
“Berubah! Warnanya berubah!”
Ryou berteriak setelah pintu yang ada di depannya berubah menjadi warna merah. Bukan hanya pintu Ryou, Kaito juga melihat pintunya berubah menjadi hijau.
“Ini…mungkinkah pintu yang hanya bisa dibuka dengan sihir?”
“Bukan mungkin, tapi memang kenyataannya begitu. Kau lihat sendiri kan, Kaito?” kata Ryou senang
Kino memperhatikan tiap pintu tersebut.
‘Api, air, angin…apakah mungkin ada pintu tanah di sini? Tapi di tempat ini hanya ada tiga pintu’
‘Selain itu…kenapa bisa ada ruang rahasia di tempat itu? Apa yang ingin diberitau oleh ingatan Kaito-san pada kami?’
‘Apakah ini semua ada hubungannya dengan kunci dari kasus yang kami hadapi?’
Pikiran itu terus membuat Kino penasaran. Kino menjauh dari pintunya dan melihat semuanya. Kaito yang melihat itu menghampirinya.
“Kino? Ada apa?”
“Aku hanya penasaran, jika ada pintu api, air, angin…mungkinkah ada pintu bumi juga sesuai dengan elemen dasar sihir di sini?”
Ryou menghampiri mereka berdua, “Kenapa? Kalian bicara soal apa?”
“Aku hanya berpikir mungkinkah ada pintu lain selain tiga ini. Pada dasarnya, ada empat elemen yang kita tau. Mungkin saja…”
Ryou mendekati sang kakak sambil menepuk pundaknya.
“Kakakku yang manis, kita hanya punya tiga elemen yang dikendalikan. Kau dan airmu, aku dan apiku serta Kaito dengan anginnya. Kalau ada Xenon di sini mungkin saja iya”
“Tapi kau juga lihat, kan? Di sini hanya ada tiga pintu. Tidak ada pintu tambahan lagi”
Kino menjawab sang adik, “Aku tau itu. Aku hanya berpikir kalau mungkin saja ada. Kalau boleh jujur, sekarang kita dalam masalah baru”
“Apa?”
“Di antara ketiga pintu itu, mana yang merupakan jalan keluar?”
“Aa…”
Ryou dan Kaito melihatnya sekarang. Bukan hanya telah memiliki lubang kunci dan berubah warna, mereka harus menemukan pintu mana yang tepat.
“Kita…terjebak sekarang”
**
Di tempat lain, di lorong koridor akademi…
“Rexa-sama…”
“Ya? Ada apa, Emilia-sama?”
“Apa tidak apa-apa meninggalkan Misha-sama seperti itu?”
“Tidak masalah. Aku harus mengatakan tentang keputusanku pada Lucas dan menulis surat tuntutan kepada Dewan Sekolah untuk mengeluarkannya secara sah”
Emilia bertanya kepada Rexa, “Apa kamu yakin semua akan baik-baik saja? Misha-sama mungkin tidak akan tinggal diam dan kejadian ini akan mempengaruhi reputasi kalian berdua”
Langkah Rexa terhenti dan dia berbalik melihat Emilia. Dengan nada serius, dia bertanya padanya.
“Apakah kamu berpikir keputusanku ini salah, Emilia-sama?”
“Rexa-sama…”
“Aku tidak berpikir aku akan bertahan dengan gadis yang tidak bisa menghargaiku dan keluargaku. Kamu tidak ingin memiliki keluarga yang seperti itu juga, kan?”
“Aku mengerti. Hanya saja–”
“Emilia-sama, aku tidak ingin membahasnya. Apa yang dia dapatkan dariku hari ini adalah apa yang telah dia lakukan pada adikku”
“......”
“Anggap saja dia mendapatkan karmanya sekarang” Rexa kemudian berjalan lagi
Tidak lama setelah itu, dia kembali ke ruang rapat.
“Lucas…”
“Rexa? Emilia? Kalian…”
“Aku butuh izinmu”
Mata Rexa membuat Lucas sadar bahwa apa yang dia bahas bersama Emily beberapa waktu lalu, kini menjadi kenyataan.
**
Sementara itu, Xenon yang masih ada di ruang kerja Algeria sedang membangun hubungan baiknya dengan tunangan dan calon iparnya. Sampai akhirnya suara ketukan terdengar dari luar.
-Tok…Tok…
-Creeek
Saat pintu terbuka, Algeria masuk dan melihat sebuah pemandangan yang tidak biasa.
Jessie dan Jene langsung panik dan mengambil kertas-kertas tersebut. Sementara itu, Xenon tetap tenang dan menghampiri Algeria.
“Apa masalah yang sebelumnya telah selesai, Algeria-sama?”
“Begitulah. Tapi kelanjutan setelahnya aku belum mendengarnya lagi. Mungkin aku akan melaporkan hal ini setelah Lucas-sama kembali”
Saat itu, mereka belum mengetahui bahwa Lucas, Rexa dan Mark telah kembali ke akademi. Algeria melihat Xenon dan perubahan ekspresinya.
“Sepertinya Xenon-sama sudah berubah. Apakah ada hal yang menyenangkan terjadi?” tanya Algeria sambil tersenyum
“Sedikit. Setidaknya aku mencoba terlihat lebih baik dari sebelum ini” jawabnya sambil memasang senyum tipis
“Mungkinkah karena Anda sudah berbaikan dengan tunangan Anda itu?”
“Kami tidak bertengkar. Hanya saja…memang ada hal yang perlu diluruskan dan setidaknya untuk sekarang sudah lebih baik”
“Syukurlah”
Mendengar jawaban Xenon, Jessie dan Jene saling melihat satu sama lain dan tersenyum. Ada sedikit perasaan lega dalam diri mereka karena Xenon sudah mulai berubah.
Algeria kembali mengatakan sesuatu, “Semoga saja hubungan Anda dengan Rexa-sama bisa seperti ini juga”
-Deg
Kali ini, bukan hanya suara jantung Xenon melainkan suara jantung Jessie dan Jene ikut berdetak cepat. Mereka terkejut.
“Rexa-sama sangat peduli pada Anda dan mungkin akan lebih baik jika Anda mau sedikit melihat Rexa-sama”
“Bukan maksudku untuk ikut campur. Terkadang, semakin sulit untuk jujur maka akan timbul penyesalan mendalam suatu saat nanti”
“Dan aku tidak ingin kalian merasakan hal tersebut”
Kata-kata Algeria begitu menusuk Xenon yang baru saja mendapatkan sedikit pencerahan tentang dinding hatinya.
Senyum kecut ditunjukkan olehnya. Seakan merasa begitu tertekan bercampur sedih, Xenon hanya bisa menjawab, “Waktu yang akan menjawab dan mengobati segalanya, Algeria-sama”
Algeria hanya bisa menghela napas dan masuk untuk membantu ketiganya merapikan semua kertas-kertas di ruangan.
Beberapa saat berlalu, ada seorang anggota divisi masuk ke ruangan tersebut dan memberitaukan bahwa Lucas telah kembali bersama Rexa dan Mark.
**
Di ruang bawah tanah yang tidak diketahui, ketiga remaja dari dunia lain sedang kebingungan.
“Jadi, pintu mana yang mau diambil? Kita tidak mungkin kembali ke jalan awal lagi karena aku sendiri tidak yakin jalan itu masih ada atau tidak”
Kino membuat adik dan temannya itu sadar akan kondisi mereka sekarang.
“Kita harus keluar dari sini dan ada tiga pintu yang masih menjadi pertanyaan. Sekarang, yang mana pintu yang membawa kita pada jalan keluar?” tanya Kino kepada keduanya
“Aku tidak tau. Yang manapun sama saja di mataku. Hanya warna saja yang membedakan” kata Kaito
“Jadi, haruskah kita memilih melalui janken?” usul Ryou
“Jan…ken?”
“Suit Jepang. Kita menggunakan batu, kertas, gunting”
Ryou menjelaskan maksud janken pada Kaito dan Kaito mengangguk.
“Hoo begitu. Baiklah, sepertinya aku setuju. Kita mulai saja”
Mereka menentukan siapa yang akan memilih pintu dengan menggunakan janken dan setelah beberapa menit melakukannya karena tidak selesai dengan cepat, akhirnya orang tersebut telah ditentukan.
“Aku tamat. Bukan…kita tamat” kata Ryou dengan wajah aneh
“Kalau begitu, Kaito-san…tolong ya”
Kaito melihat jarinya dengan tatapan serius.
“Kalian tidak serius membiarkan aku yang memilih kan?”
“Karena Kaito-san yang menang, jadi Kaito-san yang tentukan. Aku akan percaya ada semua pilihanmu, Kaito-san”
“Kino…”
Tapi Ryou dengan tegas dan wajah penuh keyakinan mengatakan, “Aku tidak percaya pada pilihanmu jadi sebaiknya jangan asal memilih ya, Kaito!”
“Kalau begitu kau saja yang pilih” ucap Kaito sedikit kesal
“Tidak mau karena aku kalah”
“Alasan. Bilang saja kalau salah pilih, kau tidak mau disalahkan”
“Itu kau tau! Karena itu aku bilang aku tidak percaya padamu jadi kalau kau memilih pintu dan kita mengikutimu, aku akan langsung menyalahkanmu karena menganggap kau salah pilih”
Kaito menatap Ryou sambil bergumam dalam hati.
‘Dasar sial. Awas saja kau’
******