
Hari mulai larut saat ini. Ketiga orang yang sudah selesai makan malam itu masih duduk selama beberapa saat sebelum akhirnya Kino berdiri dan memutuskan untuk tidur lebih dulu. Dia pergi ke tempat tidur berukuran king size yang sebelumnya kedua kakak beradik itu tiduri sebelum perulangan.
“Aku sudah cukup lelah hari ini. Sebaiknya Ryou dan Kaito-san juga tidur. Sejak perulangan terjadi, kita belum tidur lagi sama sekali. Besok kita harus mencari jam saku dan petunjuk ingatan Kaito-san lagi”
“Aku tau. Aku akan menyusul. Sebaiknya kau tidur duluan, Kino” Ryou menjawab sang kakak
Kaito yang masih duduk di kursi melihat jam saku miliknya. Jam itu menujukkan pukul 08.15, artinya sudah jam delapan lebih lima belas menit. Mendengar apa yang dikatakan Kino, Kaito hanya mengangguk dan mempersilahkan Kino untuk tidur lebih dulu.
Tidak lama setelah itu dia berdiri dan mengambil jubahnya. Jam saku miliknya dimasukkan ke dalam saku dalam jubah. Setelah itu, Kaito berjalan ke arah lemari pakaian dan mengambil pedang.
“Aku akan keluar sebentar untuk membeli beberapa obat dan air”
“Keluar lagi? Apa Kaito-san tidak lelah?” Kino menjadi terlihat cemas
“Tidak masalah. Kita akan membutuhkannya. Selain itu, besok kau bilang ingin memasak, iya kan? Memang sudah tidak ada penjual sayur yang buka tapi aku bisa membeli peralatan yang lain. Akan lebih baik jika aku membeli beberapa seperti mangkuk atau gelas karton dan pisau dapur. Kita bisa menggunakan penggorengan yang tergantung di dinding dapur di sana. Aku tidak akan kembali larut malam”
“Tapi–”
Sebelum Kino menyelesaikan pembicaraannya, Ryou berdiri mengambil pedangnya di samping lemari pakaian dan menghampiri sang kakak yang masih bangun di atas tempat tidur.
“Kino, aku akan menemani Kaito. Kau tau dia itu memiliki emosi yang labil seperti remaja yang baru tumbuh dewasa, iya kan?. Pergi malam-malam sendirian di tengah kota yang ramai juga bagian dari sikap liarnya. Tapi tenang, aku akan mengawasinya. Kau bisa percaya pada adikmu yang keren ini”
Satu lagi kata-kata pujian untuk Kaito dari mulut Ryou. Sebuah alasan ‘paling masuk akal’ yang bahkan sebenarnya sulit diterima akal sehat Kino. Tapi berhubung Kino sudah sangat lelah untuk berkomentar, dia hanya bisa tersenyum tipis sambil melihat Kaito dengan tatapan aneh.
“Kino, kumohon jangan percaya pada adikmu yang menyebalkan itu”
“……” Kino hanya tersenyum
Kaito mulai mengajukan protes para Ryou yang ikut melirik wajahnya.
“Oi kau yang di sana, kau jangan seenaknya saja memberikan gambaran buruk orang lain kepada kakakmu! Sebaiknya kau berkaca siapa yang memiliki emosi yang labil. Dasar remaja dunia lain yang tidak sopan!”
“Ehehe, aku tau kau hanya tidak mau mengakuinya” Ryou tertawa dengan wajah jahatnya
“Nee, kalian berdua kumohon henti…haaah” Kino yang tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya menghela napas
Karena sudah semakin lelah, akhirnya Kino mengalah dan membiarkan mereka pergi. Dia hanya berpesan untuk pulang sebelum larut dan langsung istirahat. Keduanya mengangguk dan Ryou memberikan jam saku baru miliknya kepada sang kakak agar dia bisa mengetahui waktu jika dia tiba-tiba terbangun nanti.
“Kino, aku minta maaf tapi untuk mencegah hal yang tidak diinginkan aku akan mengunci ruangan ini dari luar. Tidak masalah untukmu kan?”
“Iya, aku mengerti Kaito-san. Aku juga akan langsung tidur. Kalian berdua hati-hati ya. Jangan pulang terlalu larut”
“Tidurlah yang nyenyak, kakakku. Kami pergi dulu ya”
Setelah menutup pintu, Kaito mengunci ruangan itu dan pergi menuruni tangga bersama Ryou. Di luar, mereka berdua berjalan ke arah kawasan pertokoan di kota.
“Terima kasih sudah mau ikut bersandiwara denganku, Kaito”
“Aku tau itu. Kau hanya bersikap seolah-olah normal dan tidak mau membuat kakakmu khawatir, benar begitu bukan?”
“Kau menyadarinya ya” Ryou tersenyum tipis
“Sejak kau melihat matamu saat makan malam aku sudah tau itu. Mau membahas tentang pembicaraan tadi sore?”
“Umm” Ryou mengangguk
Sambil berjalan, mereka terus melakukan percakapan serius. Bukan tanpa alasan. Hal ini tetap berpusat pada dugaan mereka tentang hilangnya jam saku milik kedua kakak beradik dan juga tentang pelaku pencurian itu.
“Kaito, aku akan membuat kesimpulan sesuai dengan apa yang kau katakan. Kau bilang bahwa anak kecil di altar yang menabrak kami adalah pelakunya, tapi kau juga mengatakan dia berasal dari tempat asing yang berada di jalan aneh dari anak tangga sore tadi. Apa itu bukan kebetulan?”
“Memang terasa seperti kebetulan. Selain itu, aku mulai menerima penjelasan Kino tentang kota ini. Tempat ini memang masih di ‘dunia’ aneh itu, tapi tidak terbagi dua. Mungkin saja ada sisa-sisa peraturan yang masih berlaku”
“Kesampingkan dulu peraturan di tempat ini. Masalahnya perubahan tempat ini terlalu drastis dan kau sendiri juga kebingungan karenanya”
Kaito melihat mata Ryou dan berkata dengan sorot mata yang tajam.
“Kita masih dalam masalah serius, Ryou. Untuk saat ini prioritaskan dulu jam saku kalian. Jam saku itu sama pentingnya dengan kepingan ingatanku. Jika kalian kehilangan benda itu sekarang, kalian mungkin tidak akan bisa keluar dari ‘dunia’ aneh ini”
“……”Ryou terkejut mendengar kata-kata itu
“Kalian juga belum menemukan petunjuk untuk pulang ke tempat asal kalian. Jangan lupakan hal itu, Ryou. Bukan saatnya peduli dengan cara kerja ‘dunia’ aneh ini. Kau dan kakakmu harus fokus pada tujuan awal kalian”
Dia hampir melupakan hal paling penting. Jam saku itu bukan sekedar benda tidak penting. Karena benda itulah mereka berdua ada di sini dan berkat benda itu juga mereka bisa bertemu dengan Kaito.
“Kau…benar, Kaito. Terima kasih sudah mengingatkan hal itu padaku”
Kaito mengangguk tanpa mengatakan apapun. Setelah kepala Ryou sudah dingin, mereka melanjutkan pembicaraan sebelumnya.
“Katakan, kau tidak bermaksud mencari ke tempat itu lagi kan?” Ryou bertanya pada Kaito
“Maksudmu ‘dunia malam’ junior itu?”
“Hah? Kau tadi bilang apa?”
“Ehem. Maaf, bukan apa-apa”
Kaito memerah karena tidak sengaja mengatakan hal aneh. Sebelum Ryou bertanya lagi, dia langsung melanjutkan kalimatnya.
“Aku bermaksud untuk pergi ke tempat asing itu lagi besok pagi. Seperti yang kujelaskan, kumpulan anak-anak yang meminta sumbangan dan anak yang menabrak kalian di altar kemungkinan besar berasal dari sana. Kita akan mencari tau ke sana”
“Oi, Kaito. Kau tidak lupa apa yang aku katakan padamu, iya kan? Aku sudah katakan padamu kalau aku tidak mau melibatkan Kino kali ini. Saat di ‘dunia malam’ kemarin, kita semua tau kalau dia sudah hampir mati dua kali. Aku masih sangat kesal dengan kepala kambing itu karena sudah mematahkan tangan kakakku. Mereka harus beruntung karena tidak perlu menjadi bahan makanan kita!” Ryou bicara dengan wajah kesalnya
“Kita tidak akan mengajak Kino kali ini seperti permintaanmu”
“Mustahil kalau kita meninggalkannya sendiri, kan? Apa kau sudah memikirkan rencana?”
“Saat ini belum tetapi semua akan berubah tergantung kondisinya besok. Aku hanya akan membahas ini denganmu. Intinya, besok kita akan menyelidiki tempat asing itu. Lebih bagus lagi jika kita tidak melakukannya secara terpisah”
“Apa maksudmu terpisah?” Ryou bertanya dengan wajah bingung
“Di dalam sana seperti labirin. Jika salah berbelok atau mengambil jalan yang kau pilih mungkin akan membuatmu tersesat. Jadi aku berpikir, akan lebih baik bila kita mengikuti anak-anak itu saat mereka hendak pulang”
“Begitu. Kalau dipikir lagi petugas altar juga mengatakannya padaku. Setelah diatas jam delapan atau sembilan pagi biasanya mereka kembali pulang. Tapi, petugas itu juga bilang kemungkinan mereka mencari tempat lain untuk meminta sumbangan. Bagaimana menurutmu?”
“Tidak masalah. Kita akan bertaruh dengan hal itu. Itu masih lebih baik daripada tidak mendapatkan petunjuk apapun sama sekali”
“Yosh, sudah diputuskan. Aku serahkan rencananya padamu. Juga…kau harus pikirkan cara terbaik agar Kino tidak curiga”
“Aku tau. Akan kupikirkan” Kaito tersenyum tipis
Ryou sempat bergumam dengan suara pelan.
“Setelah jam sakunya ketemu, aku akan minta maaf pada Kino sambil menangis karena sudah meninggalkannya sendiri”
Ryou bergumam dengan raut wajah kecewa. Senyum kekecewaan pada dirinya sendiri karena dia melakukan sesuatu yang bisa dibilang beresiko di belakang kakaknya. Bagaimana pun juga, Ryou terlalu takut jika Kino sampai
terluka seperti kejadian yang lalu. Dia telah bersumpah untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama tiga kali. Dia pernah gagal melindungi kakaknya dua kali saat itu dan sampai sekarang rasa kecewa itu masih melekat kuat.
Kaito mendengar gumaman itu walau tidak jelas. Dia memahami ikatan kedua kakak beradik itu dan menjawab dengan wajah serius.
“Jangan khawatir. Aku juga akan minta maaf pada Kino bersamamu”
“……!!”
Ryou yang mendengar dengan jelas kalimat itu langsung melihat Kaito dengan ekspresi terkejut. Setelah itu dia menunduk dan menganggukan kepalanya.
Setelah menghabiskan banyak waktu untuk berjalan sambil membicarakan hal penting, kedua partner in crime itu akhirnya benar-benar berbelanja seperti yang dikatakan Kaito pada Kino tadi.
Mereka pergi untuk membeli air dan beberapa peralatan makan plastik termasuk mangkuk dan gelas karton. Setelah selesai, Kaito menyempatkan diri pergi ke toko senjata yang pernah didatangi olehnya saat di ‘dunia siang’, toko senjata [Magasin d'armes].
“Kau bilang ingin beli pisau dapur untuk Kino. Memangnya di toko senjata menjual pisau dapur?”
“Dagger seperti kemarin bisa digunakan untuk memotong daging dan sayur, benar kan?. Itu lebih efisien dibandingkan membeli pisau dapur. Dengan dagger, kau juga bisa menggunakannya sebagai senjata dan pertahanan diri”
“Kau…tidak serius mengatakan itu, kan?” wajah Ryou mulai memerah karena menahan kesal
Kaito bicara dengan nada serius.
“Ryou, sarung pengikat yang ada di pinggang Kino adalah sarung pengikat untuk menyimpan dagger. Sejak kelima dagger miliknya hilang di ‘dunia malam’, dia tidak bersenjata sama sekali. Meskipun begitu, dia tetap memakai benda itu di pinggangnya. Aku ingin memberikan itu sebagai hadiah. Setidaknya, itu akan mengurangi rasa cemasmu terhadap keselamatan kakak kesayanganmu juga”
“……”
Ryou baru menyadari hal itu. Sampai sekarang, dia tidak begitu memperhatikannya. Dia terlalu fokus pada hal lain sampai melupakan hal terpenting.
‘Kino tidak bersenjata…aku benar-benar lupa. Bagaimana bisa kau melupakan hal itu, dasar kau bodoh Ryou!’
Ryou langsung masuk mendahului Kaito yang masih belum bergerak dari tempatnya. Kaito hanya tersenyum. Sebelum masuk, Kaito mengeluarkan jam saku miliknya dan melihat waktu yang ditunjukkan jarum jam itu. Jarum jamnya mengarah ke waktu 07.35 yang artinya sudah setengah delapan malam. Kaito memasukkan kembali jamnya dan menyusul Ryou untuk masuk ke toko tersebut.
******
Di lain tempat, di bangunan tua dalam tempat terasing di kota malam itu.
Theo, Stelani dan Fabil akhirnya sampai di tempat yang disebut rumah oleh mereka. Napas terengah-engah dan sulit untuk berdiri, mereka berusaha untuk menguatkan diri mereka sebelum masuk dan bertemu dengan anak-anak lain.
“Haah…haaa…haaa….uhuk…uhuk…” Stelani mencoba mengatur napasnya sampai batuk
“Kau…tidak…apa-apa, Stelani?”
“Aku baik. Terima…kasih sudah bertanya, Fabil”
“……”
Theo yang sudah berhasil mengatur napasnya kembali berdiri tegak sambil memanggil mereka.
“Fabil, Stelani…ayo masuk. Mereka sudah menunggu roti dan air yang kita bawa. Semua yang tadi kita dengar, jangan ada yang membahasnya. Kita bisa membahasnya setelah yang lain tidur”
“Aku mengerti. Ayo, Stelani” Fabil memanggil Stelani yang baru berhasil mengatur napasnya
“Um” Stelani mengangguk dan berjalan mengikuti mereka berdua
Wajah pucat dan tegang ketiganya tidak dapat disembunyikan namun sebisa mungkin mereka bersikap normal seakan tidak terjadi apapun. Begitu menaiki tangga dan sampai ke kamar, mereka disambut dengan senyum bahagia dari anak-anak yang sudah menunggu mereka.
“Mereka pulang. Hore, makan malam!”
“Theo, Stelani, Fabil selamat datang!”
“Stelani-neechan, aku sudah menunggu”
Seorang anak kecil berlari dan memeluk Stelani yang masih membawa kantong belanja.
“Maaf sudah membuat menunggu, Michaela. Roti dan air untuk kita semua sudah datang. Makan yang banyak agar kalian tidak kedinginan” Stelani tersenyum padanya
Theo dan Fabil membagikan roti kepada anak-anak itu. Jumlah roti yang dibeli oleh Theo lebih banyak dari jumlah anak-anak yang ada, membuat mereka bisa makan sedikit lebih banyak dari tadi pagi. Dengan adanya air untuk diminum, rasa haus yang mereka tahan akhirnya menghilang. Semua anak-anak itu makan dengan lahap. Pemandangan dan situasi tersebut berhasil membuat suasana hati Stelani dan Fabil membaik. Namun tidak dengan Theo.
‘Pria berpedang tanpa sarung pedang…aku yakin itu adalah orang yang bersama kakak baik itu. Jika itu benar, apakah kakak itu orang jahat? Tidak, itu tidak mungkin!! Jangan bodoh, Theo!! Yang jahat hanyalah gorilla itu! Tapi, kenapa gorilla itu mencarinya? Kenapa dia ingin mendapatkan pria itu dalam keadaan hidup atau mati? Dua orang yang dibunuh di ruangan gorilla itu juga mati karena tidak berhasil menemukannya…’
Anak-anak yang lain makan dengan lahap sedangkan Theo terlihat memandangi roti yang ada di tangannya. Pikirannya seakan kosong sampai anak kecil bernama Michaela bertanya pada Theo.
“Theo-niichan, kenapa tidak dimakan? Apa Theo-niichan sakit perut?”
“A–apa?” Theo langsung kaget dan memandang wajah lugu anak itu. Dia langsung menjawab “aku tidak apa-apa” dengan senyum yang terpaksa
Setelah itu Theo memakan rotinya. Stelani dan Fabil tidak ingin menimbulkan kecurigaan lain dan memilih untuk diam walaupun wajah mereka masih terlihat sedikit pucat.
Pikiran Theo belum selesai. Dia masih memiliki banyak pertanyaan tentang hubungan kakak baik itu dengan orang yang dicari Justin.
‘Apakah terjadi sesuatu antara pria berpedang tanpa sarung pedang itu dengan gorilla Justin? Jika itu benar berarti kakak baik itu juga dalam masalah. Aku….’
Theo mungkin semakin penasaran tapi tidak banyak yang bisa dilakukannya. Alasan pertama, dia bahkan belum tau siapa nama kakak baik yang memberinya roti itu. Lebih tepatnya dia merasa dia tidak akan bertemu dengan kakak baik itu lagi. Alasan kedua, dia sudah melihat sendiri betapa kejamnya Justin. Jika ikut campur tanpa mengetahui masalah utamanya, bisa jadi dia yang akan terkena masalah. Alasan ketiga, dia tidak boleh terlibat masalah atau semua teman-temannya akan terseret ke dalamnya.
‘Tapi aku tidak bisa membahayakan mereka semua’
Akan lebih baik jika orang lain tetap menjadi orang lain, itulah yang ada di dalam pikiran Theo. Kakak yang memberinya roti itu memang sangat baik untuk Theo. Akan tetapi, sejak mereka hanya orang asing dan Theo sendiri mengakui hal buruk yang dilakukannya pagi ini membuatnya memutuskan untuk berhenti memikirkan hal yang bukan urusannya.
‘Aku harus berhenti memikirkannya. Lupakan semuanya. Anggap semuanya tidak pernah terjadi. Jangan lupakan kebencianmu pada gorilla itu dan berjuanglah untuk hidup!’
Setelah membulatkan tekad, Theo berhenti memikirkan hal berat itu dan memakan roti di tangannya dengan lahap.
******
Selesai dengan semua belanjaan mereka, Kaito dan Ryou memutuskan untuk kembali. Ryou terus terlihat senang sambil memegang tiga buah dagger yang baru dibelinya untuk sang kakak.
“Kino akan menyukai ini!. Kau benar, Kaito. Ini lebih keren dari pisau dapur!” Ryou berbinar-binar melihat ketiga dagger itu di tangannya
“Aku yakin dia sudah tidur sekarang. Kau bisa menyimpan itu untuk hadiah besok pagi”
“Tentu saja!. Aku akan memberikan ini padanya dan aku akan memberikan catatan penting bahwa ini adalah hadiah dan dia tidak boleh menghilangkannya”
“Aku tau”
“Benar, ini hadiah. Berbeda dengan pisau hasil menipu yang kau berikan padanya. Akibatnya, pisau itu hilang entah kemana. Aku yakin bangkainya juga sudah tidak ada di kota ini karena ‘kedua dunia’ itu sudah lenyap”
Baru merasa senang sebentar, mulut pedasnya Ryou sudah melakukan pemanasan lagi. Kaito sudah berusaha semaksimal mungkin untuk bersikap acuh sambil berkata dalam hati.
‘Kau harus mulai terbiasa dengan mulutnya itu, Kaito. Kau masih punya kesabaran Kino sebagai senjatamu. Tenangkan dirimu sekarang’
“Haah” Kaito menghela napas panjang
“Kau sakit?” Ryou bertanya pada Kaito
“Tidak. Mentalku sehat, tidak apa-apa. Jangan khawatir. Aku adalah laki-laki dengan hati paling lapang di sini, kau tenang saja”
Ryou merasa ada sesuatu di balik jawaban Kaito tapi dia tidak benar-benar peduli.
“Baiklah, tuan yang berhati paling lapang di sini. Terserah kau saja”
Pembicaraan selesai. Kaito sudah tidak mau berkomentar lagi dan memilih diam. Sepanjang jalan. Ryou benar-benar tidak berhenti melihat ketiga dagger itu. Dia membayangkan bahwa kakaknya akan sangat senang menerima ini.
Sesampainya di penginapan, Kaito tidak lupa melihat jam saku miliknya.
“Sudah jam sembilan malam. Kita belanja lebih lama dari dugaan” ucap Kaito sambil memasukkan kembali jamnya
“Tidak masalah sejak kau mengunci kamar itu dengan baik. Kino juga tidak akan kemanapun”
Kaito memasukkan kunci dan membuka pintu kamar, lalu mereka berdua melihat Kino yang berada di atas tempat tidur sudah tertidur pulas. Seakan semua rasa lelahnya hilang, dia tidur dengan nyenyak. Tidak ada yang bisa membangunkannya termasuk langkah kaki kedua orang itu.
Setelah menutup dan mengunci pintu, keduanya meletakkan semua belanjaan mereka di kursi dan meja kayu. Ryou meletakkan ketiga dagger itu di atas meja. Selesai melepas sarung pedang dan jubahnya, Kaito duduk di tempat tidur kecil dan merebahkan diri.
“Sebaiknya kau tidur juga, Ryou. Besok pagi, kau dan aku akan menjadi yang paling sibuk”
“Kau benar”
Ryou yang juga melepas sarung pedang dan meletakkan pedangnya di samping lemari pakaian dekat pedang Kaito mulai berjalan kembali ke tempat tidur besar dan tidur di samping sang kakak.
“Selamat malam. Besok, aku akan berjuang lebih keras. Kali ini, aku tidak akan gagal melindungimu lagi, Nii-san”
******