
Ketika Kaito membuka pintunya, dia mendapatkan kejutan yang luar biasa. Sosok zombie wanita yang mencoba menggigitnya telah berada di depan matanya.
“……!!!” Kaito terkejut
Dengan reflek cepat dia menghindari serangan itu dan memotong kepala zombie itu.
“Kyaaa!!!” Ha Jinan berteriak
“Ada apa?!” Kim Yuram sempat bertanya
Melihat kepala yang menggelinding dan sebuah tubuh yang terjatuh dengan darah yang seakan tumpah ke lantai membuat pertanyaan Kim Yuram terjawab. Itu zombie. Perpustakaan itu berisikan zombie.
“Oi, Kaito! Sudah tiga orang dari kita yang mati! Kau mau menambah daftar orang yang mati lagi?!” teriak Ryou
“Aku tidak bermaksud begitu tapi…”
Kalimat Kaito sempat terhenti. Di dalam sana terdapat beberapa ekor zombie yang tidak dia hitung. Dia juga melihat ada lima orang yang baru saja mati, tiga di antaranya mulai bangkit sebagai zombie.
“Tampaknya sebelum kita datang, para zombie itu menyerang mereka”
“Apa?! Mereka yang mana?”
“Lari!!” Kaito meminta mereka untuk lari
Tidak perlu basa-basi, semua orang mengikuti Kaito. Seo Garam sempat melihat kepala yang ada di lantai.
‘Ahn Hyerin!!’
Tampaknya itu adalah salah seorang dari teman yang dia kenal. Seo Garam mulai mengabaikannya dan berlari mengikuti Kaito.
Di depan lorong yang dilalui oleh mereka, terdapat pintu menuju tangga darurat. Ryou sudah tau apa yang harus dilakukan.
“Tangga darurat?! Kaito, cepat lari ke pintu di samping itu dan buka pintunya! Cek apakah kita bisa belok ke sana dengan aman tanpa ada makhluk menyebalkan itu!” Ryou berteriak mengarahkan
“Aku mengerti!”
Kaito langsung berlari lebih cepat dari yang lain untuk membuka pintu itu.
“Cepat sekali! Kang Ji Song terkejut
“Memang ada manusia yang bisa berlari secepat itu?!” Kim Yuram juga terlihat bertanya-tanya
Kaito segera membuka pintu tersebut. Pintu itu tidak dikunci dan ketika dia membukanya, semua masih aman. Tidak ada noda darah di dalamnya.
“Kalian semua, cepat!” seru Kaito
Kino dan Ryou sempat melihat ke belakang bersama.
“Mereka mengejar kita” ucap Kino panik
“Cih! Sepertinya di perpustakaan itu ada beberapa zombie yang keluar ketika pintunya terbuka”
Kino mulai menyadari bahwa di bagian belakang dari kawanan zombie yang mengejar, terdapat satu dari tiga mahasiswa yang belum sempat dipukul oleh Ryou sebelum mereka pergi.
“Maafkan aku” gumam Kino pelan dengan raut wajah sedih ke arahnya
“Cepat masuk sekarang!”
Semua orang masuk ke dalam pintu darurat tersebut kecuali Kaito.
“Apa yang mau kamu lakukan, Kaito-san?!”
“Setidaknya mengurangi jumlah mereka sedikit bisa membantu kita ke depannya”
“Persetan dengan mengurangi jumlah! Kau ikut masuk dengan kami dan kita langsung ke bawah!”
Ryou langsung menarik tangan Kaito secara paksa sebelum remaja itu berlari menerjang kawanan zombie tersebut.
-BRAAK
-CRIIK
Setelah mereka menutup pintunya dan menekan kunci pada pintu, mereka mencoba untuk bernapas sebentar. Dengan wajah lelah dan napas terengah-engah, mereka mulai menyadari bahwa di lantai mereka sekarang hampir tidak ada manusia yang selamat.
“Hiks…hiks…” Ha Jinan menangis
“Jinan-san, jangan menangis. Semua akan baik-baik saja” Kino mencoba menghibur
“Ini…ini mimpi buruk. Hiks…kenapa…kenapa semua ini bisa terjadi? Apa yang sebenarnya dilakukan oleh sunbae-nim hingga semua jadi seperti ini. Hiks…”
Bukan hanya Ha Jinan yang menangis tapi Seo Garam, Kim Yuram dan Kang Ji Song ikut meratapi nasib mereka.
“Itu tadi Ahn Hyerin…” Seo Garam mulai bicara
“Ahn Hyerin? Siapa itu?” Kino bertanya
“Zombie yang kepalanya baru dipenggal oleh Kaito-ssi. Dia salah seorang teman sekelas kami. Kami tidak menyangka dia berakhir seperti ini juga”
Raut wajah Seo Garam sendu dan menahan tangis. Kang Ji Song juga tampak frustasi. Ditambah dengan pukulan dari luar yang menandakan para zombie itu mencoba masuk, membuat mereka semakin tertekan.
“Bagaimana caranya kita bisa selamat dari tempat ini?” Kim Yuram berbicara pada dirinya sendiri
Ketiga remaja itu saling menatap satu sama lain mendengar semua keluh kesah penuh keputusasaan dari keempat mahasiswa itu.
Kino berbisik pada Kaito.
“Kaito-san, sebaiknya kita harus cepat menemukan cara untuk mencari tempat yang aman bagi mereka. Kita bisa mencari cara untuk menemukan petunjuk mengenai permata ingatanmu serta menghentikan masalah ini”
“Aku tau. Aku sedang berpikir dimana kita bisa menemukan senjata lain dan cara untuk memusnahkan semua zombie yang ada di tempat ini”
“Memusnahkan itu akan sulit. Membutuhkan api jika ingin cepat. Tapi, di gedung sebesar ini…sekalipun kita ingin membakar seluruh gedung, untuk sekarang sebaiknya lupakan saja cara itu” Ryou ikut berbisik dengan keduanya
“Untuk sekarang, memastikan apakah ada tempat yang masih aman atau tidak untuk mengungsi. Setelah itu, kita bisa meninggalkan mereka berempat di sana dan kita bisa fokus mencari informasi lain mengenai permata ingatanku” usul Kaito
Kino terlihat tidak menolak hal itu, namun sepertinya dia memiliki sebuah pemikiran lain. Kino bertanya kepada para mahasiswa tersebut.
“Maaf, kalau tidak salah kalian mengatakan bahwa ada semacam minimarket di lantai dua dan tiga di gedung ini, benar kan?”
“Benar. kalau di lantai ini arahnya berlawanan dengan jalan yang kita pilih. Jika tadi kita berbelok ke kanan, kita akan melewatinya. Letaknya di samping lorong menuju toilet” jelas Seo Garam
“Minimarketnya cukup luas dan penuh dengan semua kebutuhan selain makanan. Hampir semua dijual di sana karena hampir 70% dari mahasiswa di sini adalah penghuni asrama” Kim Yuram menambahkan
“Tunggu, asrama? Di sini ada asrama juga?” Ryou terkejut tidak percaya
“Ada, letak bangunan asramanya ada di belakang gedung Fakultas Seni Rupa” jawab Kim Yuram kembali
“Aku, mendiang Kim Eunji, dan tiga orang yang mati sebelum ini adalah penghuni asrama. Begitu pula dengan Jung Leon-sunbae dan dua orang temannya, Lee Seung Chan-sunbae dan Song Haneul-sunbae” lanjut Seo Garam
“Mereka juga tinggal di asrama?!”
“Mereka berasal dari luar daerah. Karena mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di sini, pihak kampus memberikan akomodasi serta biaya hidup kepada mereka 100% setiap bulan. Karena itu seluruh gedung fakultas dilengkapi dengan minimarket lengkap dan serba ada”
Penjelasan Seo Garam membuat Yuki bersaudara terkejut dan takjub.
‘7Eleven versi dunia lain ada di sini. Selain itu, ada di dalam gedung’ gumam Ryou
‘Di Jepang juga ada yang seperti ini. Tapi, ini yang paling hebat untukku. Jika semua kebutuhan ada, berarti selain makanan seharusnya ada hal lain seperti obat-obatan dan semacamnya’ pikir Kino dalam hati
Kaito tidak begitu mengerti kalimat ‘minimarket’, tapi dia paham bahwa mungkin saja tempat itu memiliki benda yang dia butuhkan.
“Berarti, tujuan kita sekarang adalah ke tempat yang disebut minimarket” Kaito menyimpulkan semuanya
“Kenapa?” Kim Yuram bertanya
“Kalian membutuhkan makanan dan aku membutuhkan tambahan senjata”
Jawaban singkat Kaito cukup dimengerti oleh kedua kakak beradik itu. Ryou langsung terlihat senang.
“Benar juga! Jika minimarket itu memiliki hampir semua kebutuhan, seharusnya ada benda yang lebih berguna dari penggorengan ini. Pisau atau gunting, apapun yang berbau benda tajam. Sapu dan tongkat pel juga tidak masalah”
“Tepat. Itu yang kumaksud. Sekalipun benda itu kecil, selama itu benda tajam dan benda panjang yang bisa dipakai untuk memukul dan menyerang, kita bisa memanfaatkannya”
“Kalau begitu, kita tidak mungkin keluar dari pintu ini. Kita keluar dari bawah” usul Kino
Mereka melihat anak tangga yang ada di dekat mereka. Anak tangga menurun itu tampak tidak berbahaya, namun tidak ada jaminan bahwa lantai yang ingin mereka tuju aman dari zombie.
“Maaf, apakah bisa Kaito-san yang turun ke bawah?”
“Tidak masalah. Memang itulah niatku. Aku tidak bisa membiarkan kalian yang tidak memiliki senjata dengan gegabah turun secara bersamaan”
Ha Jinan mulai sedikit lebih tenang. Dia melihat Kino dengan mata sembab setelah menangis. Tampaknya Kino menyadari hal itu dan tersenyum padanya.
“Apa keadaanmu sudah lebih baik, Ha Jinan-san?”
“Aku…aku sudah lebih baik”
“Kita akan keluar dengan selamat. Berjuanglah sedikit lagi ya”
“Aku mengerti”
Ha Jinan memegang lengan pakaian Kino dengan erat.
“Kalau…kalau tidak keberatan…aku…aku ingin menggandeng tanganmu, Kino-ssi”
“……” semua orang terdiam
Gadis pemalu yang hanya bisa menangis dan nyaris mati di awal sepertinya sudah memberikan kode keras pada Kino. Atau mungkin juga hanya faktor ingin mencari rasa aman. Tapi, sepertinya dia hanya memfokuskan diri pada Kino seorang.
Kecuali Kino, semua orang tampak sudah menyadari sesuatu. Kaito kembali berbisik pada Ryou.
“Ryou…dia sudah mulai berani mengatakannya di depan kita semua”
“Aa. Tapi aku ragu kakakku mengerti itu. Dia itu polos”
“Aku tau Kino polos tapi kau yakin?”
“Sangat yakin. Coba kau tanyakan ini padanya nanti kalau sempat”
“Apa?”
“Tanyakan padanya 'apa kau mengerti artinya dari lolicon atau tidak?' Kau akan tau seberapa lugunya kakakku itu” kata Ryou dengan penuh keyakinan
“Tapi aku sendiri tidak tau arti dari kata itu juga”
“Kalau kau sepertinya tidak masalah jika tidak tau. Kau kan remaja dari dunia lain”
“……”
Kaito sempat berpikir bahwa kata yang disebutkan oleh Ryou mungkin mengandung arti yang tidak benar.
“Apa arti dari kata itu tidak baik di telinga Kino?”
“Tidak, itu adalah sebuah kalimat yang me-representasikan sebuah keindahan dari sosok anak-anak dalam anime. Percayalah padaku” Ryou tersenyum licik
Sekarang Kaito melihatnya dengan wajah datar sambil bergumam dalam hatinya.
‘Aku yakin itu adalah kalimat yang tidak baik dan aku tidak akan pernah menanyakan itu pada Kino. Dia tidak boleh ternodai oleh pikiran liar adiknya yang bermasalah ini’
Meskipun kata itu tidak mengandung unsur negatif sama sekali, tapi penjelasan Ryou pada Kaito telah memberikan gambaran buruk pada kata itu. Sungguh ironis.
******