
Ini adalah cerita 15 menit yang lalu setelah Kaito bersama Yuki bersaudara masuk ke dalam lingkungan Akademi Sekolah Sihir.
“Aku akan merekam semua ini kalau punya ponsel seperti di ‘dunia’ ala Korea beberapa waktu lalu! Ini keren! Aku tidak perlu lagi pergi ke London atau Versailles untuk melihat istana! Oh, tapi kalau mau melihat betapa tuanya model sekolah Hogwart di film Harry Potter sepertinya tidak masalah”
“Ryou, aku mohon hentikan itu. Kita harus segera mencari dimana letak pos informasi untuk masuk ke sekolah sihir”
“Aku tau itu, Kino. Tidak perlu mengatakan itu padaku terus menerus. Tapi, di sini sepertinya benar-benar sekolah untuk bangsawan. Apa mereka yakin semua kalangan bisa masuk?”
“Tampaknya begitu. Pemuda bernama Xenon itu mengatakan tidak ada diskriminasi untuk ras dan semacamnya. Seharusnya memang begitu. Lihat, banyak orang dari ras lain seperti goblin dan werewolf di sana”
Kino tampaknya sudah cukup menghafal beberapa ras monster dalam dunia fantasi. Hal itu membuat Ryou cukup senang.
‘Akhirnya…akhirnya kakakku yang kutu buku bisa masuk jajaran newbie otaku. Oh! Akan aku beri dia julukan newbie wibu sebagai bentuk penghormatan awal’ gumam Ryou dalam hati
Kaito tampak begitu serius melihat semua orang-orang itu. Hanya ada satu hal di dalam pikirannya.
‘Permataku mungkin ada di tempat ini’
Baru dia berpikir begitu, dari sisi kana Kaito melihat sesuatu. Ada seorang anak kecil di sana yang tampak melihatnya. Dia tidak begitu jelas melihat siapa anak itu tapi hal itu cukup membuatnya terkejut karena senyum lebar mengerikan yang dilihatnya.
“Anak itu…”
Begitu melihat anak itu berlari, Kaito langsung mengejarnya tanpa pikir panjang. Kino yang baru saja ingin bertanya pada seseorang jadi mengurungkan niatnya karena Kaito melewatinya begitu saja.
“Kaito-san? Kaito-san! Kaito-san, mau kemana?”
“Ada anak kecil aneh yang pergi ke arah sana! Aku harus mengejarnya!”
“Kaito-san!! Ryou, Kaito-san mengejar seseorang!”
“Apa?! Aduh, si bodoh itu!! Kita kejar orang amnesia itu, Kino!”
Kino dan Ryou berlari ke arah yang dituju Kaito. Mereka tampak berlari ke sisi samping. Tempat itu terlalu luas untuk didatangi semuanya, sudah begitu ini adalah kali pertama ketiganya masuk.
Dapat dipastikan bahwa mereka akan masuk dalam pencarian orang hilang karena tersesat di tempat asing.
Kaito melihat punggung anak kecil itu. Dengan rambut terurai berwarna kecoklatan panjang dengan bandana pita berwarna merah, dapat dipastikan itu anak perempuan.
“Kenapa aku merasakan hal yang tidak enak dari senyum anak itu barusan?”
Kaito mulai menambah sedikit kecepatannya. Dari belakang, Ryou berteriak.
“Oi! Berhenti di situ! Kau mau kemana, Kaito?! Ini bukan rencana kita!”
“Ada seseorang di sana dan dia mencurigakan! Aku harus mengejarnya!”
Kaito diikuti kedua kakak beradik itu masuk ke dalam sebuah tempat dengan tembok tanaman. Banyak bunga mawar warna-warni di dalamnya. Langkah Kaito terhenti karena dia belum pernah melihat tembok tanaman seperti ini.
“Apa ini?”
Terdengar dari depan sebuah suara.
“Hihihi…”
“Suara?!” gumam Kaito pelan
Dari belakang, Ryou berhasil menangkap pundak Kaito dan nyaris memukulnya.
“Tuan amnesia dunia lain…kalau berani meninggalkan aku dan Kino seperti itu lagi, akan aku ikat kau di depan gerbang tempat ini”
“Kaito-san, akhirnya terkejar…” Kino sedikit mengatur napasnya
Kaito terlihat bingung.
“Ada suara tadi dan dia mengarah ke belokan itu” Kaito menunjuk belokan yang dimaksud
“Sudah cukup! Tidak ada lagi belok-belokan! Kita keluar dari sini!”
“Tapi aku berani bersumpah! Aku harus melihatnya. Dia aneh dan aku memiliki firasat buruk mengenai orang itu”
Wajah serius Kaito membuat Ryou jadi percaya padanya. Dengan menghela napas, dia melepaskan tangannya dan mengikuti kemana Kaito pergi.
Mereka bertiga berlari ke belokan yang dituju Kaito dan ternyata belokan itu hanya ada tanaman merambat dengan tembok tanaman tinggi lain.
Sekarang, kembali ke 15 menit kemudian…
“Oi, kau bilang kita belok ke sana kan? Kenapa jadi sampai di tembok penuh tanaman begini, Kaito?”
“Aku hanya merasa aku mendengar suara orang di sini jadi…um…maafkan aku. Sepertinya aku salah kali ini” Kaito minta maaf dengan nada santai
“Kalau mau tersesat sebaiknya jangan mengajak orang lain bersamamu! Kau tidak tau kita sudah berputar-putar di sini dan justru semakin jauh masuk ke dalam?! Aku tau otakmu itu penuh dengan rasa ingin tau, tapi tidak sesat juga! Dasar bodoh!”
“Aku sudah mengatakan padamu kalau aku menyesal. Aku juga sudah minta maaf padamu. Kenapa jadi dipermasalahkan?”
“Karena sampai sekarang kita bertiga masih belum keluar dari sini! Pokoknya sampai kita keluar dari sini, aku tidak akan memaafkanmu! Dasar remaja amnesia dari dunia lain!”
“Kau itu cerewet sekali, dasar anak kecil bermulut pedas!”
Keduanya saling memberikan ‘pujian terbaik’ untuk satu sama lain dan hal itu pula yang membuat Kino menjadi lebih pusing dari sebelumnya.
“Kalian berdua, aku mohon hentikan semua ini sekarang atau kita tidak akan keluar dari sini!”
Baru Kino mengatakan hal itu, tiba-tiba terdengar suara tertawa yang sangat aneh.
“Hihihi…mereka lucu. Mereka unik. Mereka menarik…”
“Hiiii! Setan!!” Ryou langsung mendekati sang kakak dan memegangi tangannya. Dengan penuh rasa ‘keberanian yang kuat’, Ryou sampai berkata “Aku tidak punya urusan dengan orang yang sudah mati. Aku lelah dengan Hanako di toilet wanita! Kino, kita keluar dari sini!”
Ryou tampaknya benar-benar tidak menyukai hal yang berbau hantu meskipun bisa memotong kepala mayat hidup beberapa saat lalu.
Kini, Kino mencoba mengajak Kaito pergi dari tempat itu.
“Kaito-san, suara itu cukup mencurigakan. Tujuan kita juga adalah untuk menemukan informasi terkait sekolah sihir ini. Sebaiknya kita kembali ke luar dan mencari tau informasi tersebut”
“Tapi, aku cukup penasaran Kino”
Ryou kesal dan akhirnya membuat Kaito diam.
“Oi! Jangan lupa kalau beberapa waktu lalu kau sudah membuat aku dan Kino nyaris menjadi santapan zombie bersama Song Haneul, akibat keinginan bodohmu mencari mayat Jung Leon ya! Aku sudah memberikan hadiah padamu. Kau mau aku melakukannya lagi?!”
“……” Kaito benar-benar dibuat diam tak membalas
Mengingat itu semua benar, Kaito merasa sangat bersalah dan mulai mengikuti langkah kaki keduanya menuju pintu keluar.
Dari arah belakang yang tidak diketahui semuanya, ada sosok anak kecil yang melihat dan memasang senyum lebar.
“Aku masih ingin bermain dengan kalian semua…”
Begitu dia mengatakannya, ketiga remaja itu merasakan sebuah getaran yang sangat aneh.
“Apa?! Gempa?!” Ryou terlihat panik
Kino terkejut dengan apa yang dilihatnya. Jalan yang seharusnya membawa mereka pada pintu keluar, sekarang tertutup tembok tanaman besar.
“Jalannya…menghilang. Kenapa bisa ada dinding tanaman di sini?!”
Wajah panik ketiganya terlihat jelas.
Ada suara anak kecil yang terdengar.
“Aku ingin bermain sebentar. Tolong temani aku ya, kakak-kakak~”
Suara anak perempuan yang terdengar di seluruh dinding tanaman terdengar. Sekarang yang ada di pikiran Ryou hanyalah satu.
“Aku yakin kita sial karena kau, Kaito. Ini karena kau mengikuti suara setan itu!!”
“Ryou…” Kino mencoba menenangkan sang adik
Tapi, sepertinya suara itu tidak terima dipanggil setan hingga dari belakang ketiganya muncul sosok anak perempuan yang berteriak.
“Hei, orang tidak sopan! Aku ini bukan setan! Siapa yang kamu panggil setan, dasar tidak sopan! Aku ini seorang Lady! Panggil aku Lady Emily, kalian dengar kan! Dasar rakyat jelata!”
******