
Setelah berhasil membunuh semua zombie di luar dan memeriksa semua lantai dua di koridor tersebut bersih, ketiga remaja itu mulai menutup semua pintu di sekitar lorong koridor dan bersembunyi di dalam ruang kelas.
Berbeda dengan kantin sebelumnya, lampu ruangan tersebut sengaja dimatikan untuk keamanan dan kewaspadaan. Untuk saat ini, mereka mulai bisa sedikit bernapas lega.
Mereka duduk untuk melepas rasa lelah karena pengejaran ini.
“Haa~akhirnya selesai. Meskipun sedikit berbahaya, tapi zombie di anime dan manga itu memang mirip seperti aslinya. Bukan, yang asli mirip dengan yang ada di anime” ucap Ryou santai
“Ryou, ini bukan sebuah game atau semacamnya. Ini sungguhan dan kita bisa saja celaka” sang kakak mulai menasehati adiknya
Tapi tampaknya, Ryou tidak begitu memedulikan hal itu dan tetap menunjukkan senyum tanda dia bahagia.
Di sisi lain, Kino masih terlihat murung. Kaito yang masih berdiri di dekat pintu sambil memastikan kondisi aman mulai berjalan dan duduk di samping Kino.
Kaito bertanya pada remaja itu dengan volume suara yang hanya bisa didengar oleh kedua orang itu saja.
“Kenapa?” bisik Kaito pelan
“Aku menyesal karena kita harus kehilangan tiga orang dan meninggalkan satu orang sendirian. Aku merasa sangat bersalah”
“Itu bukan salahmu. Kita lengah dan tidak ada yang bisa dilakukan dengan itu semua. Dalam kondisi seperti ini, tidak ada yang harus disesalkan”
“Tapi…tapi aku–”
“Kino, aku sangat mengerti seperti apa sifatmu sejak kita bertemu pertama kali. Kau begitu menghargai nyawa seseorang dan aku sangat tau betapa tulusnya kau dan adik…” Kaito berhenti bicara sebentar
“…Kaito-san?” Kino melihat Kaito dengan wajah bingung
“…Aku tarik ucapanku, aku koreksi sedikit. Kau sangat tulus tapi adikmu sangat liar dan tidak pernah memikirkan perasaan orang lain. Sekalipun dia hebat dalam hal bertarung tapi dia tetap menyebalkan”
“……” Kino terdiam dengan wajah datar
Niatnya dia ingin dihibur, sekarang justru harus mendengarkan penilaian dari orang yang selalu menjadi korban caci maki adiknya.
“Kaito-san…aku…aku benar-benar minta maaf atas semua perkataan dari Ryou. Aku benar-benar yakin bahwa dia itu anak yang baik. Aku tidak bohong”
“Umm…lupakan soal dia. Kita kembali saja ke permasalahanmu”
Merasa bahwa Kaito cukup lucu di sini, Kino tertawa. Dia sudah lebih baik sekarang. Bahkan mungkin, dia sudah tidak ingin membahas hal yang dia sesalkan beberapa waktu lalu.
Ha Jinan yang duduk di dekat Kim Yuram melihat Kino dan Kaito dari kejauhan.
“Jinan?”
“Yuram…aku…”
“……” Kim Yuram melihat kedua remaja itu duduk di depan. Dia bertanya pada Ha Jinan, “kau menyukai Kino-ssi?”
“……!” Ha Jinan memerah
Dia tidak mengangguk tapi tidak menggelengkan kepalanya. Kim Yuram hanya melihat Kino dari jauh lalu entah kenapa dia juga melihat Ryou yang sedang menghampiri kedua orang di depan itu.
“Aku rasa…aku mengerti kenapa kau menyukainya. Dia sangat baik. Apalagi dia menolongmu dengan cara yang tidak terduga dan tanpa memikirkan apapun. Dia juga membantu kita di saat kita sedang sangat membutuhkan bantuan”
“Aku merasa aku mungkin hanya merepotkannya. Tapi…tapi Kino-ssi sangat baik dan tidak memikirkan hal itu. Apa itu hanyalah perasaan sesaat saja?”
Ha Jinan mulai meragukan perasaan yang dia miliki saat ini. Dia merasa bahwa mungkin saja rasa suka ini muncul hanya karena perasaan hutang budi pada apa yang dilakukan oleh Kino padanya.
Kim Yuram melihat ketiga remaja yang sedang bicara di depan seakan asyik dengan dunianya sendiri.
“Aku paham maksudmu. Awalnya aku tidak berpikir demikian tapi aku rasa…aku juga sepertimu, Jinan”
“Yuram juga menyukai Kino-ssi?” Ha Jinan sempat kaget mendengarnya
“Sst! Bukan! Aku tidak menyukai Kino-ssi. Aku…”
Kim Yuram melihat ketiga remaja itu sekali lagi. Ha Jinan memperhatikan perubahan wajah Kim Yuram yang mulai sedikit memerah dan tampaknya dia tau siapa orang yang menarik perhatian temannya itu.
Sementara ketiga remaja yang menjadi sorotan para gadis sedang dalam rapat ‘serius’.
“Kino, ada apa?” tanya sang adik
“Kami baru saja selesai bicara. Aku dan Kaito-san saling bertukar pikiran tentang beberapa hal sederhana”
“Hal sederhana?”
“Aku dan Kaito-san tadi membahas–”
“Membahas tentang betapa tulusnya Kino dan betapa menyebalkannya dirimu”
“……” Ryou terdiam
“Ka–Kaito-san…” Kino hanya bisa melihat Kaito dengan ekspresi panik
Sebuah kalimat penuh dengan kejujuran dikeluarkan oleh Kaito. Ryou hanya menatap Kaito dengan ekspresi datar.
Tidak lama kemudian dia tersenyum dengan memegang pisau di tangannya.
“Kaito, kualitas pisau ini sangat bagus sekali. Aku bahkan bisa menggorok leher seseorang dengan ini. Mau coba? Tapi setelah itu, lupakan soal menemukan permata ingatanmu”
“……” Kino dan Kaito terdiam dengan wajah pucat
“Bagaimana? Aku tidak kalah tulus dari kakakku, kan?” senyum sinis itu masih terlihat
Kino menenangkan sang adik agar mau menurunkan pisau yang dia pegang. Memang sedikit cemberut, namun mereka akhirnya bisa kembali tenang.
Kali ini, mereka benar-benar mengadakan rapat serius.
“Kita bicara masalah serius sungguhan sekarang. Permata milik Kaito adalah dalang di balik keanehan dan terror di tempat ini” Ryou langsung mengambil kesimpulan
“Aku tidak bisa menyangkalnya tapi aku sependapat. Kita bisa berasumsi bahwa gadis bernama Song Haneul itu yang membawanya” ucap Kaito
Pikiran kritis Kino membuat keduanya bingung.
“Kemungkinan lain?”
“Kita harus mulai berpikir banyak kemungkinan, sejak munculnya para zombie ini masih belum diketahui. Selain itu, peraturan event ini juga sangat janggal”
“Apa yang kau maksud, Kino?” Ryou mulai bertanya
“Kenapa event ini dimulai pada pukul 08.00 pagi, padahal bisa saja Lee Seung Chan-san menginfeksi orang lain sebelum jam itu”
Ryou dan Kaito terdiam sejenak. Kino mulai menjabarkan hasil hipotesisnya.
“Ingat di video ketika salah seorang mahasiswa menunjukkan pemandangan di pintu gerbang?”
“Kami ingat”
“Sekarang, dengan pintu yang tinggi namun bercelah seperti itu…bagaimana bisa tidak ada orang lain di luar sana yang tidak tau bahwa ada keanehan di kampus ini? Zombie-zombie itu begitu banyak yang menjaga gerbang itu tetapi…tidak ada satupun dari mereka yang berniat untuk keluar dari gerbang”
-Deg
Sekarang mereka menemukan keanehannya.
“Kau…benar…” Ryou berubah pucat
“Ini mungkin karena kekuatan aneh dari permata ingatan milikku. Tapi, apa yang membuatnya seperti itu?”
“Itu mungkin ada dalam salah satu penjelasan dari peraturan event ini” lanjut Kino
“Peraturan event?”
“[Lee Seung Chan akan memerankan zombie pertama dan event dimulai jam 08.00 pagi]. Aku merasa kalimat itu yang menjadi kunci dari semua hal ini”
Ryou dan Kaito masih belum mengerti sepenuhnya dengan maksud penjelasan Kino, namun tampaknya hipotesis Kino masih memiliki bagian yang belum lengkap.
“Maaf, aku belum bisa mengambil kesimpulan dari semua itu tapi aku hanya merasa bagian itulah yang aneh. Aku tidak bisa menjelaskan dengan benar karena masih ada yang belum kita temukan. Kita kekurangan informasi dan petunjuk”
“Tidak, itu cukup. Aku tidak pernah meragukanmu atau pemikiran jenius itu. Terima kasih banyak, Kino” Kaito tersenyum pada Kino
Ryou mulai berpikir sejenak.
“Tapi, kalau benar apa yang Kino katakan…kita harus menemukan keberadaan Song Haneul. Satu-satunya harapan adalah dia masih hidup dan dia benar-benar memegang permata milik Kaito”
“Kamu benar, Ryou. Foto-foto yang dikirimkan olehnya itu juga membutuhkan penjelasan logis. Ini seperti Song Haneul-san bisa berjalan di luar sana tanpa mengalami kendala sedikitpun”
Terlalu banyak misteri yang kekurangan bagian pentingnya. Untuk bisa selamat dari tempat itu sekarang mungkin masih menjadi prioritas utama saat ini.
“Aku akan mencoba bertanya pada Seo Garam-san apakah dia bisa coba mengirimkan chat pada Song Haneul melalui chat grup kembali atau tidak”
“Ide bagus! Biar aku yang panggil dia kemari”
Ryou berjalan ke tempat Seo Garam yang sedang membagikan air serta roti pada kedua gadis itu bersama Kang Ji Song.
“Garam, ikut aku sebentar” Ryou menarik tangannya
“Ah…tu…”
Kang Ji Song dan kedua gadis itu hanya melihat Seo Garam dibawa pergi oleh Ryou.
“Apa yang terjadi?” tanya Kang Ji Song dengan ekspresi bingung
Kim Yuram melihat mereka berempat dan menjawab dengan yakin.
“Mereka mungkin sedang menyusun rencana untuk keluar dari tempat ini”
“Aku pikir begitu”
“Kino-ssi…” Ha Jinan melihat Kino dari jauh
Akhirnya, Seo Garam bergabung dengan rapat serius ketiga remaja dari dunia lain itu.
“Aku sudah membawanya” ucap Ryou pada sang kakak
Seo Garam tidak mengerti apa yang terjadi dan dia bertanya pada ketiga orang itu.
“Apa ada sesuatu yang ingin kalian tanyakan?”
“Maaf, Seo Garam-san. Aku ingin tau apakah mungkin jika Garam-san mengirimkan pesan chat untuk Song Haneul-san mengenai keberadaannya?”
“Sunbae-nim? Benar juga! Kenapa tidak terpikirkan sebelumnya? Akan aku coba!”
Melihat Seo Garam mengeluarkan ponselnya, ketiga mahasiswa yang ada di belakang ikut menghampiri keempat orang di depan itu dan masuk dalam pembicaraan. Mereka meninggalkan semua persediaan makanan di meja.
“Ada apa? Apa kami tidak boleh tau?” celetuk Kim Yuram
“Kami ingin tau apakah mungkin menghubungi Song Haneul dari chat grup kalian?” Ryou menjawab
“Song Haneul-sunbae?”
“Dia mengirimkan foto dari luar yang artinya besar kemungkinan dia masih hidup sekarang. Mungkin kita bisa mengetahui bagaimana bisa semua teror ini terjadi” lanjut Ryou
Seo Garam membuka aplikasi [Event Horror Apps] dan mulai membuka grup chat. Belum sempat
mengetik, ada sebuah pemberitahuan dari sebuah akun kepada semuanya.
“Bagi yang masih hidup, cepat berkumpul dengan semua mahasiswa lain ke gedung arsip! Kami semua memiliki bahan makanan dan persenjataan lengkap untuk mengakhiri semua kegilaan event ini!”
******