
Xenon akhirnya merasakan bahwa dia menyesal meninggalkan ketiga remaja dari dunia lain itu sendirian.
“Aku tidak akan memaafkan kalian kalau sampai angin ribut ini sampai keluar!!” teriaknya
“Jangan khawatir! Aku juga tidak akan memaafkan Kaito kalau sampai dia mengirimku dan kakakku ke dunia lain sampai bisa melihat Sungai Sanzu!”
“Sungai apa tadi?”
“Sungai Sanzu yang ada dalam ajaran agamaku! Sekarang lupakan itu sekarang dan hentikan si bodoh itu!” teriak Ryou
Ryou mencoba melindungi sang kakak dengan berdiri di depannya.
“Kino, kau tidak apa-apa?”
“Aku tidak apa-apa! Jam saku kita ada di atas sana sekarang”
“Lupakan soal itu, pokoknya kita harus melakukan sesuatu dulu dengan Kaito dan batu sihirnya”
Xenon memasang penghalang untuk melindungi tempat itu.
[Astral Barrier]
Seketika semua tempat itu menjadi kosong tanpa apapun. Benda-benda lainnya bagaikan lenyap tanpa sisa. Hanya jam saku milik Kino yang berada di atas akibat tertiup angin kencang yang menerbangkannya.
“Kalian benar-benar membuat masalah” celetuk Xenon
“Berisik! Protesnya nanti saja dan lakukan sesuatu!!”
Kaito yang berusaha keras menahan kekuatannya yang keluar tiba-tiba sama sekali tidak bisa menghentikannya.
‘Aku hanya perlu membayangkan bahwa ini berhenti, kan? Kenapa tidak berpengaruh!’ pikirnya dengan panik
Xenon melihat tangan Kaito yang bersinar.
‘Batu sihirnya…menyatu sempurna dengan Kaito?! Apa mungkin angin ini terjadi karena terlalu cocok dengannya? Tapi, jika terlalu cocok sekalipun…bukan berarti dia bisa menciptakan sihir angin seperti ini!’
Dia tidak punya pilihan selain menggunakan sihir untuk melawan sihir.
[Against The Wind]
Sebuah angin yang terlihat seperti pedang muncul dari tangan Xenon. Kino dan Ryou yang melihatnya terkejut.
“Kau bilang kau tidak punya elemen lain kecuali sihir tanah!” teriak Ryou
“Tapi aku tidak pernah bilang kalau aku tidak bisa melakukan sihir serupa! Sekarang diamlah dan biarkan senior bekerja di sini!”
Xenon memotong angin yang menghalanginya dengan pedang angin yang muncul di tangannya. Cara tersebut cukup berhasil dan dia berhasil mendekati Kaito dalam sekejap.
“Kaito!”
“Xenon, aku tidak bisa menghentikannya walaupun aku mencoba! Kenapa batu ini tidak mau keluar meskipun aku sudah mengatakan [Sortie]?!”
“Apa?! Tidak keluar?!” Xenon sekarang menjadi tambah bingung
Baru di tangan Kaito tampaknya sudah menyatu begitu dalam.
‘Ini bukan tipikal dari batu sihir. Kenapa jadi begini?! Apa aku sudah melakukan kesalahan?’ pikir Xenon
“Xenon!” Kaito terlihat panik
“Jangan panik, kau harus tenang dan tarik napasmu. Pikirkan saja cara agar angin ini hilang terlebih dahulu. Sisanya akan aku jelaskan nanti. Bayangkan kalau angin ini berhenti! Bayangkan itu sekarang!”
Kaito mencoba membayangkannya.
‘Bayangkan angin ini berhenti. Aku harus membayangkannya. Berhenti! Aku bilang berhenti!’
Kaito seperti berteriak dan menghadapi angin itu sendirian. Xenon memperhatikan Kaito dengan sihirnya.
[Senri Eye]
Mata Xenon begitu terkejut melihat tubuh Kaito.
‘Sihirnya…mengalir?! Dari telapak tangannya, batu sihirnya sudah tidak lagi berpusat di tempat semula melainkan mengalir ke seluruh tubuhnya. Apa yang terjadi?! Apakah karena Kaito berasal dari dunia lain? Atau karena dia habis menyerap batu permata miliknya? Ini tidak normal, aku tidak pernah melihat yang seperti ini!’
Xenon terlihat mulai panik. Pasalnya, di hadapannya sekarang adalah sebuah kejadian yang tidak pernah dilihatnya seumur hidup.
‘Aku tidak yakin tentang hal ini, tapi kalau dugaanku benar…batu sihir angin itu sudah melebur menjadi sihir untuk Kaito sendiri. Dengan kata lain, Kaito sudah memiliki sihirnya. Jelas saja [Sortie] tidak bisa mengeluarkan batu itu’
Wajah Xenon menjadi serius dan bicara pada Kaito.
“Kaito, dengarkan aku. Kau harus tenang dan dengar. Sekarang, batu sihir itu sudah tidak ada lagi di tanganmu”
“Apa?!”
“Batu itu sudah bercampur dengan tubuhmu secara sempurna. Karena itu, mau kau mengatakan [Sortie] sampai seribu kali pun, batu itu tidak akan pernah keluar. Dengan kata lain, kau sudah memiliki sihir angin sekarang”
“Lalu apa yang harus aku lakukan?”
“Kau harus tenang. Sihir angin itu berasal dari ketenangan dan memanfaatkan seluruh indera yang kau punya. Rasakan setiap sihir yang mengalir dalam tubuhmu, kemudian pikirkan bahwa kau bersatu dengan angin ini”
Dari jauh, Ryou yang sempat mendengar semua itu langsung berteriak.
“Kau gila ya! Ini bukan waktunya memberikan penjelasan seperti itu!”
“Kau diam saja, cerewet! Mumpung Kaito mendapatkan sihirnya, aku harus melakukan ini agar dia sendiri yang menghentikannya!” Xenon menjadi semakin kesal dengan Ryou
Tampaknya Ryou sendiri juga sudah kesal karena metode Xenon terlalu lama. Tanpa disadari, Ryou mengeluarkan api dari tangannya.
“Aku dan kakakku benar-benar akan berpindah alam kalau begini!!”
-WHOOOSH
Dari tangannya, Ryou mengeluarkan api. Dan karena angin besar yang bertiup bagaikan badai di dalam ruangan itu, membuat api yang semula kecil berubah menjadi besar. Sudah begitu, api tersebut menjadi tidak bisa dikendalikan lagi oleh Ryou.
“Gyaaaa!!!”
“Ryou!!”
Teriakan Ryou terdengar seperti tokoh heroine dalam anime. Sudah begitu, wajahnya yang mirip dengan lukisan The Screamer karya pelukis Edward Munch membuatnya terlihat semakin memperlihatkan ekspresi tertekan.
“Hei! Kau ingin mati sebelum transaksi kita selesai ya!” Xenon berteriak ke arah Ryou
“Ryou! Aku sudah punya masalah serius di sini! Kenapa kau jadi ikut-ikutan segala?!” Kaito ikut mengajukan protes
“Aku tidak bersalah!”
“Jangan mencoba memperpanjang jam begadangku dan cepat hentikan…hah?!”
Xenon tercengang sekarang. Hal gila lain dilihatnya kembali.
“Oi oi oi oi, kenapa batu sihir milikmu juga melebur dan menyatu dengan tubuhmu itu, Ryou?! Apa yang kalian lakukan malam-malam begini sampai membuatku harus bekerja keras di jam tidur!!”
“Aku tidak…apa? Melebur?” Ryou sekarang ikutan panik
Kino tidak tau apa yang terjadi, tapi yang jelas bahwa jika tidak dihentikan mereka semua akan terpanggang.
“Ryou, cobalah untuk menghentikan apinya!” seru Kino
“A–aku akan mencobanya”
Api milik Ryou dan angin milik Kaito benar-benar sudah menjadi sebuah harmoni. Benar, harmoni untuk menghancurkan ruangan itu dan memasak tubuh mereka berempat hidup-hidup.
Sekarang, Xenon harus memikirkan agar badai api dan angin ini tidak membuatnya ikut berpindah alam.
“Aku akan membuat mereka menyesal!” gumamnya dengan ekspresi wajah kesal
Namun, baru dia ingin mengutuk Ryou dan Kaito, perhatian Xenon teralihkan ketika dia melihat Kino.
“Itu…” Xenon berteriak ke arah Kino, “Kino! Keluarkan sihir airmu sekarang!”
“Apa?! Xenon-san, itu sulit untuk–”
“Bayangkan ada ombak dan semacamnya! Tenang saja! Di dalam penghalang ini, kau tidak akan menenggelamkan siapapun! Setidaknya kalaupun ada yang ingin kau tenggelamkan, tenggelamkan saja adik bodohmu dan pria amnesia ini!”
“Xenon!” Ryou dan Kaito berteriak secara bersamaan.
“Berisik! Kalian diam saja!” Xenon berbalik meneriaki mereka
Kino menyadari bahwa badai api itu harus dipadamkan dengan air dan sihirnya yang berasal dari batu sihir air adalah yang cocok saat ini.
‘Aku harus membayangkan air dalam jumlah banyak! Tapi, aku tidak tau apakah ini akan berhasil atau tidak’
Pada dasarnya, Kino memang tidak mengetahui banyak hal tentang dunia fantasi dan itulah yang membuatnya begitu sulit untuk membayangkan hal seperti itu.
Tapi, ini bukan saatnya untuk ragu.
‘Hujan…bukan! Hujan tidak akan menghentikan ini! Air sungai yang mengalir? Mana bisa seperti itu?! Bagaimana ini!’
“Kino, jangan banyak berpikir dan lakukan saja!” teriak Xenon
“Oi! Jangan membuatnya bingung! Tadi kau bilang dia harus berpikir, sekarang kau bilang jangan memikirkan apapun! Kau yakin dengan tingkat kelabilan itu, kau mau mengajari kami sihir!”
Ryou berubah menjadi lebih kesal dan terima kasih untuk perasaan kesalnya, sekarang api yang keluar dari tangannya semakin besar. Membuat sebuah kolaborasi harmoni lain yang disebut kekacauan dan pembakaran secara sepihak.
“Uwaaaa, kenapa makin besar!” Ryou berteriak
Kino sudah tidak bisa menunggu. Memanfaatkan imajinasinya yang tidak begitu membantu itu hanya akan membuat mereka terbunuh lebih cepat.
“Air keluarlah! Air yang sangat banyak, apapun itu! Air sungai, danau atau…air terjun!!”
“Apa?! Kino…air terjun ku bilang!” Ryou terkejut mendengar teriakan sang kakak
Sebuah cahaya muncul dari telapak tangan Kino dan tidak lama setelah itu, dari atas kepalanya terlihat air yang awalnya kecil kemudian semakin besar.
Bagaikan air yang tumpah dari wadahnya, tidak tanggung-tanggung, tiba-tiba ada banyak air yang muncul. Dan benar saja, seperti air terjun yang turun dari atas ke bawah, air yang muncul akibat sihir itu langsung menghantam mereka dalam jumlah besar.
“Uwaaaa…..blurp…blurp…blurrp!!!”
“Ki–”
-Blurrp…Bluurrp…Bluurrp
Semuanya tenggelam karena tumpahan yang mirip dengan air terjun itu.
Karena pengguna sihirnya tersapu air dengan mudah layaknya pasir pantai, badai api itu lama-lama menghilang. Sihir yang berasal dari tangan Ryou dan Kaito juga akhirnya lenyap sedikit demi sedikit.
Keadaan mulai kembali pulih dengan keempat remaja tampan yang harus berjuang untuk tidak tenggelam.
Mungkin jika air yang dikeluarkan oleh Kino tadi terlambat muncul sedikit saja, ketampanan mereka akan berubah menjadi sebuah sejarah.
“Fuaah! Aku tidak percaya aku bisa berenang di tengah malam begini. Kalau tidak dipasangi penghalang sihir, aku yakin aku akan dituntut oleh pemilik tempat ini karena nyaris memanggang habis penghuninya” gerutu Xenon
“Xe–Xenon-san, bagaimana menghilangkan sihir air ini? A–aku tidak yakin aku bisa berpikir dengan tenang dalam kondisi seperti ini”
Kino tidak salah. Karena penghalang yang dipasang Xenon, tidak ada benda lain di tempat itu. Membuat ruangan itu seperti sebuah aquarium kosong yang sekarang penuh dengan air dan mereka adalah ikannya.
Xenon mencoba tenang dan bergumam pelan.
“Kino, sekarang tarik napasmu dan mari ucapkan selamat tinggal waktu tidurku”
******