Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 147. Permata dan Jiwa yang Indah bag. 8



Di waktu saat ini, di bar.


Cerita Joel cukup mengharukan. Kino mengeluarkan air mata dan memeluk Theo yang kebetulan dekat dengannya.


“Selamat karena kalian mendapatkan orang tua yang baik”


“……” Theo memerah karena malu


Melihat Theo dipeluk oleh Kino, anak-anak lain menghampirinya dan ikut memeluknya. Mereka terlihat senang sekali.


“Kino-niisan, jangan menangis” ucap Stelani


“Aku tidak menangis karena sedih. Ini air mata bahagia. Aku bahagia untuk kalian juga. Selamat ya, Stelani-chan”


“Kino-niisan…”


Sekali lagi, mereka semua berpelukan dan hidup bahagia. Bukan, tampaknya mereka cukup berpelukan saja.


Berbeda dengan Kino yang terharu, Ryou justru melihat Joel dengan tatapan kasihan.


“Paman manager, kau mengasuh mereka semua tapi diabaikan sampai acara selesai saat itu? Apa mentalmu baik-baik saja?”


“Kau tidak terharu dengan ceritaku yang penuh dengan air mata?” tanya Joel


“Aku justru kasihan padamu di akhir cerita. Tadinya ingin menangis tapi tidak jadi”


“……” Joel terdiam dengan wajah aneh


Dalam hatinya, dia sempat bergumam.


‘Dia adik dari Kino, kan? Kenapa sifatnya justru lebih mirip dengan bocah kecil itu? Mulutnya itu sama kejamnya. Aku yakin ada yang tidak benar saat ibunya melahirkan dia. Atau mungkin saja mereka saudara kandung sungguhan’


Kaito yang mendengarkan hanya terdiam sambil menatap Theo. Selama dipeluk, bandul kalungnya sama sekali tidak terlihat karena tertutup kerah pakaiannya. Dia mulai berpikir untuk mengatakan hal penting itu.


Sesekali, dia menyenggol kaki Ryou yang duduk di sampingnya. Ryou menengok dan menyadari hal itu. Dia menepuk pundak Kino sekali dan dia menengok.


“Bagaimana?” bisik Ryou


Kino menghapus air matanya dan mulai terlihat serius. Dia menatap Theo sekilas dan melihat Kaito kembali.


“Kaito-san…” Kino memanggil Kaito dengan wajah serius


Sepertinya keputusan sudah bulat dan Kaito memilih untuk mengatakan maksud dari tujuannya ke tempat itu.


“Theo…” Kaito memanggil Theo yang ada di dekat Kino


“Ya? Ada apa, Kaito-nii?”


“Aku ingin tau apakah kalungmu itu–”


“Aku sudah membuat ayam goreng dan sup daging. Kita makan dulu ya”


Sebelum Kaito melanjutkan kembali kalimatnya, Maggy datang dengan membawa makanan. Tentu saja akhirnya semua anak-anak itu menghampirinya dengan senang.


“Kino-nii, aku akan membantu Maggy-mama dulu”


“Ah…Theo-kun…”


Theo langsung berdiri dan pergi untuk membantu Maggy membawakan piring dan makanan. Stelani dan Fabil menata meja dan kursi bar agar seperti meja makan sedangkan yang lain pergi ke dapur untuk membawakan menu makanan lain.


Ryou melirik Kaito yang masih terlihat serius menatap Theo, kemudian dia berbisik pada Kino.


“Bagaimana sekarang?”


“Aku rasa kita harus menunggu sampai momennya tepat. Kita tidak mungkin menghancurkan momen bahagia seperti ini” jawab Kino dengan tatapan ragu


Kedua kakak beradik itu melihat Kaito. Meskipun membutuhkan waktu beberapa detik, namun dia akhirnya menyadari tatapan itu dan tersenyum sambil berkata dengan nada pelan.


“Aku baik-baik saja. Kita bisa menunggu sebentar”


“……” kedua remaja itu terdiam mendengarnya


Sekarang, momen hangat mengelilingi bar tersebut. Mereka bertiga berkumpul di tengah kebahagiaan anak-anak itu bersama keluarga barunya.


Bukan bermaksud untuk menghancurkan momen indah, tapi sepertinya mereka bertiga masih belum terbiasa dengan keadaan tersebut. Ditambah lagi, tujuan mereka sekarang bukanlah untuk ikut makan siang bersama.


Karena keanehan yang dimiliki oleh ketiga remaja itu, mereka benar-benar tidak makan apapun. Minuman pertama yang diminum oleh mereka adalah sebagai bentuk tata krama dalam bertamu.


“Kenapa tidak dimakan? Apakah tidak sesuai selera kalian?” tanya Maggy pada ketiganya


“Jangan pikirkan kami, kalian bisa menghabiskannya” jawab Kino sambil tersenyum


“Tapi bukankah kau baru saja keluar dari rumah sakit? Makan yang banyak itu penting. Ayo dimakan” Maggy mulai memaksa


Dia segera mengambil sup dan daging ayam untuk ketiganya. Sekali lagi, mereka terpaksa memakannya satu sampai tiga suap sebagai bentuk tata krama.


Ryou sempat bergumam dalam hatinya.


‘Perutku mual. Aku benar-benar tidak membutuhkan makan sekarang’


Kaito meletakkan garpunya di atas piring dan mulai bicara serius. Ini seperti dia sudah tidak bisa menundanya terlalu lama.


“Maaf, aku tidak bermaksud merusak kebahagiaan ini. Tapi, aku…bukan, kami bertiga tidak bisa terus berada di tempat ini”


“……!!” Yuki bersaudara terkejut


Semua anak-anak itu termasuk orang dewasanya terdiam. Mereka menghentikan makan sebentar dan bertanya.


“Ada apa Kaito? Kenapa mendadak serius sekali?” tanya Arkan yang kebetulan duduk di dekatnya


“Theo, aku ingin bicara denganmu” Kaito langsung menatap Theo dan memanggilnya tanpa basa-basi


“Ada…apa…Kaito-nii?”


Entah kenapa, mendadak Theo merasa takut.


‘Kenapa ini? Perasaan ini terasa berat. Padahal sejak Kaito-nii menolong kami semua, aku tidak pernah merasakan rasa takut seperti pertama kali melihatnya. Kenapa sekarang, mendadak aku merasakannya lagi?’ gumamnya dalam hati


“Kaito-san…” Kino hanya bisa memanggilnya dengan suara pelan


Ryou mulai menggunakan pikiran kritisnya.


‘Lakukan Kaito! Kita harus segera pergi dari ‘dunia’ aneh ini! Meskipun…kami mungkin harus berpisah denganmu…tapi kemungkinan itu masih belum pasti!! Jumlah kepingan yang hilang masih tidak diketahui. Namun sejak yang satu ini sudah jelas di depan mata, sudah saatnya untuk mengambilnya tanpa penundaan!’


“Theo, maaf sebelumnya. Mungkin semua yang aku katakan pada kalian sangat sulit diterima. Tapi…aku ingin milikku kembali”


“Milik…’milikku’ itu apa maksudnya, Kaito? Apa yang terjadi?” Joel ikut bingung


“Sebelumnya, aku ingin menjelaskan siapa aku pada kalian. Aku adalah orang yang berasal dari tempat yang berbeda dengan kota ini”


“……”


“Kaito-niichan, apa maksudnya itu? Kalian memang tidak tinggal di sini kan?” tanya Michaela


“Aku memang tidak berasal dari sini, tapi yang kumaksud adalah dunia. Aku berasal dari ‘dunia’ yang berbeda. Atau mungkin dimensi yang berbeda dengan kalian. Bisa dikatakan aku adalah penjelajah ruang dan waktu”


“……” semuanya terdiam


Tidak ada seorang pun dari mereka yang berkedip. Hanya sampai beberapa detik, semua anak-anak itu tertawa mendengarnya. Bahkan Joel dan Maggy juga ikut tertawa mendengarnya.


Hanya satu orang yang menganggap itu adalah hal serius yaitu Arkan. Dia melihat mata Kaito. Ditambah lagi dengan raut wajah Kino dan Ryou yang menunjukkan bahwa itu bukanlah sebuah lelucon.


‘Mereka…mungkinkah…’ pikir Arkan


“Kaito, kau lucu sekali. Ahahaha~” Joel tertawa


Ketiga remaja itu terdiam dengan ekspresi serius. Tidak lama setelah itu, Kino mulai bicara.


“Joel-san, aku tau kalian mungkin sulit untuk percaya pada apa yang dikatakan Kaito-san. Tapi, aku harap kalian mau mendengarkan penjelasan kami”


Seketika keadaan menjadi hening. Anak-anak itu jadi sedikit panik sekarang. Mereka begitu percaya pada Kino sehingga wajah serius remaja itu cukup berdampak pada mereka sekarang.


“Kino-niichan…itu hanya candaan, kan? Semua itu tidak serius kan?” Fabil bertanya pada Kino


“Aku minta maaf” Kino hanya bisa tertunduk


Kaito kembali melanjutkan pembicaraannya.


“Aku datang dari ‘dunia’ yang berbeda dengan tempat ini. Namaku yang kalian kenal hanyalah sebuah panggilan karena aku kehilangan ingatanku”


“Eh?”


“Aku kehilangan semua ingatanku yang terpencar menjadi sebuah permata ungu dan tersebar ke seluruh ‘dunia’ dan dimensi asing yang tidak pernah kudatangi. Salah satunya adalah tempat ini”


“……” semuanya terdiam dengan wajah pucat


Theo seketika menjadi sangat pucat sambil menggenggam kerah pakaiannya.


‘Permata…ungu…’


Kaito melihat Theo. Wajah anak itu tampak begitu ketakutan dan penuh dengan rasa cemas.


“Permata ungu yang kulihat pada Theo…itu adalah kepingan ingatanku. Aku telah mengorbankan banyak hal untuk mendapatkannya. Dan aku bermaksdu untuk memintanya kembali”


-Braak


Terdengar Joel memukul meja untuk menghentikan penjelasan Kaito.


“Kaito, kurasa kau mulai merusak acara makan siang ini” Joel menatap Kaito dengan tatapan sinis


“Joel-san, maafkan kami. Kami…”


Kino mencoba menenangkan emosi Joel, tapi pria besar itu langsung memotong pembicaraannya sebelum selesai. Sekarang, dia tidak ingin fokus pada orang lain kecuali Kaito.


“Aku tidak bermaksud meragukan kalian, tapi lelucon ini sudah keterlaluan. Selain itu, aku tidak begitu paham dengan ucapan kalian yang berkata kalau kalian berasal dari dunia lain atau apapun itu”


“Apakah aku perlu memberikan bukti nyata?” Kaito mulai menantang Joel


“Jika kau punya, maka buktikan”


Kaito terdiam. Ini tidak seperti dia benar-benar memiliki bukti nyata sekarang. Awalnya hanya menggertak, namun sekarang dialah yang disudutkan.


Bisa dikatakan bahwa Kaito sebenarnya tidak memiliki bukti konkrit dan itulah yang terjadi.


‘Dasar bodoh! Apa yang kau katakan, Kaito! Bukti nyata itu tidak kita miliki! Kalaupun menjadikan jam saku sebagai buktinya, jam itu tidak punya sihir seperti yang lain! Ini tidak akan mudah. Rencana gagal! Bagaimana ini!’ Ryou bergumam dengan wajah panik


Merasa semua keadaan menjadi di luar kendalinya, Kino mencoba melakukan sesuatu dengan itu.


“Joel-san, kami minta maaf karena sudah tidak sopan dan menghancurkan suasana indah ini. Tapi, tujuan kami adalah untuk membahas tentang permata milik Theo-kun”


“Kino-nii…” Theo tampak syok


“Sejujurnya, kami tidak bisa secara langsung menunjukkan bukti pada kalian karena adanya beberapa hal. Tapi, kami tidak berbohong mengenai hal itu. Aku dan Ryou…kami bukan berasa dari tempat yang sama dengan Kaito-san maupun tempat ini. Kami berdua datang dari Negara bernama Jepang”


“Jepang?” Arkan menjadi bingung


“Benar. Negara Jepang. Negara itu tidak pernah ada di benua ini, benar kan?”


“……” Joel terdiam


Dia mulai duduk dan melihat Kino. Sejak mendengar anak-anak itu menyukai dan begitu percaya padanya, Joel tidak memiliki banyak alasan untuk menganggap perkataan Kino sebagai bualan. Tapi, dia juga tidak akan menganggap semua itu serius sampai melihat semua buktinya sendiri.


“Aku dan Ryou berasal dari Jepang. Kami sampai ke tempat ini karena unsur ketidaksengajaan dan sedang mencari jalan untuk pulang kembali ke Jepang. Sedangkan pertemuan kami dengan Kaito-san adalah murni sebuah kecelakaan karena sesuatu yang berbahaya saat itu” lanjutnya


Di meja itu, Kino akhirnya berkata jujur. Semua pertemuannya dengan Kaito, masalah penyerangan goblin itu, adanya ‘kedua dunia’ dan perulangan, semua diceritakan tanpa ada yang terlewatkan.


Ryou hanya diam tanpa membantah atau memotong cerita sang kakak, sedangkan Kaito terus terlihat serius sambil menatap tangan Theo yang menggenggam bandul kalungnya di balik kerah pakaian.


Selama kurang lebih 45 menit Kino bercerita tentang perjalanan mereka hingga mengetahui tentang permata milik Kaito.


Arkan terlihat pucat dan Maggy hanya bisa menutup mulutnya karena tidak percaya semua itu. Semua anak-anak


kecil itu mulai ketakutan dan gemetar. Lalu, Joel yang diam sambil terlihat emosi.


“Omong kosong!!” bentak Joel


“Itu kebenaran yang kami alami. Kami tidak berbohong. Bahkan sejujurnya kami bertiga memiliki keanehan dalam diri kami sejak datang ke tempat ini” Kino mencoba meyakinkan Joel


‘Keanehan?’ Arkan mulai menyadari sesuatu


Dia ingat Jack yang datang ke bar saat itu mengatakan sesuatu pada Joel. Tentu saja Arkan yang ada di dekat Jack mendengar hal itu dengan jelas.


[Bukan memiliki maksud tertentu. Kami memang hanya ingin bertemu dengan mereka. Tapi, kami memang bermaksud untuk mencari tau lebih dalam tentang mereka. Sejak keanehan di tubuh mereka masih belum bisa dijelaskan dengan akal sehat iblis seperti kami]


“Manager…” Arkan memanggil Joel dengan wajah pucat


Joel menengok Arkan dengan ekspresi marahnya, namun hal itu tidak ditakuti Arkan. Justru kalimat dari mulutnya itulah yang sekarang membuat Joel panik.


“Manager, kau ingat apa yang dikatakan oleh Jack-sama mengenai Kino dan Kaito saat datang ke bar? Jelas sekali bahwa Jack-sama mengatakan bahwa dia ingin mengetahui lebih dalam tentang keanehan tubuh remaja itu karena iblis pasar gelap seperti mereka saja tidak mengetahuinya”


-Deg


Joel menjadi pucat. Anak-anak itu juga semakin takut. Beberapa memilih memeluk Stelani dan Fabil, ada anak yang memeluk ibu baru mereka, Maggy.


“Kami…tidak memiliki aroma tubuh dan tidak memiliki rasa kantuk sejak kami datang ke tempat ini”


******