
“Aku akan menjual Justin kepada Seren-sama untuk menyelamatkan mereka bertiga”
Sungguh gagasan yang sangat cemerlang, sangat cerdas, sangat jenius dari seorang bartender yang telah mengenal Justin selama bertahun-tahun sejak dia bekerja di bar itu.
Tentu saja reaksi yang ditunjukkan mereka berdua ketika mendengarnya sangat masuk akal. Wajah aneh, mata melebar dan mulut yang sedikit terbuka menandakan mereka terkejut.
Kaito menyadari satu pernyataan yang dibuat oleh Arkan.
“Tunggu dulu, tuan bartender. Apa maksud ucapanmu tentang saran dan ide yang kau katakan?”
“Kau sudah mengatakannya sejak memotong lengannya itu. Kau bahkan memberikanku sebuah pencerahan bagus terkait masalah ekonomi yang kuhadapi sekarang ini”
“Apa?!” Kaito tidak bisa menyembunyikan perasaan terkejutnya
Dia benar-benar tidak bisa mengingat dengan jelas apa yang sudah dikatakannya. Hanya sedikit ingatan yang dia ingat dan sisanya bagaikan hal yang samar.
Kaito bertanya kembali pada Arkan.
“Jadi, apa yang kau maksud pencerahan itu?”
“Soal itu…”
Arkan memberitau semua hal yang dikatakan oleh Kaito soal menjual Justin untuk menyelamatkan teman dan kedua anak kecil tersebut, soal membantunya mendapatkan uang tambahan untuk menutupi hutang Justin dan biaya kerugian bar serta hal-hal lain soal keuntungan dan semacamnya.
“……”
Tidak ada hal lain yang bisa dikatakan oleh Kaito selain menutup mulutnya dengan tangan sambil memasang ekspresi terkejut dan syok.
Dalam hatinya, Kaito bahkan seperti mengutuk dirinya sendiri.
‘Jangan bercanda!! Apakah yang dikatakan oleh tuan bartender itu benar? Apa akau benar-benar mengatakan hal tidak manusiawi seperti itu?! Mustahil!! Aku tidak mengingatnya sama sekali!!. Bagaimana bisa justru aku yang terdengar sudah kehilangan sisi kemanusiaanku sekarang?!!’
Melihat reaksi Kaito, Arkan yakin sepenuhnya bahwa dia sama sekali tidak mengatakan semua hal kejam itu secara sadar. Meskipun penyebabnya masih belum diketahui, bukan berarti itu adalah masalah penting sekarang.
“Bagaimana? Aku tidak peduli Kaito mengingat semua kata-kata yang kau ucapkan atau tidak tapi sekarang kita benar-benar berpacu dengan waktu” jelas Arkan
“……”
“Aku menyarankan hal ini kepada kalian berdua karena pada dasarnya Justin…bukan, gorilla itulah yang membuat kontrak dengan Seren-sama dan suaminya untuk mencari pria berpedang tanpa sarung pedang. Dia menyewa jasa pembunuh profesional sekaligus pembisnis di pasar gelap untuk mencarimu, Kaito”
“……” Ryou dan Kaito mendengarkan dengan baik
Ryou masih belum memberikan keterangan apapun, akan tetapi bukan berarti dia tidak menyimaknya.
“Tapi karena kenyataannya sebelum Seren-sama bertemu denganmu, Justin sendirilah yang menemukanmu meskipun secara kebetulan. Aku tidak tau bagaimana isi kontraknya sampai dia bisa mengambil anak-anak itu terlebih dahulu sebelum pekerjaannya dilakukan. Namun, jika kita membawa orang yang kontrak dengan mereka dalam keadaan seperti ini…” Arkan melihat ke arah Kaito dengan menyipitkan matanya
“Maka bisa dikatakan bahwa kontrak telah batal dan mereka harus mengembalikan ketiga orang itu mau tak mau. Begitu maksudmu?” tebak Kaito
“Tepat. Itu bisa dimanfaatkan”
“Begitu. Aku mengerti”
Kaito menepuk pundak Ryou sehingga dia melihat ke arah Kaito.
“……”
“Ryou, akan kutarik kata-kataku saat kita menuju ke tempat ini. Dibandingkan memikirkan nyawa iblis berkedok manusia seperti Justin, keselamatan Kino jauh lebih penting”
Ryou hanya tertunduk mendengar hal itu dan menghapus air matanya.
“Tidak. Ini tidak seperti aku akan menyalahkanmu. Aku hanya ingin kau tau bahwa terkadang kita harus mengabaikan rasa simpati dan empati kita pada makhluk seperti dia. Bagiku, Justin tidak lebih baik dari goblin atau kepala kambing yang menyerang kita ketika di ‘dunia malam’. Aku tidak akan menyesali apapun setelah membunuhnya”
Mata Ryou berubah dingin dan seperti tidak lagi menunjukkan cahaya kehidupan.
Secara diam-diam, ternyata Theo telah berdiri di balik tembok ruangan Justin dan mendengar semuanya ketika Arkan berjalan menuju tempat tersebut.
Theo hanya bisa menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan tidak berani memanggil ketiganya.
‘Ini semua karena aku meninggalkan Kino-nii!!. Ini semua salahku!!’
******
Di suatu jalan di tempat yang terasing, Seren berjalan membawa sebuah kantong plastik besar bersamanya sedangkan karyawannya, Will terlihat membawa sebuah kantong plastik besar di pundak kirinya dan menarik pakaian seorang remaja. Remaja itu adalah Kino.
Dalam keadaan tidak sadarkan diri dengan luka di tangan kirinya dan beberapa sayatan di bagian tubuh lainnya, Kino diseret seperti sebuah plastik sampah yang tidak berarti.
“Madame…” Will memanggil wanita yang berjalan di depannya
“Ada apa, Will?”
“Apa kau mau aku yang membawakan barang itu juga?”
“Ini?. Tidak perlu. Aku hanya perlu menggendongnya sebentar. Ini adalah salah satu cara agar Jack mau memberikan perhatian lebih padaku. Kau tau suamiku itu sangat senang memotong barang dagangan hingga kadang lupa bahwa dia sudah memiliki wanita cantik sebagai istrinya, kan?” senyum Seren dengan sangat manis
“Oh….” Will hanya membuat satu kata dari mulutnya
Namun, siapa yang menyangka bahwa dia membuat banyak sekali kalimat dalam pikirannya.
‘Oh, Madame. Jika kau mengatakan bahwa Monsieur senang memotong barang dagangan, bukankah itu berlaku juga padamu? Yah, tapi setidaknya aku bisa meminta kenaikkan gaji dan bonus lebih mudah jika bicara dengan Madame dibandingkan dengan Monsieur’
Will memanggil Seren kembali yang sedang bersenandung karena senang.
“Madame…”
“Ada apa lagi, Will?”
“Jadi, aku benar-benar akan naik gaji seperti yang kau janjikan?” tanya Will dengan senyum lebar
“Hmm…kurasa begitu”
“Yeah!!”
Hal yang paling tidak menyenangkan di sana adalah Will menarik tubuh Kino tanpa memikirkan seperti apa medan area tersebut. Beberapa kali kaki Kino terkena baru dan terluka akibat diseret terlalu cepat.
Tapi bagi kedua orang itu, manusia bukanlah hal yang harus dikasihani jadi sepertinya mereka tidak memiliki masalah serius dengan hal itu.
“Saat pulang nanti aku akan langsung memasukkan mereka semua ke gudang dan istirahat sebentar. Aku yakin Jack pasti akan membunuh dan memotong mereka menjelang pembukaan agar masih terlihat segar”
“Lalu barang yang tadi pagi?”
“Sudah diurus. Sepertinya suamiku hanya ingin mendengar suara jeritan anak-anak saja jadi dia pasti langsung memotong ibu anak itu menjadi delapan sampai sepuluh bagian untuk dijual nanti malam”
Will diam sebentar lalu bertanya kembali pada Seren.
“Kita akan segera menemukannya. Aku memiliki firasat bagus tentang ini jadi jangan khawatir. Kita akan mencarinya begitu selesai mengantarkan ini ke rumah” kata Seren dengan nada santai
“Baiklah kalau begitu”
Tidak lama setelah itu, mereka telah memasuki daerah sepi dengan pintu gerbang besar bertuliskan [Région Crâne Rouge]. Will sempat menjatuhkan tubuh Kino yang tak sadarkan diri ke tanah untuk membuka pintu gerbangnya. Setelah gerbang terbuka, Seren masuk terlebih dahulu.
Will segera menarik tubuh Kino dan menyeretnya kembali untuk melewati gerbang dan masuk ke dalamnya. Selang tiga detik, Will kembali menjatuhkan tubuh Kino unutk menutup pintu gerbangnya dan menguncinya kembali.
Dengan menarik kembali tubuh Kino sepanjang jalan, dia terus tersenyum di belakang Seren
“Gajiku naik dan Monsieur akan semakin mencintaimu, Madame”
Sebuah kalimat penjilat dari karyawan untuk merayu atasannya yang polos agar mau menaikkan gajinya. Dan dengan lugu, atasannya tersebut menjawab “tentu saja” dengan senyumannya.
Di dalam wilayah gelap tersebut, hanya ada dua orang iblis berkedok manusia dengan tiga orang yang malang bersama mereka.
******
Kaito mengambil jam saku miliknya dan melihatnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.20. Sudah kurang lebih satu jam sejak Kaito memutuskan untuk masuk ke dalam bar ini.
Dia memasukkan kembali jam sakunya tersebut lalu melirik Ryou yang terus menatap dingin Justin yang tidak berdaya sama sekali. Terkadang, dia juga melihat Ryou yang sepertinya hendak mengeluarkan pedangnya.
Di sisi lain, dia melirik ke balik dinding ruangan Justin dan tiba-tiba membuka suaranya.
“Sebaiknya kau tidak terlalu serius memikirkan hal ini, Theo. Kami akan menyelamatkan Kino dan kedua temanmu itu”
Theo langsung terkejut dan menampakkan dirinya di hadapan mereka bertiga.
“Hiiii!!!!” Theo langsung mundur sambil memperlihatkan wajah pucat
Betapa terkejutnya dia melihat tubuh yang ada di bawah lantai dengan genangan darah di sana adalah Justin. Dia mundur beberapa langkah dan berusaha tetap berdiri dengan kakinya yang gemetar.
“Aa….” Theo berusaha mengatakan sesuatu namun tidak ada kata yang bisa diucapkannya
‘Jangan khawatir, Theo” kata Ryou tanpa melihat ke belakang
“Eh?”
“Kau sudah tidak perlu berurusan lagi dengan iblis ini. Kami akan segera menyingkirkannya dan akan kupastikan bahkan setelah dia mati, dia tidak akan mendapatkan kedamaian apapun”
Kalimat Ryou benar-benar membuat suasana memanas kembali.
“Ehem….”
Arkan membuat suara seakan dirinya batuk dan berusahan mencairkan suasana tegang. Tidak lama setelah itu, dia mengatakan rencana yang dimilikinya.
“Seperti apa yang telah kita sepakati bersama bahwa kita akan menjual gorilla ini dan menukarkannya dengan ketiga orang yang dibawa Seren-sama. Aku ingin kalian semua, termasuk anak-anak itu untuk menunggu di sini”
“Mau pergi kemana kau?” tanya Kaito
“Kau tidak mungkin menyeret tubuh sebesar itu sampai ke pasar gelap, kan?. Tempat itu begitu jauh dari sini. Wilayahnya ada di area paling gelap di tempat asing ini dan hanya orang gila yang mau menyeret tubuh setengah sekarat ini sampai ke sana!!”
“Lalu, bagaimana caranya kita membawa Justin sampai ke lokasi pasar gelap tersebut?”
“Aku mau memanggil temanku untuk membantu kita membawanya sampai ke lokasi pasar gelap berada. Tentu saja dia mungkin akan syok hingga nyaris pingsan kalau tau kondisi Justin seperti ini, tapi itu bukan pilihan. Demi menyelamatkan Stelani dan yang lain, hal ini harus dilakukan!”
“Aku mengerti. Kuserahkan semuanya padamu. Aku akan menjaga Ryou dan yang lain di sini. Sebaiknya kau cepat karena kita tidak memiliki banyak waktu untuk menunggu” kata Kaito untuk merespon jawaban Arkan
“Tolong kau jaga mereka agar tidak kabur”
Arkan berjalan keluar ruangan Justin dan menatap sendu anak-anak kecil yang masih saling berpelukkan untuk menahan rasa takut dan sedihnya.
Dia menghampiri mereka sebelum pergi dan memberikan senyuman sambil mengeluarkan sesuatu dari kantongnya.
“Dengar, aku minta maaf atas semua yang terjadi. Aku akan sebisa mungkin menyelamatkan mereka semua. Karena itu, ambilah ini untuk kalian agar bisa hidup lebih baik setelah Stelani dan Fabil pulang dengan selamat”
Michaela yang menerima benda tersebut. Itu adalah lima buah koin senilai 100 Franc. Betapa terkejutnya semua anak-anak itu. Theo yang melihat dari jauh pun akhirnya menghampiri mereka semua.
“Ini adalah uang yang diberikan oleh mereka berdua pagi ini. Awalnya mereka ingin aku memberikan ini kepada Justin-sama agar kalian semua bisa makan roti. Tapi sekarang hal itu tidak diperlukan lagi”
“……” Theo dan anak-anak itu terdiam
“Kalian sudah tidak perlu lagi berada dalam ketakutan dan rasa sakit. Dengan ini kalian bebas menentukan jalan kalian sendiri. Setelah kalian semua berkumpul, kita bisa membicarakan banyak hal dan itu pasti menyenangkan”
Orang yang dingin seperti Arkan bisa tersenyum dengan wajah tampannya kepada anak-anak yang tidak pernah sekalipun dia pedulikan. Ini membuktikan bahwa dia masih memiliki sisi manusiawi dan lebih rasional dibandingkan semua yang hidurp di tempat asing tersebut.
Uang tersebut diterima oleh Michaela dan diberikan kepada Theo. Sambil menerima itu, dia mengingat sosok kedua temannya itu. Dengan menggenggam erat lima koin dan bandul kalung yang ada dalam kerah bajunya, dia berdoa dalam hati.
‘Aku mohon, selamatkanlah Stelani dan Fabil! Selamatkanlah Kino-nii! Aku mohon semoga tidak terjadi apapun pada mereka berdua! Aku mohon semoga semuanya bisa kembali selamat. Aku mohon!’
Setitik cahaya kembali muncul walau redup. Akan tetapi, cahaya tersebut terhubung kembali kepada sesuatu yang disebut dengan benang takdir.
-Deg
“……!!!”
Sesuatu dirasakan oleh Kaito ketika dia masih berada dalam ruangan Justin bersama Ryou.
‘Perasaan apa lagi ini?’
Seperti perasaan hangat yang membuatnya memiliki keinginan kuat akan sesuatu. Meskipun samar namun jelas dia bisa merasakan bahwa ini adalah perasaan yang sangat kuat dalam dirinya.
Dia menjadi lebih bersemangat untuk bisa menyelamatkan Kino dan kedua anak yang diculik bersamanya. Kurang lebih, beginilah gambaran yang bisa dideskripsikan oleh Kaito saat ini.
‘Mungkinkah…ada sesuatu yang terjadi pada kepingan ingatanku?’ gumamnya dalam hati
**
Arkan keluar dari bar dan berjalan menuju suatu tempat. Baru beberapa langkah meninggalkan bar, langkahnya tiba-tiba terhenti.
“Ukh….”
Dia melihat sesuatu yang telah dilupakannya beberapa waktu lalu.
“Aku lupa membuang kedua potongan lengan ini. Apa yang harus kulakukan? Rasanya perutku mual dan aku mau muntah”
Arkan menatap kedua lengan penuh dengan genangan darah itu dengan tatapan menjijikkan dan pucat. Ekspresi seakan sedang melihat tumpukkan kotoran sampah dimana-mana dan dia sangat tidak menyukai hal ini.
“Sebaiknya kubuang nanti saja”
******