
Mundur ke waktu di tempat lain saat ujian di ruangan Xenon masih berlangsung saat itu, ada langkah kaki cepat milik seseorang yang berjalan di lorong koridor.
Itu adalah Algeria.
***
Mundur ke beberapa menit setelah Emily berhasil mendapatkan salah seorang penyusup, Lucas mengatakan akan mengirimkan Algeria ke sana.
Telepati terputus dari Emily dan digantung ke tempat Algeria.
Lucas memanggil Algeria yang berada di tempat pos lain saat itu.
"Algeria..."
"Ini...Lucas-sama?!"
Mereka berkomunikasi lewat pikiran saat ini.
"Aku ingin kamu pergi menemui Emily di posnya"
"Emily-sama? Apakah terjadi sesuatu?"
"Dia mendapatkannya. Orang yang dicurigai sebagai penyusup telah didapatkan"
"Apa?!"
Tidak menunggu waktu, Algeria langsung keluar dari ruangan pos lain tersebut dan berjalan cepat menuju ruang ujian yang merupakan pos penjagaan Emily.
Komunikasi keduanya masih terhubung saat ini.
"Jika sudah mendapatkannya, bawa dia ke ruanganku. Awasi dan jangan sampai lepas"
"Meskipun Emily sudah memberikan sihir khusus miliknya, bukan berarti dia benar-benar dapat dipercaya"
Mata Algeria menjadi serius dan pupil matanya berubah tajam layaknya naga pembunuh sekarang.
"Baik, Lucas-sama. Aku mengerti"
Lucas memutus komunikasi mereka berdua dan kali ini tinggal Algeria seorang yang menuju ruangan milik Emily.
***
-Braaak
Pintu ruangan terbuka.
Saat itu, Emily baru selesai menguji delapan peserta yang dianggapnya gagal.
"Algeria, Emily sudah menunggu. Oh, kalian semua gagal. Silahkan keluar dan kembali lagi tahun depan ya"
Sambil mengusir peserta lain, Emily mendekati Algeria.
"Emily-sama..."
Emily menengok ke arah peserta yang dimaksud. Algeria melihatnya dan bertanya pada Emily, "Apakah itu?"
"Benar. Bawa ke hadapan Lucas sekarang"
"Aku mengerti"
Algeria berjalan dan sempat melewati Kino yang saat itu diam dan melihatnya.
'Dia...orang yang ada dalam daftar kosong itu juga bukan?' pikir Algeria
Kino sedikit terkejut saat dilewati oleh Algeria. Mata mereka saling bertemu, namun Kino menyadari bahwa bukan dia targetnya.
Algeria telah berada di depan peserta dengan tombak yang terbungkus dengan kain lalu berkata dengan singkat.
"Ikut aku"
"......" peserta itu hanya bisa pasrah dan mengikutinya
Algeria menghampiri Emily kembali.
"Aku permisi dulu, Emily-sama. Sungguh, ini sangat menakjubkan bisa mengetahui tentang mereka secepat ini"
Emily mengangguk dan melihat peserta itu, "Jadilah anak yang baik ya, Galaktika"
"Haaa..." dia hanya bisa menghela napasnya
Kedua orang itu keluar dari ruangan dan tentu saja ada banyak pertanyaan yang timbul dari peserta lain.
"Penguji, apa dia melakukan sesuatu?"
"Kenapa dia bisa keluar san ikut dengan perempuan naga itu?"
"Kalian tidak perlu tau. Sebaiknya kalian bersikap baik dan buat Emily mengakui sihir kalian" jawab Emily dengan senyumannya
Dia masuk kembali ke arena dan memanggil yang lain.
"Sekarang, ada lagi yang mau melawan Emily? Emily tidak keberatan kalau kalian mau main keroyokan untuk melawan Emily
**
Di lorong koridor, Algeria berjalan dengan remaja itu.
"Aku tidak akan banyak bertanya karena Lucas-sama yang akan menanyakan hal itu padamu"
"Aku harap kamu tidak melakukan hal bodoh yang akan mengancam keselamatanmu sendiri"
Remaja itu menjawab, "Aku tau. aku tidak akan menggunakan diriku sendiri sebagai yang dikurbankan. aku masih ingin hidup"
"Baguslah"
Algeria hanya bisa berbicara dalam hatinya sendiri.
'Aku yakin mereka memiliki tujuan untuk menjadikan Lucas-sama dan keluarga Xelhanien sebagai targetnya'
'Mungkinkah dia juga dikirim untuk membunuh Emily-sama sebelum ini?'
'Aku tidak boleh mendahului Lucas-sama dalam mencari informasi tentang mereka semua'
'Biarlah Lucas-sama yang mencari tau soal ini. Ujian masih berlangsung dan sesuai informasi, masih ada yang lainnya yang belum teridentifikasi lulus'
Keduanya sampai di depan ruang rapat Dewan Sihir.
"Lucas-sama..."
"Masuk"
Begitu pintu dibuka, pemuda bernama Galaktika itu mendapati seorang pemuda dengan banyak sihir yang aktif.
"......" dia hanya bisa terdiam
Lucas lalu meminta Algeria untuk keluar. Algeria mengikuti perintah tersebut dan sekarang hanya tinggal Lucas dan pemuda bernama Galaktika di dalam ruangan.
**
"Nomor 154 gagal, 152 lulus, 118,129, 137 gagal"
"Nomor 124, 153 lulus. 73 gagal. 209 juga gagal"
"Kalian ini ingin masuk akademi atau mencoba meremehkan Emily? Kekuatan kalian masih sangat kecil dan sihir dasar kalian lemah"
Emily terlihat tidak begitu baik. Tapi akhirnya dia melirik ke arah Kino.
"Kyaaa! Peserta nomor 88 maju melawan Emily juga ayo!"
"Eh? Aku?"
Kino menjadi bingung sekarang. Dia belum siap dan dia juga masih belum yakin dengan kemampuan bertarung miliknya.
Akhirnya mau tidak mau dia tetap maju karena peserta lain menatapnya dengan sinis.
'Kenapa aku jadi seperti kelinci di kandang harimau? Tatapan mereka mengintimidasi sekali' gumamnya dalam hati
Saat dia masuk ke dalam arena, Kino melihat Emily begitu senang sampai menari-nari layaknya anak kecil.
"Emily senang sekali bertemu jodoh Emily, kyaa~"
"Jo–jodoh?" sekarang Kino terlihat bingung
Dia hanya bisa melihat sosok anak kecil berusia 11 tahun di hadapannya. Meski berbeda 5 tahun dari usia Kino, remaja itu tau betapa kiatnya gadis kecil itu.
"Emily ingin meluluskanmu. Emily bahkan bisa saja langsung meluluskanmu tanpa ikut ujian, tapi itu dilarang dan nanti Emily akan dihukum Lucas"
"Kyaaa~cinta itu membuat orang bisa berbuat berdosa! Emily harus memilih pekerjaan dibandingkan cinta. Dunia ini kejam!"
"......" Kino hanya bisa pasrah mendengarkan ucapan gadis kecil itu
Namun meskipun terkesan seperti bercanda, Emily mengamati Kino dengan teliti.
Dia bakan bisa tau bahwa remaja itu memiliki tujuan lain masuk ke sini.
'Ada sesuatu yang dicari olehnya. Meskipun Emily merasa ada hal lain yang membuat Emily tidak bisa mengetahui lebih jauh, tapi Emily yakin dia dan kedua temannya pasti mencari sesuatu'
'Seperti kebetulan yang begitu nyaris dan dekat dengan kejadian baru-baru ini tapi melihatnya, Emily yakin dia tidak jahat'
Itulah yang ada di pikiran Emily memberikan senyuman manisnya.
"Jadi, peserta nomor 88 bisa melawan Emily sekarang"
Kino tidak punya pilihan, "Mohon...bantuannya"
"Silahkan"
Kino menarik napasnya panjang-panjang dan menghembuskannya.
'Baiklah, kita mulai. Hanya sihir tanpa serangan fisik. Aku harus bisa berkonsentrasi'
Kino mulai mengingat caranya melakukan sihir. Dan di saat dia mencoba melakukannya, Emily sendiri juga jadi sedikit terkejut.
"Huwaaa~sihir air"
[Water Art: The Ruler of Waterfall]
Tiba-tiba dari belakang Kino muncul air dalam jumlah banyak.
Ini sama seperti yang muncul saat berada di tempat Xenon.
Dengan jumlah air sebanyak itu, di dalam arena hanya ada tempat yang digenangi air.
Kino tidak basah sama sekali sedangkan gadis kecil itu sedikit basah pada sedikit pakaiannya.
Setelah air mulai menggenangi arena, Emily mengeluarkan perisai sihir yang membuatnya tidak basah lebih banyak lagi.
'Dia sudah punya sihir air yang hebat. Hanya sisanya tinggal melihatnya menggunakan itu sebagai penyerangan'
Air sebanyak itu akhirnya mulai menyerang Emily secara tiba-tiba.
"Eh?"
Dari genangan air tersebut, putaran air terbentuk dan jumlah air yang keluar dari belakang Kino semakin banyak.
Seperti sebuah air terjun yang sangat deras namun memiliki pikiran untuk bergerak, semua air itu seperti mengarah ke tempat Emily.
"Airnya bisa mengincar Emily?! Wow!"
Kino hanya bisa terdiam karena dia merasa anak itu manis.
'Aku tidak bisa mengeluarkan sihir lain karena aku tidak ingin menyakitinya. Tapi jika begini, aku tidak bisa lulus'
'Haruskah aku sedikit lebih banyak mengeluarkan sihir?'
Kino yang belum bisa sepenuhnya bertarung hanya berpikir untuk melawan Emily walau hanya sedikit. Dan karena itulah airnya seperti bisa bergerak.
Air itu adalah air sihir yang terhubung dengan pikirannya. Karena itu sesuai harapan dan keinginan Kino yang ingin memberikan perlawanan, air-air itu seakan bisa menyerang sendiri.
"Emily tidak mau basah!"
Emily mengeluarkan sihir kombinasi, yaitu sihir es.
[Iceberg]
Semua air itu menjadi es seketika saat Emily menyentuhnya. Kino terkejut begitu seluruh airnya menjadi es bahkan yang keluar dari belakangnya.
Air terjun buatannya menjadi seperti air terjun yang membeku sekarang.
Kaki Kino sendiri menjadi sulit digerakan.
"Kakiku membeku rupanya"
Kino melihat Emily mencoba menyerangnya dengan sihir es.
"Emily berharap kamu mau menunjukkan sihirmu yang lain"
"Tapi sepertinya peserta nomor 88 punya rencana lain"
Emily langsung menyerang Kino dengan es tersebut.
Tidak disangka oleh Emily, serangan esnya itu justru berbalik menyerangnya dengan cepat hingga membuat sedikit goresan pada pakaiannya.
"Huwaaa~rupanya kamu bisa memakai sihir pertahanan seperti itu! Menakjubkan!!"
Apa yang sebenarnya terjadi masih belum dapat dipercaya. Tapi serangan balik dari Kino ini adalah sesuatu yang terjadi tanpa sengaja.
******