
Saat Ryou telah pergi bersama peserta ruang 2 yang lainnya, Kino dan Kaito mendengar panggilan panitia lainnya.
"Peserta ruang ujian 3 mohon ke sebelah sini"
Kino melihat Kaito, "Kaito-san, itu ruang ujianku"
"Pergilah. Semoga kau lulus, Kino"
"Kaito-san juga. Aku akan berjuang. Kaito-san juga sebaiknya berjuang"
Kino tersenyum pada Kaito. Kaito juga memberikan senyumannya dan sebuah tepukan di pundak Kino.
Kino pergi bersama peserta lain. Ada yang menarik perhatian. Siapa yang menyangka bahwa remaja dengan tombak itu pergi dengan rombongan Kino.
'Dia masuk dalam regu Kino rupanya. Bukankah ini sedikit...tapi aku rasa, aku hanya terlalu curiga'
Kaito merasakan aura aneh dari remaja itu dan remaja dengan dua pedang sebelum ini. Namun tampaknya dia memilih untuk tidak mengatakan apapun.
"Semoga ini bukanlah pertanda buruk untuk kedua kakak beradik itu"
**
Kino bersama peserta lain memasuki sebuah ruangan.
Ruangan tersebut luas dan tidak disangka bahwa di dalam ruangan terdapat sebuah arena dengan tiang di empat sudutnya.
"Ini...sebuah arena?" Kino mulai bergumam pelan
Tiba-tiba beberapa peserta mulai gaduh.
"Kenapa ada anak kecil di sana?"
"Hei anak kecil, sebaiknya jangan ada di dalam sana. Kau sibuk mencari mamamu yang hilang ya"
"Turun dari sana"
"Ahahaha, anak kecil menyingkirlah"
Kino yang kebetulan berada di barisan belakang penasaran dengan anak kecil yang dimaksud.
Dengan melewati kerumunan peserta lain, dia akhirnya melihat siapa yang ada di depan.
"Itu...Emily-san?"
Emily tampak tenang. Dengan didampingi dua orang di sampingnya, dia terlihat sangat santai menanggapi orang-orang tersebut.
"Emily-sama, ini sudah kelewatan" kata salah seorang pendampingnya
"Abaikan saja. Lagipula, Emily tau mereka tidak akan lulus dari ujian Emily. Selain itu juga–"
Kalimat Emily terhenti dan matanya melebar. Dia tersenyum senang sekali.
"Kyaaa~orang yang Emily sukai!"
"Eh? Emily-sama?" kedua pendampingnya terkejut
Emily langsung turun dari arena dan menghampiri salah satu peserta itu, yaitu Kino.
Dia langsung memeluknya dan terlihat senang sekali.
"Kyaaa~kita memang jodoh. Emily sudah menduganya. Saat mendapatkan daftar peserta di ruangan ini, Emily tau kalau kita akan bertemu lagi!"
"Emily-san yang–"
"Benar! Emily yang akan menguji ruang ujian 3 ini. Emily adalah pengujinya"
Semua orang terdiam sejenak. Tidak lama setelah itu, mereka langsung berteriak.
"Apa?! Bocah kecil ini penguji?!"
Semua orang hampir tidak percaya pada apa yang didengarnya. Bahkan, salah satu peserta dengan wajah mirip dengan sapi mencoba menyentuhnya untuk menyingkirkan gadis itu.
"Hei bocah, jangan membual ya. Mana mungkin sekelas ujian seleksi Akademi Sekolah Sihir akan membiarkan bocah ingusan sepertimu menjadi penguji!!"
Baru saja mencoba mengujinya, tubuh besar pria itu langsung terhempas ke dinding bersama beberapa peserta lainnya.
Seluruh peserta di ruangan yang awalnya meremehkan gadis itu langsung terdiam dan tercengang.
Kino bahkan tidak bisa berkata apapun.
"Jangan mencoba melakukan hal yang tidak sopan pada seorang Lady"
Tampaknya, Emily terlihat marah sekarang. Dia terlihat baru saja mengeluarkan sihirnya.
Hal tersebut terlihat dari sebuah lingkaran sihir transparan di bawah kakinya. Kino melihatnya.
'Emily-san mengaktifkan sihir'
Emily langsung menunjuk ke arah semua peserta yang terhempas ke belakang itu.
"Mereka gagal. Segera usir mereka dari ruangan ini. Anne, Davey, lempar mereka keluar"
kedua pendampingnya itu langsung berjalan dan membantu mereka berdiri. Tanda di tangan mereka langsung menghilang begitu mereka berdiri dan keluar dari sini.
"Sudah 9 orang yang gugur, Emily-sama" kata gadis bernama Anne
Para peserta langsung tegang. Mereka memperhatikan Emily yang masih memeluk Kino.
"Dengarkan Emily kalian semua. Emily mungkin masih kecil, tapi posisi Emily adalah sebagai penguji di sini"
"Nama Emily adalah Emily Xelhanien, putri ketiga sekaligus anak terakhir dari Keluarga Pahlawan, Duke Xelhanien"
"Emily adalah siswa khusus tingkat 3 sekaligus Kapten Divisi Penyerang Dewan Sihir. Silahkan kalian remehkan Emily dan bersiaplah terlempar seperti mereka tadi"
Semua orang tertegun. Kino bahkan tidak bisa mengatakan apapun kecuali di dalam pikirannya.
'Aku benar-benar tidak menyangka akan jadi seperti ini. Emily-san akan bisa melempar mereka sebelum menyentuhnya'
'Sudah begitu, jumlah yang terlempar nyaris sepuluh peserta sekaligus. Ini sungguh di luar dugaan'
'Perbedaan kekuatannya terlalu jauh. Untuk anak berusia 11 tahun, sihirnya sudah setingkat bahkan mungkin lebih dari Xenon-san'
Kino jadi tegang. Namun, tampaknya Emily sudah tidak mau mengurusi masalah itu. Dia langsung menarik tangan Kino.
"Emily sudah menjelaskan sedikit soal Emily, sekarang Emily mau dengar tentangmu juga"
"Eh?" Kino terlihat bingung
"Suka dengan tempat ini tidak?" tanya Emily dengan perasaan senang
"Su–suka. Tapi, ujian masuknya..."
"Oh, hampir lupa. Emily terlalu senang bertemu denganmu. Kyaa~Emily dan Kino adalah jodoh. Kyaaa~"
"E–Emily-san..." Kino jadi bingung dengan tingkah gadis kecil ini
Bukan hanya bingung, perlakuan Emily membuat Kino menjadi sasaran dari tatapan sinis peserta lain.
'Aku mungkin akan terkena masalah sebelum mulai' pikirnya dalam hati
Emily langsung mundur dan berjalan di depan sambil mondar-mandir memberikan penjelasan.
"Baiklah, Emily akan jelaskan sedikit. Ujian ini menggunakan sistem gugur yang dimana jika kalian dinyatakan gagal maka kalian akan Emily usir keluar seperti tadi"
"Emily tidak akan memberikan toleransi untuk tindakan tidak sopan, tidak tau aturan, curang dan merendahkan penguji dan pengawas ujian"
"Dua orang yang mendampingi Emily adalah pengawas ujian yang akan menjaga ketertiban ujian, mengawasi peserta yang bertindak curang dan melindungi jalannya ujian"
"Jadi, Emily akan 100% menguji kalian begitu masuk ke dalam arena ujian itu tanpa memedulikan kondisi peserta lain di luar arena"
"Mereka akan menjadi tanggung jawab pengawas ujian. Jika ada yang tidak yakin dengan kemampuan kalian, boleh keluar sekarang"
"Sedikit informasi lain, di dalam sini tersisa 71 peserta dari 80 peserta. 9 sudah dinyatakan gugur"
"Emily tidak tau dengan pos lainnya, tapi Emily mempersilahkan bagi siapapun untuk mundur jika tidak yakin sebelum Emily jelaskan jenis ujiannya"
Tampaknya Emily lebih bersikap layaknya penguji dari Xenon yang bahkan lupa dengan penjelasan ujiannya.
Tapi tidak ada yang tau soal itu.
Emily melihat wajah orang-orang itu. Mereka tampak cukup percaya diri dengan kemampuan mereka dan memilih untuk mengikuti ujiannya.
Emily tersenyum. Dia memberikan tanda pada kedua pengawas tersebut untuk melakukan sesuatu.
Pengawas ujian memasang sebuah perisai sihir.
[Mirror Barrier Level 3]
Sebuah perisai sihir transparan sebanyak 3 lapis diciptakan mengelilingi arena tersebut.
"Di belakang Emily adalah arena yang akan kita pakai. Perisai itu adalah [Mirror Barrier Level 3]"
"Sihir tersebut dapat menahan serangan dari dalam dan luar. Hanya saja serangan tersebut akan terpantul kembali apabila sihir kalian diserap oleh penghalang tersebut"
"Hah?! Itu sama saja bunuh diri!" kata salah satu peserta
"Memang begitu cara kerjanya. Selain itu, ruang ujian ini menggunakan sistem [Area Level B] dimana hanya sihir yang boleh digunakan"
"Hanya...sihir" kata Kino pelan
Di belakang, seorang pemuda dengan tombak yang terbungkus berdecak kesal.
"Cih, [Area Level B] ya. Aku kira akan dapat ujian [Area Level A] atau [Area Level C]. Virgo dan Vares sangat beruntung" gumamnya pelan
Emily melihat semua peserta.
"Ujian seleksi [Area Level B] dimulai"
******