
“Keras kepala dan main hakim sendiri tanpa mendengarkan penjelasan dari orang lain dulu bisa membuat rambutmu semakin botak, Sakizawa-sensei”
“Eh?” semua orang termasuk Kino dan pria itu terkejut dan kaget mendengarnya
Kino bahkan sempat berteriak dalam hatinya. Wajah datar dan tenangnya tidak sinkron dengan isi hatinya sekarang.
‘Bukannya tadi kamu bilang tidak mau mengeluarkan kemampuan mulutmu itu?! Kenapa sekarang justru muncul istilah critical hit dari sana, Ryou!! Tolong jangan bicara lebih dari ini atau aku akan semakin sulit membelamu’
“Bo–botak kau bilang?! Jangan bersikap tidak sopan seperti itu pada gurumu ya, Ryou-kun!” teriak pria gemuk berkacamata itu dengan nada tinggi
“Tapi memang botak, kan? Rambut yang dipakai Sakizawa-sensei hanyalah rambut palsu. Minggu lalu aku lihat rambut sensei jatuh tertiup angin saat melewati area lapangan tennis, ingat?’ dengan santai Ryou kembali bicara sarkas
Ketiga orang lain di belakang mereka mencoba menahan tawa mendengar ucapan Ryou. Bahkan guru wanita itu sempat kelepasan dan mengeluarkan suara tawa meski hanya sebentar.
Kino menyenggol kaki sang adik di bawah berharap dia menyadari kode darinya agar berhenti bicara begitu. Tapi sepertinya, Ryou masih belum puas menyerang sang guru konseling tersebut.
“Sensei, minggu lalu kau sempat memarahiku juga setelah melihat rambutmu jatuh. Apa mungkin…Sakizawa-sensei membenciku karena telah menemukan rahasia dibalik rambut hitam di kepala itu?” Ryou tampak tersenyum dengan wajah meledek
“Kau!! Jangan berkata tidak sopan atau kupanggil kedua orang tuamu!!” ancam Sakizawa-sensei
Ryou masih belum selesai dengan semua kalimat pedasnya.
“Sejak tadi aku sudah mendengar argumen Kino dan Sakizawa-sensei. Tapi, tampaknya itu semua tidak ada yang mempan padamu. Sekalipun aku melakukan kesalahan, tapi aku melakukannya demi menolong orang lain. Apa tidak bisa melihat tindakanku itu dari sisi yang baik?”
“Kau berani menja–”
“Coba bayangkan kalau sampai murid itu terluka lalu orang tuanya protes pada pihak sekolah, memangnya sensei pikir siapa yang akan disalahkan selain murid sekolah ini?” Ryou bertanya dengan nada sarkas
“……” pria gemuk itu tidak menjawab sama sekali
“Lihat? Guru juga yang akan terkena masalah, kan?” wajah Ryou menjawab dengan ekspresi seperti meremehkan sang guru
Ketiga orang yang mendengar argumen Ryou dan Sakizawa-sensei hanya bisa melihat dengan wajah syok dan tidak memiliki niat sedikit pun untuk menyelak. Sepertinya mereka lebih senang menjadi penonton demi keselamatan mentalnya dibandingkan ikut terlibat.
Kino yang sudah tidak ingin mendengar serangan verbal dari mulut sang adik akhirnya mencoba mengatakan sesuatu untuk mengakhiri perdebatan keduanya.
“Sakizawa-sensei, kaca jendela sekolah bisa diganti, tapi reputasi sekolah dengan taraf internasional seperti Hoshigaoka Elite High School ini akan sulit dikembalikan jika ada citra buruk yang tercipta. Seharusnya sensei berpikir sampai ke sana bukan menghakimi adikku secara serius seperti ini”
“Ukh…”
“Seperi yang dikatakan Ryou, jika sampai ada murid yang terluka dan terdengar sampai ke pihak orang tua yang kebanyakan adalah inverstor sekolah ini…bayangkan apa yang akan terjadi? Aku rasa sensei bisa membayangkannya”
Mendengar jawaban itu, Sakizawa-sensei langsung diam dengan wajah cemberut. Sebelum dia melontarkan kalimat untuk membantah Kino, guru wanita di belakang Yuki bersaudara mengambil kesempatan untuk bicara.
“Sa–Sakizawa-sensei, kurasa sudah cukup sampai di sini. Semua hal yang dikatakan murid-murid ini benar dan kurasa jika memang ingin memberi hukuman, berikanlah secara adil karena Yuki-kun melakukannya untuk melindungi murid lain”
“Apa Higurashi-sensei juga membela pembuat onar ini?!” tanya Sakizawa-sensei dengan nada tinggi
“Tapi kata-kata Yuki-kun tadi memang benar, sensei! Selain itu, murid yang terlibat juga sudah mengatakan yang sebenarnya. Di sini juga sudah ada murid yang ditolong oleh Yuki-kun. Apa sensei akan mengabaikan hal ini juga?” desak guru wanita itu
“Higurashi-sensei, ini bukan–”
“Jika sampai kepala sekolah tau bahwa ternyata semua ini hanya menyangkut perasaan tidak suka Sakizawa-sensei terhadap Yuki Ryou-kun, Anda pasti akan terkena masalah! Aku di sini sudah melihat dan mendengar semuanya, Sakizawa-sensei!”
Karena mendapat desakan seperti itu, pria gemuk itu mau tak mau harus mengalah dan memberikan catatan peringatan kepada dua murid terlibat yaitu Yuki Ryou dan anggota tim eskul sepak bola.
Setelah menghabiskan waktu makan siang, semuanya keluar ruangan meninggalkan Sakizawa-sensei yang masih menggerutu karena diserang secara berkelompok oleh tiga orang.
Adik kelas Ryou berterima kasih padanya dan berlari menuju kelasnya, sedangkan anggota tim sepak bola kembali untuk berlatih. Di koridor sekolah yang panjang itu hanya tersisa Yuki bersaudara dengan guru wanita bernama Higurashi-sensei.
“Terima kasih banyak karena telah menolong kami, Higurashi-sensei” ucap kedua kakak beradik itu
“Tidak apa-apa. Sakizawa-sensei memang keras kepala. Aku heran kenapa kepala sekolah menjadikan dia guru konseling? Bukankah justru Sakizawa-sensei yang harus dikonseling dewan sekolah karena terlalu menggunakan jabatannya untuk menindak siswa yang tidak dia suka?! Dasar pria gemuk berambut palsu!” wanita itu seperti mengutarakan isi hatinya
Mendengar gurunya sendiri berkata seperti itu, Kino hanya bisa diam karena syok sedangkan Ryou tertawa keras karena senang.
“Hi–Higurashi-sensei…” Kino mencoba mengembalikan akal sehatnya dengan memanggil nama guru wanita itu
“Pfft…ahahahaha!!! Sa–Sakizawa-sensei bahkan dapat julukan bagus dari Higurashi-sensei. Ahahaha, pria gemuk berambut palsu katanya! Ahahaha, julukan bagus! Aku suka itu, sensei! Ahahaha”
“R–Ryou…” Kino mencoba menghentikan tawa sang adik
Guru wanita itu memerah karena malu dan panik.
“Yu–Yuki-kun, tolong jangan katakan pada siapapun mengenai hal ini ya. Sensei mohon” dia mohon dengan penuh rasa malu
“Ahaha…haaah…tenang saja, Higurashi-sensei. Aku dan Kino mendukungmu. Benar kan, Kino?”
“Aku tidak pernah mengatakan aku mendukung kali–”
Kalimat Kino dipotong oleh sang adik dengan senyum penuh percaya diri.
“Nah, sudah diputuskan! Kami tutup mulut!”
“Ka–Kalau begitu, kembalilah ke kelas kalian ya. Sensei permisi dulu”
Guru wanita tersebut akhirnya pergi. Sekarang hanya tinggal kedua kakak beradik itu yang berjalan menuju kelas mereka.
“Aku benar-benar tidak bisa percaya pada ucapanmu, Ryou. Bukankah tadi kamu bilang tidak mau mengatakan hal aneh? Aku hampir menyerah menolongmu tadi” gerutu Kino pada sang adik
“Aku hanya bilang tidak akan menggunakan kemampuanku, tapi aku tidak pernah mengatakan akan diam mendengarkan dia terus membantahmu”
“Itu tidak jauh berbeda untukku, Ryou”
“Tapi itu pengucapan yang berbeda dalam bahasa kita, Kino”
“Iya iya, aku minta maaf. Terima kasih sudah membelaku”
“Ayah dan ibu pasti akan sangat terkejut jika mengetahui Ryou sudah dipanggil ke ruang konseling sebanyak tiga kali” Kino terlihat lelah dan sendu
Tapi, jawaban pelaku utamanya justru sangat mengejutkan.
“Hmm…aku sudah menandatangani surat penyesalan, kan? Seharusnya bukan masalah besar meski kau mengadukannya pada ayah dan ibu” jawab Ryou dengan santai
Ryou benar-benar hebat. Dia bahkan masih bisa menjawab dengan santai. Sungguh di luar dugaan. Kino yang mendengarnya jadi sedikit ingin menggoda sang adik.
“Kurasa kamu benar. Mungkin jika kuadukan pada kedua orang tua kita, hukuman untuk Ryou hanya sebatas tidak mengizinkanmu main game di akhir pekan atau memintamu menjaga anjing Chihuahua milik nenek Yamato sendirian”
“Apa?! Itu tidak adil! Kenapa jam main game-ku yang jadi korban?! Lagipula, Stephanie lebih suka bermain denganmu daripada denganku! Kau saja yang menjaganya!”
“Karena hubungan kalian itu buruk makanya aku sarankan untuk memperbaiki hubunganmu dengan Chihuahua
milik nenek Yamato. Menjaganya sebagai hukuman kurasa akan memperbaiki persahabatanmu dengan Stephanie-chan, Ryou”
“Tidak mau! Stephanie itu selalu meminta jatah sosis milikku! Dia itu musuh alami! Aku tidak suka makhluk pendek itu!” Ryou dengan tegas mengatakan ketidaksukaannya
“Jadi?”
“Jangan adukan pada ayah dan ibu!” Ryou dengan tegas mengatakan jawabannya
Kino hanya tersenyum menahan tawa.
“Aku tau, aku tidak akan mengadukannya”
“Oh, kakakku yang baik dan jenius~aku sangat mencintaimu. Ee…tunggu dulu! Kutarik kembali ucapanku itu. Aku bukan homo, jadi kau tidak perlu menjawab kata-kataku barusan. Itu hanya pujian, bukan pernyataan cinta. Selain itu, kau dan aku terlahir sebagai laki-laki dan saudara kandung jadi aku harus menolakmu. Maafkan aku ya, Kino”
“……” Kino terdiam
Seketika senyuman Kino menghilang. Ekspresi wajah Kino berubah datar mendengar omong kosong adiknya itu.
‘Kami-sama, aku berharap adikku bisa sedikit lebih tenang. Tidak perlu banyak-banyak, sedikit tenang saja tidak masalah…agar dia tidak membuatku mengalami sakit kepala di kemudian hari. Aku mohon’ doa lirih seorang kakak untuk adik satu-satunya
***
Di sebuah ruangan dengan jendela terbuka dan tirai putih yang tertiup angin, terbaring seorang remaja yang seakan sedang tidur dengan nyenyak.
Terlihat perban di lengan kiri remaja yang terbaring itu~~~~. Wajahnya masih terlihat pucat, namun entah kenapa begitu tenang seakan masih dalam mimpi.
Sedikit demi sedikit, matanya terbuka dan melihat langit-langit ruangan tersebut.
“Mmm…”
Ketika matanya terbuka dengan pandangan yang masih buram, sebuah pelukan datang menyambutnya dan suara tangis banyak orang terdengar di sekelilingnya.
“Nii-san!!!”
“Kino!”
“Kino-nii…Kino-nii!! Kau sudah bangun”
“Kino-niisan!!”
“Kino-niichan!!”
Kino yang baru saja membuka mata, sedikit demi sedikit mencoba mengusap kepala remaja yang memeluk dirinya.
“Ryou…”
“Hiks…Nii-san…” Ryou menangis dan memeluknya
“Rasanya…sudah lama sekali…Ryou…tidak menjadi semanja ini…. Maafkan aku sudah membuatmu khawatir” Kino dengan suara lemah membisikkan kalimat lembut itu pada sang adik
“Hiks…hiks…maafkan aku. Maafkan aku…maafkan aku…hiks…Nii-san…”
Kino hanya tersenyum. Meskipun tubuhnya masih sedikit lemah, tapi dia mencoba untuk mengatur napasnya untuk bisa bangun. Ryou melepaskan pelukannya dan membantu sang kakak untuk duduk.
Di sekitarnya ada banyak sekali anak-anak yang menangis dan langsung memeluknya.
“Huwaaaa….Kino-niichan…hiks…huwaaa”
“Kino-nii…hiks…syukurlah kau sudah bangun…hiks…”
“Hiks…Kino-niisan…Kino-niisan…”
Kino yang masih lemah mencoba sebisa mungkin mengelus-elus rambut semua anak-anak itu dan tersenyum pada mereka.
“Maaf telah membuat kalian semua khawatir. Jangan menangis lagi ya. Aku sudah tidak apa-apa” Kino mencoba menghibur semua anak-anak itu
Kino melihat Kaito yang berdiri di samping Ryou dan menyapanya dengan senyuman.
“Selamat pagi, Kaito-san”
“Selamat pagi, Kino. Apakah kau bermimpi indah?” tanya Kaito dengan senyum
“Mmm. Mimpi yang sangat indah. Terima kasih banyak, Kaito-san”
Kaito hanya menggelengkan kepalanya sambil menunjukkan senyum tipis. Kino kembali mengelus-elus anak-anak itu dan menghibur mereka. Tangis bahagia menghiasi pagi itu.
******