
Ryou yang mulai melihat kedua orang itu langsung menghampiri mereka.
“Kalian berdua!!”
Kaito menengok ke belakangnya. Itu Ryou dan tentu saja Kaito memiliki firasat buruk lain mengenai hal ini.
Begitu sampai, Ryou benar-benar tidak mengatakan apapun pada sang kakak dan langsung melampiaskan emosinya pada Kaito.
“Kaito! Kenapa kau berhenti tiba-tiba seperti anak hilang?! Tidak ada pusat anak hilang di sini jadi jangan membuatku kerja dua kali hanya untuk menyusulmu!”
Firasat Kaito tepat. Sepertinya, dia ingin sedikit menjawab ocehan Ryou.
“Kenapa hanya aku yang dimarahi?”
“Karena kau yang salah”
“……” Kaito terdiam
Dia melihat Kino dan tersenyum. Kino tidak begitu paham dengan maksud senyuman itu. Tampaknya, Kaito ingin sedikit mengetes Ryou.
“Kenapa tidak memarahi Kino juga?”
“Kenapa aku harus memarahi kakakku?”
“Bukan hanya aku yang berhenti, kan?”
“Tapi, aku yakin pasti karena ucapan atau idemu Kino berhenti, kan?”
“……” Kaito terdiam karena itu benar
“Sudah kuduga. Jadi intinya, kau salah. Karena itu aku hanya akan memarahimu”
Tidak mau mendengarkan banyak basa-basi, Ryou bertanya pada keduanya apa yang mereka bahas dan Kaito menceritakan idenya tersebut. Kino ikut mengatakan pendapatnya dan Ryou mulai membuka mulutnya.
“Aku rasa itu memang sedikit gegabah, Kaito. Aku setuju pada Kino. Kalaupun seandainya kau berhasil menemukan permata itu, bisa jadi kau tidak sengaja menyentuh seperti saat di restoran waktu itu. Aku tidak mau terlempar ke tempat yang tidak kondusif seperti ini lagi”
“Tapi, itu akan meningkatkan peluang kita untuk selamat. Satu mendapatkan permata dan satu lagi sampai ke gerbang untuk mengambil kuncinya”
Kaito tampak masih tidak mau mengalah dengan usulannya. Tapi di tengah-tengah pembicaraan panas itu, Song Haneul berlari ke arah mereka.
“Kalian bertiga!!”
Ryou menengok dan melihat Song Haneul berlari ke arah mereka.
“Kenapa kau ke sini, dasar bodoh! Aku sudah bilang tunggu dan–”
“Dari arah tangga…dari arah tangga ada suara langkah kaki datang!”
“Apa?!” ketiga remaja itu terkejut
“Mungkin mereka sudah mulai menaikki tangga menuju lantai ini juga. Bagaimana ini?” Song Haneul menjadi panik
Kino mulai memegang lengan pakaian Kaito.
“Kino?” Kaito melihat Kino dengan wajah bingung
“Kaito-san, tolong pikirkan kembali idemu itu. Keadaan mulai berubah sekarang”
“……” Kaito terdiam
Dengan keadaan seperti ini, tampaknya mereka harus mulai menunda pembicaraan itu kembali. Kaito hanya memberikan senyuman pada Kino dan mulai berlari menuju tangga menurun. Tiga orang lainnya mengikuti di belakang.
Baru menuruni beberapa anak tangga, terdengar suara yang sangat tidak asing.
“Cih, sudah masuk sampai sini rupanya” decak Ryou kesal
Song Haneul berubah panik.
“Kita harus bagaimana sekarang?”
“Kita harus melewati mereka mau tak mau” Kaito menjawabnya
Ryou melirik ke arah Song Haneul.
“Oi, kau punya hematophobia tidak?”
“Tidak. Memang kenapa?”
“Bagus. karena setelah ini, pakaian bersihmu itu akan berakhir seperti milik kami sekarang”
“……” Song Haneul terdiam
Dia tentu sadar bahwa ketiga remaja itu bermandikan darah di semua pakaiannya. Tentu saja Song Haneul sudah siap berakhir seperti mereka jika memang harus bermandikan darah untuk lolos dari tempat itu.
Kino mulai mengangkat tongkat pel yang dia bawa untuk bersiap jika ada yang datang.
“Begitu ada yang datang, sebaiknya kita serang mereka terlebih dahulu. Suara yang dihasilkan oleh salah satu dari mereka bisa memancing yang lainnya untuk datang”
“Itu benar. Aku akan menuruni tangga ini terlebih dahulu” Kaito berjalan ke bawah
“Hati-hati, Kaito-san”
Tidak butuh waktu lama, kepala zombie tersebut langsung terpisah dari tempatnya. Sebuah ‘air mancur indah’ berwarna merah mulai mengotori lantai tersebut.
Sebuah pemandangan baru dilihat oleh Song Haneul. Bukan hanya membuatnya pucat, namun dia harus berjuang keras menahan perutnya memuntahkan semua isi yang telah dia makan.
“Jangan muntah di sini atau kutinggal kau” ancam Ryou pada Song Haneul di belakangnya
“Aku…aku mencoba”
“Cepat turun. Mereka masih ada di bawah. Sebelum yang lain naik, kita harus keluar dari gedung ini!”
Kaito berteriak kepada mereka. Ketiga orang itu langsung menuruni anak tangga menuju lantai satu. Dengan tidak menurunkan kecepatan, mereka berlari menyusuri lorong koridor menuju pintu keluar.
‘Aku kira sudah ada zombie yang masuk tempat ini’ pikir Kaito
Kino yang ada di belakang Kaito sedikit bertanya-tanya.
“Apa menurut Kaito-san, di luar sana mereka sudah berkumpul?”
“Kemungkinan. Jika memang begitu, jangan menghentikan serangan sama sekali. Di dalam sini, hanya ada dua sampai lima zombie yang masuk. Ini menandakan kemungkinan besar mereka tidak masuk ke tempat ini karena sesuatu”
“Mungkin…karena sejak awal, deskripsi asrama mahasiswa dalam cerita event yang kubuat memang tidak dimasuki oleh zombie” Song Haneul angkat bicara
“Begitu ya. Karena itu mereka tidak masuk semua. Tapi, satu sampai lima ekor yang masuk benar-benar tidak sesuai dengan penjelasan dalam cerita” sahut Kaito
“Itu berarti semasa hidupnya mereka adalah mahasiswa yang suka melanggar peraturan” celetuk Ryou”
Begitu keluar dari pintu keluar asrama mahasiswa, sebuah pemandangan tidak asing terlihat untuk kedua kalinya.
Banyak zombie yang berjalan tanpa arah tujuan. Mereka sudah ada di semua sisi luar asrama. Meskipun ada beberapa yang masuk ke dalam gedung asrama, namun hampir seluruhnya berada di luar.
Ryou mulai mengangkat pisau daging besar miliknya ke arah depan sambil berkata dengan ekspresi kesal.
“Aku benci melihat mayat hidup berjalan-jalan di sore hari. Kalau seandainya di luar tempat ini juga seperti ini, populasi manusia bisa lenyap seketika seperti butiran debu”
Tampaknya kekesalan Ryou benar-benar ditunjukkan dengan baik. Para zombie itu mulai melihat keempat manusia hidup itu dan berjalan mendekati mereka.
Dengan cepat, Ryou berlari dan langsung membelah kepala mereka dari telinga di sampingnya.
“Hah! Ini mirip adegan anime Corpse Party, saat anak kecil yang diculik dibunuh dengan dipotong lidahnya dan dibelah kepalanya menjadi dua. Tampaknya akan jauh lebih mudah membunuh mereka dengan cara seperti ini”
“Ryou! Jangan membunuh semuanya! Kita harus keluar dari tempat ini!” teriak sang kakak
“Aku tau! Kalian maju saja! Aku sedang mencoba anak baru di tanganku ini!”
-CRAAAT
Darah mulai mengenai pakaian bahkan cipratannya mengenai wajahnya. Kaito tampaknya tidak ingin membiarkan Ryou melakukannya sendiri.
“Kino, bawa Song Haneul keluar dari sini. Apapun yang terjadi maju saja! Kalian harus langsung pergi ke gerbang utama!”
“Tapi, Kaito-san–”
“Aku mengerti” Song Haneul menjawab
“Song Haneul-san…”
“Kita pergi dulu, Kino. Aku tidak akan merepotkan kalian”
Song Haneul mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Dia mengambil dua bilah pisau yang ada di tasnya.
“Dengan ini, setidaknya aku bisa menolong diriku sendiri”
Sorot mata Song Haneul terlihat meyakinkan. Akhirnya, Kino setuju dan berlari ke depan.
Setiap ada zombie yang mendekatinya, Kino dengan cepat langsung melukai dan mendorongnya jatuh.
“Tidak dibunuh sekalian?”
“Tidak perlu. Untuk saat ini, menyimpan tenaga agar bisa sampai ke luar itu lebih penting. Di luar sana, kita mungkin akan melawan yang lain. Song Haneul-san juga sebaiknya berusaha menghindari sentuhan mereka”
“Aku…mengerti”
Di dalam hati, Song Haneul sempat memuji Kino.
‘Bahkan di saat seperti ini, dia masih bisa memikirkan kemungkinan seperti itu. Aku tidak menyangka dia masih bisa berpikir dengan kepala dingin. Aku yakin aku bisa percaya padanya dan kedua temannya itu’
Nyaris sampai di depan pintu gerbang, tiba-tiba dari arah samping ada zombie yang mencoba menyentuh Song Haneul.
Kino menyadari itu dan langsung memukulnya dengan senjata yang dia pegang. Betapa terkejutnya kedua orang itu begitu tau bahwa zombie itu adalah sosok yang tidak asing untuk mereka.
“Wajah itu…”
“Seung…Chan…”
Ekspresi sedih dan pucat Song Haneul tidak bisa disembunyikan begitu melihat sosok wajah zombie tersebut.
Seperti sebuah mimpi buruk, akhirnya dia melihat dengan mata kepalanya sendiri sosok teman baiknya yang berubah menjadi mayat hidup.
******