Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 112. Orang yang Paling Berharga bag. 1



Tokyo, Jepang tahun 2018.


Kediaman Keluarga Yuki, di pagi hari saat musim panas.


“Kino, Ryou! Kita harus cepat atau nanti pantainya penuh!”


Terlihat sosok wanita yang memasukkan banyak minuman kaleng ke dalam kotak es besar dan sosok pria yang membawa selusin air botol yang diletakkan di dalam bagasi mobil.


Di lantai dua, di kamar milik seorang anak.


“Ryou, ayah dan ibu sudah memanggil. Kalau tidak cepat nanti kita terlambat untuk pergi ke pantai”


“Sabar dulu, Kino! Aku harus memasukkan PS Vita milikku ke dalam tas!”


“Haaa, ya sudah. Aku turun ya”


Sang anak pergi meninggalkan adiknya dan turun ke bawah.


“Eh!! Tunggu aku! Kenapa kau meninggalkanku sendiri! Kino!!”


Dengan terburu-buru, anak tersebut memasukkan banyak hal termasuk benda panjang berbentuk game ke dalam tasnya. Karena terburu-buru, sesuatu jatuh di lantai kamar tanpa disadari oleh anak tersebut.


Keluarga tersebut akhirnya menaikki mobil dan berangkat.


“Ryou, jangan katakan pada ibu kalau kau lama karena memasukkan game milikmu” tanya sang ibu yang duduk di kursi depan bersama sang suami


“Aku belum menyelesaikan level berikutnya untuk melawan last boss, ibu” Ryou menjawab sambil mencari sesuatu di dalam tasnya


“Lain kali, siapkan lebih dulu sebelum tidur. Ibu sudah katakan padamu sebelumnya, kan?”


“Umm” jawab Ryou singkat seakan tidak peduli


Kino melihat sang adik yang sibuk dengan tasnya dan kembali melihat brosur pantai yang akan dituju.


“Ayah, kita akan menginap di hotel dekat pantai hari ini?” tanya Kino


“Hmm, tadinya ingin memesan kamar hotel, tapi berhubung hari ini kita hanya akan bermain sampai sore mungkin lain kali. Ayah minta maaf ya, Kino” jawab sang ayah yang menyetir mobil


“Tidak apa-apa. Aku hanya bertanya. Selain itu, hari ini adalah hari kedua di musim panas jadi kita masih memiliki banyak waktu bersama” Kino memberikan respon dengan senyuman


Kedua orang tua mereka tersenyum mendengarnya dan tiba-tiba dikejutkan dengan suara teriakan Ryou.


“Tidak ada!! PS Vita yang seharusnya sudah kumasukkan tidak ada di dalam tas?!”


“Ada apa, anak-anak?” tanya sang ibu dengan wajah panik


“Ryou?”


Kino menatap sang adik yang duduk di sampingnya dengan wajah bingung. Setelah menyimpan brosurnya kembali ke dalam tas miliknya, Kino bertanya kembali pada sang adik.


“Apa kamu yakin benar-benar tidak ada di dalam? Bukankah Ryou sudah memasukkannya sebelum berangkat?”


“Tapi ini tidak ada di dalam!!”


Ryou menjawab Kino dengan penuh emosi dan panik. Namun, sang kakak mencoba untuk tenang dan membantunya menemukan benda tersebut di dalam tasnya.


“Biar aku yang carikan. Semoga saja hanya terselip di dalam. Berikan tasmu padaku, Ryou”


Ryou memberikan tasnya pada Kino dan dengan hati-hati sang kakak mengeluarkan barang-barang di dalam tas sang adik.


“Sudah ketemu game-nya?” tanya ayah yang sedang menyetir


“Belum. Masih dicari. Semoga saja tidak tertinggal” jawab Kino sambil mencarinya pelan-pelan


Setelah mengeluarkan dan merapikan barang-barang milik Ryou, Kino harus menghela napas karena benda tersebut benar-benar tidak ditemukan di dalam tasnya.


“Maaf, ternyata benar-benar tidak ada. Sepertinya tertinggal di rumah, Ryou. Isinya sudah aku rapikan kembali”


Kino memberikan tas milik Ryou, namun reaksi sang adik sungguh di luar dugaan. Dia menariknya dengan penuh emosi dan marah pada sang kakak.


“Ini semua karena kau meninggalkan aku tadi! Aku sudah bilang untuk menungguku tapi kau turun duluan! Ini semua salah Kino!!” seru Ryou dengan nada emosi dan wajah marah


“Ryou! Tidak boleh berkata seperti itu pada kakakmu! Ibu sudah bilang untuk menyiapkan benda yang mau kau bawa sebelum tidur tapi kau tidak melakukannya, kan? Kau tidak boleh menyalahkan Kino karena kecerobohanmu!”


Sang ibu marah kepada Ryou tapi Ryou tidak peduli. Dia mengabaikan perkataan sang ibu dan menolak untuk melihat Kino. Kino yang mendapat perlakuan seperti itu hanya bisa menatap sang adik dengan tatapan sedih dan menyesal.


“Maafkan aku. Aku minta maaf. Na–nanti jus milikku boleh Ryou minum. Coklatnya juga. Jangan marah ya”


“Berisik!! Jangan bicara padaku!!” Ryou membentak Kino


“Ryou…”


Kino yang terkejut hanya bisa diam dan sedih. Sang ibu sudah mencoba menasehati anaknya itu tapi semua tidak berhasil. Di perjalanan menuju pantai, kedua kakak beradik itu hanya diam membisu tanpa melakukan obrolan apapun.


Sesampainya di pantai, terlihat suasana yang ramai sekali. Banyak keluarga yang bersenda gurau dan menghabiskan waktu layaknya keluarga yang sedang menikmati musim panas, kecuali keluarga Yuki sekarang.


Di bawah dua payung pantai besar, kedua saudara itu tidak saling bicara satu sama lain. Sang adik yang memilih duduk jauh dari sang kakak dan sang ibu yang mencoba berulang kali menasehati anaknya di saat sang ayah pergi mengambil kotak es besar di mobil.


“Dengar, kita ke sini untuk bersenang-senang. Ibu tidak ingin kalian diam seperti ini, terutama kau Ryou! Kau tidak boleh membentak kakakmu seperti itu! Bagaimanapun juga, itu semua salahmu, bukan salah Kino!”


“Hmph!” Ryou mengabaikan perkataan sang ibu


“Anak ini!!!” sang ibu mencoba menahan emosinya


Kino mendekati sang ibu dan mencoba menenangkannya.


“Ibu, tidak apa-apa. Akulah yang salah karena meninggalkan Ryou tadi. Jangan marahi Ryou lagi ya”


“Kino, jangan terlalu memanjakan adikmu ini. Ibu tidak mau diusianya yang sudah 10 tahun, dia masih bersikap egois seperti ini pada kakaknya”


“Tidak apa-apa. Biar aku yang bicara dengannya ya”


“Ya sudah. Ibu akan membantu ayah dulu. Kalian jangan kemana-mana ya”


“Ryou, ini jus milikku. Aku minta maaf karena meninggalkanmu tadi. Jangan marah lagi ya”


-Plaak


Ryou menolak dengan memukul tangan Kino dan membuat jus apel miliknya jatuh ke pasir pantai.


“Berisik! Jangan mendekatiku! Pergi sana!”


“Ryou….”


Kino yang sedih mengambil jus kotak itu dan duduk di sisi lain tempat mereka dengan raut wajah sedih. Bukan hanya berjauhan, namun juga mereka tidak bicara sama sekali. Ryou yang mengabaikan Kino karena menyalahkan sang kakak dan Kino yang diam meskipun telah mencoba berbaikan dengan sang adik.


Kedua orang tua mereka kembali dan benar-benar tidak bisa melakukan banyak hal kecuali membujuk kedua anaknya satu sama lain.


Matahari sudah semakin tinggi dan cuaca panas saat itu semakin terik. Hari sudah semakin siang dan keluarga Yuki saat itu tengah menikmati waktu berenang di pantai seperti yang lainnya.


Sang ayah bersama Ryou bermain bola di pantai berair sedangkan sang ibu bersama Kino berdiri sambil melihat kerang di dalam air.


“Sudah berbaikan dengan Ryou?” tanya ibu pada Kino


“Belum. Dia benar-benar marah padaku, bu” Kino menjawab dengan sedih


“Jangan dipikirkan. Dia memang seperti itu. Nanti kalau butuh sesuatu, dia pasti akan minta bantuan kakaknya”


“Tidak apa-apa. Memang aku yang salah karena meninggalkannya turun tadi. Kalau saja aku tidak meninggalkannya, Ryou mungkin akan bermain game kesukaannya” Kino masih menyalahkan dirinya sendiri


“Kalau dia bermain game, lalu apa gunanya kita bermain ke pantai? Anak itu memang keras kepala sejak dulu. Ibu penasaran apakah ayahmu dulu memang seperti itu”


“Tapi, yang melahirkan Ryou dan aku kan ibu. Mungkin saja sifat Ryou itu menurun dari ibu saat anak-anak dulu” Kino menjawab dengan polos sekali


Sang ibu yang mendengar jawaban anaknya langsung mengajaknya bermain dengan menggelitik perut dan lehernya. Mereka yang sedang bermain air di pantai terlihat senang sekali.


**


Dari sisi lain, Ryou melihat sang kakak tengah bersenang-senang dan tertawa dengan ibunya. Sang ayah tersenyum sambil bertanya padanya.


“Menyesal sudah membentak kakakmu, Ryou?”


“……” Ryou hanya diam sambil memegang bola pantai di tangannya


Sang ayah menghampiri putranya lalu berkata sambil mengusap kepalanya.


“Sebaiknya kau minta maaf pada kakakmu”


“Aku tidak mau! Kino yang salah karena meninggalkanku! Gara-gara itu, game milikku jadi tertinggal di rumah!”


“Tapi, bukankah yang membereskan barang-barang itu adalah Ryou?”


“……” Ryou cemberut


“Kau tidak boleh menyalahkan orang lain karena kesalahanmu, Ryou. Lagipula, jika game itu ada di tasmu, apakah Ryou akan memilih bermain dengan game itu dibandingkan bermain dengan kami?”


“Tentu saja aku akan berenang di pantai dan main bola dengan ayah seperti ini, setelah itu main air dengan ibu juga”


“Hanya main dengan ayah dan ibu?” sang ayah bertanya dengan nada lembut


“…Main…dengan Kino juga”


Ryou mulai memerah karena menahan tangis. Dia menjatuhkan bola pantainya dan mulai mengeluarkan air mata. Ryou kecil menangis. Dengan cepat sang ayah menggendong dan memeluknya.


“Sudah, jangan menangis lagi. Ayah akan temani Ryou minta maaf pada Kino ya”


Ryou hanya mengangguk sambil menangis dipelukan sang ayah. Sang ayah berjalan mendekati ibu dan Kino yang telah lebih dulu ke tempat mereka untuk duduk di tempat teduh.


“Sudah lebih baik?” tanya ibu


“Sudah. Terima kasih sudah mau menemaniku bermain ya bu” Kino tersenyum manis menandakan dia sudah lebih baik


Sang ibu melihat suaminya datang menggendong putranya yang lain. Sontak saja, wanita itu langsung berdiri dan menghampiri keduanya. Kino yang awalnya duduk sambil meminum jus apel kotak miliknya ikut berdiri karena panik.


“Sayang, kenapa dengan Ryou?” tanya ibu dengan wajah khawatir


“Ryou, apa kamu baik-baik saja?” Kino bertanya pada Ryou dengan perasaan cemas


“Kalian jangan panik begitu. Ryou tidak apa-apa, iya kan?”


Sang ayah menurunkan putranya dan menghapus air matanya.


“Ingat, ayah akan menemanimu. Kakakmu sudah di sini dan dia khawatir sekali padamu”


“……” Ryou terdiam


Kino yang melihat hal itu hanya memandang sang adik dengan bingung. Ketika ayah menemani putra kedua mendekati sang kakak, tiba-tiba sang adik pergi berlari ke tempat mereka dan duduk di sana tanpa melihat wajah sang kakak.


“Ryou!” Kino memanggil adiknya


“Haaa~” ayah menghela napas panjang sambil menggelengkan kepalanya


“Kenapa dengan anak itu?” tanya ibu


Sang ayah berlutut dan mendekati putra pertamanya yang masih kebingungan melihat sikap adiknya.


“Kino, tolong temani adikmu sebentar ya. Dia hanya sedang sedih jadi jangan dimasukkan ke dalam hati ya. Ini semua bukan salahmu”


“Aku mengerti. Aku tidak marah padanya, ayah. Nanti, aku akan coba minta maaf lagi padanya dan akan mengajaknya bermain” jawab Kino dengan senyuman


“Baiklah. Ayah dan ibu akan membeli beberapa jajanan untuk kalian. Jangan kemana-mana ya” perintah sang ayah sambil mengusap-usap kepala putranya


Kino mengangguk dan pergi menemani adiknya yang duduk sendiri.


******