
Waktu terasa begitu singkat dalam sekejap. Hanya berjalan beberapa lama dan sekarang waktu mereka tersisa 25 menit. Ditambah lagi kata-kata Kaito memberikan kejutan lain.
“Apa kalian berdua berpikir itu hanya kebetulan saja? Kalian yakin? Maksudku, aku ingat dengan jelas bahwa kalian pergi ke altar pagi ini” Kaito terus menatap mereka berdua dengan sorot mata tajamnya
Ini bukan kecurigaan Kaito seorang. Sebenarnya, Ryou juga sudah memikirkan hal yang sama tapi dia memutuskan untuk menghilangkan asumsi tersebut karena Kino mengatakan jam saku miliknya masih ada padanya saat di altar. Kino langsung menjelaskan pada Kaito tentang yang dia alami ketika berada di altar. Kaito yang mendengarkan penjelasan Kino sama sekali tidak memberikan reaksi apapun beberapa saat sampai akhirnya dia merespon.
“Masih ada?”
“Iya. Ryou juga mungkin awalnya berpikir itu dicuri. Tapi aku benar-benar yakin jam itu masih ada. Selain itu, aneh sekali jika mereka justru mencuri jam tua seperti itu dibandingkan mengambil uang dalam saku celanaku” Kino memberikan penjelasannya pada Kaito
Ryou tidak bisa banyak membantu karena pikirannya itu sebenarnya memihak pada Kaito. Dia juga curiga dengan pernyatan petugas penjaga mengenai anak-anak itu. Meskipun begitu, Ryou masih memiliki perasaan bersalah jika menuduh anak-anak yatim piatu sebagai pelaku pencurian.
Kaito tidak mau mengalah pada penjelasan Kino. Dia sekilas melihat ke arah Ryou dan sepertinya dia bisa tau bahwa sang adik memiliki pikiran yang sama seperti dirinya. Melihat Ryou sedikit menganggukan kepalanya sekali, Kaito langsung berhenti berargumen dan mereka memutuskan untuk berjalan kembali.
Kino berjalan sedikit di depan kedua orang itu. Ryou dan Kaito saling berbisik satu sama lain agar tidak diketahui oleh Kino.
“Aku senang kau tidak membantah ucapannya. Terima kasih banyak, Kaito”
“Kau sepertinya tidak ingin melihat kakakmu menyalahkan dirinya sendiri seperti tadi pagi, jadi aku tidak mau mengatakan apapun”
“Begitulah. Benda itu hilang tanpa tau penyebabnya saja sudah bisa membuatnya nyaris gila. Seandainya memang benar dicuri, dia akan lebih merasa bersalah lagi karena menganggap dia kurang waspada” Ryou bicara sambil melihat ke arah punggung sang kakak
“Tapi dengan kepercayaan dirinya saat menjawabku tadi, aku yakin kau juga sudah berhasil merubah asumsi itu, iya kan?” Kaito melihat Ryou dengan mata tajamnya
“Saat bersamanya, iya. Tapi, sejujurnya aku masih belum merubah pemikiran awalku” kali ini, Ryou juga menunjukkan sorot mata tajamnya
Kaito terdiam beberapa saat dan menarik napas panjang sebelum bicara. Setelah itu, dia mulai bertanya dengan nada pelan pada Ryou.
“Ryou, beritau aku seberapa jauh pemikiranmu itu dan sebanyak apa informasi yang sudah kau punya?”
Ryou agak terkejut tapi dia langsung menjawabnya.
“Aku mendengar dari salah satu pasangan yang menjadi korban kehilangan benda di sana, mereka mengatakan sudah seminggu barang mereka hilang. Dan saat aku bertanya pada petugas penjaga altar, mereka juga baru menerima informasi itu seminggu terakhir”
“Artinya sebelum itu semua baik-baik saja, benar begitu kan?”
“Benar. Lalu, aku bertanya pada petugas apakah ada yang berbeda dalam kurun waktu tersebut. Mereka menjawab–”
“Perubahannya hanya terletak pada sekumpulan anak yang meminta sumbangan di depan pintu altar, iya kan?” Kaito langsung memotong kalimat Ryou
Tapi, Ryou tidak mempermasalahkan hal itu karena itu benar. Ryou melanjutkan penjelasannya kembali.
“Petugas penjaga itu juga mengatakan beberapa anak dari kumpulan itu diperbolehkan masuk untuk meminta sumbangan di dalam altar. Aku tidak tau apakah itu mengganggu pengunjung dan jamaah di sana atau tidak”
“Begitu. Lalu, apa pendapatmu mengenai kasus kehilangan yang kakakmu alami ini?. Jam saku itu berharga hanya untuk kalian dan aku, tapi di mata semua orang di ‘dunia’ ini benda itu tidak berarti”
Ryou terdiam mendengarkan kata-kata Kaito. Jelas hal itu benar. Apalagi sebelumnya Kaito sendiri mengatakan bahwa jam saku itu kemungkinan besar memiliki hubungan dengannya. Tentu masalah ini serius.
“Sebenarnya agak kurang masuk akal memang kalau mereka mau mengambil jam saku milik Kino dibandingkan uangnya. Pemikiranku itu juga langsung lenyap saat dia bilang jamnya masih ada padanya ketika di altar. Tapi, firasatku tidak mengatakan seperti itu”
“Terakhir kali…kapan terakhir kali Kino mengeluarkannya?”
“Hanya sampai aku menjemputnya untuk keluar altar. Saat itu dia bertanya pada wanita yang membawa seorang balita. Di sana tidak ada siapapun kecuali mereka. Aku menjemputnya untuk keluar dari sana dan tidak lama setelah itu Kino mengeluarkan jam sakunya”
“Ada hal lain terjadi setelah itu?”
“Ada. Kami tidak sengaja ditabrak oleh seorang anak. Dia hampir terjatuh dan Kino menolongnya sebelum hal itu terjadi”
Di sini, Kaito sudah bisa mengambil kesimpulan namun karena ingin lebih meyakinkan dirinya, dia masih mendengarkan kata-kata Ryou yang belum selesai.
“Beberapa waktu lalu saat aku selesai membeli jam saku baru ini, aku bertemu dengannya. Dia bersama Kino. Mereka makan roti dan duduk bersama”
“Kau ingat ciri-ciri anak itu dengan jelas?” Kaito bertanya pada Ryou
“Ingat. Anak itu tadi langsung kabur begitu melihatku padahal aku tidak mengatakan apapun yang aneh. Anak laki-laki berkulit putih dengan rambut hitam pekat, fisiknya terlihat seperti anak usia 10-11 tahun, memakai baju orange dan topi berwarna coklat”
“Tentu” Ryou mengangguk setuju
Mereka berdua seperti orang dalam kata-kata modern, partner in crime tapi dalam kategori berbeda. Mereka sangat cocok satu sama lain dalam hal mencurigai semua yang bisa dicurigai. Mungkin karena karakter Ryou yang keras dengan mulut pedasnya dan Kaito yang memiliki banyak pengalaman membunuh makhluk mengerikan di ‘kedua
dunia’ jadi tingkat kewaspadaannya sudah mencapai level maksimal.
“Kali ini giliranku. Pendapat pribadiku mengatakan bahwa jam saku kalian itu bukan hilang tetapi benar dicuri”
Ryou tidak terkejut sama sekali karena dia sudah menduga hal itu jauh sebelum ini. Kaito melanjutkan pembicaraannya kembali.
“Kemungkinan besar jam saku kalian dicuri oleh anak yang tidak sengaja menabrak kalian pagi ini. Entah apa alasan kenapa dia hanya mencuri jam saku yang ada pada Kino tapi aku bisa memberikan 80% kemungkinan
itu pada kalian”
“Berarti aku baru saja melepaskan pelaku pencurian itu tadi” Ryou bicara santai
Tidak lama setelah itu, Ryou bertanya pada Kaito lagi.
“Tapi Kaito, berikan aku alasan paling logis kenapa sebesar itu keyakinanmu tentang pelakunya? Kau hanya mendengar semua itu dari kata-kataku barusan dan langsung membuat kesimpulan seperti itu. Kino sendiri juga berpikir benda itu jatuh”
“Coba pikirkan baik-baik. Ingat kejadian kemarin malam saat kita melihat kakakmu terhempas ke dinding saat ditendang satyr? Jelas dia sedang mengantongi permata ingatanku dan jam saku miliknya. Bahkan dengan tendangan sekuat itu, tidak ada satupun item di dalam saku celanannya yang hilang. Itu artinya saku celana kalian berdua itu cukup dalam dan aman”
“……” Ryou diam mendengarkan
Dia merasa apa yang dikatakan Kaito sangat logis dan masuk akal. Dia juga tau seberapa telitinya sang kakak yang bahkan sudah berkali-kali membuat rencana penuh resiko dan berhasil saat mereka berada di ‘dunia malam’. Sebuah titik terang tentang hilangnya jam saku mereka mulai terlihat di penghujung waktu.
“Seandainya jika kalian ingin mengambil isi di saku tersebut, aku yakin kalian pasti dapat merasakan ada yang menyentuhnya. Kita abaikan dulu kemungkinan pencuri profesional di sini. Aku ingat selama kita berjalan di kota, kita sama sekali tidak menjaga jarak satu sama lain tapi kita menjaga jarak cukup jauh dengan orang asing” Kaito melanjutkan penjelasannya kembali
“……”
“Sekarang menengok ke belakang lagi, orang lain yang membuat kontak sangat dekat dengan kalian di altar pagi ini hanya anak itu. Wanita dengan balita yang kau bilang tidak mungkin melakukannya karena tidak ada alasan untuknya melakukan hal itu”
“Sedangkan anak laki-laki yang menabrak kami itu memiliki motif untuk mendapatkan uang sumbangan lebih banyak, begitu maksudmu?” Ryou menebak
“Tepat. Mereka yang diperbolehkan meminta sumbangan di dalam altar mengambil kesempatan itu untuk mencuri. Para pengunjung mungkin tidak begitu menyadarinya di awal tetapi kalau sudah berlangsung seminggu, ada kemungkinan beberapa dari mereka akan mulai mencurigai kumpulan anak-anak itu”
“Tunggu dulu, tunggu dulu. Kino mengatakan dia yakin benda itu masih ada padanya saat keluar dari altar. Bagaimana kau menjelaskan hal itu?”
“Aku yakin dia mengatakan itu karena tidak merasa baru memasukkannya sebelum keluar. Ada kemungkinan sebelum jam saku itu masuk ke dalam saku celananya, benda itu sudah berpindah ke tangan pelaku saat tidak sengaja menabrak kalian”
Dalam waktu singkat mereka akhirnya menemukan cahaya untuk kasus yang mereka alami. Ryou tidak merubah wajah seriusnya sama sekali. Dia yang sengaja membuang semua prasangka itu menjadi sangat yakin dengan firasat awalnya.
“Awalnya kupikir benda itu menghilang karena ada hubungannya dengan kepingan ingatanmu, Kaito” Ryou bicara sambil menatap wajah Kaito
“Aku juga berpikir begitu dan aku masih berpikir begitu sampai sekarang. Aku menganggap semua ini tetap saling berhubungan” Kaito memasang senyum tipis di wajahnya
Ryou membalas senyuman itu dan sekarang bagian selanjutnya dari kolaborasi pikiran mereka berdua.
“Jadi, aku akan menganggap kau tidak bersalah karena sudah menuduh anak yatim piatu sebagai pelaku pencurian dan aku juga membenarkan kata-katamu. Sekarang masalah barunya…dimana kita bisa mencari anak itu untuk menyelidiki lebih lanjut? Aku hanya bertemu dengannya sebentar hari ini dan aku sendiri juga tidak mengatakan banyak hal pada Kino” Ryou menatap wajah Kaito dengan tatapan bingung
“Apa Kino tau informasi tentang anak itu?”
“Aku tidak tau. Aku tidak bertanya padanya”
Kaito tidak menyerah begitu saja. Dia begitu yakin bahwa semua penjelasannya itu benar dan dia masih mencari cara agar jam saku mereka bisa ditemukan kembali. Dia ingat sesuatu.
[Sebenarnya, setiap pagi setelah selesai berdoa, aku beberapa kali melihat mereka pulang melewati jalan itu. Sepertinya itu adalah tempat tinggal mereka]
Itu adalah kata-kata yang dikatakan wanita yang ditemuinya saat dia mencari tau mengenai jalan asing yang baru pertama kali dia lalui. Dengan senyum agak kecut Kaito tiba-tiba saja berhenti.
“Dasar sial! Jangan katakan aku harus kembali ke tempat tidak higienis itu lagi”
******