
Pertemuan pertama Kaito dengan kedua kakak beradik itu cukup ‘mengharukan’. Dihiasi dengan kalimat ‘pujian’ dan pukulan ‘lembut’ yang mungkin memberikan tanda merah pada punggung Kaito.
Penjaga itu melihat ketiga anak itu dengan ekspresi bingung.
“Kalian bertiga baru datang ke kota ini?”
“Kami…kami baru saja tiba. Karena sempat tersesat, kami saling mencari satu sama lain. Tidak disangka justru akan bertemu dalam situasi menengangkan. Bagaimanapun juga kami ini warga sipil biasa” Ryou mencoba berdalih
Penjaga itu menatap mereka sekali lagi.
“Mungkinkah kalian ini anak-anak yang ingin mendaftar ke sekolah sihir?”
“Apa?” ketiga remaja itu terkejut mendengar kata sihir
“Aku baru ingat bahwa pagi ini sekolah sihir baru saja membuka pendaftaran akademinya. Kalian memiliki waktu 48 jam dari sekarang untuk mendaftar. Kalau kalian adalah calon murid yang hendak mendaftar, sebaiknya kalian persiapkan diri kalian agar bisa lulus ujiannya. Kalau begitu aku permisi dulu”
Penjaga itu bergegas pergi meninggalkan ketiga remaja yang sama sekali tidak berkata apapun karena mematung.
Setelah beberapa lama, mereka bertiga kembali ke akal sehatnya.
“Kaito! Kau membawa kami kemana lagi?!” Ryou memegang kerah pakaian Kaito dan menggoyang-goyangkannya seperti preman di jalan
“Aku tidak tau! Yang jelas ini bukan pilihanku!”
“Tapi ini karena permatamu, kan?!”
“Tempat ini masih lebih bagus dari yang sebelumnya! Harusnya kau berterima kasih” Kaito mencoba membela dirinya
“Aku tidak mau berterima kasih pada remaja dunia lain yang amnesia! Gara-gara harus ikut kau mencari permatamu, kepulangan aku dan Kino jadi ditunda! Ini bukan wisata dan aku bukan di bandara yang keberangkatannya bisa di-pending seenak jidatmu!!” bentak Ryou
“Ryou, Kaito-san, jangan berteriak di jalan seperti ini! Kita harus mencari tau informasi dan…” Kino mulai menyadari sekitarnya
Sungguh drama yang indah di pagi hari. Yang sebelumnya mereka hanya bertiga, sekarang mereka jadi bahan tontonan penduduk yang datang.
Dengan wajah memerah, Kino langsung menarik tangan adik dan sahabatnya itu bersamanya dan membawa mereka pergi ke tempat yang jauh.
Untuk beberapa menit, mereka menemukan sebuah taman dengan kursi unik di bawah pohon. Mereka duduk di sana sambil mencoba mencerna tiap kejadian di pagi itu.
“Baik, oke. Aku akan ringkas semuanya. Intinya, permatamu sudah didapatkan dan kita sampai ke dunia yang mirip Monster Rancher atau dunia fantasi lain” Ryou mencoba meluruskan situasinya dulu
“Aku tidak paham dengan kalimatmu itu, tapi sepertinya semua itu benar. Kita sudah berada di ‘dunia’ yang berbeda”
“Lebih mengejutkannya lagi, ada sihir di sini. Puncak rasa syok yang kupunya adalah ternyata ada sapu yang bisa dipakai untuk dua hal sekaligus yaitu sebagai senjata ibu-ibu untuk mengancam anaknya jika terlalu banyak main game dan alat transportasi terbang”
Kino yang mendengar ucapan aneh sang adik hanya bisa diam dengan ekspresi aneh.
Mereka bertiga duduk sambil melihat semua orang yang berjalan kaki di sekitar tempat itu.
“Ada banyak ras selain manusia di sini” ucap Kaito dengan santai
“Kaito-san sepertinya tidak asing dengan semua itu. Apa di ‘dunia’ sebelumnya ada yang seperti ini?”
“Ada satu saat tersesat di gurun. Namanya ras batu. Mereka seperti golem. Permataku saat ini ada di dalam inti kuil milik mereka”
“Begitu. Aku tidak heran Kaito-san bisa sangat tenang melihat mereka semua”
“Tapi aku belum pernah bertemu dengan zombie seperti yang lalu. Itu mungkin adalah monster jenis baru”
“Itu bukan monster, itu hanya mayat. Aku kan sudah bilang. Jangan sampai lupa karena sekali kau bertemu dengan zombie, kemungkinan di tempat ini juga bisa kau temukan. Apalagi setelah tiga ‘dunia’ yang kita datangi bersama, ini adalah ‘dunia’ dengan potensi paling besar untuk menemukan permatamu”
Ryou bicara dengan nada serius sekarang.
“Kamu berpikiran begitu juga, Ryou?” tanya sang kakak
“Tentu saja. Selama ini, kekuatan jam saku yang kita miliki dengan permata Kaito itu adalah kekuatan magis sejenis sihir untukku. Dan dengan kita terdampar di ‘dunia’ yang dikuasai sihir, membuat semua rasio kemungkinan kita menemukan permata itu dengan cepat hanya 30%”
Kaito terdiam mendengar penjelasan Ryou. Itu sangat masuk akal dan Kaito setuju dengan pemikiran itu.
‘Selama ini ingatanku adalah sumber dari beberapa kejadian aneh. Apakah kali ini juga begitu?’ pikirnya dalam hati
Kino sedikit penasaran dengan ingatan Kaito yang sebelumnya, sehingga dia menyempatkan diri untuk bertanya.
“Kaito-san, apakah aku boleh bertanya?”
“Apakah ingatan yang didapatkan itu…adalah ingatan yang begitu berarti?”
“Kenapa?”
“Kaito-san terlihat sedikit berbeda di mataku”
Kaito melihat Kino dengan wajah biasa, namun hatinya tidak seperti itu. Dia begitu terkejut karena Kino menyadari perubahan sikapnya yang nyaris tidak terlihat sama sekali. Benar-benar firasat yang kuat dari seorang Kino.
“Kaito-san?”
“Maaf, aku belum bisa mengatakannya. Nanti aku akan menceritakan semuanya. Apakah kalian bisa menunggu sedikit lagi?”
Kino tidak ingin memaksanya. Ryou yang melihat sang kakak juga hanya mengangguk sebagai tanda bahwa dia tidak ingin mempermasalahkan hal itu juga.
“Baiklah. Tidak masalah, Kaito-san. Jika memang ingin menceritakannya pada kami, Kaito-san bisa mengatakannya kapanpun”
Kaito tersenyum mendengarnya dan mencoba mengalihkan pembicaraan itu ke arah yang lebih serius,
“Kira-kira menurut kalian, apakah ada kesamaan dengan ‘dunia’ sebelumnya?”
“Ada. Bangunan dan kendaraannya itu sama dengan di zaman kami. Tapi, mungkin ini sekilas seperti tahun 1990-2000. Aku tidak begitu paham juga. Tampaknya tempat ini menganut gaya Eropa kuno dan modern di saat yang sama” jelas Ryou
“Eropa?”
“Itu tempat di ‘dunia’ kami, Kaito-san. Eropa adalah nama benua barat. Kemungkinan tempat ini meniru kota London di Negara Inggris”
“Aku tidak mengerti tapi kurasa aku mulai sedikit hafal dengan tempat kalian tinggal”
Kino melihat sebuah mobil bertuliskan [Ice Cream in Lorry] di depannya.
“Ryou, ini mungkin Negara Inggris sungguhan. Tulisan itu menggunakan bahasa Inggris”
Ryou melihat arah mata Kino tertuju. Dia melihat mobil es krim dan langsung mengarah pada kata yang digunakan.
“[Lorry]? Itu British English. Kita benar-benar di dunia fantasi berbasis Negara Inggris? Kenapa terlemparnya jauh sekali ke Eropa lagi. Pertama Prancis, lalu Korea kemudian Inggris. Bisa bawa kami ke Italia atau Spanyol mungkin? Setidaknya kita berdua fasih menggunakan dua bahasa itu”
“Ryou, itu bukan pilihan kita”
Kaito merasa diasingkan.
“Kalian berdua, bisa bahas sesuatu yang aku tau juga?”
“Ma–maafkan kami, Kaito-san”
“Jadi, sekarang kita–”
-BOOOM
“Apa itu?! Serangan bom?!” Ryou langsung berdiri dan berteriak
Kino dan Kaito tidak kalah terkejut. Mereka memutuskan untuk melihat apa yang terjadi di sumber suara tersebut.
Begitu mereka sampai, mereka melihat sebuah pertarungan antara seorang perempuan berseragam sekolah dengan sekelompok beastman.
“Beraninya kalian mencoba menyentuhku dan mengatakan aku hanya half-elf rendah! Dasar monster. Rasakan ini! [Fire Ball]”
Sebuah bola api beruntut keluar dari tangannya. Gadis berambut panjang itu menyerang sekelompok beastman itu dengan tembakan bola api tersebut.
Mata Ryou terbelalak melihatnya. Dia tidak menyangka seumur hidup, dia akan melihat pemandangan seperti itu.
“Kino…ini yang kusebut adegan fantasi”
“Ini bukan saatnya bicara begitu, Ryou! Itu hal yang sangat berbahaya!”
“Tapi itu yang kusebut fantasi masuk dunia nyata! Ini adalah sebuah kemajuan. Keberuntungan Kaito meningkat menjadi 200%. Aku suka ‘dunia’ yang sekarang, aku serius!” Ryou terlihat begitu senang
Tapi berbeda dengan Ryou yang senang, Kaito justru begitu waspada. Tidak ada satupun dari mereka semua yang menghentikan pertarungan itu.
Seakan itu semua adalah tontonan gratis dari atraksi sejumlah kelompok, Kaito begitu menaruh semua kecurigaannya.
******