Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 386. Sesuatu yang Harus Dipastikan



Di asrama, di kamar tempat Xenon bersama ketiga remaja dari dunia lain berada saat ini, mereka sudah memutuskan langkah selanjutnya untuk menyelidiki ruang rahasia itu.


Terlepas dari apa yang didengar Xenon mengenai Misha, fokusnya saat ini adalah menemukan kebenaran dari ruangan tersebut dan jika memang itu benar adalah tempat dimana Artifact berada, berarti kesempatannya untuk menghentikan para Rebellenarmee adalah hal yang harus dilakukan selanjutnya.


“Kurasa sementara hanya itu yang bisa kita lakukan. Aku juga belum menerima perintah lain dan belum ada laporan mengenai warga yang hilang” sambung Xenon


“Apakah ini artinya kita bisa sedikit tenang?” tanya Ryou


“Tidak. Karena musuh sudah masuk ke wilayah kita, aku masih harus mencari tau identitas pemimpin Rebellenarmee dan tujuan Earl. Membelot ke kerajaan demi menurunkan tahta raja…itu pasti tidak sepenuhnya benar” Xenon memiliki dugaan lain soal tujuan musuhnya


Sejak awal, memang mustahil jika mereka hanya menginginkan tahta raja dan pengakuan karena perang di masa lalu.


Faktanya, Artifact yang pernah menjadi senjata terkuat di masa perang yang sampai saat ini menyimpan kekuatan misterius masuk dalam incaran mereka.


“Kita hanya perlu bertindak lebih cepat dari lawan dan kalian sudah menemukan jalannya” kata Xenon, “Selebihnya, kita lakukan bersama”


Kaito melihat kembali jam saku miliknya. Waktu di jam saku tersebut tidak berubah.


“Xenon, tidak mau pergi sekarang?” tanya Kaito


“Apa ada yang mengganggumu, Kaito?”


Sambil memasukkan kembali jam sakunya, Kaito berkata pada Xenon dengan nada santai.


“Tidak. Hanya saja, aku ingin cepat melihat-lihat tempat ini. Mengingat permataku bisa ada di tempat asing yang tidak pernah terpikirkan, aku ingin melihat semua tempat di sini”


“Jika bisa lebih cepat, aku ingin bertemu dengan kakakmu dan memastikan benda yang ada pada bros miliknya”


Kaito tampaknya memiliki keinginan untuk melihat kelanjutan hubungan ingatan itu dengan sosok Adler Klaue dalam ingatannya.


‘Aku ingin tau apakah Adler Klaue itu masih hidup atau sudah mati? Sedekat apa dia denganku di masa lalu dan seperti apa setelah penyerangan itu?’


‘Bagaimana nasib kedua orang tuaku sekarang dan apakah mereka memang masih menungguku di tempat itu?’


‘Jika bros yang ada pada Rexa adalah ingatanku, aku harap dia mau memberikannya padaku seperti yang dilakukan Xenon’


Itulah yang ada dalam hati Kaito. Terlepas apakah benar itu adalah ingatannya, Kaito ingin cepat memastikannya.


Sejak Xenon sendiri juga sudah berkata bahwa dia akan mempertemukan Kaito dengan Rexa, akan jauh lebih baik jika bisa lebih cepat.


“Kau benar, Kaito. Tidak perlu menunggu jika bisa sekarang. Baiklah, kita coba menemuinya ya”


Kino melihat wajah Xenon dan bertanya, “Kamu baik-baik saja, Xenon-san?”


“Aku tidak apa-apa, Kino. Jangan khawatir”


“Syukurlah”


“Baiklah, kita pergi sekarang. Jessie-sama dan Jene-sama juga ada di depan. Aku hilangkan dulu ya”


[Nox]


Sihir tersebut hilang dan semua kembali semula. Kaito dan kedua kakak beradik itu meninggalkan tas mereka. Saat keluar, Xenon mengunci pintu mereka dan tidak lupa melapisinya dengan sihir.


[Magikey Locking]


Sihir kunci yang diaktifkan dan hanya bisa dibuka oleh si pengguna serta si pemilik ruangan tersebut.


Tentu saja Xenon menjelaskan hal ini kepada ketiganya. Setelah itu, mereka bertemu dengan Jessie dan Jene. Selama berkeliling melihat kelas dan bertemu dengan beberapa murid lain, ada hal yang menarik perhatiannya.


Sebuah kabar yang cukup aneh dan diragukan kebenarannya untuk sekarang.


Gosip yang didengar mereka adalah pengusiran Misha dari akademi oleh Rexa. itulah yang dikatakan oleh para murid dengan jelas.


“Rexa-sama…”


“Mengusir Misha-sama?”


Si kembar yang sempat bertanya pada salah seorang murid di lorong koridor terkejut. Tentu saja Xenon yang paling syok.


Ketiga remaja dari dunia lain itu saling melihat satu sama lain dan berbisik.


“Rexa-san mengusir Misha Midford katanya” bisik Kino


“Misha itu tunangan gila milik Rexa, kan?” tanya Ryou berbisik


“Yang menampar kakak Emily Xelhanien dan bertengkar mulut denganmu di lobi beberapa waktu lalu” Kaito memperjelas


Jessie dan Jene bertanya soal kebenaran informasi tersebut.


“Tidak ada yang melihat langsung kapan dan kenapa alasannya. Namun, salah seorang siswi bertemu Misha-sama di lorong koridor dan tampaknya dia menangis sambil berteriak” kata salah seorang siswi


“Berteriak?”


Siswa lain berkata, “Benar. Misha-sama histeris dan berteriak sambil menangis. Dia mengabaikan kami juga”


“Katanya Rexa-sama tidak bisa melakukan hal ini dan tidak bisa mengusirku. Begitulah”


“Lalu kenapa kami semua bisa tau soal keluarnya Misha-sama karena salah satu murid yang menjadi pengurus asrama membantu Misha-sama membereskan barang-barangnya”


“Itu semua perintah Rexa-sama katanya”


Xenon langsung berlari meninggalkan mereka semua.


“Xenon-san?!”


“Oi!”


Kino dan Ryou langsung bergegas mengejarnya. Kaito sendiri bicara pada si kembar, “Kami yang akan mengejarnya” dan kemudian meninggalkan mereka berdua.


Tentu saja mereka ingin mengejarnya, tapi ada hal yang membuat Jene penasaran dan memutuskan untuk tetap tinggal di sana.


“Apa yang membuat hal itu terjadi?” tanya Jene pada seorang siswa lain


Dan saat siswa tersebut menjawabnya, keduanya terlihat kaget.


“Ada hal seperti itu?!”


“Benar. Itu terjadi di lobi dan semua berita mengenai kejadian itu telah menyebar”


Jessie melihat wajah sang kakak dan bertanya, “Bagaimana ini, Jene?”


“Jangan tanya aku. Ini akan sangat sulit mengingat Midford dan van Houdsen memiliki hubungan yang dekat karena Vexia-sama dan Lilian-sama”


“Xenon mungkin akan dijadikan kambing hitam oleh Vexia-sama” Jessie terlihat khawatir


“Itu jika berita mengenai hal ini sampai ke telinga Vexia-sama. Jika tidak, Xenon masih ada kesempatan untuk aman. Walaupun aku tidak yakin…”


**


Sementara itu, Xenon berlari menuju ruang kerja Divisi Eksekutor.


Di belakangnya, Kino dan Ryou mengejarnya.


“Xenon-san!”


“Xenon, mau kemana?!”


“Aku harus bertanya pada Rexa-sama mengenai hal ini!”


“Tapi mau kemana dan dimana kau bisa menemukannya, bodoh!” teriak Ryou bertanya karena Xenon sama sekali tidak mau berhenti atau menengok ke belakang. Dia sudah sedikit kesal.


Dari belakang kedua kayak beradik itu, Kaito menyusul.


“Xenon-san!”


“Aku ingin menanyakan semuanya pada Rexa-sama sekarang!”


“Hah?! Kau mau ke tempat Rexa?!”


“Pasti ada penjelasannya! Aku harus bertemu dengannya!”


Kaito yang mendengar ucapan Xenon berpikir, ‘Bukankah ini kesempatan yang baik untuk memastikan permata miliknya? Tapi, aku rasa ini lebih kepada masalah pribadi antara dua kakak beradik itu. Kau harus bisa membaca situasi nanti, Kaito’


Xenon berhenti di sebuah ruangan bertuliskan ‘Divisi Eksekutor’ dan dia langsung membuka pintunya dengan keras.


-BRAAK


Semua orang yang ada di sana terlihat kaget termasuk Xenon yang melihat apa yang ada di hadapannya sekarang.


******