Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 38. Tempat Asing di Kota Baru bag. 3



Stelani dan Fabil pergi bersama membeli air dan obat-obatan. Sebelumnya mereka berpencar untuk membeli kebutuhan, Theo membagi uang yang dimilikinya kepada mereka berdua beberapa menit yang lalu.


“Ini untuk kalian. Belilah air dan apapun yang memang penting. Besok, aku juga akan mengusahakan sesuatu agar kita tidak dalam masalah”


“Jangan memaksakan dirimu, Theo. Hari ini kaulah yang sudah berjuang keras” Fabil melihat Theo dengan wajah cemas


“Tidak masalah, aku baik-baik saja. Luka ini tidak ada apa-apanya untukku. Aku akan melakukan semua yang kubisa agar kalian dan mereka yang sedang menunggu kita semua bisa makan”


Stelani dan Fabil tentu tidak bisa percaya dengan kata-katanya. Luka di wajah dan memar di bibirnya itu menandakan kata baik-baik saja milik Theo adalah kebohongan. Theo pergi berlari meninggalkan mereka berdua setelah memberikan uang dan tersenyum pada mereka.


**


Dengan membawa beberapa kantong belanja berisi air botol dalam jumlah banyak dan obat-obatan, Stelani dan Fabil berjalan menelusuri jalanan di kota. Mereka berjalan dengan tatapan murung.


“Nee, Fabil…Theo tidak baik-baik saja menurutku”


“Siapa yang mengatakan dia baik-baik saja? Sudah jelas terlihat dari wajah lelah dan luka-luka itu. Pasti terjadi sesuatu padanya saat mencari uang ini”


“Bukan itu yang kumaksud!. Soal itu, aku juga tau. Maksudku tentang apa yang dikatakannya barusan” Stelani melihat Fabil dengan tatapan takut


“S–Stelani...” dan Fabil menatap wajah Stelani dengan tatapan terkejut


“Ju–Justin-sama membunuh lebih dari satu orang di bar dan dia melakukannya dengan mudah. Apa kau tidak merasa takut akan hal itu? Meskipun dia mengaku sebagai penyelamat kita, tapi tidak pernah sekalipun dia memperlakukan kita sebagai manusia. Jika…jika Justin-sama sudah merasa bosan dengan anak-anak lemah seperti kita, dia pasti bisa membunuh kita dengan mudah. Bukankah…bukankah itu mengerikan” Stelani bicara dengan nada gemetar dan takut


“……”


Langkah keduanya berhenti di samping salah satu toko pakaian di kota. Fabil yang merasa takut mendengar hal itu hanya bisa terdiam dengan wajah pucat. Merekalah yang paling tau seberapa jahat dan biadab pria besar yang mengaku sebagai penguasa daerah terasing itu. Justin, nama yang akan menjadi ketakutan terbesar bagi sekumpulan anak-anak yatim piatu di tempat terasing dari kota itu. Dan dengan cerita Theo yang baru mereka dengar, nama itu akan menjadi trauma mendalam. Setidaknya hanya untuk mereka bertiga.


“Kau tau selama ini Theo-lah yang selalu mementang Justin-sama, iya kan Fabil? Bagaimana jika Justin-sama memutuskan untuk membu–”


“Stelani!!” Fabil berteriak


Orang-orang yang lewat banyak yang berhenti dan melihat ke arah mereka karena terkejut mendengar teriakan itu. Stelani sendiri yang sudah bicara dengan wajah yang terlihat sangat ketakutan terdiam tanpa menyelesaikan kata terakhir dari ucapannya.


Fabil menarik napas panjang dan menghembuskannya sebelum bicara pada gadis itu.


“Stelani, hentikan itu. Kau harus tenang sekarang”


“….A–Aku…”


“Dengar, kita sudah sepakat bahwa masalah ini hanya kita bertiga yang mengetahuinya. Jangan pernah berpikiran yang macam-macam dan jangan pernah menujukkan raut wajah itu di depan anak-anak lain, Mengerti?”


“……” Stelani terdiam dan berusaha untuk tenang


“Sejujurnya saja, aku juga takut kalau Theo membuat Justin-sama kesal dengan sikapnya selama ini. Tapi, jika dipikirkan kembali dia tidak akan melakukan hal buruk pada kita selama kita membawakannya uang dan emas. Kita hanya perlu melakukan itu untuk melindungi anak-anak yang lain dan diri kita sendiri.


“Aku…minta maaf karena sudah berpikiran buruk. Maafkan aku”


Wajah Stelani masih menampakkan kesedihan dan ketakutan, tapi kata-kata Fabil itu benar untuknya. Selama mereka mencari uang dan memberikannya pada Justin, setidaknya nyawa mereka akan selamat. Namun, sedikit kekhawatiran tetap tergambar dari wajah Stelani dan isi hatinya.


‘Sampai kapan kita akan terus berada dalam ketakutan Justin-sama? Apakah tidak ada cara untuk membebaskan diri darinya?’


Fabil mengerti bahwa Stelani tidak akan menjadi tenang begitu saja. Meskipun begitu dia memilih untuk memberikan senyuman dan menepuk pundak gadis itu sebagai bentuk dukungan. Dia sendiri tidak mau membohongi diri untuk bersikap tenang. Bahkan, isi pikirannya mengatakan seperti apa dirinya saat ini.


‘Aku hanya seorang pengecut yang hanya bisa memohon pada Justin-sama sambil menahan air mata pagi ini. Sejujurnya, aku sendiri sangat takut mendengar apa yang dikatakan Theo dan sampai sekarang aku masih membayangkan orang sejahat apa Justin-sama. Tapi, melihat Stelani hampir menangis tadi membuatku harus melakukan sesuatu. Selain itu aku adalah laki-laki, aku harus lebih pemberani dibandingkan perempuan’


Fabil bahkan bergumam dengan suara pelan dan mengatakan “seandainya aku bisa seberani Theo saat itu”. Mendengar itu, Stelani menatap wajah Fabil dan bertanya padanya.


“Apa kau mengatakan sesuatu, Fabil?”


“Eh?! Ah?! Ti–tidak ada sama sekali. Lupakan saja. Intinya aku senang kau sudah membaik” dia menjadi panik


Setidaknya untuk saat ini mereka sudah bisa mencairkan suasana takut yang baru saja dihadapi. Mereka memutuskan untuk menunggu Theo yang masih belum kembali membeli roti di jalan tempat mereka berhenti sekarang.


**


Setelah berpencar dengan Stelani dan Fabil, Theo berjalan menuju toko roti di depan. Dia berjalan dengan detak jantung berdegup kencang karena mengingat mata Justin yang menatapnya begitu dingin.


Di dalam pikirannya, dia masih belum bisa melepaskan bayangan semua kejadian yang terjadi beberapa waktu lalu di bar. Seperti mimpi buruk yang benar-benar terjadi, pikirannya menjadi penuh dengan rekam kejadian itu. Sambil terus berjalan, hatinya tidak berhenti mengingatnya.


‘Mata itu…seperti pembunuh yang siap untuk membunuh siapapun yang menghalanginya. Andai waktu itu aku nekad masuk dan tidak dihentikan oleh anak buahnya di depan pintu, aku mungkin akan berakhir sama seperti dua orang itu’


Theo yang masih membayangkan mayat dua orang yang mati beberapa waktu lalu mengusap-usap perutnya. Dia membayangkan bagaimana jika lubang di sekujur tubuh mayat keduanya berada di perut dan tubuhnya yang lain.


“Bagaimana rasanya ditembak berkali-kali seperti itu sampai mati? Aku…aku merasa mual mengingatnya” Theo menjadi pucat


Selain itu, Theo yang sudah cukup pucat kembali menyentuh lehernya sambil membayangkan ketiga wanita penggoda yang mati ditembak pada bagian leher.


“Rasanya…pasti sakit sekali. Harus mati dalam kondisi hina seperti itu, apakah mereka tidak menyesal? Padahal pagi ini, semua emas permata yang kudapatkan diambil oleh mereka di lantai seperti hewan. Bahkan setelah mati pun mereka juga masih diperlakukan seperti hewan”


Wajah pucat Theo sekarang dihiasi oleh ekspresi sedih. Dia berhenti sejenak seakan mengasihani ketiga wanita penggoda itu.


“Aku kasihan sekali pada kalian. Apakah kami juga akan bernasib sama seperti yang kalian alami?”


Kegelapan yang muncul dari rasa takut membuatnya begitu putus asa. Dia yang selalu mengatakan benci dan tidak akan pernah memaafkan Justin, akhirnya menyadari betapa tidak berdayanya dia. Dia hanya anak berusia 11 tahun sama seperti Stelani dan Fabil. Mereka bertiga yang paling tua diantara kumpulan anak-anak tertinggal di tempat yang asing, sudah memutuskan untuk saling melindungi satu sama lain. Tapi, kenyataan tetaplah kenyataan. Di mata mereka, mereka tetaplah yang  terlemah dan tidak bisa berbuat apa-apa.


Theo menundukkan kepalanya, mencoba sebisa mungkin menahan air mata kekecewaannya. Dia begitu marah pada dirinya sendiri. Di saat kekecewaan dan kesedihan menjadi kombinasi terburuk untuk suasana hatinya, tiba-tiba dia mendengar suara berbisik di telinganya.


[Apa kamu baik-baik saja?]


“……!!”


Theo langsung mengangkat kepalanya dengan ekspresi terkejut. Dia mengingat suara itu. Itu adalah suara dari kakak yang memberinya roti siang ini. Entah apa yang terjadi, kejadian siang tadi tiba-tiba muncul dalam pikirannya.


[Ada apa? Apa kamu masih lapar?]


[Aku sudah katakan kalau masih lapar, kamu boleh memintanya lagi. Makanlah sampai kenyang]


Orang yang memberikan roti padanya begitu baik dan tersenyum padanya. Theo ingat dia belum berterima kasih untuk roti yang terakhir dan dia tidak akan lupa apa yang sudah dia lakukan pada orang itu pagi ini.


“Kakak itu… tiba-tiba saja aku teringat wajahnya. Aku belum berterima kasih padanya dan…aku juga belum sempat minta maaf padanya”


Dia tidak mempertanyakan kenapa di saat seperti itu justru wajah orang itu yang muncul di pikirannya, tapi hanya satu yang dia rasakan. Theo sudah merasa lebih baik. Dia sudah tidak merasa takut untuk saat ini. Dia berusaha melupakan sejenak pikiran tentang rasa takut itu dan pergi berlari menuju toko roti.


Untuk beberapa menit setelah berlari, Theo masuk dan membeli roti di toko roti. Dia membeli begitu banyak roti sampai dia sendiri kesulitan membawanya. Dengan hati-hati dia berjalan membawa semua kantong belanja berisi roti itu bersamanya. Stelani dan Fabil yang sudah menunggunya melihat dari kejauhan dan membantu Theo membawa semua belanjaan itu. Membutuhkan waktu lebih dari tiga puluh menit bagi mereka berjalan di jalanan kota dengan membawa begitu banyak belanjaan sampai akhirnya kembali ke jalan gelap di belakang altar.


Memasuki jalan gelap daerah asing di kota tersebut, mereka mencoba berjalan secepat yang mereka bisa untuk kembali.


“Ingat ya, tidak ada dari kita yang akan membahas semua pembicaraan tadi. Bersikap semua normal dan baik-baik saja” Fabil mengingatkan kata-katanya tadi kembali pada kedua temannya


Mereka berjalan menelusuri jalan lurus di sana dan keadaan tiba-tiba saja menjadi mengerikan. Suasana horror mencekam mungkin bisa disamakan dengan kondisi mereka sekarang. Di depan mereka, terdengar suara langkah kaki. Hal yang lebih mengerikan lagi adalah suara langkah itu terdengar banyak dan semakin mendekati lokasi mereka saat ini.


“Suara…suara langkah kaki!” Stelani panik


“Ssst, jangan ada yang berteriak. Lewat sini!!”


Theo meminta mereka berdua mengikutinya. Di sebelah kiri di depan mereka terdapat sebuah gang kecil dengan banyak tumpukan kotak kayu tidak terpakai dan kantong sampah yang bertumpuk. Mereka bersembunyi di balik itu dengan tenang. Sekarang mereka panik.


“Theo–” Fabil berbisik memanggil namanya


“Ssst, diam sebentar. Aku akan menengoknya dulu”


Theo menitipkan belanjaannya pada Fabil dan mulai mengintip sebentar. Mereka yang berlari itu akhirnya datang dan ternyata itu adalah anak buah Justin sebanyak lima orang. Mereka secara kebetulan berhenti tidak jauh dari lokasi mereka berada. Theo yang langsung menyembunyikan diri tidak lama sebelum mereka melihatnya berbisik dengan wajah takut.


“Gawat!! Anak buah gorilla itu!”


******


Di bar [Barre des Noirs], anak buah Justin sibuk dengan sisa-sisa pesta berdarah yang baru dilakukan Justin beberapa waktu lalu. Si pelaku utama, Justin duduk di dalam ruangannya sambil meminum alkohol di tangannya. Tubuh bersimbah darah itu masih belum dia bersihkan sama sekali. Terlihat anak buahnya menggotong mayat kedua orang yang ada di ruangannya, lalu lainnya menggotong mayat ketiga wanita yang mati di bar.


“Aku tidak akan memberikan toleransi apapun pada mereka yang berani menetangku dan gagal menjalankan tugas mereka. Buang mereka semua ke tumpukan sampah dan biarkan mereka membusuk di sana!!”


“Baik!!”


Siapa yang menyangka mereka semua benar-benar mematuhi perkataan Justin dan melempar semua mayat itu ke tempat pembuangan sampah di belakang bar begitu saja tanpa ditutupi kantong sampah atau apapun. Sungguh ‘bijak’ sekaligus bodoh.


Mayat kelima orang itu dibiarkan begitu saja dan anak buah Justin kembali ke dalam bar. Saat dilempar ke tanah, salah satu kaki dari mayat wanita itu tidak sengaja menyenggol kantong sampah yang berada di dekatnya sehingga kantong itu jatuh dan semua isinya berserakan. Itu adalah sampah botol-botol bekas minuman Justin yang baru dibersihkan siang ini. Semua botol-botol itu berserakan termasuk jam saku yang keluar dari kantong itu.


Jam saku itu sempat menggelinding sebelum akhirnya berhenti karena menabrak tubuh salah satu mayat wanita di sana. Jam saku itu ternodai oleh darah pada bagian bawahnya. Namun anehnya, jam saku tersebut tetap mengeluarkan cahaya dan noda darah yang mengotorinya menghilang begitu saja. Bukan hanya itu, jam saku itu juga seakan melenyapkan darah di sekitarnya, tidak dengan tempat lain. Sungguh sebuah misteri. Tidak ada yang menyadari hal itu sama sekali.


Begitu masuk kembali, semua anak buahnya harus menghadapi Justin yang sedang menunjukkan ekspresi dinginnya.


“Apa yang kalian lihat itu adalah sebagian dari kebaikan yang kumiliki. Jika kalian ingin merasakannya juga, kalian cukup datang kepadaku dengan kegagalan dalam menyelesaikan tugas yang kuberikan. Atau jika ingin memiliki hiasan bagus di kepala atau leher kalian seperti wanita tidak berguna tadi, kalian cukup melawan perintahku. Mudah saja, bukan?”


Justin mengatakan itu dengan nada dingin tanpa ekspresi. Sorot mata tajam mengintimidasi menatap lurus ke semua orang-orang bertubuh besar dan bertato itu. Mereka hanya diam tetapi di dalam hatinya mereka semua takut untuk mati. Sudah bisa dipastikan Justin adalah ditaktor sesungguhnya.


“Dengar, aku tidak mau mendengar laporan kegagalan. Akan lebih baik jika kalian tidak kembali sebelum mendapatkan apa yang kuinginkan. Tapi, jangan kalian pikir kalian bisa lari dariku”


“……”


“Aku ingin pria berpedang tanpa sarung pedang itu hidup atau mati. Sejak dia memasuki wilayahku tanpa ijin dengan senjata, itu artinya aku harus mengurusnya dengan senjata juga”


Justin berdiri dari tempat duduknya dan melempar botol alkohol di tangannya ke dinding sisi sampingnya. Dia berteriak hingga tempat itu menggema.


“Aku ingin pria itu dibawa hidup atau mati. Jangan coba-coba kembali dengan tangan kosong atau kalian akan bernasib sama dengan sampah di belakang!!!”


“Baik, Justin-sama!”


“Cari sampai ketemu. Jika perlu mulai mencari malam ini. Pergi ke semua pelosok tempat ini dan jika memang diperlukan…naik ke kota dan temukan dia. Hidup atau mati, aku tidak peduli”


Justin duduk kembali dan semua anak buahnya pergi meninggalkan bar. Di dalam sana hanya ada dia bersama seorang bartender. Bartender itu memiliki fisik yang dewasa, pemuda tampan berusia sekitar 28-29 tahun dengan tinggi badan dan postur tubuh yang standar. Dia adalah orang yang ditugaskan untuk mengurus bar yang kacau bagaikan kuburan malam itu. Bartender itu keluar dari meja bar dan berdiri di depan pintu ruangan yang terbuka.


“Justin-sama, apakah saya sudah bisa mengepel lantai ruangan anda? Tempat ini tidak baik untuk suasana hati yang buruk”


Justin yang awalnya mengabaikan suara itu akhirnya menjawab.


“Arkan…”


“Ya, Justin-sama”


“Apa kau ingin bernasib sama seperti sampah di belakang?”


“……”


“Kalau mengerti tinggalkan aku sendiri”


Bartender bernama Arkan itu pergi meninggalkan bar itu. Di luar bar, dia menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya. Setelah beberapa lama dia menghembuskan asap dari mulutnya sambil berkata.


“Mereka semua merepotkan”


******


Para anak buah Justin berpencar ke segala sudut tempat itu untuk mencari pria dengan pedang tanpa sarung pedang. Satu-satunya petunjuk mereka adalah ciri-ciri jelas yaitu pedang tanpa sarung pedang. Bagaimana fisiknya, bentuk wajahnya dan lainnya tidak mereka pedulikan.


Lima orang yang berlari ke jalan sempit yang gelap itu berhenti di dekat gang kecil dengan kotak kayu dan tumpukkan sampah di dekatnya. Mereka berhenti sejenak dan mulai merencanakan sesuatu.


“Pria dengan pedang tanpa sarung pedang, bagaimanapun juga kita harus menemukannya dalam keadaan hidup atau mati, mengerti?”


“Aku tidak mau bernasib sial seperti Fred dan Loki yang mati karena kegagalan mereka sendiri”


“Itu kebodohan mereka. Mereka diperintahkan Justin-sama untuk menemukan pria berpedang tanpa sarung pedang itu tapi dengan percaya dirinya mereka berani kembali tanpa membawa apapun pada Justin-sama”


“Itu sama saja dengan mengantarkan nyawa pada kematian. Akibatnya mereka mati dihujani peluru oleh Justin-sama hari ini. Jika kita tidak ingin bernasib sama seperti mereka berdua, kita harus menemukannya bahkan jika harus terpaksa ke kota malam ini!”


“Ayo pergi dari sini sebelum larut malam. Jika gagal, kita bisa mencarinya pagi-pagi di kota. pria itu pasti masih belum meninggalkan kota ini”


Percakapan singkat yang dilakukan oleh kelima anak buah Justin akhirnya berakhir. Mereka berlari lagi ke depan untuk melanjutkan pencarian. Secara kebetulan, Theo dan kedua temannya nyaris bertegur sapa dengan mereka. Mereka yang masih berada di dekat tempat itu telah mendengar semuanya. Tidak perlu banyak berpikir, Theo berdiri mengambil kembali kantong belanja miliknya, meminta mereka untuk bangun lalu lari secepat yang mereka


bisa.


Stelani dan Fabil sekarang kembali pucat setelah mendengar sendiri apa yang dikatakan oleh anak buah Justin itu. Mereka bertiga tidak membahas apapun selama berlari dan fokus untuk cepat sampai ke rumah mereka. Sedangkan Theo terlihat lebih pucat dan takut. Dengan menyipitkan matanya, dia mengingat apa yang dia dengar tadi.


[Pria dengan pedang tanpa sarung pedang, bagaimanapun juga kita harus menemukannya dalam keadaan hidup atau mati]


[Aku tidak mau bernasib sial seperti Fred dan Loki yang mati karena kegagalan mereka sendiri]


[Mereka diperintahkan Justin-sama untuk menemukan pria berpedang tanpa sarung pedang itu]


Sekarang dalam pikiran Theo, dia mengingat kakak yang memberinya roti. Dia yakin melihatnya di dekat anak tangga sore ini. Dia juga melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa kakak itu bersama dengan seseorang yang memiliki pedang tanpa sarung pedang di pinggangnya.


Theo menjadi takut dan syok. Dalam hatinya dia bisa merasakan hal berbahaya.


‘Orang yang diincar gorilla itu…bersama dengan kakak baik yang memberiku roti. Selain itu pagi ini, aku juga melakukan hal yang jahat pada kakak itu dengan mencuri benda dari sakunya. Kenapa? Bagaimana bisa kebetulan seperti ini terjadi?! Apa yang sebenarnya terjadi?’


******