
“Aku bukan pacarnya. Aku tunangan Xenon”
“Eh?” ketiga remaja dunia lain akhirnya hanya bisa melihat dengan wajah datar
“Ini tunanganku, Jessie Rottenburg”
“Tuna–”
“Maaf, aku ralat. Namanya Lady Jessie Rottenburg-sama dan di sampingnya adalah kakak kembar Jessie-sama, Jene Rottenburg-sama. Mereka sama sepertiku, anggota divisi namun dari Divisi Pertahanan yang dipimpin oleh Algeria-sama.”
Jessie sedikit senang dengan perkenalan yang dilakukan Xenon. Meskipun kata formal di belakang namanya itu sangat membuatnya sedikit tidak nyaman, tapi menyebut dirinya sebagai tunangan adalah hal yang begitu ingin didengarnya.
‘Senangnya~Xenon memperkenalkan aku sebagai tunangan. ‘Tunanganku’ dia bilang. Rasanya seperti mimpi’ kata Jessie dalam hati
Ryou hanya bisa diam dengan wajah datar. Nyaris seperti tidak bisa berekspresi. Ini disebut dengan terlanjur syok di tempat.
“Kenapa wajahmu aneh?” tanya Xenon
“Aku hanya mencoba kembali ke alam nyata setelah melakukan perjalanan waktu”
“Hah?”
“Aku merasa seperti mendengar sesuatu seperti kau yang punya tunangan gadis cantik dan dia berasal dari keluarga pahlawan.
“……!!” Xenon terkejut mendengar itu. “Dari mana kau tau soal itu?”
“Hmm?”
Xenon menutup mulutnya dan mengatakan, “Bukan apa-apa”
Jene melihat Xenon dengan wajah cukup aneh, seperti mencurigainya. Namun untuk saat ini, tidak ada yang perlu dikatakan olehnya.
Kino mendekati ketiga orang di hadapannya.
“Selamat sore, perkenalkan namaku Yuki Kino dan ini adikku, Yuki Ryou”
“Sa–salam kenal” jawab Jessie malu-malu
Jene menengok ke arah remaja dengan pedang di pinggangnya. Dia cukup lama memandangi remaja itu sambil bertanya pada Kino, “Kalau di belakang kalian itu?”
“Kaito. Namaku Kaito”
“Kaito ya. Namaku Jene. Apa kau seorang pengguna senjata sihir?”
“Senjata sihir?”
“Senjatamu itu dilapisi sihir. Itu pedang sihir, kan?”
“……” Kaito terdiam
Dia tidak berpikir akan ada dua orang yang mengatakan hal itu. Pertama Xenon dan yang kedua adalah pemuda bernama Jene. Kaito hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
“Bukan. Ini pedang biasa, namun sepertinya memiliki sihir yang melapisi pedang ini jadi terlihat seperti benda sihir”
“Begitu”
‘Sebenarnya tidak begitu. ‘Orang itu’ memang memberikan magis untuk benda-bendaku, tapi kami bertiga sudah memutuskan untuk merahasiakan beberapa hal jadi sebaiknya berpura-pura polos’ dalam batin Kaito
Xenon melepas tangan Jessie untuk berbisik pada Kino.
“Kino, ada sesuatu?”
“Kami ingin bicara denganmu tapi tampaknya sementara ini kami akan menyimpannya untuk malam nanti. Ini sangat penting”
“Begitu. Sebenarnya aku juga ingin cerita, tapi dengan adanya dua kembaran itu aku jadi tidak bisa bebas bergerak”
Jessie mendekati Xenon perlahan dari belakang, “Xenon?”
“Ah! Kita cari tempat ya. Ryou, makanan ini aku terima. Terima kasih. Ayo, kita pergi makan ke tempat favoritku”
“Tempat favorit?” Jessie dan Jene bertanya secara bersamaan
Keenam remaja itu pergi ke sebuah kedai kecil yang sangat tidak asing bagi Kaito dan Yuki bersaudara.
“Kita baru makan di sini kemarin malam, Xenon” kata Ryou
“Terus?”
“Apa gunanya makanan yang aku beli untukmu itu?”
“Memang kenapa? Kau niat memberikan ini untukku atau tidak?”
“Kau tidak mau menghargai 100 Penny Libra yang aku keluarkan dengan penuh drama dan air mata?”
“Memangnya berapa liter darah dan air mata yang keluar untuk membeli ini?” Xenon jadi sedikit meladeni omong kosong Ryou
“Cukup banyak untuk ditukar dengan 100 Penny Libra di kantongmu. Aku mau makan gratis!”
“Kau ini tidak tau malu atau tidak tau diri?” tanya Xenon sambil memandang aneh Ryou
“Aku ini anak baik-baik. Lihat wajah polosku ini”
“……”
Mendengar ucapan Ryou yang penuh dengan kepercayaan diri yang tinggi, Kino dan Kaito saling menatap satu sama lain dan berbisik sendiri.
“Benar”
“Lalu kenapa dia minta ditraktir makan sekarang?”
“Aku tidak tau, Kaito-san. Mungkin ini yang disebut dengan mencari kesempatan dalam kesempitan”
“Lalu, apa tadi kita sampai berdarah-darah untuk membeli roti itu?” tanya Kaito lagi sambil berbisik
“Tidak”
“Lalu kenapa adikmu bicara begitu?”
“Aku tidak tau. Aku tidak tau sejak kapan dia bisa seperti itu. Kepalaku sakit, Kaito-san”
“Jangan sakit, Kino. Tidak ada orang lain yang bisa menang dari mulut adikmu itu kecuali kau”
Jessie dan Jene tidak menyangka akan melihat pemandangan ini. Jene bahkan bertanya pada mereka yang sibuk sendiri di depannya.
“Xenon, berapa lama kau mengenal mereka bertiga?”
“Kemarin. Lebih tepatnya aku bertemu mereka tidak sengaja”
“Kemarin?! Benar-benar kemarin?”
“Apa itu masalah, Jene-sama?”
“……” kedua saudara kembar itu tertegun diam tanpa kata
Dalam hati keduanya, hanya pertanyaan yang diungkapkan.
‘Apakah Xenon memang seperti ini? Kenapa aku belum pernah melihat sisi dirinya yang seperti ini selama menjadi teman masa kecilnya? Dia selalu menjaga jaraknya dari aku dan Jessie’
‘Kenapa Xenon bisa seakrab itu pada orang yang baru dikenalnya namun sangat dingin pada kami?’
Tampaknya, sisi Xenon yang seperti ini adalah hal langka untuk kedua saudara kembar itu dan akhirnya mereka mulai menyentuh sisi lain dari seorang Xenon yang menganggap dirinya rendah.
**
Di dalam kedai makan, mereka melihat-lihat menu makanannya. Jessie dan Jene tampak begitu asing dengan semua menu tersebut.
“Menu apa ini?” tanya Jene
“Makanan normal yang biasa dimakan oleh orang normal. Apakah Jene-sama belum pernah mencicipi ini?”
“Ini…tidak dimasak oleh koki bintang 3 atau 5?”
“Tidak. Ini dibuat oleh tukang masak biasa”
Jessie dan Jene saling melihat satu sama lain. Kaito dan Yuki bersaudara juga saling melihat dan berbisik.
“Memang orang kaya begitu?” tanya Ryou
“Aku rasa ada sebuah tata krama yang tidak bisa dijelaskan” jawab Kaito menebaknya saja
“Kalian, pilih saja menunya dan jangan berkomentar” Kino berusaha menengahi
Akhirnya, ketiga remaja dari dunia lain telah memutuskan pilihannya dan Xenon memanggil pelayan.
Saat semua pesanan milih ketiga remaja dunia lain dan Xenon selesai dicatat, Jene bertanya pada pelayan yang ada di sebelahnya.
“Ini kalian masak sampai matang kan?”
“Benar tuan”
“Tidak pakai bahan sisa kan?”
“Tidak tuan. Apa ada masalah?”
“Aku hanya tidak terbiasa dengan menu ini”
Mendengar itu, pelayan tersebut langsung berubah aneh. Raut wajahnya seperti antara senang dan tidak senang. Kino menyadari hal itu dan langsung mencari alasan bagus.
“Ah, maaf. Mereka berdua baru saja melihat menu ini karena selama ini berada di asrama sekolah. Menu makanannya mungkin sedikit asing dari yang mereka tau. Boleh dipesankan yang sama seperti kami bertiga saja?”
“Begitu ya. Baiklah, mohon tunggu sebentar”
Pelayan tersebut tersenyum sebelum pergi. Ryou memandang pemuda bernama Jene.
“Kau terlalu kaku rupanya. Anak kecil saja tau bahwa tata krama itu nomor satu”
“Apa maksudmu?” Jene tampaknya tidak senang dengan ucapan itu
“Kalian ini bangsawan yang tidak terlihat seperti bangsawan untukku. Kampungan”
“Apa katamu?!”
“Tolong jangan membuat kami berempat malu karena ucapan kalian ya, tuan muda”
Pertemuan pertama ketiga remaja dari dunia lain dengan tunangan Xenon dan kembarannnya itu seperti sebuah badai di laut tenang.
******