
Di bangunan kosong yang ditinggali oleh anak-anak itu, Stelani dan Fabil duduk bersama yang lain. Anak-anak itu menunjukkan wajah bahagia mereka pada pagi hari itu dengan sebuah topik pembicaraan yang menurut mereka paling menyenangkan.
“Huwaa~enaknya”
“Kue tadi enak ya. Aku jadi ingin memakannya lagi”
“Meskipun tidak dapat roti dari Justin-sama hari ini, aku berpikir itu tidak masalah. Iya, kan?”
“Benar!”
Semua anak-anak itu terus membicarakan kue yang telah mereka makan beberapa waktu lalu sebelumnya.
Stelani dan Fabil hanya mendengarkan apa yang mereka bicarakan dengan senyum yang dipaksakan. Michaela yang menyadari hal itu mendekati keduanya dan bertanya.
“Stelani-neechan, Fabil-niichan, apa kalian berdua tidak apa-apa?”
“Michaela…” Stelani melihat anak itu mendekati dirinya
“Sejak kalian kembali dari bar tadi, wajah kalian pucat. Apa Justin-sama memarahi kalian berdua?”
Michaela terlihat mengkhawatirkan kedua orang yang sudah dianggapnya sebagai kakak. Usianya memang lebih mudah dari keduanya namun kalau soal perasaan, bisa dibilang kepekaannya tidak kalah dari yang lain.
Fabil menengok ke arah Stelani dan menjawab apa yang pertanyaan Michaela.
“Kami…kami baik-baik saja. Seperti yang kami katakan bahwa Justin-sama menerima uangnya dan menyuruh kami kembali dulu. Untuk…untuk rotinya, kita ambil nanti malam saja ya. Theo juga belum kembali. Kemungkinan dia akan kembali malam lagi seperti kemarin jadi sebaiknya kalian tidur jika lelah”
“Fabil-niichan tidak lelah?” Michaela melihat wajah Fabil yang masih tersenyum padanya
“Tidak apa-apa. Kalian tidurlah dulu. Stelani dan aku akan bergantian menjaga kalian. Jika memang kalian lapar lagi, kami berdua yang akan mencari uang untuk membeli roti hangat”
“Begitu. Baiklah. Aku mau tidur dulu. Selamat tidur, Stelani-neechan, Fabil-niichan”
“Selamat tidur, Michaela”
Michaela pergi ke tempatnya dan merebahkan dirinya di atas kain tipis sebagai alas. Anak-anak lain yang melihat itu akhirnya mengikutinya dan tidur. Memang tidak mungkin semua anak-anak itu langsung terlelap. Untuk beberapa waktu, tempat itu kembali hening.
Stelani bangun dan berjalan mengambil dua botol air yang ada di dekat tempat anak-anak tersebut tidur dan memberikan satu pada Fabil.
“Minumlah dulu. Seharusnya ini bisa membuat kita tenang sedikit”
“Terima kasih” Fabil menerimanya
Setelah meminum beberapa teguk, mereka berdua memutuskan untuk turun ke bawah agar tidak mengganggu yang lain. Dengan membawa botol air di tangan masing-masing, keduanya turun menuju lantai satu.
Di lantai satu, Stelani duduk di kursi kayu sedangkan Fabil duduk di atas meja kayu di sana.
Stelani menarik napas panjang dan menghembuskannya sebelum bicara.
“Haaa…”
“Stelani?” Fabil yang duduk di sampingnya bertanya
“Fabil, aku semakin khawatir tentang nasib kita sekarang. Apa yang harus kita lakukan untuk bisa bebas dari Justin-sama dan memberikan perlindungan kepada Michaela dan yang lain?”
“……”
Stelani tampak sedih dan tertekan sedangkan Fabil hanya bisa diam mendengar pertanyaan dari gadis itu. Meskipun tidak ada benda apapun yang dapat menunjukkan waktu, mereka setidaknya tau bahwa ini sudah sekitar tiga puluh menit atau satu jam sejak mereka kembali dari bar.
Dengan suasana hening di sekitar mereka, keduanya mengingat kejadian setelah pulang dari bar pagi ini.
Stelani dan Fabil berlari sekuat tenaganya untuk pulang dengan wajah pucat. Sejak mereka kembali, tidak ada satupun hal yang mereka berdua katakan kepada anak-anak lain meskipun anak-anak itu bertanya.
Sebagai pengalihan terbaik yang dilakukan oleh keduanya, mereka langsung meminta anak-anak itu memakan kue yang mereka dapat dari Kino, termasuk bagian yang seharusnya milik Theo.
Tentu saja hasil dari pengalihan tersebut berakhir seperti yang sudah diketahui di atas. Setelah mereka puas dan kenyang, kedua orang itu bisa keluar diam-diam dan di sinilah mereka sekarang.
Kembali lagi pada kondisi Stelani dan Fabil sekarang, mereka masih termenung.
“Nee, Fabil. Apa sebaiknya kita minta tolong kepada Kino-niisan?”
“Apa?!” Fabil kaget mendengar ucapan Stelani
“Kino-niisan mengatakan bahwa kalau kita butuh sesuatu, kita bisa mencarinya kan?” Stelani sudah terlihat begitu putus asa saat mengatakan kalimat tersebut
“Kau tidak bermaksud mengatakan semuanya pada Kino-niichan kan, Stelani? Saat di restoran, kau sampai berusaha keras meminta Michaela untuk tidak membahas Justin-sama di depan Kino-niichan. Kita bahkan membentak Michaela juga karena hal itu!. Aku tidak berpikir itu cara yang…”
“Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan sekarang?!” Stelani mengeraskan suaranya
Sebelum Fabil selesai dengan kalimatnya, Stelani memotongnya. Itu menunjukkan bahwa dia benar-benar depresi dan putus asa. Stelani melanjutkan kembali kalimatnya.
“Kau tau Justin-sama tidak akan membiarkan kita jika terus begini, kan?. Hanya tinggal masalah waktu saja sampai dia merasa bosan dan melakukan hal buruk pada kita!. Dengan sifatnya yang kejam seperti itu, anak-anak lemah seperti kita tidak akan bisa menyelamatkan diri sendiri!”
“Stelani…”
Stelani sudah mengeluarkan air mata tanda dia sudah tidak bisa mengendalikan dirinya. Fabil yang melihatnya hanya bisa terdiam sambil menggigit bagian bawah bibirnya menahan emosi.
“Aku…aku tau kita tidak bisa melakukan apapun jika tidak bebas dari Justin-sama. Tapi, bukankah melibatkan Kino-niichan dalam masalah kita juga tindakan yang tidak baik?”
“……” Stelani mendengarkan apa yang Fabil katakan tanpa berkata apapun
“Kita baru pertama kali bertemu dengannya. Jujur saja, aku juga sangat berharap Kino-niichan bisa membantu kita. Sejak dia memberi kita uang sebanyak itu agar kita tidak harus bersusah payah mengemis di altar, aku sangat yakin bahwa Kino-niichan adalah orang yang sangat baik. Dia bahkan mengajak kita semua makan di tempat yang bagus dengan makanan enak. Anak yatim piatu seperti kita yang tidak pernah mendapatkan perlakuan sebaik itu pasti akan menganggap dia sebagai malaikat”
“Itu…benar. Aku benar-benar sangat…menyukai Kino-niisan meskipun baru mengenalnya beberapa jam. Aku yakin semuanya juga sangat menyukainya. Kau tidak lupa kan, mereka merengek agar Kino-niisan tinggal di kota ini terus. Karena itu aku mengatakannya padamu!. Kita bisa meminta bantuannya untuk melakukan sesuatu pada–”
“Justru karena itu kita tidak boleh melibatkan Kino-niichan dalam masalah dengan Justin-sama, Stelani!!”
Fabil yang saat itu duduk di atas meja langsung bangun dan berdiri di depan Stelani dengan menatap wajahnya sambil mengeraskan kembali suaranya. Ekspresi serius ditunjukkan oleh Fabil ketika melihat wajah Stelani.
“Fabil…” Stelani terkejut dan menatap wajah Fabil
“Sebaik apapun Kino-niichan, dia tetaplah orang asing. Jika kita sampai melibat dia dalam bahaya, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Justin-sama padanya. Kau tidak lupa apa yang kita dengar kemarin malam, kan?”
“……” Stelani terdiam dengan mata berkaca-kaca seperti akan menangis
“Bahkan pria asing dengan pedang yang tidak pernah terlihat saja bisa membuat Justin-sama sampai membunuh anak buahnya sendiri dan meminta semua anak buahnya yang lain untuk mencarinya. Aku tidak ingin melibatkan Kino-niichan dalam bahaya dan seharusnya kau juga memiliki pikiran yang sama denganku, Stelani!”
“……” sekarang Stelani mulai menundukkan kepalanya dan menangis
Fabil tidak bermaksud jahat padanya namun dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Itu adalah sebuah logika masuk akal untuknya saat ini.
Stelani yang mendengar itu sambil menangis akhirnya mulai berpikir ulang kembali.
‘Jika terjadi sesuatu pada Kino-niisan, aku pasti akan merasa bersalah juga. Fabil benar, aku tidak bisa egois dan melibatkan orang lain. Tapi jika tidak meminta bantuan, kami semua tidak akan bisa melakukan apa-apa!’
Fabil melihat gadis di depannya menangis dan dia hanya bisa terlihat sedih. Setelah beberapa saat, Fabil meminum semua air dalam botol yang dia pegang sampai habis dan mulai bersikap normal.
“Sudahlah!. Kurasa kita harus akhiri pembicaraan tadi sampai di sini. Michaela dan yang lain baru saja tidur. Jika sampai mereka terbangun karena suara keras kita, akan jadi masalah nanti”
“Mmm…” Stelani mengangguk pelan sambil menghapus air matanya
“Tidak. Akulah yang minta maaf padamu. Kau benar, Fabil. Aku tidak seharusnya berpikir egois untuk melibatkan Kino-niisan dalam masalah ini. Meskipun begitu, aku masih belum menyerah untuk membebaskan diri kita dari Justin-sama” Stelani bicara dengan nada serius
“……” Fabil hanya mendengarkan apa yang dikatakan Stelani
“Dengar, Fabil. Sekalipun kita tidak melibatkan Kino-niisan, kita harus tetap mencari cara agar bisa lepas dari bayang-bayang Justin-sama. Aku ingin kita semua hidup normal seperti anak lain. Aku yakin Theo juga selalu memikirkan berbagai macam cara agar bisa lepas dari jeratan penyiksaan dalam genggaman Justin-sama”
“Aku tau kau sama kerasnya dengan Theo”
Fabil hanya bisa menutup wajahnya dengan satu tangannya sambil menggelengkan kepalanya, tapi dia tidak menentangnya lagi.
Stelani berdiri dengan memegang botol air minum yang digenggam kuat.
“Arkan-niisan mengatakan bahwa perasaan Justin-sama akhir-akhir ini sedang buruk. Kita harus cepat sebelum kita juga menerima hal tidak menyenangkan sebagai getahnya”
“Aku mengerti, aku mengerti. Sebaiknya kita sudahi sampai sini dan membahasnya lagi nanti. Jadi, bagaimana sekarang?” Fabil bertanya pada Stelani
“Kurasa kita coba ke kota lagi untuk mencari Theo. Aku mau menceritakan soal Kino-niisan padanya dan memikirkan rencana terbaik untuk bisa menyelamatkan diri kita. Kau tidak keberatan kan?”
“Aku mengerti. Lebih baik kita pergi sekarang sebelum anak-anak lain terbangun”
Dengan meninggalkan botol air miliknya dan botol kosong Fabil, mereka berdua pergi keluar menuju kota kembali.
Hal tidak terduga sebenarnya terjadi selama kedua orang tersebut bicara di bawah.
Dari balik dinding di lantai dua, siapa yang menyangka bahwa Michaela dan yang lain mendengar semua yang mereka bicarakan. Ternyata, semua anak-anak itu hanya berpura-pura tidur karena merasa ada yang aneh dengan kedua kakak mereka.
Setelah Stelani dan Fabil keluar sebelumnya, Michaela dan anak-anak lain mengikuti dan mendengarkan semuanya dari awal sampai akhir.
Ternyata di dunia manapun, anak-anak memang memiliki rasa ingin tau yang besar, sampai-sampai bisa mendengarkan secara diam-diam pembicaraan serius orang dewasa. Bakat yang menakutkan.
“Stelani-neechan dan Fabil-niichan sepertinya dalam masalah. Aku yakin itu karena sikap mereka aneh. Ternyata dugaanku benar” kata Michaela
“Lalu apa yang mau kau lakukan, Michaela?”
“Kau tidak bermaksud untuk melakukan hal berbahaya kan? Kita masih kecil, Michaela. Kita tidak mungkin bisa melawan Justin-sama meskipun sudah ber-enam seperti ini”
Anak-anak lain terus saling menatap karena takut. Mereka memang sudah mendengar semuanya dan mengetahui bahwa kedua kakak mereka sedang dalam masalah, namun kenyataan bahwa mereka masih kecil dan tidak bisa melakukan banyak hal itu benar.
Hanya Michaela seorang yang tidak berpikir begitu. Dia lebih peka terhadap perasaan yang lain dan lebih kritis melebihi anak seusianya. Bisa dibilang dia tipe anak yang tua sebelum waktunya karena tuntutan keadaan.
“Lalu kalau kita masih kecil kita harus diam saja dan melihat Stelani-neechan dan Fabil-niichan bingung sendirian?! Theo-niichan bahkan pulang malam demi mendapatkan uang agar Justin-sama tidak marah!. Kalau kita hanya bisa menangis, nanti kita tidak bisa melindungi diri sendiri”
Michaela menatap semua teman-temannya dengan tatapan serius. Kelima temannya yang lain hanya bisa saling menatap satu sama lain kembali tanpa bisa membalas kata-kata Michaela.
“Nee, Michaela. Kalaupun kau bersikeras untuk membantu mereka, apa yang mau kau lakukan?”
“Aku…aku mau mencari Kino-niichan!”
Michaela berdiri dengan pose tolak pinggang dengan wajah penuh percaya diri. Seketika yang lain menjadi terkejut dengan wajah panik.
“Apa?! Mencari katamu? Mau mencarinya kemana?!”
“Jangan katakan kau mau menyusul ke kota hanya untuk mencari Kino-niichan? Kita tidak tau apakah Kino-niichan masih di kota atau tidak”
“Tapi, aku yakin kalau kita meminta tolong pada Kino-niichan pasti semua akan baik-baik saja!” Michaela mencoba meyakinkan yang lain
Tidak banyak membantu, semua kalimat Michaela terdengar seperti sesuatu yang berbahaya bagi mereka. Mereka hanya terdiam tanpa mau memberikan respon.
Hal itu membuat Michaela menjadi kesal dan menuruni tangga sendirian.
“Aku sudah tidak mau bicara dengan kalian lagi!. Aku akan mencari Kino-niichan dan meminta tolong untuk membantu Theo-niichan dan Stelani-neechan sendirian!”
“Mi…Tu…Michaela!! Jangan pergi sendirian begitu! Tunggu dulu!”
Anak-anak lain berteriak dari belakang dengan wajah panik.
Michaela yang sudah sampai bawah dan berjalan menuju pintu keluar menengok dan berteriak.
“Aku akan melakukan sesuatu agar Neechan dan Niichan semua tidak menanggung semuanya sendirian! Kalau kalian mau ikut aku tidak melarang, tapi kalau hanya ingin menghentikanku itu percuma! Aku ingin menjadi orang yang bisa diandalkan oleh Neechan dan Niichan semua! Aku tidak mau dianggap lemah hanya karena aku anak kecil!!”
Michaela menangis sambil bicara dengan nada keras. Dia memegang dressnya dengan erat dan wajahnya berubah menjadi merah tomat karena kesal sambil menangis. Melihat hal itu, anak-anak lain jadi ikut berkaca-kaca seperti akan menangis dan akhirnya turun ke bawah untuk memeluk Michaela yang menangis sendirian di dekat pintu keluar.
“Michaela….huwaaaa”
“Jangan menangis! Kami…kami akan membantumu juga. Jangan menjadi sok kuat sendirian!”
“Kau benar, Michaela. Kita harus menolong Neechan dan Niichan semua. Kami akan membantumu jadi jangan menangis”
“Huwaaaa…”
Seperti yang diduga, yang namanya anak-anak itu meskipun mencoba keren tapi tetap saja cengeng. Sebelum puas menangis, mereka semua saling berpelukan satu sama lain.
Sekitar lima menit atau mungkin lebih, mereka mulai puas menangis dan berpelukan hingga akhirnya sorot mata penuh semangat menghiasi anak-anak itu.
“Kalau begitu, tujuan kita adalah Kino-niichan!!”
“Ooo!!”
Keenam anak-anak itu akhirnya keluar dari rumah mereka untuk menemui tujuan mereka yaitu Kino.
Seandainya semua orang di sana tau bahwa pada dasarnya mereka semua sudah dalam satu wilayah pasti tidak akan ada drama di antara mereka semua.
******
Kino yang masih berjalan dengan meningkatkan kecepatannya memilih untuk berhenti sejenak dan berpikir ulang.
‘Haruskah aku masuk lebih dalam lagi? Memang aku sudah memutuskannya tadi tapi aku masih tidak tau apakah tempat ini memang aman atau tidak. Selain itu melihat bangunan yang kosong seperti ini, aku sekarang jadi memikirkan hal yang paling mustahil’
Kino mengatakan hal mustahil yang ada dalam pikirannya itu dengan mulutnya.
“Aku berpikir ada kemungkinan goblin atau makhluk mengerikan lainnya ada di sini. Sekalipun tidak ada, karena tempat ini sangat mencurigakan aku jadi berpikir bahwa kemungkinan ada makhluk aneh yang bisa saja menyerupai wujud manusia”
Pikiran polos yang aneh di situasi seperti itu.
Tapi, seketika semua pemikiran anehnya itu langsung ditepis olehnya sendiri.
“Tapi seandainya memang benar ada, Theo-kun pasti sudah terluka sekarang. Kurasa pemikiranku itu terlalu berlebihan. Kamu tidak boleh berpikir hal yang buruk, Kino. Kamu harus bisa berpikir positif dan menemukan Theo-kun!”
Akhirnya, pikiran polos itu kembali ke jalan yang benar.
Kino mulai berlari sekarang demi bisa menemukan Theo secepatnya. Sebenarnya, Kino tau bahwa berlari tanpa tujuan itu lebih berbahaya daripada tersesat. Akan tetapi dia tidak mau bertaruh dengan keadaan karena dia mengkhawatirkan Theo.
“Aku berharap di depan sana nanti, aku bisa menemukan Theo-kun”
******