Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 67. Awal Pertarungan di Tempat Asing bag. 1



Kaito menendang Justin dengan sangat kuat hingga membuatnya menabrak dinding. Setelah memberikan tendangannya yang kuat, dia dengan cepat keluar dari bar tersebut agar tidak menimbulkan banyak kerusakkan.


Bagaimanapun juga dia sudah memberikan garis bawah pada kalimatnya bahwa dia tidak mau mengganti kerusakan tempat itu.


Justin yang mengalami luka pada bagian pipi kanannya berusaha untuk bangun dan berteriak ke arah Kaito.


“Jadi kau tikus yang berani masuk ke wilayahku?! Dasar sampah!!!”


Dengan menggerakkan tangannya yang seperti akan menembak Kaito kembali, Justin yang masih bersandar di dinding mulai ingin menarik pelatuknya.


Tidak lupa juga dia mengambil sebuah pistol lain dari belakang sabuknya dan sekarang ada dua buah pistol di tangannya.


-Dor…Dor…Dor…


Kaito tidak mencoba untuk mati jadi tentu saja dia menghindari tembakan itu. Tapi sebagai gantinya, tembakannya itu mengenai bagian lantai bar dan sisi pintu yang rusak. Dari dalam bar, terdengar teriakan miris seorang bartender.


“Oi, kau yang bernama Kaito!! Aku tidak mau kau terus membuat gajiku terkikis!!”


Kaito yang mendengar itu di tengah pertarunganya memberikan respon yang sangat positif.


“Tuan bartender, kau meminta tolong padaku untuk menolong Theo dan teman-temannya kan? Kalau aku tertembak sekarang, bagaimana bisa aku menolong mereka. Selain itu tidak ada jaminan gajimu akan menolongmu sekarang. Kau hanya akan jadi bantalan peluru makhluk jelek ini nanti! Berpikirlah lebih dewasa seperti orang berusia 30 tahun lainnya”


“Dasar remaja tidak tau diri! Umurku baru 28 tahun lebih 10 bulan! Jangan seenaknya saja menambahkan umurku!” Arkan terlihat sedikit kesal


“Begitu. Tetap saja kau yang lebih tua dariku 7 tahun. Kalau begitu sembunyilah dan jangan tunjukkan wajahmu itu sampai aku selesai mengurus orang ini!!” Kaito berteriak dan menyerang Justin kembali


Wajah kesal Arkan akhirnya berubah kembali menjadi nyaris tanpa ekspresi. Dia mulai bergumam dalam hatinya ketika mengendap-endap untuk bersembunyi di balik meja bar.


‘Apakah keputusanku meminta bantuannya itu tepat? Apakah aku yang tidak pernah peduli pada nasib anak-anak itu bisa melakukan sesuatu untuk mereka? Paling tidak, aku tidak mau mereka semua masuk dalam daftar dagangan Riz malam ini. Aku harap pemuda bernama Kaito itu benar-benar bisa melakukan sesuatu untuk menyelamatkannya’


Di luar bar, Justin membuang sebuah pistolnya yang sudah kehabisan peluru. Hanya tersisa sebuah pistol lagi yang dapat digunakan olehnya.


“Berhenti menghindar, dasar sampah!!”


Justin berteriak dengan kesal sambil terus mencoba menembak Kaito. Namun perbedaan kemampuan membuatnya tidak bisa membidiknya dengan benar sehingga dia kesulitan untuk menarik pelatuknya.


Kaito yang bertarung dengan Justin di jalan yang tidak begitu lebar itu terlihat tidak memiliki masalah serius dengannya. Gerakan Justin kasar dan hanya berfokus pada senjatanya saja.


Kaito bahkan terlihat meremehkannya.


‘Apa benar makhluk jelek ini yang disebut sebagai penguasa di wilayah asing ini? Jangan bercanda!. Bahkan kemampuan bertarungnya tidak sebagus Kino! Aku menganggap Kino tidak begitu pandai bertarung dan lebih kuat dengan kemampuan otaknya, tapi orang ini bahkan berada di level yang jauh di bawah Kino. Selain itu dia juga memiliki otak yang dangkal. Menggelikan!. Kalau begini hanya membuang-buang waktu aku meladeninya’


Kaito sudah cukup bermain-main dengan Justin dan dengan cepat dia mencoba menebasnya dengan pedang.


-SLAAAASH


“Aaaakh!!!” teriakan terdengar dari mulut Justin


Justin yang tidak memakai atasan tentu saja langsung menerima serangan itu secara langsung.


Sebuah sayatan panjang dari pundak kiri atas sampai perut Justin terlihat bagus sekali. Semua itu adalah hasil seni dari Kaito. Goresan yang dibuat Kaito begitu rapi. Benar-benar kemampuan yang menakjubkan dari Kaito.


“Tampaknya kau menyukai tato barumu itu. Aku lihat banyak sekali tato lama dengan berbagai macam bentuk dan ukuran pada tubuhmu. Tidak keberatan kalau kutambahkan satu lagi, kan?”


“Kurang ajar!!!”


-Dor…


“……!!!”


Justin menembak kembali. Tetapi ketika dia ingin melakukan tembakan berikutnya, dia kehabisan peluru.


“Cih! Dasar tidak berguna!”


Justin langsung melempar kembali pistol miliknya dan sekarang satu-satunya senjata yang dia punya adalah tubuh besar berotot dengan kepercayaan dirinya.


“Sudah selesai dengan pistolmu?” Kaito menatapnya dengan tatapan sinis


“Jangan meremehkanku!! Hiyaaaa!!”


Justin berlari ke arah Kaito dan dengan cepat Kaito melompat ke dinding sampingnya.


Dengan menancapkan pedangnya setinggi bahu lengannya ke dinding, Kaito menjadikannya sebagai tumpuan untuk melompat membelakangi Justin dan seketika mengambil sebuah pistol yang sebelumnya diberikan Ryou padanya dari saku luar jubahnya dan langsung mengarahkannya ke punggung Justin.


Semua hal itu terjadi begitu cepat sehingga tidak bisa diikuti oleh mata Justin. Dalam sekejap ketika dia baru saja ingin membalikkan tubuhnya ke belakang untuk memukul Kaito, gerakannya terhenti.


“Jangan mencoba bergerak atau tubuhmu akan memiliki lubang baru lainnya” ancam Kaito dengan tatapan dingin


“Kh…”


Dalam permainan, ini disebut skakmat. Justin terpaksa diam dan tidak merubah posisi terakhirnya karena ancaman Kaito. Siapa yang mengira pistol dari Ryou bisa berguna. Selain itu di saku depan jubahnya masih ada sekantong peluru yang bisa dipakai.


“Aku sedang terburu-buru jadi kita lihat apakah kau akan menjawabku atau tidak. Pertanyaan pertama, apa benar kau yang selalu menyiksa Theo dan teman-temannya?”


“Jangan kau pikir aku akan–”


-Dor


Saat Justin ingin melawan, Kaito dengan cepat menembak kaki kiri Justin. Satu peluru telah terbuang percuma untuk orang sepertinya. Arkan yang berada di balik meja bar memang tidak bisa melihat semuanya sejak gerakan mereka terus berpindah-pindah.


Tetapi satu hal yang dia tau bahwa hampir semua teriakan yang dia dengar adalah teriakan milik Justin.


“Oi oi oi oi…ini pasti mimpi. Bagaimana mungkin gorilla itu benar-benar terlihat sangat lemah di matanya?! Apa Justin memang selemah itu atau orang bernama Kaito itu yang terlalu kuat? Apa ini kenyataan?! Aku bahkan melihat potongan gajiku akan sangat besar setelah ini tapi itu tidak penting!”


Arkan memberanikan diri untuk keluar dari balik meja bar dan mulai berjalan menuju pintu keluar. Sambil melihat sekelilingnya, Arkan mencoba menerima kenyataan.


Dia bahkan berdoa dengan menyebut nama manager yang dianggapnya sebagai kasta tertinggi di dunia kerjanya.


“Manager, kumohon jangan pecat aku sekalipun tempat bobrok ini rata dengan tanah. Ini semua karena hal yang tidak terduga terjadi. Aku tau aku bodoh karena mencoba peduli pada Theo dan teman-temannya itu, tapi percayalah manager…aku tetap lebih peduli pada gaji dan cutiku dibandingkan dengan apapun di dunia ini. Kumohon jangan memecatku atau akan kudoakan kau cepat mati sebelum kau berhasil kabur dengan selingkuhanmu. Aamiin”


Arkan benar-benar sosok yang agamis melebihi Kaito. Bahkan dia tidak segan-segan mengeluarkan sumpah serapahnya untuk sang panutan, manager. Sungguh sosok yang suci dan sangat perhatian.


Meskipun maknanya berupa kebalikan dari itu semua.


Pertarungan Kaito dengan Justin terlihat berat sebelah. Dengan mudah Kaito meninggalkan sebuah lubang di kaki kirinya yang membuat Justin terpaksa berlutut sambil memegangi kakinya.


Tatapan Kaito yang terlihat merendahkan musuhnya itu terlihat sangat mengintimidasi.


“Aku dengar kau meminta Theo dan teman-temannya itu untuk mendapatkan uang apapun dan bagaimanapun caranya. Aku juga dengan bahwa kau memerintahkan banyak pria berotot sepertimu untuk mencariku sejak dua orang terakhir yang mengejarku mati dibunuh”


“……” Justin masih terus diam sambil terlihat kesakitan


“Baru-baru ini aku dengar dari tuan bartender itu kalau kau menjual mereka semua kepada pembunuh dan pedagang di pasar gelap. Tampaknya kau benar-benar senang mengatasnamakan kekuatan ya”


“Di–diam kau!!”


Seperti tidak mengenal situasinya saat ini, Justin masih berani membuka mulutnya itu dan bicara dengan nada keras.


Tentu saja Kaito tidak terlihat senang dengan itu dan langsung memberikan sebuah tembakan lagi di bagian paha kiri Justin.


-Dor


“Aaakh!! Kakiku!! Apa yang kau lakukan dengan kakiku!!”


“Hanya memberikan hiasan untuknya” jawab Kaito dengan nada dingin


Rintihan Justin sama sekali tidak membuat Kaito menunjukkan belas kasihnya. Dia terus menatap Justin dengan tatapan jijik dan rendah.


Kaito kembali melanjutkan kalimatnya.


“Aku tidak ingin melakukan hal yang tidak-tidak padamu tapi akan kupastikan kau tidak akan bisa seenaknya melawanku. Aku sudah terbiasa melawan makhluk yang lebih merepotkan daripada manusia rendahan sepertimu jadi jangan membuatku tertawa”


“Kh…si–sial!! Kurang aja kau!” Justin sepertinya memang tidak mengerti bahasa manusia dan terus mengutuk Kaito


Meskipun situasi mereka sudah jelas namun sepertinya Justin tidak akan membiarkan dirinya terpojok.


“Aku ingin mendengar langsung dari mulutmu itu, apa benar kau menjual Theo dan teman-temannya hanya demi menangkapku?”


“……”


“Jawab aku sekarang atau kau akan memiliki lubang lain sekarang”


Wajah dingin Kaito masih terlihat jelas, namun hal yang paling tidak masuk akal terjadi.


Justin tidak hanya tersenyum mendengar apa yang dikatakan Kaito tetapi juga menertawakannya. Dia tertawa dengan wajah jahat dan senyum lebar seakan-akan keadaannya sekarang masih bisa berbalik.


“Ahaahahaha!! Dasar sampah! Kau berani mengancamku, Justin! Kau hanya akan mempercepat kematianmu, sampah tidak berguna!”


Sesuatu yang tidak terduga terjadi. Tepat dari arah depan Kaito, sebuah serangan datang. Dengan cepat Kaito melompat ke belakang.


Mata Kaito menajam dan seketika dia menyadari bahwa dia telah membuat sedikit kesalahan.


“Ahahahaha, kau kira aku tidak bisa menyerangmu lagi hah!! Rasakan sendiri senjatamu ini, sampah! Akan kubalas apa yang kau lakukan padaku seratus kali lipat!!!”


Pedang Kaito yang menancap di dinding ternyata diambil oleh Justin dengan cepat ketika Kaito sedang bicara.


Sebelumnya, ketika Kaito bicara dan sudah menembakkan pelurunya ke paha Justin, tangan kanannya secara diam-diam ke belakang untuk bersiap menarik pedang tersebut. Sekarang Justin yang sudah tidak bersenjata beberapa waktu lalu akhirnya kembali memiliki peluang untuk melawan Kaito.


“Aku akan membuatmu menderita perlahan sampai kau mati!!” teriak Justin


Justin berlari ke arah Kaito yang diam seperti menundukkan kepalanya.


Dengan nada kesal, Kaito mengangkat kepalanya kembali sambil menatap Justin dengan tatapan kematian.


“Kau sudah mengotori benda kesukaanku dengan tanganmu itu, gorilla. Jangan harap mati saja cukup untuk menebus dosamu. Akan kubuat kuman kotor yang menjijikkan di sekitar tempat ini menggerogoti tubuhmu itu sampai tidak tersisa”


******