
Saat itu, ketiga remaja dunia lain yang hendak masuk ke tempat yang akan menghabiskan uang mereka, dikejutkan dengan pertemuan yang tidak terduga.
“Huh?”
Ryou terkejut. Begitu pula dengan orang yang ditemui mereka.
“Kalian bertiga lagi?”
“Xenon…-san?”
Untuk beberapa saat, pertemuan seperti di anime dan manga yang ada dalam ingatan Ryou terjadi. Bedanya ini bukan pertemuan yang romantis, melainkan pertemuan yang penuh dengan drama.
Ryou melepaskan pegangan pintu itu dan mulai membentak orang di depannya.
“Kenapa jadi bertemu denganmu lagi?!”
“Harusnya aku yang bertanya, kenapa bisa bertemu dengan kalian lagi? Aku kira aku tidak akan bertemu dengan kalian untuk beberapa waktu”
Sungguh tidak ada yang menyangka, mereka bisa bertemu lagi. Tapi, lebih tidak menyangka lagi bahwa ada seseorang yang berasal dari dalam restoran yang membuka pintunya dan menegur keempatnya.
“Ehem!”
“Eh?” Ryou terkejut
“Kalau kalian ingin bertengkar, sebaiknya jangan di depan restoran milik orang lain. Pergi dari sini!!”
Drama ditutup dengan pengusiran secara paksa oleh petugas restoran. Rencana makan di restoran mewah akhirnya batal. Beri selamat untuk uang ketiga remaja dunia asing.
Keempatnya berjalan di kota.
“Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan Xenon-san kembali. Apa ada sesuatu?” tanya Kino untuk memulai pembicaraan
“Aku hanya ingin makan. Di asrama sama sekali tidak menyenangkan jadi aku memutuskan untuk keluar dan menginap di luar saja hari ini”
“Asrama?”
“Benar. Akademi Sekolah Sihir menerapkan sistem asrama untuk tiap murid dan pengajarnya. Aku hanya keluar dan menginap di luar setelah selesai melakukan pekerjaanku. Anggap saja sebagai hadiah untukku sendiri. Kapten divisiku tidak bisa melarangku juga”
“Begitu”
Xenon melirik ke arah Ryou.
“Kau sudah memiliki energi sihir. Apa kau sudah memiliki batu sihir?”
“Hmm? Kau bisa mengetahuinya?” tanya Ryou heran
“Aku memiliki sihir khusus pada mataku, [Senri Eye]. Sihir ini bisa melihat aura sihir lain pada objek di semua tempat yang aku lihat. Aku melihat tangan kananmu memiliki aura merah. Aku rasa kau sudah memiliki batu elemen”
“Hmm, begitu. Tapi itu memang benar. Kami bertiga baru mendapatkan uang dan membeli batu elemen api. Hanya saja…”
“Hanya saja?”
“Harganya seperti memintaku untuk menjual satu dari dua ginjalku”
“……” Xenon terdiam mendengar ucapan Ryou
Mereka berhenti di sebuah restoran sederhana. Keempat remaja itu masuk ke dalam dan memesan makanan.
“Pilihlah yang kalian suka” ucap Xenon sambil memberi Kino daftar menunya
“Eh? Xenon-san?”
“Aku yang mentraktir”
Mendengar kata traktir, Ryou langsung dengan cepat memilih hampir semua makanan dengan harga di atas 20 Penny Libra. Sungguh anak yang sangat ‘pengertian’ sekali.
“Ryou, itu tidak sopan” Kino memperingatkan sang adik
“Kapan lagi kita akan ditraktir makan seperti ini?!”
Kaito hanya melihat Xenon dengan wajah serius. Tampaknya Xenon juga menyadari hal itu.
“Ada sesuatu di wajahku?” tanya Xenon kepada Kaito
“Tidak. Aku hanya merasa kalau kau itu memiliki masalah sendiri hari ini”
“Masalah ya? Aku tidak berpikir demikian tapi mungkin juga. Aku hanya sedang memikirkan banyak hal”
“Bicara soal banyak hal, kebetulan ada hal yang ingin kami tanyakan padamu”
“Soal apa?”
Sambil menunggu makanan datang, ketiganya menceritakan semua hal yang terjadi begitu masuk ke dalam Gedung Akademi Sekolah Sihir.
Kaito menceritakan pertemuannya dengan tiga gadis aneh dalam labirin tanaman saat itu.
“Kalian bertemu dengan Emily-sama rupanya”
“Emily-sama? Kenapa memanggilnya dengan sebutan kehormatan begitu?”
“Itu karena Emily-sama adalah anggota Dewan Sihir dari Divisi Penyerang. Beliau adalah anak terakhir sekaligus adik dari ketua Dewan Sihir saat ini, Duke Lucas Xelhanien-sama. Usianya memang masih 11 tahun, tapi soal kemampuan bertarung beliau lebih unggul daripada aku”
“Hah?! 11 tahun?! Dia baru berusia 11 tahun?! Pantas gayanya sombong sekali!”
Ryou terlihat kesal. Tapi belum mulai pembicaraan, makanan mereka sudah datang sehingga obrolan serunya ditunda.
Xenon melihat apa saja yang dipesan orang-orang asing yang baru ditemuinya dan dia langsung berkata pada mereka.
Ryou yang mendengar itu langsung menjawabnya.
“Maaf saja ya, aslinya kami tidak memiliki nafsu makan jadi jangan menilai kami dengan sebelah mata begitu”
“Benarkah? Tapi pesanan kalian tidak menunjukkan hal itu”
“……” tidak ada yang mau menjawab
Di tengah waktu makan, Xenon kembali bertanya pada mereka.
“Emily-sama meminta kalian untuk masuk divisi miliknya jika berhasil masuk ke sekolah ya. Unik sekali. Beliau bukan orang yang ingin merekrut sembarang orang. Apa kalian memiliki sesuatu yang unik?”
“Unik ya…”
Kaito tidak melanjutkan kalimatnya. Dia memilih untuk memakan apa yang ada di depannya. Xenon menilai hal itu sebagai penolakan dan tidak melanjutkan pembicaraan tersebut. Dia beralih ke pokok pembahasan lain.
“Kalian sudah mendapatkan batu sihir, itu artinya sudah dapat informasi mengenai ujian masuknya?”
“Untuk syarat dan ketentuannya kami sudah dengar. Selain itu, kami dengar bahwa ujiannya akan lebih menekankan pada praktek sihir dibandingkan pengetahuan. Apakah ini semua menyangkut dengan hal yang tadi pagi?”
Kino sudah bisa menebaknya. Namun, untuk lebih memperjelas semuanya dia mulai dari bertanya hal yang kemungkinan sudah pasti.
Reaksi Xenon tidak jauh berubah. Dia tidak mencoba untuk menepis hal itu dan tidak juga berusaha menutupinya.
“Ada sedikit masalah yang terjadi di kota ini dan itu semua baru dimulai beberapa hari lalu”
“Kejadian?”
“Ada banyak orang yang menghilang dan kami belum berhasil menemukannya. Ini seperti kasus penculikan namun tidak seperti itu. Mayat ataupun jejak mereka tidak ditemukan. Bukan hanya anak kecil, orang dewasa dan orang tua juga ikut menjadi korban”
“Kasus orang hilang? Apakah ada hubungannya dengan hal berbahaya? Misalnya…sihir?”
Ucapan Kino itu tidak disangka oleh Xenon. Dia merasa orang yang sedang mengajaknya bicara ini memiliki intuisi yang bagus.
‘Dia cukup peka rupanya. Aku tidak merasakan sihir dari tiap gerakannya, namun aku tau kalau intuisi dan otaknya itu cukup tanggap. Selain itu, dia cukup tenang. Berbeda dengan adiknya yang seperti orang yang memiliki darah tinggi’
Sungguh penggambaran yang begitu detail dari Xenon. Tampaknya mata miliknya itu begitu pandai menilai orang lain.
Xenon memberikan jawaban yang mereka inginkan.
“Semua kasus itu memang berhubungan dengan sihir. Tapi untuk detailnya aku tidak bisa mengatakannya”
“Kenapa?”
“Ada hal yang tidak bisa aku beritaukan kepada yang lain. Bagaimanapun juga, hal tersebut adalah bagian dari agenda kami dan kalian yang merupakan orang asing tidak memiliki hal untuk mengetahuinya”
“Begitu. Kami mengerti, Xenon-san. Itu sudah cukup. Terima kasih”
Ketiga remaja dunia lain itu telah mengetahui bahwa semua masalah tersebut berhubungan dengan sihir.
Kaito bertanya kepada Xenon.
“Apa ada cara bagi kami untuk mendapatkan batu sihir lainnya?”
“Benar juga. Aku dengar kalian sudah membeli batu sihirnya. Bagaimana bisa kalian mendapatkan uang dalam sekejap?”
Pertanyaan Xenon membuka semangat baru untuk Ryou bercerita. Dia bercerita dengan sangat detail kejadian yang dialaminya.
Wajah Xenon yang awalnya terlihat begitu serius, lama kelamaan berubah menjadi begitu syok dan terakhir menjadi penuh dengan aura hitam.
“Kalian…sial sekali rupanya. Tapi aku senang kalian bisa membeli batu sihir meskipun hanya satu. Pantas tadi aku dengar Ryou berkata soal menjual salah satu ginjal”
“Kami juga syok karena harganya bisa sangat mahal seperti itu” ucap Kino dengan senyum yang dipaksakan
“Itu wajar saja karena batu sihir diproduksi sedikit setiap tahun. Tapi, jika kalian tidak bisa mengendalikannya itu juga akan menjadi bumerang untuk kalian”
“Kami sudah dengar mengenai hal itu juga. Sekarang kami hanya perlu mencari cara agar bisa mendapatkan uang untuk membeli batu sihir lainnya sebelum besok” ucap Kino dengan wajah sedih
“Meskipun kami tidak tau bagaimana caranya”
Xenon terdiam sebentar untuk menghabiskan makanannya. Tidak lama setelah meminum airnya, dia bicara.
“Kalau kalian mau, aku bisa meminjamkannya pada kalian. Kebetulan aku memiliki batu sihir lain. Mungkin bisa kalian gunakan untuk mengikuti ujian masuk”
Ketiga remaja itu terdiam. Ryou bahkan menjatuhkan daging yang sudah masuk ke dalam mulutnya dan bertanya pada Xenon.
“Berapa banyak yang kau punya?!”
“Tidak banyak. Hanya lima buah. Jika kalian mau, aku bisa meminjamkannya”
Sekarang ketiganya menjadi begitu syok mendengarnya. Ryou langsung memegang tangan pemuda yang baru dikenalnya itu dengan erat.
“Xenon, aku senang aku tidak menjadikanmu musuh dan memakimu saat kita bertemu pertama kali. Bertemu dan dekat dengan orang kaya saat pertemuan pertama itu memang dianjurkan untuk semua orang. Aku serius”
Ekspresi Xenon menjadi aneh dan melihat tangannya dengan penuh rasa jijik.
“Kau…apa yang kau bicarakan. Lepaskan tanganku. Aku bukan homo”
“Aku juga bukan. Aku tertarik pada hartamu bukan pada dirimu”
Sekarang, Xenon merasa bahwa ketiga orang yang dia temui mulai menampakkan kelainan.
‘Mereka seperti bukan penjahat saat pertama kali bertemu. Tapi, aku rasa aku harus curiga pada mereka sekarang’
******