Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 205. Perubahan Keadaan yang Membawa Kepanikan



Ryou yang mendapat sebuah pelukan erat dari seseorang masih terdiam mematung sambil berpikir dalam hatinya.


‘Kenapa aku merasakan sebuah déjà vu?’


“Aku pikir kau sudah mati”


Ryou terkejut dengan ucapan orang yang memeluknya. Seketika dia langsung melepaskan pelukan tersebut dan menatap orang yang memeluknya itu dengan tatapan datar.


“Kau ingin aku cepat mati atau apa, Kim Yuram?”


“Habis kau tidak menghubungi salah satu dari kami?!”


“Memangnya dengan tidak menghubungi kalian dalam waktu setengah jam menandakan aku sudah pasti mati?”


“Kalau keadaannya begini ya…ya…” Kim Yuram mulai terlihat memerah


Dia langsung mundur dan berteriak.


“Kau memelukku ya, dasar mesum!”


“Dasar wanita gila! Kau yang tiba-tiba saja memelukku! Pakai acara berpikir aku sudah mati segala!” Ryou jadi ikut emosi sambil berteriak ke arah Kim Yuram


Kim Yuram menyadari bahwa dia benar-benar memeluk Ryou dan menjadi berasap seperti kepiting rebus yang sudah siap disiram saus asam manis.


Ryou sudah cukup berdebat dengan semua itu dan langsung mengabaikan Kim Yuram.


“Tadi aku datang untuk apa ya? Sebentar…oh!”


Dengan cepat dia langsung mengeluarkan ponsel Seo Garam yang mati dan melemparnya ke arah sang pemilik.


“Eh?!” Seo Garam menangkapnya dengan panik


“Ponsel tidak berguna! Harusnya kau charge benda itu sebelumnya!”


“Ponsel…ponsel tidak berguna bagaimana? Kenapa jadi dilempar kepadaku?!” Seo Garam tidak mengerti maksud ucapan Ryou yang marah-marah


Kang Ji Song menghampiri Ryou dan bertanya dengan wajah panik.


“Ryou, apa yang terjadi di luar?”


“Ponsel Garam mati karena kehabisan baterai. Padahal, kami sudah terhubung dengan Song Haneul”


“Apa?! Song Haneul-sunbae?!”


Semua orang terkejut. Mereka tidak bisa menahan wajah penuh kebingungan dan ingin mendengar selengkapnya dari Ryou. Kim Yuram yang tadinya seperti kepiting  rebus dengan wajah merah, sekarang mulai terlihat serius.


Ryou menceritakan semuanya pada yang lain, mengenai pintu gerbang yang masih dijaga oleh para zombie, mengenai kemana semua zombie-zombie lain pergi dan juga mengenai Song Haneul.


‘Sebaiknya aku tidak memberitau keberadaan Song Haneul atau mereka akan curiga’ pikir Ryou


“Lalu, dimana Song Haneul-sunbae?” tanya Kang Ji Song


“Itu dia! Saat Kino bertanya dimana keberadaannya, teleponnya terputus karena baterainya mati! Aku butuh ponsel yang memiliki nomor Song Haneul untuk bisa terhubung. Selain itu, kalau bisa aku butuh lebih dari satu karena tidak mungkin aku kembali ke tempat ini hanya demi sebuah ponsel”


Semua orang langsung mengeluarkan ponsel milik mereka dan memberikannya pada Ryou.


“……” Ryou terdiam


Semua mahasiswa itu langsung memberikan ponsel mereka kepada Ryou tanpa bertanya kembali.


“Pakai ini. Ambil saja”


“Dalam keadaan seperti ini, sebuah ponsel bukanlah masalah besar”


“Kalau bisa keluar hidup-hidup, ponsel bisa dibeli kembali. Bawa saja semua ini bersamamu”


Tentu saja Kang Ji Song, Ha Jinan dan Kim Yuram juga memberikan milik mereka pada Ryou.


“Bawa ini. Aku yakin Kino dan Kaito juga membutuhkannya” kata Kang Ji Song


“Aku…aku punya nomor Song Haneul-sunbae di dalamnya. Pakailah ini, Ryou-ssi” Ha Jinan juga memberikannya


“Pokoknya dengan membawa ponselku, artinya kau harus kembali dengan selamat bersama kakak dan temanmu itu” kata Kim Yuram


Sebenarnya, itu merupakan momen yang cukup menyentuh. Tapi, Ryou tidak berpikir begitu.


“Kalian…aku tau kalian baik tapi tolong berpikir tenang. Kalau semua ponsel itu aku yang bawa, lalu bagaimana aku bisa menghubungi kalian jika keadaan sudah aman?”


“……” semuanya terdiam


“Haa~tolong jangan membuat ini seperti film super hero ya. Begini, aku butuh ponsel dengan baterai memadai dan memiliki nomor Song Haneul. Jika ada yang seperti itu, aku ingin membawanya bersamaku. Pastikan ponsel lain juga memiliki baterai yang cukup agar bisa aku hubungi”


“Tapi, sebagian dari kami memiliki kontak masing-masing”


“Kalau begitu sekarang masukan kontak kalian! Kenapa harus kusuruh!” Ryou sedikit kesal


Sepertinya bisa ditebak bahwa Ryou tidak pantas menjadi seorang guru taman kanak-kanak karena dia sangat tidak sabaran.


Mendengar ucapan Ryou, semuanya langsung saling bertukar kontak dan menyimpan kontak satu sama lain. Tidak lupa juga, mereka menyimpan nomor Song Haneul yang berasal dari daftar kontak Ha Jinan.


Setelah sudah selesai dengan semua tukar-menukar nomor, Ryou akhirnya berhasil mendapatkan empat ponsel bersamanya yang dimasukkan ke dalam sebuah tas belanja tempat mereka membawa makanan sebelumnya.


“Terima kasih banyak. Sekarang aku pergi. Ingat pesanku! Jangan sampai ada yang mengintip dari jendela dan jangan membuka pintunya jika tidak ada teriakan atau suara orang minta tolong. Zombie tidak bisa bicara bahasa manusia karena mereka mayat hidup”


“Kami mengerti”


“Ryou-ssi…” Ha Jinan memanggil


“Ada apa?”


“Apa…Kino-ssi baik-baik saja?”


“Aa. Kakakku baik, jangan khawatir. Sekarang, dia dan Kaito masih mengawasi pergerakan seluruh zombie mahasiswa di depan gerbang gedung asrama. Jika sampai mereka kembali menyebar, aku yakin kalian juga akan terkena masalah”


Semua orang menjadi panik. Tapi, mereka mulai terlihat lebih baik karena kedatangan Ryou yang sudah memberikan informasi yang sangat berguna.


“Intinya, seluruh pintu gerbang masih dikepung oleh kawanan zombie. Jangan ada yang berpikir untuk kabur dari sini kecuali kalian sudah bosan hidup” ucap Ryou tegas


“Kami tau. Kalian harus hati-hati. Kami akan berdoa semoga kalian baik-baik saja” kata Seo Garam


“Aa. Pastikan ponselmu itu di-charge agar bisa digunakan kembali”


“Um…kalau…kalau di sini ada kabelnya” Seo Garam memperlihatkan senyuman tidak meyakinkan


“……” Ryou sudah tau hal itu dan mengabaikannya


Semua orang langsung menutup kembali pintunya dan berdoa.


“Semoga mereka bertiga selamat dan menemukan jalan untuk menyelamatkan kita semua. Kami semua bergantung pada kalian bertiga” ucap pelan Seo Garam


**


Ryou berlari membawa sebuah tas belanja berisi empat ponsel dan dua bilah pisau yang dimasukkan ke dalamnya.


Dia berlari dengan cepat agar bisa kembali ke tempat Kino dan Kaito.


“Aku mohon…semoga tidak ada perubahan pada pergerakan zombie-zombie itu”


**


Kino dan Kaito masih memantau pergerakan seluruh zombie di depan pintu gerbang gedung asrama mahasiswa.


“Mereka sama sekali tidak bergerak dan hanya diam di sana”


“Kita tetap harus mengawasinya, Kino”


“Aku mengerti, Kaito-san”


Kino memperhatikan setiap zombie dan dia melihat sosok yang tidak asing untuknya.


“Baek…Hyeseon-san” Kino terlihat pucat


“Apa?”


“Zombie itu…itu Baek Hyeseon-san”


Kaito melihatnya dan dia cukup terkejut dengan keadaan zombie pria licik itu. Seluruh bagian perutnya berlubang disertai bekas terkaman di tangan dan wajahnya. Bisa dibilang sudah hampir 60% dari tubuhnya tidak lagi utuh.


“Ryou mungkin akan memenggal kepalanya pria itu jika dia melihatnya” gumam Kaito


“Kaito-san, jangan bicara begitu” Kino mencoba menenangkan Kaito


“Aku hanya ingat kalimat terakhir yang dikatakan oleh adikmu itu dan aku sudah banyak belajar tentang kebiasaanya. Dia bukan orang yang hanya besar mulut”


“Kaito-san…”


“Aku tidak akan lupa saat dia mengatakan padaku ingin melemparku dengan penggorengan dan dia benar-benar melakukannya”


Tampaknya Kaito masih cukup kesal dengan kejadian itu, meskipun jika diingat kembali dia juga yang menyetujui ucapan tersebut. Sungguh remaja yang tidak konsisten.


Hanya berselang beberapa saat, mereka melihat keanehan dari pergerakan para zombie tersebut.


“Kaito-san…zombienya bergerak”


“Apa?!”


Kino dan Kaito mulai terlihat panik. Bagaimana tidak, semua zombie itu mulai mendorong-dorong pintu gerbang asrama yang tertutup dengan kuat. Tidak mungkin pintu itu mampu menahan zombie sebanyak itu.


Hanya dalam waktu singkat, pintunya terbuka dan roboh akibat dorongan kuat.


“Mereka masuk ke dalam!” Kaito menjadi panik


“Song Haneul-san ada di dalamnya! Ini bisa jadi masalah serius!”


“Kh…”


Keadaan yang sangat tidak diinginkan terjadi. Zombie-zombie yang awalnya tenang justru mulai memasukki area gedung asrama.


“Dimana Ryou di saat seperti ini?! Kenapa adikmu belum datang?!”


“Ryou…kumohon cepatlah datang!”


Tidak lama setelah itu, Ryou yang mengendap-endap datang mendekati kedua orang tersebut.


“Maafkan aku karena lama, aku membawa empat ponsel dan–”


“Tidak ada waktu untuk menjelaskan!” Kino langsung mengambil satu ponsel


Dengan cepat, dia mencari nomor Song Haneul di dalam kontak dan segera menghubunginya.


-Tuuut…Tuuut…


“Halo? Apa ini hoobae?Hoobae, kamu selamat?”


“Song Haneul-san! Para kawanan zombie itu mulai menerobos ke dalam dan sekarang mereka semua sedang berusaha masuk ke gedung asrama!” kata Kino panik


“Apa?! Ini Yuki Kino? Apa itu benar? Dimana mereka sekarang?”


“Mereka barus saja memasuki area depan. Tapi, hanya tinggal masalah waktu sampai mereka berhasil menguasai seluruh gedung asrama! Bersembunyilah dan pastikan lokasimu aman!”


“Aku…aku takut…hiks…tolong aku…”


“Kami akan mencoba menyelamatkanmu. Tolong beritau dimana lokasimu sekarang?”


“Aku…aku ada di…”


Kino meminta Ryou menulis dalam note ponsel lain alamat dan rute yang diberitaukan oleh Song Haneul mengenai lokasi keberadaannya.


“Baik. Tolong bertahanlah sampai kami berhasil ke tempatmu”


“Aku mengerti. Aku…aku akan memastikan ponselku tetap terisi dengan persediaan listrik yang ada di tempat ini”


Panggilan dimatikan.


Kino berhasil memberikan peringatan kepada Song Haneul dan berhasil mendapatkan lokasi keberadaannya.


“Apa Ryou sudah mencatatnya?”


“Sudah. Gedung asrama F1, lantai 3 dengan nomor 343. Semua rute yang dia sebutkan padamu sudah kucatat. Kaito, baca dan ingat ini baik-baik”


Ryou memberikan ponselnya pada Kaito. Daya ingat Kaito yang cepat membuatnya bisa menghafalkan semua rutenya dengan cepat.


“Aku sudah selesai”


“Baiklah. Kita harus cepat masuk ke dalam dan menyelamatkan satu-satunya petunjuk permata milik Kaito-san”


******