
Pasangan suami-istri itu pergi ke ruangan yang berada di sebelah tempat Jack sebelumnya. Ketika pintunya dibuka, mereka melihat Will yang masih ada di dalamnya.
Kedua anak yang sebelumnya ada dalam plastik dalam kondisi tidak banyak luka. Hanya terdapat memar dan sedikit lebam dengan darah yang berasal dari mulut mereka.
Pria besar itu sedang menggulung plastik yang digunakan untuk membungkus kedua anak itu.
Ruangan itu tidak kalah luas dengan ruangan sebelumnya, tapi jauh lebih baik karena ruangannya begitu rapi dengan hanya terdapat sebuah meja kayu besar dan ditambah dengan tidak ada setitik darah di lantainya.
Melihat keadaan anak-anak itu, Jack sedikit memiringkan kepalanya sedikit sambil menyilangkan tangannya dengan ekspresi bingung.
“Ini malaikat milik Justin? Kesannya biasa sekali”
“Monsieur?” Will menatap Jack dengan tatapan bingung
Bukan hanya Will namun Seren juga menatapnya dengan tatapan heran.
“Apa kau tidak mau memisahkan bagian-bagian mereka, Jack sayang?”
“Bagaimana ya…”
Jack mulai berjongkok sambil melihat semua detail kedua anak itu. Sama seperti yang dilakukannya pada Kino sebelum ini, Jack memeriksa mereka berdua dengan sangat detail. Anehnya, dia tidak hanya melakukannya sekali namun sampai tiga kali karena penasaran.
“Jack sayang?” Seren yang melihatnya bahkan sampai terheran-heran
“Hmm…dibandingkan dengan remaja yang tadi, anak-anak ini jadi terlihat tidak memukau lagi di mataku”
“Maksud Monsieur?” tanya Will dengan wajah panik
“Ah, bukan bukan. Aku tidak bermaksud mengatakan bahwa aku kecewa. Aku hanya lebih tertarik pada remaja laki-laki tadi dibandingkan mereka berdua sekarang. Kurasa aku akan menjual mereka dalam keadaan hidup saja. Aku tidak mau membuang-buang tenaga untuk barang yang tidak bagus”
Jack bangun dan langsung berjalan ke arah pintu keluar.
“Mau kemana, sayangku?” Seren bertanya pada sang suami
“Ah, cintaku. Aku mau mandi dan akan mendengarkan ceritamu sambil makan siang. Setelah ini, kita juga harus mencari orang yang dimaksud Justin” kata Jack sambil tersenyum ke arah istrinya
“Kau mau ikut juga kali ini?”
“Kurasa aku akan turun tangan juga kali ini untuk bersantai sebelum memotong remaja itu. Kemungkinan sore ini akan kupisahkan semuanya dari kepala sampai kaki seperti ibu dan anak yang tadi di ruangan sebelah”
“Hmm. Kalau begitu bersihkanlah tubuhmu, Jack sayang. Aku akan menyiapkan makan siang untuk kita. Dan Will–” Seren memanggil Will
“Ya, Madame?”
“Kau bisa membungkus mereka berdua lagi dan letakkan di pojok sana ya. Bisa repot kalau sampai ada yang kemari dan tersandung”
“Baik, Madame”
Setelah keduanya keluar, Will hanya bisa menghela napas dengan nada berat.
“Haa, tau begitu tidak akan aku keluarkan mereka berdua. Tapi yang jelas bulan ini aku naik gaji meskipun hanya 30%. Itu lebih baik daripada tidak sama sekali atau kepalaku yang menghilang”
Baru saja kantong plastiknya dilipat, dia terpaksa membuka gulungannya dan memasukkan kedua anak tersebut ke dalamnya sekali lagi.
Hari yang sangat sibuk di wilayah gelap. Sepertinya setelah ini, mereka akan lebih sibuk lagi.
******
Ryou dan Kaito akhirnya berada tepat di depan anak-anak yang sedang melingkar dan saling berpelukan. Tidak hanya berpelukan aja, mereka juga sepertinya akan membuat tangisan sedih lainnya.
Sebelum itu terjadi, satu diantara mereka berdua harus melakukan sesuatu.
‘Aku harus bisa menenangkan mereka. Paling tidak jangan memberikan kesan buruk’ pikir Ryou dalam hati
Theo melihat kedua kakak itu sudah berdiri di dekat mereka. Satu-satunya pandangan yang ditunjukkan Theo adalah rasa bersalah sambil menangis.
“Hiks…Ryou-nii…”
“……” keduanya terdiam
Ryou bisa melihat bahwa anak-anak yang lain jadi menatapnya juga dengan rasa sedih dan setelah dia melampiaskan semua rasa sedihnya beberapa waktu lalu, tampaknya dia harus bisa menghibur mereka semua agar tidak terdengar tangisan lainnya.
Pengalihan pertamanya jatuh pada pisau yang dipegang oleh gadis kecil di dekat Theo.
Sambil berlutut dan memasang wajah sendu, Ryou bicara pada gadis kecil tersebut.
“Aku ingat aku menyakitimu sebelumnya. Maafkan aku, gadis kecil”
“Umm…” gadis kecil itu mengangguk
“Namaku Yuki Ryou, siapa namamu?”
“……Michaela……”
“Michaela ya. Nama yang cantik” Ryou tersenyum padanya
Michaela sempat terkejut dan terlihat menahan air matanya.
“Kino-niichan…Kino-niichan juga mengatakan hal yang sama padaku saat kami ingin makan di restoran tadi pagi. Hiks…”
“Begitu, Kino juga mengatakannya ya. Kalau begitu artinya itu memang benar, namamu sangat cantik” Ryou mengelus rambut gadis kecil itu
Seketika dia langsung menangis dan memeluk Ryou.
“Huwaaa……Kino-niichan!! Aku ingin bertemu Kino-niichan!! Huwaaa….”
Suara tangisannya pecah dan sepertinya rencana Ryou gagal total. Niat hati tidak ingin membuat mereka semua menangis justu membuat ronde berikutnya.
‘Ya Tuhan…sepertinya aku sama sekali tidak berbakat berurusan dengan anak kecil’ katanya dalam hati
Tapi, ini bukan saatnya dia untuk larut dalam kesedihan lagi. Dia memang memeluk dan mendengarkan mereka semua menangis namun tidak begitu lama. Dengan cepat Ryou melepaskan pelukan Michaela dengan lembut dan bertanya padanya.
“Jadi, Michaela. Itu adalah milik Kino, benar kan?”
“Umm…” Michaela mengangguk
“Boleh aku melihatnya?”
Michaela memberikan pisau yang dipegangnya kepada Ryou. Kaito ikut menundukkan badannya dan melihat pisau itu juga. Dia membisikkan sesuatu ke telinga Ryou.
“Darah?”
Ryou melirik pakaian yang dikenakan Michaela dan melihat bercak noda darah yang dimaksud. Pada baju gadis kecil itu memang tampak terlihat noda darah dan dari jumlahnya tidak begitu banyak.
“Michaela, aku yang akan menyimpan ini. Anak kecil seperti kalian tidak boleh menyimpan benda berbahaya seperti ini, mengerti?”
“Tapi…ini milik Kino-niichan!”
“Dan aku adalah adik dari Kino-niichan yang kau maksud” Ryou menjawab Michaela dengan nada datar
“Adik Kino-niichan?”
Setelah mendengar jawaban itu, semua anak-anak kecil itu kecuali Theo mulai berhenti menangis secara spontan dan melihat ke arah Ryou.
“Hmm?” Ryou cukup kaget dan bingung dengan kejadian itu
“Mereka langsung diam. Apa kau melakukan sesuatu?” bisik Kaito kepada Ryou
“Aku tidak mengatakan hal yang aneh sampai membuat mereka syok kan, Kaito?”
Mereka melihatnya dengan tatapan serius seperti sedang memperhatikan sesuatu dengan seksama.
Selesai dengan itu, anak-anak itu termasuk Michaela langsung mengatakan hal tidak terduga dengan wajah aneh.
“Kakak bukan adik Kino-niichan!”
“Kino-niichan itu malaikat tapi kau tidak mirip malaikat. Selain itu kau galak nee~”
“Kau terlihat menakutkan. Jangan mengaku sebagai adik Kino-niichan ya!”
“Aku yakin kau hanya mengarang saat mengatakan kalau kau adik Kino-niichan!”
“Tidak mirip sama sekali. Kakak seperti setan!”
“Aku takut padamu. Jangan mendekati kami sambil berbohong begitu!”
Sungguh kalimat ‘pujian’ dari hati yang paling dalam dari malaikat-malaikat kecil itu. Kecuali Theo yang berdiri menatap Ryou dengan tatapan sedih seakan ingin mengatakan sesuatu, keenam malaikat lainnya mengatakan semua kalimat ‘indah’ tersebut satu per satu dengan lantang.
Wajah Ryou langsung memerah karena tersipu. Oh, salah. Maksudnya memerah karena kesal.
“Kalian setan-setan kecil yang tidak manis sama sekali!! Akan aku kurung kalian semua di kamar mandi nanti, lihat saja!!” gumam Ryou dengan suara pelan
Kaito berdiri tegak kembali sambil menutup mulutnya dengan satu tangan. Tubuhnya gemetar karena kedinginan. Bukan, maksudnya gemetar karena menahan tawa.
“Pffft…setan katanya. Bukan adik Kino. Kurasa mereka semua memang memiliki indera pengelihatan yang sangat bagus. Kupikir hanya aku saja yang menyadari hal itu. Pfft….”
Setelah mencoba menahan tawanya untuk beberapa lama, Kaito akhirnya mengeluarkan suara tawa itu sedikit.
“Ahahaha, perutku sakit sekali! Haah, aku yakin dia juga akan tertawa mendengar ini nanti. Ahahaha, ah…aku benar-benar tidak tahan. Maafkan aku”
Ryou berdiri dan menunjuk wajah Kaito yang tertawa lebar.
“Berhenti tertawa kau, dasar krimi–”
Belum selesai mengatakannya, Ryou langsung berhenti. Kaito yang mendengar itu berhenti tertawa dan terlihat seperti sedang mengejek.
“Krimi? Apa kau mau mengatakan sesuatu?”
Setelah diejek seperti itu, Ryou hanya bisa berteriak dengan kata-kata tidak jelas karena dia baru menyadari tidak bisa lagi mengejek Kaito dengan kata kriminal.
“Dasar creamy foam, creamy latte, creamy puff!!”
“Creamy apa?” sekarang Kaito membuat wajah bingung mendengar ejekan Ryou yang lain
“Lupakan!!”
Sejenak suasana jadi tenang kembali, kecuali tentu saja Theo. Sambil menarik lengan baju Ryou, dia tertunduk sedih. Ryou yang melihatnya hanya bisa menghela napas berat.
“Ryou-nii…” Theo memanggil Ryou
Sambil mengusap-usap kepalanya sendiri dengan ekspresi bingung, Ryou mulai mendapatkan ketenangan dirinya.
“Theo…” Ryou memanggil anak itu
“……” Theo melihat ke arah Ryou tanpa mengatakan apapun
“Kuharap kau tidak memanggilku hanya untuk minta maaf karena aku tidak membutuhkannya” Ryou menatap anak itu dengan sorot mata serius
“Tapi, gara-gara aku–”
“Dengar baik-baik ya, kakakku itu memang sangat baik pada semua orang. Bahkan pada anjing tetangga kami saja, dia sampai memberikan semua ayam dan sosis goreng jatah miliknya di rumah setiap akhir pecan agar hewan itu tidak ribut pada jam makan siang kami. Kau tidak perlu memikirkannya”
“……”
“Kino itu sejak awal memang baik. Karena terlalu baik, aku harus mengawasi kakakku yang satu itu agar tidak diculik orang. Meskipun kenyataannya dia justru diculik orang sekarang, tapi bukan berarti dia tidak akan selamat” kata Ryou dengan nada dan tatapan serius
Ekspresi wajah Kaito yang mendengar kalimat Ryou berubah menjadi serius. Anak-anak kecil lain yang mendengar hal itu juga terdiam dan melihat wajah Ryou.
“Aku akan menyelamatkan kakakku dan teman kalian itu!. Setidaknya dengan kematian Justin maka ancaman kalian sudah sedikit berkurang. Yang harus kalian lakukan hanya perlu berdoa agar ketiga orang itu bisa selamat. Mengerti?”
Mereka semua mengangguk.
Cahaya mata Theo juga akhirnya kembali. Dia yakin bahwa kedua kakak di depannya ini bisa melakukan sesuatu. Dengan mata berbinar penuh dengan rasa percaya diri yang baru, Theo menganggukkan kepalanya.
Ryou tersenyum pada anak itu sambil mengusap-usap topi di kepalanya.
“Kalau kau ingin minta maaf, katakan sendiri pada Kino. Saat dia bersama kita lagi, kau bebas mengatakan apapun yang mau kau katakan padanya. Karena itu, simpan air mata dan kata maaf milikmu itu sementara waktu”
“Aku mengerti”
Secerca harapan telah berhasil dibuat oleh Ryou dan mereka akhirnya berhenti menangis. Ketujuh anak-anak itu akhirnya bisa tersenyum dan terus menerus mengatakan bahwa Kino dan kedua anak yang diculik akan selamat.
Sekarang, Ryou dan Kaito melihat satu sama lain dengan wajah tenang. Setidaknya mereka berhasil membuat anak-anak itu tidak lagi bersedih. Walaupun begitu, mereka tidak boleh lengah.
Waktu mereka terlalu sedikit dan yang harus mereka lakukan adalah menunggu sampai Arkan kembali.
******