
Riz yang seperti terkena serangan mental seakan berteriak di dalam hatinya.
‘Mererka benar-benar mau membuatku terbunuh’
Jack bertanya sekali lagi pada Riz.
“Jadi, bagaimana? Kau ingat dengan siapa kau datang kemari, kan?”
“A–aku ingat! Tapi, jika yang Jack-sama maksud adalah pria berpedang tanpa sarung pedang itu…kurasa dia dan temannya tidak akan bisa masuk ke tempat ini karena mereka dicegah oleh paman Will” jelas Riz dengan ekspresi wajah panik
“Aku tau itu, tapi kau dengar apa yang Lucy katakan tadi, kan? Buktinya sekarang mahakaryaku hilang. Memang orang dengan luka seperti itu bisa siuman lalu lari dari ruangan itu seperti punya sihir? Kalau sihir itu ada di dunia ini, aku akan langsung beralih profesi dari pedagang menjadi tukang sulap”
“……” Riz tidak bisa menjawabnya
Sekarang, dia mulai berpikir sebuah prasangka yang tidak masuk akal miliknya.
‘Arkan bilang padaku bahwa Kaito yang membunuh Justin dengan mudah. Itu artinya dia memang memiliki kemampuan bertarung sehebat itu. mungkinkah dia bertarung dengan paman Will dan berhasil masuk ke tempat ini setelah mengalahkannya? Tapi…itu paman Will! Dia itu kuat dan memiliki tubuh yang lebih besar dari Justin. Mustahil dia bisa mengalahkannya seorang diri!!’
Semua pemikiran di otak Riz membuatnya semakin menjadi cemas.
‘Padahal aku hanya perlu mengambil uangku dan membeli remaja itu untuk membawanya pergi! Kalau begini, bisa-bisa pertukaran dan transaksinya batal!’
Riz melihat wajah Jack yang masih tersenyum santai.
“Ja–Jack-sama…sekarang, apa yang akan dilakukan olehmu? Apakah pertukarannya…dibatalkan dan Anda bermaksud menangkap kembali ketiga orang itu?” Riz bertanya dengan takut
“Tentu saja tidak. Untuk kedua malaikat Justin sudah kuabaikan. Tapi…”
-Deg
Riz melihat sorot mata dingin dari wajah Jack. Perasaan yang sama seperti yang dia rasakan di atas sebelumnya. Aura membunuh, itulah yang ditunjukkan oleh wajah dan sorot mata tajam Jack. Senyumnya menghilang berganti dengan tatapan dingin dan nada suaranya menjelaskan hal tersebut.
“…Aku ingin remaja itu kembali. Bahkan jika aku kehilangan kendali diriku, jangan salahkan aku jika aku tidak sengaja membunuhnya”
“Ta–ta–tapi…bukankah Anda bilang kalau Anda akan menunggu sampai–“
“Karena itu, kau harus membantuku mendapatkannya kembali. Setelah itu, kau bisa membelinya selagi masih ada waktu. Untuk remaja itu, aku tidak akan memberikan toleransi apapun. Transaksinya hanya dengan pembelian secara cash”
Riz sudah yakin sekarang, bahwa cara yang dia miliki hanya dengan jalur uang.
Jack mulai berjalan ke arah jalan utama pasar gelap.
“Ayo, kalau beruntung kita masih bisa mengejarnya”
“Apa maksudnya itu?” Riz bertanya dengan wajah bingung
“Kalau tebakanku benar, temanmu yang menerobos masuk itu masih ada di sekitar tempat ini. Dan satu-satunya jalan keluarnya adalah dengan melewati gerbang di depan. Jika mereka sedang sial, mereka harus bertemu dengan istriku nanti”
**
Di jalan utama pasar gelap, Arkan masih tertekan dengan situasinya saat ini. Bukan hanya harus berpikir kemana dia bisa menemukan Stelani dan Fabil, tapi dia harus melihat wanita cantik di sampingnya menari-nari bersama kepala karyawannya yang baru saja terbunuh sebagai partner dansa.
“Will, lihat! Aku memutar kepalamu seperti ini! Dulu saat kau masih hidup, kau lebih tinggi dariku. Sekarang aku lebih tinggi darimu dan kau lebih kecil~”
“Bisakah Seren-sama tidak bermain-main dengan kepala manusia seperti itu? Mereka menjijikkan dan mengerikan!” Arkan berusaha menutupi mulutnya dengan kedua tangannya
Seren yang mendengar itu langsung melihat ke arah Arkan dan berkata dengan nada dingin.
“Orang yang sudah menjatuhkan kue dan teh buatanku lebih baik diam. Aku tidak mau bicara denganmu, dasar orang tampan tidak punya hati!”
“Wa–!” Arkan terkejut dan ingin sekali berteriak mendengarnya
“Bukan. Dasar jomblo tidak punya hati. Makanya sampai sekarang kau belum menikah. Lihat suamiku yang manis. Meskipun usianya lebih muda setahun darimu tapi dia sudah menikahi putri cantik sepertiku” lanjut Seren dengan nada dingin
-Jleb
Kalimat dingin dari Seren benar-benar membuat serangan mental untuk Arkan. Arkan memilih untuk diam dan mencelanya dalam hati.
‘Dasar pasangan psikopat! Tentu saja dia hanya bisa menikahi psikopat sepertimu juga! Mana ada wanita normal yang mau menikahi pembunuh dan maniak mayat! Orang stress saja tau kalau dia itu berbahaya! Dasar wanita gila!’
“Ta–tapi, tadi Seren-sama masih bicara padaku dengan normal” Arkan bertanya untuk membuat wanita itu tidak bersikap dingin padanya
“Tadi ya tadi, sekarang ya sekarang”
“……” Arkan hanya diam dengan wajah aneh
Sudah tidak mau berdebat demi hal yang tidak perlu, Arkan mengambil kantong bekal yang dia jatuhkan dan berlari ke arah tempat Jack berada.
Seren dengan gerakan cepatnya berhasil menghentikan Arkan dengan menarik tangannya.
“Mau kemana?” tanya Seren sambil memeluk kepala Will dengan tangan lainnya
“Aku harus kembali ke tempat Jack-sama! Mungkin saja anak-anak itu masih di sana!”
“Kau pikir mereka akan pergi ke tempat dimana mereka disekap? Itu adalah pemikiran yang lucu sekali, Arkan”
“Tapi–“
“Seharusnya bukan ke sana kau berlari tapi ke arah sini” Seren melepaskan tangan Arkan dan menunjuk jalan di belakangnya
Itu adalah arah menuju pintu gerbang, satu-satunya akses untuk keluar dari tempat itu.
“Jalan itu…jalan menuju pintu gerbang…”
“Penjaga gerbangnya memang sudah mati, tapi dengan kunci yang belum diambil kemungkinan besar mereka masih belum bisa keluar dari tempat ini. Tadi aku sudah bilang padamu, kan? Kenapa kau melupakannya secepat itu?”
“La–lalu, bagaimana dengan pelaku yang membunuh penjaga gerbang itu?!”
“Kemungkinan mereka ke tempat suamiku bisa saja terjadi. Tapi mereka belum tentu juga ke sana. Itu juga sudah kujelaskan tadi”
“Maksudnya?”
“Aku hanya menebak. Aku juga tidak tau dimana mereka. Yang jelas, mereka ada di dalam tempat ini dan sekalipun kau mencari mereka, kau hanya akan menjauh dari mereka karena besar kemungkinan kalian memilih
jalan yang berbeda”
Arkan yang mendengar ucapan Seren mulai kehilangan kendali dirinya dan berteriak sambil terlihat
emosi.
“Kenapa jadi merepotkan begini!! Ini semua karena ulah gorilla itu! Kalau saja dia tidak pergi ke tempat kalian dan meminta tolong untuk menangkap Kaito, semua ini pasti tidak akan terjadi!! Dasar sial! Sudah mati saja masih membuat orang lain repot! Bahkan aku masih harus berpikir bagaimana menjelaskan pada manager soal bar yang hancur lebur saat kembali nanti karena ulahnya juga!!”
Seren mendengar sesuatu yang menarik perhatiannya dari semua isi hati Arkan.
“Arkan, kau tadi menyebut nama Kaito? Siapa itu Kaito?”
-Deg
“Eh?” Arkan tersadar dan memasang wajah panik
Seren mengingat hal mengenai perkataan Arkan.
[Aku tidak yakin aku bisa memberitahu namanya kepada kalian tapi jika hanya ciri-ciri fisik aku mungkin masih bisa memberikannya]
Seren jelas mengingat semua itu dan akhirnya dia mengetahuinya.
“Jadi, nama pria berpedang tanpa sarung pedang itu adalah Kaito ya”
“A…itu…umm…” Arkan menjadi gugup dan panik seketika
“Nee~apakah pria berpedang tanpa sarung pedang itu benar bernama Kaito?”
“……” Arkan tidak menjawabnya dan hanya mundur satu langkah ke belakang
“Jadi benar ya Kaito. Berarti dia yang membunuh Will dan memenggal kepalanya dengan tebasan cantik seperti ini?” tanya Seren lagi dengan nada lembut dan senyum manis
“…A–aku tidak yakin tapi…mu–mungkin…”
“Huwaa~aku suka hasil potongannya ini. Dia pasti sudah terbiasa bertarung. Dia yang membunuh Justin juga, kan? Kira-kira bisa bertemu dengannya juga tidak ya~”
Sekarang Arkan benar-benar dalam masalah.
‘Tuhan, jika kau masih sayang pada nyawaku dan mereka semua….aku mohon apapun yang terjadi, jangan biarkan pasangan psikopat itu bertemu dengan Kaito atau kami semua akan menghadap-Mu sebentar lagi! Aku mohon tolong jangan biarkan hal itu terjadi!’ Arkan berdoa dalam hati
Seren yang senang sudah mengetahui nama pria yang pernah menjadi targetnya berputar-putar dan menari-nari lagi dengan kepala Will.
“Nee, Will…kau dibunuh oleh orang yang pernah jadi target kita. Dia kuat ya, kuat kan? Kau saja bisa mati seperti ini”
Arkan yang melihat tarian ‘kematian’ itu menjadi pucat dan dengan cepat, dia langsung berlari menuju arah pintu gerbang.
“Arkan?” Seren berhenti menari dan memanggil Arkan yang meninggalkannya
‘Aku tidak punya waktu meladeni wanita gila itu dan semua omong kosongnya! Terserah saja apakah aku bisa bertemu dengan anak-anak itu di pintu gerbang atau tidak! Yang jelas, aku harus memastikan mereka aman dan tidak terlibat masalah!’ pikir Arkan dalam hati
Arkan tidak lagi memedulikan Seren yang tertinggal di belakang.
Melihat Arkan meninggalkannya, Seren hanya menghela napas sambil memeluk kepala Will dalam dekapannya.
“Nee, kau mau bertemu dengan pria bernama Kaito itu tidak? Kalau mau, ikut denganku ya” Seren bicara sendiri dengan kepala Will sambil tersenyum
Dengan santai, dia berjalan menuju gerbang keluar dengan senyum manis.
“Kuharap aku bisa bertemu dengan Kaito itu. Hmm~hmm~hmm~” ucap Seren sambil bersenandung
**
Ryou berlari secepat yang dia bisa sambil mendorong gerobak itu. Kaito yang berlari di belakangnya mulai menyadari kecepatan Ryou yang mulai melambat.
‘Tampaknya Ryou sudah mulai kelelahan’ gumam Kaito dalam hati
“Ryou-niichan, kita belok kiri setelah ini agar sampai ke jalan yang tadi!” teriak Fabil yang berlari di samping Ryou
“Aa!” jawab Ryou
“Ryou, Kau baik-baik saja?” tanya Kaito yang berlari di belakangnya
“Kaito-niisan? Apa ada sesuatu?” Stelani yang digendong oleh Kaito bertanya sambil melihat ke arah Ryou
Gadis kecil itu melihat punggung kakak yang mendorong gerobak itu dengan sekuat tenaganya. Tidak lama setelah itu, dia memperhatikan kaki yang berlari itu mulai terlihat melambat.
“Ryou-niisan…kelelahan…” kata Stelani pelan
Kaito yang mendengar gumaman kecil gadis itu berteriak memanggil Ryou kembali sambil menambah kecepatannya.
“Ryou! Kalau kau lelah, kita bisa bergantian membawanya! Sebentar lagi kita akan kembali ke jalan utama area ini dan–“
“Jangan berpikir untuk berhenti sebelum kita berhasil keluar dari tempat ini!” jawab Ryou dengan sorot mata tajam
“Ryou…”
“Aku tidak akan membiarkan kakakku mati…”
Ryou melihat ke arah gerobak dan berdoa dalam hati.
‘Kami-sama, selamatkan Nii-san. Aku mohon, selamatkan Nii-san!’
Fabil menunjuk arah kiri di depannya dan dengan cepat Ryou mengatur jarak agar bisa membelokkan gerobak yang dia dorong.
Setelah itu, mereka tidak menurunkan kecepatannya dan berlari hingga terlihat akhir dari gang tersebut.
“Depan lalu belok kanan dan kita akan sampai di jalan tadi!” teriak Fabil
“Aku tau!” jawab Ryou
Saat mereka berhasil keluar dari gang itu, terlihat bahwa mereka sampai di jalan tempat keempatnya bertemu beberapa saat lalu. Tempat itu adalah jalan utama area pasar gelap.
Dari sini, satu-satunya hal adalah berlari lurus agar bisa ke gerbang dan keluar dari tempat itu.
“Tinggal sedikit lagi dan kita akan keluar dari sini!. Setelah itu, aku akan membawamu ke rumah sakit dan semua akan baik-baik saja! Bertahanlah, Nii-san!” ucap Ryou
Wajahnya menunjukkan kepanikkan dan rasa cemas, namun itu semua bukan hal penting yang harus dipikirkan.
Saat berlari, mereka melewati tempat yang tidak asing. Fabil yang mulai kelelahan memperhatikan ke jalanan yang dilewatinya.
‘Darah?’ gumamnya dalam hati
Anak itu memperhatikan pakaian Ryou dan Kaito di belakangnya yang penuh dengan noda darah. Dia juga mengingat apa yang dikatakan oleh kedua orang itu.
‘Ryou-niichan dan Kaito-niichan bertarung dan mengalahkan pria besar itu. Itu artinya…’
Baru mulai menebak, Fabil teriak dan berhenti ketika melihat tubuh tanpa kepala dengan darah yang membanjiri sekitar mayatnya itu.
“Waaa!!!”
Fabil berhenti dan ketakutan. Sontak hal itu membuat Ryou yang sudah berada sedikit di depannya berhenti, begitu pula dengan Kaito yang menggendong Stelani di belakangnya.
“Fabil, kenapa berteri….Aaah!!!” Stelani ikut berteriak dan bersembunyi di balik punggung Kaito
Kaito tidak bisa menghentikan suara teriakan gadis kecil itu yang cukup membuat telinganya sakit. Dia melihat ke samping jalan.
“Itu mayat penjaga gerbang. Dia sudah mati, tidak perlu khawatir” kata Kaito mencoba menenangkan gadis kecil itu
“Tapi…tapi tidak ada kepalanya!!” Stelani menjawab dengan tubuh gemetar
“Tenang saja. Kepalanya ada di…eh?”
Kaito menyadari sesuatu. Dia melihat ke sekeliling tempat itu dan menemukan hal yang tidak terduga.
“Kepalanya…tidak ada? Selain itu…”
Benar, meski samar ada jejak kaki yang terbuat dari darah di sana. Kaito langsung berubah menjadi panik.
“Ryou! Kita harus berhati-hati dari sini!” teriak Kaito
“Kita tidak punya waktu untuk berada di tempat ini lebih lama lagi, Kaito! Aku harus segera menyelamatkan Kino atau–“
“Ada orang yang telah berjalan di depan kita!”
“Eh?”
“Di depan sana…ada orang lain yang sudah menunggu kita”
Seketika mereka semua langsung berubah pucat dan suasana berubah menjadi tegang.
******