kue krimnya!” Michaela terlihat bersemangat menyebutkannya


-Deg


Sepertinya ada satu orang yang memiliki masalah setelah mendengar kata tersebut. Entah kenapa, jantung Arkan seperti terkena serangan kejutan mendengar kata ‘kue krim’.


‘Sepertinya aku memiliki trauma pada kue krim mulai sekarang’ pikirnya dalam hati


Kino melihat Joel yang mengedipkan satu matanya sebagai isyarat. Beruntung, Kino menyadari itu dan mulai membuat sebuah alasan.


“Apa benar kalian semua membeli kue untukku?” tanya Kino dengan wajah tersenyum


“Benar! Kami beli saat belanja dan menitipkannya pada Joel-ojichan. Iya kan, Joel-ojichan?”


“Benar benar. Kau benar, Michaela. Karena Kino-niichan kalian sudah bangun, bukankah ini saat yang tepat untuk memberikannya kue itu? Kita ambil di tempat pendingin di bar sekarang ya?”


Semua anak-anak terlihat senang dengan usulan itu. Mereka bahkan bertanya pada Kino mengenai kuenya.


“Kino-niichan, apa kau mau makan kue krim seperti yang kita makan di restoran waktu itu bersama-sama lagi?” tanya Fabil dengan wajah senang


“Tentu. Aku senang mendengar kalian membelikan aku kue krim. Aku rasa itu mulai membuatku lapar sekarang . Aku sangat menantikan kue yang kalian beli. Kita makan sama-sama ya”


“Horee~ Joel-ojichan, ayo kita ambil kuenya sekarang” Michaela menjadi sangat semangat


“Apa Arkan-nii tidak ikut?” tanya Theo saat dirinya akan keluar dari ruangan itu


“Tidak. Masih ada sedikit urusan yang harus aku selesaikan. Kembalilah dulu ke bar. Kami semua akan menunggu kalian di sini”


Dalam hati, Arkan menambahkan beberapa alasan lain yang tidak bisa dia ungkapkan.


‘Aku memiliki trauma pada kue krim sejak Seren-sama masih mengungkit kue red velvet dan tehnya yang tidak sengaja kujatuhkan. Kurasa akan sangat buruk kalau bertemu dengannya di bar nanti’


“Tidak usah kembali ya, anak nakal!” teriak Ryou


“Dasar orang jelek! Mbleeeh!” Theo mengejek Ryou dengan menjulurkan lidahnya lalu berlari keluar


Kino hanya tersenyum dan menghela napas lega. Akhirnya dia bisa berada bersama Ryou, Kaito dan Arkan untuk membahas hal yang ingin sekali dia tanyakan.


**


Setelah menutup pintu, Theo melihat Joel dan yang lain menunggunya.


“Kenapa, bocah kecil? Apa kau habis meledek adik dari Kino-niichan kalian?” tanya Joel


“Kau tidak menganggap kalau aku benar-benar membenci Ryou-nii, kan? Aku hanya suka beradu mulut dengannya tapi aku tidak membencinya sama sekali. Lagipula dia adik Kino-nii” Theo menjawab dengan jujur


Joel hanya tersenyum dan membiarkan anak-anak itu berjalan lebih dulu menuruni tangga rumah sakit. Sementara Theo, sedikitnya masih sering memperhatikan Stelani dan Fabil yang berjalan di depannya.


Di luar lobi rumah sakit, Riz duduk di bawah kursi teduh yang ada di bawah pohon di samping pintu rumah sakit sambil memegang dua pedang dan memakai sabuk penyimpan pisau.


“Riz-niichan!!” Fabil berteriak memanggil Riz yang duduk


Riz menengok dan melambaikan tangannya.


“Bagaimana?”


“Kino-niisan sudah sadar, Riz-niisan. Terima kasih banyak sudah menolong kami semua” Stelani membungkuk dan mengucapkan terima kasih padanya


“Tapi dengan begini, sumber barangmu jadi berkurang ya” celetuk Joel pada Riz


“Dua hari ini aku sudah menangis jadi jangan bahas itu lagi. Kita akan pulang, kan?”


“Kita kembali ke bar tapi hanya untuk mengambil kue di lemari pendingin. Mereka semua ingin memberikan kue yang dibeli dua hari lalu pada Kino-niichan mereka”


“Hmm…kurasa aku juga harus bertemu dengan remaja itu nanti. Kita kembali sekarang”


Mereka berjalan melewati jalan utama di pusat kota. Theo dan yang lain berjalan di depan mereka sedangkan dua orang dewasa itu berjalan di belakang sambil membicarakan hal serius.


“Apa…luka kedua anak itu sudah sembuh sampai diperbolehkan untuk pulang?” tanya Riz pada Joel


“Luka milik Fabil tidak begitu parah dan telah diperban, sedangkan Stelani mungkin bisa dibilang terlalu cepat untuk pulang. Aku dengar dia menerima tendangan kuat dari wanita itu jadi tidak heran bila luka pada tangannya menciptakan memar yang lumayan”


“Tapi kenapa tidak tampak seperti itu?” Riz melihat gadis kecil di depannya dengan wajah heran


“Itu karena tidak ada tulang yang patah. Mungkin gadis kecil itu awalnya merasa bahwa tulang tangannya patah akibat lukanya tapi sepertinya tidak begitu. Kakinya yang terkilir juga sudah lebih baik karena diberikan perban dan pereda nyeri” ujar Joel menjelaskan semua pada Riz


“Syukurlah. Kupikir akan terjadi tragedi saat itu. Aku senang kau ada di bar saat aku datang, paman Joel”


“Aa, aku sendiri cukup kaget ketika kau datang. Aku pikir aku akan mengalami serangan jantung”


Dua hari yang lalu…


Di siang hari, tepat setelah keluar dari pasar gelap, Kaito yang menggendong Kino yang masih tidak sadarkan diri berlari dengan cepat. Bahkan Riz yang diminta untuk menunjukkan jalannya masih sulit mengimbangi kecepatan berlari Kaito. Apalagi, Riz mendorong gerobaknya.


“Kai…to…sebaiknya jangan terlalu cepat agar aku bisa mengimbangimu…haaah…haaah…” ucap Riz sambil berlari dan mengatur napasnya


“Tidak ada waktu untuk menunggu! Kino mungkin saja dalam situasi kritis sekarang! Kalau kau memang tidak bisa mengimbangiku, beritau saja nama tempat dan dimana letaknya!”


“Keluar dari sini dan menuju pusat kota! Di sana ada rumah sakit tidak jauh dari jalanan utama di kota! Kalau kau yakin bisa menemukannya, pergilah bersama Arkan!” seru Riz pada Kaito


“Aku mengerti! Ryou, tuan bartender! Kita ke pusat kota, tunjukkan jalannya pada kami!”


“Aku mengerti!” jawab Arkan yang menggendong Stelani


Dia sempat menengok ke arah Fabil yang terlihat lelah.


“Kau masih bisa berlari sedikit lebih cepat?”


“Aku masih bisa berlari. Keselamatan Kino-niichan lebih penting!” jawab Fabil yang terus mengatur napasnya


“Arkan! Bawa kedua anak itu juga ke rumah sakit dan periksa luka mereka!” teriak Riz yang mulai melambat dan sekarang berada di posisi paling akhir


Arkan hanya mengangguk sekali dan berlari melewati jalan di wilayah gelap tersebut.


Setelah Riz menyadari jarak antara mereka dengan dirinya mulai menjauh, dia berhenti berlari dengan napas yang terengah-engah. Seakan tidak sanggup untuk berdiri, dia mulai bertumpu pada gerobaknya.


“Syukurlah semua berakhir baik. Kuharap untuk sekarang semua baik-baik saja. Haah…haaah…haaah…”


Riz mulai berpikir serius.


‘Ini bukanlah hasil yang terbaik, namun aku merasa cukup lega karena bisa keluar dengan mereka semua tanpa terjadi pertumpahan darah. Selain itu, misteri remaja bernama Kino itu juga masih belum terpecahkan’ pikirnya dalam hati


Setelah beberapa lama, Riz mulai berjalan kembali. Dia berjalan lalu tidak lama kemudian dia berbelok jalan yang sebelumnya dia lewati. Itu adalah arah menuju bar.


Riz masih tenggelam dalam pikiran rumitnya.


‘Ada kemungkinan keanehan yang dimilikinya juga ada pada diri Ryou dan Kaito. Mungkin sedikit tidak sopan, tapi kurasa aku akan menyelidiki hal ini lebih dalam setelah mendapat kepastian bagaimana keadaan remaja itu nanti’


Dalam semua prasangka di pikirannya tersebut, Riz masih tidak percaya bahwa dia bisa melakukan transaksi paling gila dan paling tidak masuk akal yang pernah terjadi. Apalagi, orang yang menjadi partnernya adalah pengelola pasar gelap.


“Kuharap nanti malam aku tidak mendapat perlakuan buruk dari Jack-sama dan Seren-sama karena hasil transaksi ini. Aku juga harus kembali ke sana untuk membantu Jack-sama memindahkan mayat paman Will. Selain itu…”


Dia tidak melanjutkan kalimatnya.


Riz mulai memantapkan hati untuk kembali ke bar dan bermaksud memberitaukan hal ini pada anak-anak yang menunggu di sana.


“Setidaknya ayo kembali dan sampaikan pada mereka bahwa semua sudah selesai. Kuharap remaja bernama Kino itu tidak mati”


Langkah kaki Riz mulai dipercepat.


**


Di bar [Barre des Noirs], Joel yang sebelumnya selesai berpikir mulai merapikan kursi dan meja yang ditariknya beberapa waktu lalu. Setelah merapikannya, dia mulai ke meja bar dan membuat sedikit minuman untuknya.


Tidak disangka dia menemukan sesuatu di bawa meja bar.


“Gelas? Bahkan ada tiga buah seperti ini di lantai?! Siapa yang meletakkannya di tempat seperti ini?”


Joel mengambilnya dan mencium aroma gelas tersebut.


“Ini masih belum teralu lama. Akh! Pasti karyawan bodoh itu yang minum di saat terdesak! Awas saja dia nanti!” gerutu Joel


Joel akhirnya membereskan semua gelas itu dan membawanya ke belakang. Dia meletakkannya di wastafel dan berjalan ke tempat pakaian kotor anak-anak itu. Dia melihatnya meskipun tidak menyentuhnya.


“Hmm…haruskah aku membawanya ke tukang cuci langgananku?” gumamnya sendiri sambil memegang dagunya


Tidak lama setelah itu, Joel jadi menyadari sesuatu.


“Woaah! Sekarang aku terlihat seperti seorang bapak yang memiliki banyak anak. Ahahaha, meskipun wajahku tidak bersahabat tapi aku benar-benar seorang laki-laki yang penyayang. Pantas pacar-pacarku mencintai….um…mereka sepertinya hanya menyukai uangku”


Seketika suasana ceria Joel berubah suram karena dia menyadari bahwa cinta itu sama kejamnya dengan uang.


“Lupakan soal pacar-pacarku! Demi mengembalikan harga diriku dan tidak membiarkan bocah kecil itu memanggilku paman mesum lagi, aku akan putus dengan semua pacar-pacarku dan kembali menjadi suami setia”


Tekad yang bagus. Itu juga…kalau perkataan Joel dapat dipercaya.


******