
Di bawah dua payung pantai besar, Ryou duduk seorang diri tanpa melihat ke arah orang yang duduk di dekatnya.
“Ryou…” Kino memanggil sang adik
“……” Ryou terdiam dan tidak menjawab
Kino berdiri dan membuka kotak es besar di sampingnya. Dia melihat banyak sekali jus dan minuman buah kaleng dingin. Dia mengambil satu untuk sang adik dan memberikannya.
“Ryou, kamu belum minum kan? Ini, ada jus melon kesukaanmu”
Ryou tidak melihat Kino sama sekali dan terus memasang wajah cemberut.
“Ya sudah kalau tidak mau meminumnya. Aku letakkan di sini ya. Nanti Ryou minum selagi ayah dan ibu membeli cemilan”
“Berisik”
“……” Kino menunduk tanpa melihat kembali wajah sang adik
Dengan ekspresi sedih, Kino meletakkan jus kaleng itu di samping adiknya dan duduk menjauh. Dia mengambil jus apel yang sudah tidak dingin lagi dan menghabiskannya sendirian.
Dari sisi lain, Ryou melirik ke sampingnya. Dia melihat Kino yang duduk sendiri sambil meminum jus kotak miliknya dengan wajah sedih. Saat itu, dia mengingat percakapan antara dia dengan sang ayah beberapa waktu lalu.
[Kau tidak boleh menyalahkan orang lain karena kesalahanmu, Ryou. Lagipula, jika game itu ada di tasmu, apakah Ryou akan memilih bermain dengan game itu dibandingkan bermain dengan kami?]
[Tentu saja aku akan berenang di pantai dan main bola dengan ayah seperti ini, setelah itu main air dengan ibu juga]
[Hanya main dengan ayah dan ibu?]
[…Main…dengan Kino juga]
Ryou menjadi sedih dan mulai berpikir bahwa itu semua memang bukan salah sang kakak. Meskipun begitu, sifat keras dan egois miliknya masih mendominasi sampai saat itu.
Awalnya dia ingin mengabaikan sang kakak dan pergi bermain bola pantai sendiri. Tiba-tiba dia merasa telah melupakan sesuatu.
“Bolanya…tidak ada?!” Ryou menjadi panik
Kino yang sudah menghabiskan jusnya, bermaksud mengambil coklat untuk sang adik. Namun niat itu diurungkan setelah dirinya melihat tingkah Ryou yang aneh. Ryou terlihat seperti mencari sesuatu di sekeliling tempat mereka berada sekarang dan mulai berubah panik.
“Ryou, apa ada yang kamu cari?” Kino menghampiri dan bertanya pada Ryou yang kebingungan
“Bolaku hilang!”
“Bola? Bola apa memangnya?”
“Bola pantai bercorak gambar ikan, berwarna kuning dengan garis biru dan merah yang dibelikan ayah minggu lalu untuk ke pantai hilang!” Ryou menjadi panik
Kino berusaha untuk menenangkan sang adik.
“Ryou tenangkan dirimu ya. Aku akan bertanya pada penjaga pantai. Kamu jangan pergi kemana-mana dan tunggu kedua orang tua kita kembali ya”
“……” Ryou hanya diam tanpa mengatakan apapun
Kino mulai berlari ke arah pantai meninggalkan sang adik.
Di pantai, terdapat banyak sekali orang yang lalu-lalang hingga membuat Kino hampir tertabrak dan jatuh beberapa kali. Dia memperhatikan anak-anak yang bermain bola pantai.
“Bola pantai gambar ikan warna kuning dengan garis biru dan merah…dimana aku bisa menemukannya?”
Kino mulai berkeliling dan sesekali bertanya pada orang dewasa yang dia temui, tetapi hasilnya nihil. Dia mulai bertanya pada penjaga pantai yang tidak sengaja ditemuinya tidak jauh dari tempatnya berada sekarang.
“Permisi, tuan…”
“Ya. Ada apa anak muda. Apa kau tersesat?” tanya penjaga pantai itu
“Maaf, apakah tuan bisa membantuku mencari bola pantai milik adikku. Dia sedih dan hampir menangis karena bola miliknya hilang”
“Bola pantai ya. Seperti apa ciri-cirinya?”
“Etto…bola pantai gambar ikan warna kuning dengan garis biru dan merah. Kira-kira seperti itu ciri-cirinya” ucap Kino dengan jelas
“Baik, nanti kalau sudah ketemu akan aku umumkan ya. Sebaiknya kau kembali sebelum kedua orang tuamu khawatir. Apa kau bisa kembali sendiri?”
“Bisa. Terima kasih banyak ya tuan”
“Sama-sama. Hati-hati ya anak manis”
Penjaga pantai itu segera pergi dan terlihat mencari sesuatu. Kemungkinan dia mulai menjalankan tugasnya untuk menemukan benda yang hilang. Kino sedikit bernapas lega dan akhirnya dia memutuskan untuk kembali.
Baru saja dia ingin kembali, dia mengingat sesuatu.
Dia ingat bahwa sang ayah pergi bermain bola pantai dengan sang adik ketika dia dan ibunya bermain air di sekitar pantai.
“Mungkinkah bolanya…”
Kino kemudian berlari ke arah pantai yang terdapat banyak orang.
**
Di tempat teduh milik keluarga Yuki, Ryou masih menunggu Kino sendirian. Dia mulai melihat dari kejauhan sosok sang kakak. Akan tetapi, karena banyaknya orang yang berjalan membuat pandangannya sulit fokus.
“Kemana dia? Kenapa belum kembali?”
“Ryou!!”
Dari kejauhan, terdengar suara yang tidak asing untuknya. Itu adalah ayah dan ibunya. Mereka datang dengan membawa banyak sekali makanan seperti takoyaki dan yakisoba untuk makan siang.
Ryou dengan wajah panik berlari menghampiri kedua orang tuanya yang masih berjalan ke arahnya.
“Ayah, ibu…Kino tidak ada!”
“Eh?” sang ibu terkejut mendengarnya
“Tidak ada…maksudnya tidak ada bagaimana?” sang ayah bertanya pada putranya
“Bola…”
“Bola? Bola apa?” tanya sang ibu
“Bola pantai yang dibelikan ayah…hilang. Aku mencoba mencarinya tapi tidak ketemu. Lalu…lalu Kino bilang akan bertanya pada penjaga pantai. Tapi…tapi…hiks…huwaaaa”
Ryou kecil menangis dan memeluk ibunya. Sang ibu berusaha menenangkan anaknya dengan mengusap-usap punggung kecil dan rambutnya dengan lembut.
“Sudah sudah, jangan menangis. Nanti akan kita cari. Ayo, kita kembali ke tempat dulu ya”
Ryou yang berjalan dengan menggandeng tangan ibunya berjalan sambil terus menangis sedangkan sang ayah yang membawa makanan itu berjalan lebih dulu dan meletakkan semua jajanan itu.
Setelah sampai di bawah payung pantai besar kembali, Ryou berlari memeluk sang ayah.
“Ayah mengerti. Ayah akan mencari kakakmu ya. Tunggu di sini bersama ibumu”
Ryou melihat wajah ayahnya dengan terus menangis.
“Aku…belum minta maaf pada Nii-chan. Hiks…hiks…”
“Ayah mengerti. Nanti kalau sudah, minta maaflah pada kakakmu ya” sang ayah memeluk kembali anaknya dan bicara pada istrinya “tolong jaga anak kita sebentar ya. Aku akan mencari Kino dulu”
Sang ibu mengangguk dan berkata agar suaminya berhati-hati. Ayah pergi ke keramaian di pantai siang itu dan Ryou hanya bisa memeluk ibunya.
Setelah beberapa lama, ibu dan anak itu duduk bersama.
“Ini, minumlah” sang ibu memberinya sebotol air dingin
Ryou hanya melihat air itu dan tidak menerimanya. Dia justru mengambil jus melon kaleng yang ada di dekatnya. Itu adah jus kaleng yang diberikan oleh Kino beberapa waktu lalu.
Dengan air mata yang masih keluar, Ryou melihat jus kaleng itu.
“Ibu…”
“Ya?”
“Maafkan aku…hiks…” Ryou kecil minta maaf pada ibunya
Sang ibu hanya tersenyum dan memeluk putranya yang manis itu dengan lembut untuk menghibur hatinya.
“Dengar, ibu hanya ingin kau dan kakakmu bersenang-senang. Ibu yakin kau tidak benar-benar marah pada kakakmu, iya kan?”
“Umm…” Ryou menganggukan kepalanya dalam pelukan sang ibu
“Minta maaflah pada kakakmu nanti. Kino tidak akan marah pada Ryou. Ibu yakin itu”
“Aku…aku akan minta maaf. Aku akan minta maaf pada Nii-chan. Hiks…aku ingin dia kembali dan main denganku. Hiks…”
“Ayah akan menemukannya. Tidak akan ada hal buruk yang terjadi padanya. Percayalah”
Sang ibu terus memeluknya dan mengatakan hal yang membuatnya tenang. Ryou yang terus menggenggam erat jus kaleng di tangannya tidak melepaskan pelukan sang ibu.
**
Di pantai, di wilayah berair, Kino berjalan dengan terus melihat ke kanan dan kiri. Banyak anak-anak yang bermain bola pantai dengan keluarga dan teman-teman mereka. Sejak hari itu adalah hari kedua di musim panas, meskipun belum seramai yang diperkirakan namun tetap saja padat dengan orang-orang yang datang untuk berlibur.
“Apa perkiraanku salah? Aku ingat Ryou digendong oleh ayah dan tidak membawa bola atau semacamnya. Kalau memang benar benda itu masih ada bersamanya tadi, itu artinya bola tersebut masih ada saat dia bermain dengan ayah di pantai ini”
Kino berpikir sambil terus berjalan mengitari sisi pantai berair itu. Setelah beberapa lama, akhirnya dia menyerah mencarinya di sana dan bermaksud untuk kembali ke tempat Ryou. Namun, sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Dari kejauhan, terdengar teriakan orang dewasa yang seperti memanggilnya.
“Bocah, minggir dari situ!!”
“Eh?”
-BUUUK
Kepala Kino terkena bola voli pantai yang tidak sengaja mengarah padanya. Bola voli tersebut mengenai kepalanya dengan cukup keras hingga membuatnya pingsan di tempat saat itu juga.
‘Gelapnya…Ryou…pasti menangis karena bolanya hilang. Aku benar-benar…kakak yang buruk…’
**
Di suatu tempat yang teduh, ada beberapa orang yang menunggu seorang anak yang terbaring di sana.
“Mmm…”
Sang anak akhirnya membuka matanya dan melihat ada banyak orang di sekitarnya.
“Ini…dimana?”
Terlihat seorang wanita dan pria yang tersenyum senang serta seorang anak laki-laki lain yang memeluk dirinya begitu dia terbangun.
“Nii-chan!! Huwaaaa…Nii-chan…Nii-chan…”
“R–Ryou?”
Kino, anak yang baru saja bangun dari pingsan langsung mendapatkan pelukan dari sang adik yang menangis tanpa henti. Kedua orang tuanya langsung memeluk dan menciumi pipi anak itu.
“Kau sudah tidak apa-apa, Kino? Bagaimana perasaanmu, sayangku?” tanya sang ibu pada anaknya
“Kino, apa kepalamu masih sakit?” sang ayah mengelus-elus rambutnya dengan lembut
“Aku…aku sudah tidak apa-apa…emm…siapa…kakak-kakak itu?”
Kino melihat beberapa remaja yang terlihat menundukkan kepala mereka dan tampak begitu menyesal. Mereka bahkan membungkukkan tubuh mereka sebagai tanda menyesal.
“Kami benar-benar minta maaf, adik kecil. Seharusnya kami lebih berhati-hati”
“……” Kino kecil hanya terdiam sambil melihat ke arah semua remaja itu
Setelah mendengar cerita dari kedua orang tuanya, Kino akhirnya mengetahui bahwa dirinya terkena bola voli milik para remaja itu ketika mereka bermain di pantai. Dan saat para remaja itu bermaksud menolongnya, ayah Kino melihat kejadian itu dan membawanya ke salah satu pos di pantai. Sang ayah yang membawanya langsung memanggil ibu dan Ryou untuk mengetahui kondisi Kino.
Ryou terus menangis di pelukan sang kakak.
“Hiks…maafkan aku karena marah padamu, Nii-chan. Hiks…huwaaaa”
Melihat adiknya menangis membuat Kino juga jadi ikut menangis.
“Aku juga minta maaf karena sudah meninggalkamu. Gara-gara aku, game kesukaanmu jadi tertinggal di rumah. Aku minta maaf ya, Ryou. Hiks…hiks…”
“Aku yang salah. Hiks…harusnya aku tidak membentak dan menyalahkanmu karena kecerobohanku sendiri. Hiks…maafkan aku…huwaaa”
Sungguh pemandangan lucu sekaligus mengharukan dari kedua anak manis itu. Tidak lama setelahnya, petugas pantai yang sebelumnya bertemu Kino berhasil menemukan bola pantai yang hilang.
Namun sepertinya, ada sedikit perubahan dengan sikap kedua kakak adik itu. Sejak Kino bangun, Ryou tidak meninggalkannya dan terus di sampingnya. Dia terus memanggilnya dengan sebutan Nii-san bahkan mulai melupakan bola pantainya.
Sampai waktunya pulang dan duduk di mobil, dia bahkan terus dekat dengan sang kakak dan enggan untuk duduk jauh dari Kino.
Kedua orang tuanya hanya bisa tersenyum senang melihat perubahan sikap kedua anaknya tersebut. Hal itu mungkin karena perasaan bersalah Ryou yang marah pada sang kakak yang menyebabkan Kino terluka hingga mengalami hal buruk.
Sejak hari itu, Ryou begitu protektif pada sang kakak dan tidak membiarkan Kino melakukan hal aneh dan berbahaya. Dia bahkan memutuskan untuk mengejar prestasi sang kakak agar bisa masuk ke sekolah yang sama dengannya dan berada di kelas yang sama demi melindungi sang kakak.
Hal tersebut masih dilakukannya…sampai saat ini.
“Karena kau adalah yang paling penting bagiku, aku akan berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk melindungimu”
******