Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 69. Awal Pertarungan di Tempat Asing bag. 3



Kaito sudah mendapatkan kesadarannya kembali dan hal pertama yang membuatnya syok adalah ketika mendengar ancaman Arkan yang tidak aman bagi dompetnya.


“Jangan membunuh dia atau kau yang harus membayar hutangnya!!”


Bagaikan disambar petir, Kaito langsung mendapatkan kembali sorot mata biru yang indah miliknya dan menengok ke belakang.


“Oi, tuan bartender. Aku baru mengenalmu dan baru melawan pria bernama Justin ini kurang dari setengah jam. Aku tau tempat ini tidak mengenal hukum tapi bukan berarti kau menimpahkan hutang orang ini kepadaku!. Aku akan menuntutmu nanti!!” protes Kaito


“Kau sendiri yang bilang tempat ini tidak ada hukum jadi kau tidak bisa menuntutku, dasar bodoh!”


“……” Kaito diam dengan wajah aneh


Pikiran jernih Kaito mulai membawanya pada perasaan déjà vu.


‘Kenapa aku merasa bartender ini mirip sekali dengan Ryou? Sama menyebalkannya, sama cerewetnya, sama-sama bermulut pedas. Yang membedakan dia lebih tua dariku dan Ryou. Satu mulut pedas milik Ryou saja sudah cukup membuatku gila, kenapa harus bertemu dengan yang kedua? Tidak adakah remaja dunia lain yang tersasar ke tempat ini dengan pribadi yang baik dan teladan seperti Kino?’


Keberuntungan Kaito memang tidak bisa diajak berteman olehnya, tapi setidaknya dia bisa menemukan jam saku milik kedua kakak beradik itu.


“Kh….ukh…” Justin masih merintih di tanah dengan darah yang terus mengalir


Tampaknya Kaito dan Arkan terlalu serius membahas masalah hutang piutang sampai melupakan Justin yang terlihat menderita dan sekarat.


“Oh, maaf karena melupakanmu. Hmm? Ada apa dengan tanganmu? Kenapa kau memotong tanganmu sendiri?” Kaito bertanya dengan wajah bingung dan serius


“……” Arkan melihat kondisi Justin yang tidak berdaya dalam diam


“Dasar…sampah…terku…terkutuk!!” kata Justin kepada Kaito seakan tidak menyadari betapa menyedihkannya dia


Arkan hanya dapat terdiam dan melirik ke arah wajah dingin Kaito serta posisi menyedihkan dari Justin.


Dalam hatinya, tidak ada hal lain selain pertanyaan tentang situasi yang ada di depannya.


‘Itu…benar-benar Justin?! Orang yang membunuh lima orang dengan mudahnya semalam sekarang bahkan terlihat menyedihkan seperti itu? Bagaimana mungkin? Selain itu, pemuda bernama Kaito ini juga begitu berpengalaman dalam hal bertarung lebih dari Justin. Aku mungkin berpikir dia bisa seimbang melawan Seren-sama’


Kaito benar-benar tidak begitu mengingat apa yang terjadi sebenarnya. Ingatannya begitu samar sampai dia melihat pedangnya berlumuran darah segar dari Justin.


“Jangan bilang kalau ini semua perbuatanku?” Kaito melihat Arkan dan bertanya padanya


“Jangan katakan kau lupa perbuatanmu sendiri. Itu lihat! Kedua lengan itu bahkan masih ada di depan kakimu”


“……” Kaito melihat ke bawah dan terdiam


Sudah tidak mau menyesali perbuatannya yang dianggapnya benar, Kaito langsung mengayunkan pedangnya untuk membersihkan darah di mata pedangnya dan menyimpannya kembali.


Setelah dia menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan berat, Kaito berlutut dan menatap Justin yang terus merintih kesakitan. Suara rintihan itu tidak begitu dipedulikan oleh Kaito jadi adegan tersebut tidak perlu dibuat dramatis.


“Kau harus berterima kasih padaku karena hanya membuat kedua lengan itu terpisah dari tubuhmu. Jika aku lengah sedikit dan terbawa emosi lebih dari ini, mungkin kepalamu yang terlepas dari tempatnya”


“Kurang…ajar…”


“Oi, perhatikan ucapanmu itu. Aku sempat bertanya padamu tapi kau sama sekali tidak menjawabku. Sepertinya kau tipe orang yang suka menyiksa orang lain dan suka disiksa orang lain. Apa perlu aku melakukannya sekarang?”


Mata dingin Kaito kali ini tampak seperti pembunuh di mata Justin. Tidak hanya aura mengerikan yang menyelimuti cara menatapnya, tapi juga nada bicaranya terdengar tidak memiliki rasa kasihan.


Sekarang, Justin benar-benar dibuat tidak bisa melawan.


“Apa…maumu?” tanya Justin


“Pertanyaan pertamaku belum kau jawab jadi tolong kau jawab. Apa benar kau yang selalu menyiksa Theo dan teman-temannya?”


“Itu…aku hanya…memukul mereka jika…mereka tidak…tidak membawakanku uang”


“Itu sama saja kau menyiksanya. Apa susahnya mengakui hal itu? Pada akhirnya aku juga akan membuatmu menyesal” jawab Kaito sinis


Arkan yang mengingat kembali tujuannya menghampiri Kaito akhirnya berteriak.


“Kaito, ini bukan saatnya untuk itu! Seren-sama mungkin sudah sampai di tempat anak-anak itu!”


“Seren kau bilang? Ahahahahaha!!!” Justin tertawa terbahak-bahak ditengah situasi buruknya itu


Setelah puas tertawa, dia terlihat sombong sambil menahan sakit.


“Jadi…mereka sudah mendapatkan tikus tidak berguna itu? Baguslah! Dengan begini…aku tidak perlu mengkhawatirkan apapun! Memang sangat…disayangkan. Tapi, aku tidak harus melihat…wajah menyebalkan tikus…tidak…berguna itu!” kata Justin dengan terbata-bata


Sekarang wajah Arkan pucat dan wajah Kaito menjadi sinis.


-BUUK


Suara yang cukup keras diciptakan oleh Kaito. Dia menendang wajah Justin dan menginjak wajahnya itu dengan kakinya. Sepatu yang dipakainya terkena darah dari hidung dan mulut Justin dan sekarang situasi Justin hanya tinggal menunggu waktu.


“Tuan bartender–”


“……A…Apa?”


“Aku sudah cukup muak untuk bertanya padanya dan akan mulai mendengarkanmu saja. Kau bilang wanita bernama Seren itu berada di wilayah gelap, iya kan?”


“Benar” Arkan menjawabnya dengan nada tenang


“Kau juga mengatakan bahwa mereka adalah pembunuh sekaligus pedagang yang khusus menjual tubuh manusia tidak peduli dalam keadaan hidup atau mati, benar kan?”


“Be–benar”


“Kalau begitu–”


Kaito sepertinya mengatakan sesuatu dan seketika wajah Arkan berubah menjadi syok dan kaget.


“Eh? Apa kau sudah gila?”


******


Theo yang terus menangis dalam pelukkan Ryou masih tidak berhenti mengatakan hal yang sama terus menerus.


“Aku mengutuknya!! Aku tidak akan pernah memaafkannya! Aku tidak akan memaafkannya! Dia iblis, dia pantas mati. Dia pantas mati!!. Aku berharap dia mati!!”


Sampai saat ini, keduanya tidak menyadari ada sesuatu yang bersinar di dalam kerah baju Theo. Cahaya kecil yang masih terus bersinar seiring dengan kalimat kutukan untuk Justin.


Ryou yang mendengar isak tangis itu mencoba menahan dirinya sebentar sebelum dia mulai lelah dengan tangisan itu.


“Theo…Theo…” Ryou mengusap-usap punggung anak itu sambil memeluknya


“Hiks…Hiks….Aku berharap dia mati!! Aku membencinya, aku membencinya!!”


“Ini bukan saatnya untuk menangis. Kita harus segera pergi ke tempat temanmu. Tenangkan dirimu agar tidak emosi. Aku sudah katakan bahwa aku akan membantumu, ingat? Kendalikan dirimu dan aku akan menyelamatkan teman-temanmu itu, percayalah”


“Hiks….”


Ryou sudah berusaha untuk menenangkannya. Seketika cahaya kecil dari balik kerah bajunya meredup dan Theo melepaskan pelukan eratnya. Dia segera menghapus air matanya dan terlihat sangat serius. Melihat itu, paling tidak Ryou tidak harus membentaknya untuk diam.


“Sudah selesai menangis?”


“Aku…aku tidak mau membuang-buang waktuku! Ryou-nii…kumohon…tolong aku dan teman-temanku” Theo meminta bantuan Ryou meskipun dengan suara terbata-bata setelah menangis


Ryou tersenyum dan membantu Theo berdiri.


“Lari secepat yang kau bisa dan aku akan mengikutimu. Tunjukkan dimana kau tinggal”


Setelah puas menangis dan mendapatkan kepercayaan dirinya kembali, Theo langsung berbalik dan berlari secepatnya


Selama berlari, Ryou merasa bahwa dia telah membuang-buang waktunya. Pikirannya penuh dengan hal rumit


‘Tidak ada jaminan mereka masih ada di rumah bocah itu. Selain itu, jika apa yang dikatakan Theo benar, itu artinya aku harus bertarung dengan orang yang selevel dengan Kaito bahkan mungkin di atasnya. Apa aku bisa melakukannya? Yang jelas seandainya itu benar, maka kemungkinan aku harus bertarung dengan mempertaruhkan nyawaku’


[Aku mulai merasa bahwa kau mulai kehilangan kesadaran akan nilai kemanusiaan di sini]


[Kau bicara dengan begitu ringan seakan-akan nyawa manusia itu tidak ada artinya!]


[Kau juga manusia jadi sebaiknya jangan semudahitu mengatakan bahwa kau akan membunuh manusia lain tanpa berpikir terlebih dahulu]


Ryou bergumam dalam hati ketika mengingat semua kalimat Kaito tersebut.


‘Jika memang benar seperti yang dikatakan olehnya, mungkin aku memang sudah menjadi sedikit gila akibat tempat ini. Akan tetapi selama aku bisa melindungi Kino, aku tidak masalah kehilangan satu atau dua rasa kemanusiaanku!’


Tidak ada waktu untuk merasakan keraguan saat ini mengingat masalah di depan mereka cukup serius.


Theo yang berlari sambil menahan air matanya terus berdoa.


‘Aku mohon semoga tidak terjadi sesuatu pada mereka semua. Aku mohon semoga tidak terjadi sesuatu pada mereka semua. Aku mohon!!”


Wajah gelisah dan takut terus ditunjukkan oleh Theo.


Ketika sudah beberapa lama, Ryou mulai menyadari ada belokan ke arah kiri. Itu adalah jalan awal yang mereka lewati sebelumnya. Akan tetapi arah yang dituju oleh Theo adalah jalan lurus ke depan.


“Jalan ini…” Ryou memperhatikan daerah sekeliling tempat itu


Kalau dipikirkan kembali, tempat itu semakin mirip dengan struktur tempat ketika mereka bertiga ada di ‘dunia malam’. Bangunannya banyak yang kosong tanpa cahaya penerangan dan bangunan tanpa pintu juga semakin


sering ditemui.


“Tidak heran jika Kaito menyebut tempat ini sebagai ‘dunia malam’ junior. Kurang lebih memang semirip itu rupanya” gumam Ryou dengan pelan sambil berlari


Mungkin terlihat begitu santai, namun sebenarnya mereka benar-benar tidak memiliki banyak waktu.


Tiba-tiba dari sisi bangunan terdengar gema suara.


“Suara? Seperti…suara tangisan…” Ryou berpikir sambil mendengarkan dengan seksama suara tersebut


Semakin mereka berlari ke depan, semakin jelas suara yang terdengar. Seakan semakin dekat dengan sumbernya, tangisan itu jadi semakin besar dan banyak.


Seolah-olah ada lebih dari satu orang yang menangis. Dan yang paling membuat Ryou tidak tenang adalah kenyataan bahwa tangisan itu seperti tangisan anak-anak.


“A–anak-anak?! Oi, Theo!!” Ryou menambah kecepatannya dalam berlari


Theo semakin terlihat pucat karena mendengar suara tangisan itu. Tidak lama setelah itu, mereka melihat ada enam anak kecil yang duduk sambil menangis dengan keras sekali.


“Huwaaa!!! Stelani-neechan!!”


“Tidak!! Huwaaa….Fabil-niichan!! Kino-niichan!! Huwaaaaa!!!”


Theo yang melihat itu langsung menangis sambil berlari semakin cepat mendekati mereka. Seakan tidak peduli dengan Ryou yang ada di belakangnya, Theo berteriak memanggil mereka.


“Michaela!! Kalian semua!!”


Semua anak-anak itu mendengar suara yang memanggil mereka dan langsung berteriak.


“Theo-nii!!! Huwaaa….Theo-niichan!!”


Anak-anak itu seperti terlalu lemah dan gemetar untuk bangkit sehingga ketika Theo berlutut dan memeluk mereka semua, mereka langsung menangis sekeras mungkin hingga menciptakan gema di tempat tersebut.


“Kalian…kalian tidak apa-apa, kan?” Theo bertanya sambil memeluk mereka dan menangis


“Huwaaa….Theo….Theo-niichan….Hiks…hiks…”


“Tidak apa-apa, aku di sini. Syukurlah kalian semua tidak terluka”


Ryou yang berhasil menyusul Theo akhirnya berhenti. Di depannya, terdapat situasi yang sangat menyentuh. Tapi, bukan itu bagian yang menarik perhatiannya.


Dia melihat sekeliling tempat itu. Banyak sekali tumpukan kantong sampah yang robek dan berjatuhan dengan beberapa botol di jalanan. Namun dari semua itu, hal yang paling membuatnya curiga adalah noda darah di tembok dan jalanan tersebut. Noda itu masih tampak baru seperti telah terjadi pertarungan sebelum mereka sampai.


“Apa yang terjadi sebenarnya di sini?” Ryou sekarang terlihat panik dan cemas


Theo mulai berhenti memeluk mereka semua dan melihat semua wajah mereka.


“Kalian…apa kalian terluka?”


“Hiks…Hiks….Theo-niichan….” Michaela terlihat tidak bisa mengatakan apapun


Theo menyadari ada sesuatu yang dipegang oleh Michaela. Sesuatu seperti sebuah pisau.


Ryou yang berjalan mendekati mereka langsung tampak buruk. Wajahnya langsung berubah pucat dan tidak bisa mengontrol emosinya.


Dengan cepat Ryou langsung berlutut dan memegang pundak gadis kecil yang memeluk pisau itu dengan erat.


“Oi gadis kecil!! Kenapa kau bisa memiliki pisau itu?!”


“Hiks…ini…Kino-niichan–”


“Kino katamu?!”


Seakan tersambar petir, Ryou dan Theo langsung berubah pucat di saat bersamaan.


“Michaela, kau mengenal Kino-nii?! Kenapa?! Apa…apa yang terjadi pada Kino-nii?! Kenapa kau bisa memiliki benda ini?!” tanya Theo dengan raut wajah panik


“Hiks…Kino-nii…Kino-niichan...hiks hiks”


Theo juga menyadari ada yang kurang dari mereka.


“Dimana Stelani dan Fabil? Apa yang terjadi sebenarnya? Kau tau sesuatu kan? Kalian tau sesuatu tentang ini kan?!” Theo mulai berteriak saat bertanya pada mereka


Anak-anak lain yang masih menangis mulai mencoba mengatakan sesuatu dan tentu saja itu bukanlah hal yang bagus.


“Ki–Kino-niichan diserang orang aneh. Mereka…mereka membawa Stelani-neechan dan Fabil-niichan…Hiks…”


“Mereka…mereka bilang akan…akan menghabisi Kino-niichan dan…dan menjual Stelani-neechan dan Fabil-niichan”


“Kami…kami hanya bisa melihat…huwaaaa”


Mereka kembali menangis. Michaela yang berada di tangan Ryou langsung menangis sekeras-kerasnya.


“Kino-niichan tertusuk dan mereka memukulnya dengan keras. Tante mengerikan itu juga menendangnya dan mencekiknya. Huwaaaa…..Theo-niichan….Kino-niichan akan mati…hiks…huwaaaa”


-Deg


Mendengar hal itu, raut wajah Ryou langsung berubah syok. Dia jelas mengenali pisau di tangan gadis kecil itu. Itu adalah dagger yang dibeli olehnya sebagai hadiah untuk sang kakak. Tidak ada lagi hal yang lebih membuatnya takut kecuali mengetahui kakaknya terluka. Dan sekarang dia seperti tersambar petir.


“Kino…terluka katamu…” Ryou langsung mematung dan tidak bisa mengatakan apapun lagi


Perlahan dia melihat noda darah segar di sekeliling tempat itu dan ekspresi wajahnya begitu terkejut dan syok.


“Ini semua…darah Kino…Apa itu benar?”


“Hiks…Mmm” gadis kecil itu mengangguk sambil terus menangis


Mimpi buruknya akhirnya menjadi kenyataan. Semua hal yang dia lakukan adalah demi melindungi sang kakak. Sumpah yang pernah dia katakan bahwa dia tidak akan mengulangi kesalahan untuk ketiga kalinya sekarang runtuh.


Ryou merasa dia telah gagal melindungi sang kakak.


Dengan penuh emosi, Ryou menggigit bibirnya sendiri hingga berdarah dan berteriak.


“Kinoo!!!”


******