
Di bangunan berlantai tiga di samping [La porte du Paradis], Jack dan Seren berada dalam ruangan tempat dua mayat sebelumnya dipotong setelah selesai makan siang. Sepertinya Jack ingin sekali memeriksa keadaan pemuda yang dibawa Will sebelumnya.
Di dalam ruangan tersebut, pemuda itu masih berada dalam keadaan tidak sadarkan diri dan luka yang mengeluarkan darah.
Jack yang sedang berlutut memeriksanya sekali lagi dan mencium aroma darah yang keluar dari lukanya.
“Benar-benar tidak amis sama sekali Bahkan setelah ditinggalkan selama kurang lebih sejam, darah yang keluar tetap tidak memiliki aroma apapun. Aku senang sekali bisa menemukan anak yang langka seperti ini!. Ini menakjubkan!!” Jack tampak senang sekali
Seren berdiri membelakangi posisi Jack sekarang, tepatnya di dekat meja tempat kepala ibu dan anak yang dipotong oleh Jack berada. Dia memandangi kepala anak kecil itu sambil tersenyum senang.
“Nee, sayangku~” Seren memanggil Jack
“……”
Jack tidak merespon panggilan sang istri sama sekali dan fokus pada tubuh remaja di lantai. Karena penasaran, Seren memanggilnya kembali.
“Jack sayang?”
“……”
“Sayangku?”
“……”
“Jack?”
“……”
“……” Seren cemberut
Dia segera meletakkan kepala anak kecil itu kembali dan mengeluarkan dagger yang disimpannya. Secara cepat, Seren melempar dagger itu ke arah sang suami. Siapa yang menyangka bahwa serangan dari belakang itu bisa ditangkap oleh Jack dengan mudah.
Jack menangkap dagger itu dengan cepat dan melemparkan kembali benda itu ke belakang tanpa melihat siapa di belakangnya dan kemana arah lemparannya itu pergi.
Seren sengaja menghindari dagger itu hingga akhirnya benda itu menancap di dinding. Sekarang dia mulai terlihat cemberut.
“Jack sayang, kau jahat!” Seren merengek seperti anak kecil
“Ah! Sayangku?”
Akhirnya Jack kembali ke alam nyata dan menyadari bahwa sang istri sekarang melihatnya dengan tatapan cemberut. Segera setelah menyadari wajah cemberut manis dari sang istri, Jack langsung berdiri dan berjalan mendekatinya.
Drama kecil kembali dimulai.
“Kau jahat! Apa kau lebih tertarik pada anak itu dibandingkan aku?”
“Tidak mungkin! Seren cintaku, kau tau aku menikahimu karena aku mencintaimu kan? Jangan berkata begitu ya?”
Jack mencium pipi sang istri sambil mengelus-elus rambut panjangnya. Tapi untuk saat ini, sang istri tidak begitu peduli dan masih membuat wajah cemberut.
“Ayolah cintaku, kau tidak mungkin marah pada suamimu ini, kan? Lihat wajahku yang tampan dan berani” kata Jack memuji dirinya sendiri sambil memeluk Seren
“Jadi, mana yang lebih penting. Aku atau anak itu?” tanya Seren dengan nada datar
“Tentu saja kau! Memang anak itu bisa kunikahi?! Jangan berpikiran macam-macam, sayangku! Aku bukan pedofil, ingat itu!! Suamimu ini normal, 100% menyukai wanita asli dan bukan wanita jadi-jadian. Dan bagian paling penting adalah aku tidak menyukai anak di bawah umur untuk dinikahi!! Kita menikah di usia 23 tahun dan satu hal yang paling penting kalau aku tampan!!”
“……” Seren hanya mendengarkan semua pembelaan dari sang suami dengan tenang
“Kenapa diam? Suamimu ini tampan, kan? Benar, kan?” Jack jadi melihat Seren dengan wajah cemas
“Iya, suamiku tampan. Sangat tampan”
“Ayolah sayang, kumohon jangan membuat suamimu ini tampak setengah normal setengah tidak. Aku hanya melihat dia karena aku ingin sekali memotongnya sedikit. Sedikit saja, sebelum kita pergi mencari pria yang menjadi target Justin”
“Benar hanya itu?”
“Hanya itu!. Benar-benar hanya itu!. Memang berapa lama kita pacaran dan menikah baru kau bisa percaya padaku?. Kau tidak mencintaiku ya?”
Jenius. Sekarang Jack yang bermain sebagai korban di sini. Sungguh drama luar biasa dari pasangan suami istri ini.
“Oh Jack~aku mencintaimu. Lihat aku, aku tidak meragukanmu sama sekali”
“Benarkah?”
“Benar. Kau yang terbaik, yang paling tampan dan paling berani. Yang paling kuat dan menakjubkan. Pokoknya nomor satu untukku”
“Oh Seren-ku sayang~”
“Oh Jack~”
Dan mereka berdua hidup bahagia selamanya. Tamat.
Demikian drama menakjubkan dari pasangan suami-istri pembunuh di sini.
Kembali lagi pada hal yang sebelumnya dilakukan oleh Jack. Selesai mengatasi drama rumah tangga miliknya, Jack mengambil pisau yang ada di atas meja dan berjalan ke arah tubuh pemuda itu.
Sesuai dengan apa yang dikatakan olehnya. Jack menggulung lengan kiri bagian atas dari pakaian pemuda itu dan memberikan sayatan panjang di lengannya. Darah merah segar mengalir dan langsung membasahi hampir seluruh lengan pemuda itu.
Tetesan darah juga mengalir seperti tetesan air yang membasahi tangannya. Benar-benar pemandangan yang cantik untuk Jack sampai membuat wajahnya merona.
“Menakjubkan!! Lihat ini sayangku, darah merah segarnya tidak amis sama sekali!!”
Seren menghampiri dan menyentuh darah milik pemuda itu. Darah di tangannya dicium untuk mengetahui aromanya lalu dicicipi untuk merasakan rasanya.
Betapa terkejut Seren karena tidak merasakan apapun dari darah anak itu.
“Tidak ada aroma amis, tidak ada rasa asin atau rasa seperti normalnya darah segar lain. Apa anak ini manusia?”
“Benar kataku kan?! Ini hebat sekali! Aku jadi ingin sekali mengulitinya pelan-pelan sekarang”
Sesuai dengan kalimat yang terucap oleh mulut Jack, dia benar-benar menguliti remaja itu. Luka sayatan yang sebelumnya dibuat dibuat lebih lebar hingga kulit dan dagingnya teriris. Darah segar semakin banyak keluar dan raut wajah Jack semakin senang.
“Ini yang disebut sebagai mahakarya dari barang kualitas tinggi! Aku tidak sabar untuk menjualnya dalam kondisi terbaik pada pembukaan nanti malam!”
Namun, Jack tiba-tiba tersadar akan tujuan awalnya dan berhenti pada sayatan ke dua di lengan pemuda itu. Dia harus menahan dirinya sedikit dan mencoba menyimpan kesenangan itu untuk nanti,
Jack mulai menjilat darah pada pisaunya dan berdiri.
“Kita harus segera pergi dari sini sebelum aku berubah pikiran. Meskipun aku masih mau sedikit mengulitinya lagi”
“Aku tidak keberatan kalau kau mau melakukannya sedikit lagi”
“Tidak tidak tidak. Nanti aku jadi terlalu senang dan melupakan perjanjian kita dengan Justin. Kalau nanti malam dia datang lagi ke tempat ini untuk menanyakan hasil pekerjaan kita bisa repot. Lagipula aku tidak suka kegagalan. Kita lakukan dulu tugas kita baru bersenang-senang” kata Jack sambil tersenyum
“Baiklah”
“Tunggu aku sebentar ya, mahakaryaku yang langka. Setelah ini seluruh bagianmu akan menjadi uang untuk brankasku”
Jack menatap tubuh pemuda yang terus mengeluarkan darah dari bekas sayatannya dengan senyum sinis bagai iblis.
Keluar dari ruangan itu dengan menutup pintunya, Jack sempat melihat ruangan di sampingnya.
“Anak-anak itu bagaimana nasibnya?” tanya Jack sambil menatap Seren
“Entahlah. Aku tidak tau karena belum mengeceknya. Mau dilihat dulu?”
“Tidak perlu. Setidaknya mereka belum mati” kata Jack sambil tersenyum sinis
Ada sesuatu dibalik kalimat itu. Entah apa yang dipikirkan oleh Jack namun sepertinya dia tidak begitu waspada dengan kondisi anak-anak di ruang sebelah.
Seren melihat wajah sang suami dan tersenyum sambil menjawabnya.
“Begitu. Aku mengerti, Jack”
Jack dengan santai menuruni tangga sedangkan Seren masih melihat ke arah pintu itu. Dia berjalan dan membuka pintunya.
Dengan tatapan dingin, Seren langsung menginjak dan menendang dua tubuh yang berada di kantong plastik besar itu tanpa membukanya.
“……”
Melihat tidak ada reaksi, Seren tersenyum bahagia.
“Syukurlah. Tadinya kalau mereka sudah bangun dan berteriak, aku akan mematahkan sedikit tulang rusuk dan kakinya. Ternyata masih belum bangun. Jack pasti tidak senang jika mereka rusak. Malam ini mereka akan dijual hidup-hidup jadi kurasa seperti ini sudah cukup”
Seren keluar dari ruangan itu dan menuruni tangga menyusul sang suami yang ternyata menunggunya di luar.
Satu hal yang aneh dari tindakannya itu adalah karena dia tidak mengunci ruangannya. Entah apakah ada sesuatu yang disembunyikan oleh kedua pasangan suami-istri tersebut.
Di dalam ruangan yang terdapat dua kantong plastik besar di dalamnya, terlihat kedua kantong plastik mulai bergerak menggeliat seperti mencoba keluar.
**
Di luar, Jack dan Seren berjalan bergandengan tangan mesra sekali di tengah kios-kios dan toko yang tutup. Serasa di jalan itu hanya ada mereka berdua karena memang itulah kenyataannya.
Suasana yang mesra yang mengelilingi keduanya dipenuhi dengan pemandangan tidak biasa yaitu potongan tubuh manusia yang tergantung di hampir semua kios dan toko di sana.
“Rasanya dunia seperti milik berdua ya, Seren” kata Jack sambil tersenyum pada Seren
“Mengingatkan kenangan sebelum kita menikah dan masih menjadi pembunuh bayaran dulu. Rasanya suasana damai seperti ini seperti mimpi”
“Akhirnya aku bisa mewujudkan impian masa mudaku untuk memiliki usaha yang masih berhubungan dengan profesi lamaku. Memang benar kata orang, setelah menikah pasti impianmu bisa diwujudkan bersama pasangan. Ini berkat dukunganmu, Seren sayang~”
“Oh Jack~”
“Seren-ku yang paling cantik di dunia~”
Sungguh keluarga yang sangat harmonis dan bahagia.
“Setelah menemukan pria berpedang tanpa sarung pedang itu dan menyelesaikan kontrak dengan Justin, apa lagi yang kau inginkan?” tanya Seren kepada sang suami
Jack berpikir sejenak. Setelah itu, dia melihat Seren dan menjelaskan tujuannya kepada sang istri.
“Hmm. Jika semua malaikat kecil Justin sudah menjadi dagangan kita dan kontrak lisan kita selesai dengannya, kurasa aku akan mulai menawarkan pertukaran dan perjanjian bisnis lain dengan para bangsawan kaya raya itu”
“Perjanjian bisnis?”
“Aku yakin harga penjualan manusia di kota lain juga memiliki potensi lebih baik dibandingkan dengan wilayah gelap ini. Akan sangat baik jika menjalin hubungan jangka panjang kepada para pemilik uang itu, benar kan?”
“Begitu. Padahal menurutku ini saja sudah sangat bagus. Aku tidak tau kenapa orang-orang kaya itu senang sekali mengoleksi organ tubuh manusia”
“Tidak ada yang penting. Hanya sebagai koleksi atau sebagai donor illegal. Atau hanya sekedar untuk diolah menjadi makanan hewan buas yang mereka pelihara. Kau tau kan, sayangku. Orang kaya itu bebas melakukan apapun. Itulah hukum di dunia ini. Mereka bebas melakukan apapun, merusak apapun, memelihara apapun, membuang apapun dan merasa kekurangan apapun yang dimiliki. Semua itu adalah hal yang manusiawi di dunia ini. Itulah kenapa manusia tidak pernah berhenti mencari kepuasan”
“……” Seren hanya diam mendengarkan sang suami bicara
Jack melanjutkan kalimatnya.
“Dan itulah kenapa aku menyebut manusia di dunia ini sebagai sampah. Mereka melakukan hal keji namun mereka tidak menyadarinya. Mereka tau mereka salah tapi mereka menutup mata atas semuanya. Mereka melihat diri mereka sempurna padahal mereka cacat dari segi kemanusiaan. Orang-orang dari dunia hitam seperti kita sudah terbiasa menghadapi jenis manusia semacam itu sejak kita adalah salah satunya”
“……”
“Karena itulah tempat ini hanya dikhususkan untuk manusia seperti itu. Manusia yang sebenarnya iblis yang menyamar. Tidak ada yang benar di dunia ini selama kau mengikuti jalan di dunia hitam”
Setelah mendengarkan sang suami, Seren akhirnya memberikan respon.
“Tapi sudah sangat terlambat bagi kita berdua untuk mundur”
“Jangan khawatir. Tidak pernah terbesit dalam pikiranku untuk mundur. Aku bukan orang munafik yang mengaku suci di depan banyak orang tetapi sebenarnya kotor. Jika kau ingin menjadi orang suci, maka jadilah suci sepenuhnya dan jika ingin menjadi orang kotor maka jadilah kotor seutuhnya. Itu adalah motto hidupku sampai saat ini”
Sebuah topik obrolan yang ‘sangat tepat’ untuk suasana romatis beberapa waktu lalu. Pembicaraan itu akhirnya berakhir ketika mereka melihat ada orang yang datang dari kejauhan dengan menarik gerobak.
“Hmm? Kenapa dia datang lagi?”
******