Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 291. Ujian Masuk Akademi Sekolah Sihir: Area Level A bag. 2



Xenon tampak mencoba memprovokasi para peserta.


"Siapapun boleh maju sekarang dan buat aku mengakui kekuatan kalian"


Sebagian orang begitu percaya diri. Ada empat di antara mereka yang dengan cepat langsung maju.


"Penguji, kami ingin pastikan bahwa tidak ada aturan berapa banyak yang boleh maju" tanya salah seorang dari empat peserta yang maju


Orang yang bertanya itu adalah seorang pria yang terlihat begitu percaya diri dengan senjatanya. Itu adalah sebuah kapak batu dan perisai besi.


'Tubuh orang itu tampaknya kuat. Tapi, aku ragu dia bisa lolos dari Xenon' kata Ryou dalam hati


Bukan hanya Ryou yang berpikir demikian, Jene yang melihat dari jauh juga berpikir demikian.


'Mereka terlalu meremehkan calon adik iparku'


'Alasan dia bisa terpilih menjadi penguji adalah karena kemampuannya di atasku. Terlebih lagi, dia adalah seorang eksekutor terkuat kedua setelah Rexa-sama'


'Pertarungan tangan kosong sudah cukup. membuatnya menang'


Jene begitu yakin dengan kemampuan Xenon. Bahkan, bisa dibilang dia sangat membanggakannya seperti seorang kakak sesungguhnya.


Xenon mengamati peserta tersebut.


'Mereka tampak kuat. Jika dilihat sekilas, baik kemampuan fisik maupun sihirnya bisa diketahui dengan jelas. Dia kuat'


'Tapi kita lihat, pandangannya yang begitu meremehkan itu... apakah akan berpengaruh padaku nantinya'


Xenon tersenyum pada peserta itu.


"Tidak ada batasan untuk tiap peserta. Tapi aku peringatkan bahwa sekalipun kalian menyerangku bersamaan, jika tidak serius maka kalian harus siap terlempar keluar dari ruangan ini"


Ryou tersenyum sambil bergumam dalam hati, 'Ini menarik. Aku akan segera tau kekuatan yang tersembunyi dari guru menyebalkan itu'


'Biarpun aku selalu memanggilnya penguji gadungan sebelum ini, aku selalu mengakui bahwa dia lebih kuat dari Kaito kalau soal sihir'


'Tapi kemampuan berpedangnya bisa dibilang cukup kuat. Lebih kuat dariku'


Para peserta yang mendengarnya begitu antusias. Ada yang meremehkan, namun tidak sedikit pula yang takut.


Empat peserta yang telah maju lebih dulu. Pria besar tadi langsung mengeluarkan senjatanya dalam posisi siap.


"Baiklah penguji, kami akan mulai. Oi kalian bertiga, aku akan memilih senjata. Bagaimana dengan kalian bertiga?" teriak pria bertubuh besar itu


Tiga peserta lainnya bingung.


"Penguji, jika kami memiliki pilihan berbeda bagaimana? Aku ingin menggunakan sihirku"


"Aku juga"


"Aku juga ingin pakai sihir karena kemungkinan menang lebih besar"


Xenon tersenyum dan menjawab, "Tidak ada masalah dengan itu. Aku akan memakai pilihan yang paling sedikit di antara kalian"


"Kalau begitu, aku akan pakai senjata"


Mereka semua bingung. Tidak ada satupun dari penguji dan dua pengawas itu yang memiliki senjata di tangan atau pinggang mereka.


"Kau bercanda ya?! Kau sendiri tidak memiliki senjata di tanganmu!" bentak pria tersebut


"Siapa yang mengatakannya. Aku memilikinya"


Xenon mengepalkan tangannya dan menunjukkannya kepada para peserta.


"Tangan ini adalah senjataku"


Begitu terlihat percaya diri sampai membuat keempat peserta itu merasa begitu diremehkan.


"Jangan bercanda!! Terima ini?!"


Pria bertubuh besar itu mulai berlari dan menyerangnya. Jessie dan Jene dengan cepat melompat keluar arena dan melihat pertarungan tersebut.


"Sedikit informasi, jika ada tindak pelanggan yang dilakukan dan diketahui oleh kami berdua, maka kami yang akan mengeluarkan kalian secara langsung" kata Jessie


"Tugas kami sebagai pengawas adalah mengawasi tindakan kalian dan menilai apakah kalian melakukan kecurangan atau tidak. Jangan pikir kalian bisa menipu kami berdua" Jene menatap mereka dengan tatapan sinisnya


Di arena pertarungan, Xenon terus menghindari serangan pria besar itu.


Pada dasarnya, lantai ruangan tersebut terbuat dari marmer keras yang elegan dan mewah. Namun, semua arena sekarang berubah menjadi tanah karena sihir Xenon sebelumnya.


Setiap serangan yang datang ke arahnya, pria itu selalu gagal mengenai sang penguji karena dia selalu bisa menghindar dengan baik.


Senjata besarnya tersebut menghancurkan arena dan membuat lubang serta banyak sekali batu-batu yang berserakan.


"Apanya yang penguji kalau kau terus menghindar seperti ini?!" pria itu terlihat kesal


Dari sisi belakangnya, ada sebuah serangan seperti tembakan air dan api yang dilakukan bersamaan.


"Rasakan ini! [Fireball]"


"[Water Splash]"


Serangan tersebut cukup kuat. Xenon melompat untuk menghindari serangan tersebut.


Para peserta cukup panik melihat tembakan api dan air itu mulai mengarah tepat di depan mereka. Namun ketakutan itu tidak perlu lagi dikhawatirkan.


Kedua serangan tersebut langsung dilenyapkan oleh Jessie.


Ryou memperhatikan gerakan si kembar.


"Begitu rupanya"


"Kenapa?" tanya seorang gadis bertelinga kucing yang ada di samping Ryou


"Hmm? Bukan. Aku berpikir kedua pengawas itu memiliki peran yang lebih dari sekedar mengawasi peserta berbuat curang"


"Jadi?"


"Lihat itu. Penguji itu sama sekali tidak memedulikan peserta di luar arena pertarungan yang artinya dia sepenuhnya terfokus pada lawannya"


"Sedangkan salah satu dari kedua pengawas ujian di luar arena tersebut menghilangkan efek serangan peserta"


"Itu artinya mereka yang menjaga sisi luar agar tidak ada yang terluka"


Penjelasan Ryou cukup mudah dipahami. Tapi ada sesuatu yang janggal.


'Kenapa mereka tidak mengeluarkan semacam perisai?'


Hal itu tidaklah aneh, mengingat penggunaan perisai jauh lebih efisien daripada meminta pengawas ujian yang menghilangkan sihir peserta lain.


'Tampaknya mereka sengaja tidak memberikan perisai dalam ujian ini. Aku tidak bisa menebaknya, tapi ini cukup menyita perhatian'


'Dengan begitu para peserta semakin yakin bahwa curang adalah hal yang mustahil sejak dua pengawas itu juga tidak kalah kuat dari penguji'


'Mereka benar-benar penuh trik licik rupanya' Ryou dan pikirannya yang berlebihan namun tepat. Dia seperti bisa membaca semuanya hanya dengan sekilas.


Di dalam arena, Xenon masih tampak tidak melakukan serangan berarti. Dia masih hanya menghindar dan menghindar.


Hampir setengah dari arena bertarung penuh lubang karena serangan senjata berat dari pria besar tersebut.


"Seranganmu terlalu banyak membuang tenaga. Kau hanya akan kelelahan setelah ini" kata Xenon sambil terus menghindar


Tindakannya membuat peserta bertubuh besar itu kehabisan kesabaran.


"Jangan banyak bicara!"


Saat serangan pria itu nyaris mengenai Xenon, dengan sebuah tendangan darinya, Xenon menghempaskan tubuh besar pria itu langsung keluar arena dan menabrak dinding di dekat pintu masuk.


-BRUUUK


"......!!!" semua orang terkejut termasuk Ryou


Tiga orang lainnya yang secara bersamaan menyerang dengan sihir langsung menerima sebuah tendangan lain dari Xenon.


Begitu mudahnya Xenon menerbangkan keempat peserta tersebut hanya dengan sebuah tendangan kepada masing-masing peserta.


'Sudah aku duga akan jadi begini. Pemanasannya pasti sudah selesai' gumam Jene dalam hatinya


'Xenon...' Jessie tampak terkesan dan terpesona dengan tunangannya itu


Ryou melihat ke belakangnya. Pria besar itu tidak lagi bangun alias pingsan.


Dengan keringat dan telapak tangan dingin, Ryou melihat Xenon yang berdiri tanpa luka sedikitpun.


Sang penguji menatap para peserta dengan senyum di wajahnya sambil berkata, "Mereka gagal"


Ryou langsung tersenyum senang.


'Aku sudah duga ini. Latihannya saat itu tidak benar-benar serius. Dia kuat!!'


Xenon menyadari Ryou melihatnya dengan semangat. Dia sedikit memancingnya.


"Peserta yang terlihat senang di sana, mungkin mau menemaniku di sini?"


Bagaikan tantangan dan kesempatan, Ryou langsung menerimanya.


"Dengan senang hati, aku akan menemanimu. Mohon bantuannya, penguji"


******