Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 125. Misteri Dibalik Hubungan yang Mengikat bag. 2



Kaito mulai melihat Ryou dengan datar.


“Kau adalah orang kedua yang mencoba menjodohkanku dengan wanita gila itu. Tuan bartender adalah orang pertama”


“Tapi memang benar, kan?! Walaupun setelah itu aku ditendang olehnya, tapi aku bisa melihat wajahnya yang merah merona seperti heroine yang baru bertemu cinta pertama di shoujo manga! Jangan remehkan pemikiran otaku ya!”


“R–Ryou, kamu ditendang?! Apa…apa semua baik-baik saja?!” Kino langsung panik


“Ki–Kino, aku baik-baik saja. Jangan panik seperti itu atau lukamu akan terbuka nanti”


“Tapi…ditendang itu…”


“Abaikan masalah itu. Nanti aku akan protes setelah ini. Kembali ke pokok masalahnya. Oi! Sampai dimana tadi itu…”


“Sampai kau mengatakan untuk tidak meremehkan otaku” Kaito menjawab dengan nada datar


“Oh, iya sampai situ. Oke. Jangan remehkan pemikiran otaku ya!!” Ryou kembali menunjuk Kaito


“Apa itu shoujo manga dan otaku? Nama makanan?” tanya Kaito


“Sesuatu yang tidak akan kau mengerti. Intinya aku tau kalau dua orang iblis itu terlibat pasti gara-gara kau!”


“Kenapa jadi aku yang disalahkan?” Kaito berusaha membela diri


“Karena wanita iblis itu jatuh cinta padamu!!”


“Mustahil. Dia sudah bersuami”


“Tapi dia cantik”


“Aku tidak suka wanita cantik yang bisa memenggal kepala manusia. Beda cerita kalau wanita itu bisa memenggal kepala hewan buruan”


“Oi, kau…kalau dia bisa memenggal kepala manusia artinya dia bisa memenggal kepala hewan buruan juga. Kau tidak berpikir sampai situ ya?” Ryou menatap Kaito dengan tatapan aneh


“Hmm, kau benar. Kurasa dia pasti bisa memenggal kepala rusa atau kelinci hutan”


Arah pembicaraan ini akhirnya kembali menjadi tidak jelas. Tampaknya Kino yang mencoba bersabar kembali diuji.


“Ehem!”


“……!!” kedua orang itu terkejut dan melihat ke arah Kino secara bersamaan


“Sudah selesai membahas wanita cantik yang bisa memenggal kepala? Apakah masih ada lagi jenis wanita yang bisa memenggal hal lain yang mau kalian bahas terlebih dahulu? Aku akan mendengarkan” Kino tersenyum ramah


Sepertinya, Ryou dan Kaito tidak akan melihat senyuman itu sebagai senyuman ramah lingkungan. Seketika, mereka langsung diam.


“Su–su–sudah. Iya, sudah selesai. Ma–mari kita lanjutkan ya, Nii-san. Jangan marah ya, nanti lukamu lama sembuhnya karena uratmu ketarik” Ryou mulai mengusap-usap pundak sang kakak guna merayunya agar tidak marah


Setelah menghela napas, Kino kembali melanjutkan pembicaraannya.


“Baiklah, kita lanjutkan dulu. Seperti yang tadi sudah diurutkan bahwa semua orang yang terlibat dengan kesembilan anak-anak itu ada lima orang. Lalu untuk tempatnya, sepertinya hanya bar itu dan pasar gelap saja. Apakah ada lagi yang ingin ditambahkan?”


Ryou dan Kaito terdiam. Mereka menggelengkan kepala tanda bahwa tidak ada kemungkinan lain.


“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Kaito


“Untuk saat ini, sepertinya kita hanya perlu menunggu sampai bisa bertemu lagi dengan Theo-kun dan lainnya”


“Kurasa mereka akan kembali lagi ke sini. Anak bernama Michaela itu mengatakan akan membawa kue krim untukmu” kata Ryou


“Mari tunggu sampai mereka datang” Kaito mulai menyandarkan punggungnya pada kursi


Kino diam sebentar dan mulai bertanya hal lain.


“Apa senjata kalian masih ada pada pemuda bernama Riz?”


“Benar”


“Apakah tidak ingin mengeceknya? Mungkin pemuda itu masih menunggu di luar”


“Kurasa tidak. Aku yakin dia mungkin kembali bersama manager bar dan anak-anak itu” jawab Kaito dengan tenang


“Begitu. Baiklah kalau Kaito-san bicara begitu”


Di dekat tempat tidurnya, Kino melihat teko air putih beserta gelasnya. Ryou melihat ke arah apa yang dilihat oleh Kino dan bertanya.


“Apa kau haus?”


“Tidak. Aku hanya berpikir…bahkan di saat terluka seperti ini, aku masih tidak merasakan lapar dan haus. Jika bukan karena diminta oleh dokter untuk minum obat, aku juga tidak merasakan kantuk. Aroma tubuhku juga sama seperti sebelumnya. Tidak berbau sama sekali”


“Efek dari pengaruh ‘dunia’ ini dan jam saku kalian” jawab Kaito dengan nada santai


Kino terdiam. Mungkin Kino memang tidak merasa haus seperti yang dikatakannya. Tapi sebagai pasien yang sedang dirawat, Ryou ingin sang kakak cepat sembuh.


“Haus atau tidak, kau harus minum” Ryou memberikan segelas air pada sang kakak


“Terima kasih. Akan kuminum”


Kino meminum air tersebut. Sesuai dugaannya, kerongkongannya tidak merasa benar-benar merasa segar karena menelan air. Rasanya tidak jauh berbeda.


Kaito yang menyandarkan tubuhnya mulai berpikir sesuatu. Dia kembali tegap dan bertanya pada kedua kakak beradik itu.


“Kalian, apakah masih memiliki sisa uang?”


“Uang?”


“Benar. Uang”


Ryou membuka laci dari meja di samping tempat tidur pasien. Di dalam laci tersebut terdapat kantong kecil milik Kino yang disimpannya di sana, serta jam saku berwarna silver. Ryou mengambil kantong tersebut dan menghitungnya. Dia juga tidak lupa mengambil sisa uang yang dipegang olehnya dari saku celana.


“Total seluruh uangku dan Kino ada 700 Franc”


Kaito mengambil uang yang dia simpan dan menghitungnya.


“Milikku ada sekitar 670 Franc. Total seluruhnya jadi 1.370 Franc. Tidak banyak tapi tidak sedikit juga”


“Mau kau apakan semua uang itu?” tanya Ryou


“Tidakkah kalian berpikir…mungkin saja obat-obatan yang pernah kita beli untuk persiapan ke ‘dunia malam’ waktu itu bisa berpengaruh untuk luka Kino sekarang”


Ryou terlihat senang dan langsung menghampiri Kaito dengan memberikan semua uang yang telah dia masukkan ke kantong kecil itu.


“Ini! Bawa ini semua bersamamu dan beli obat itu sekarang!”


“Tidak akan tau kalau tidak dicoba. Aku akan pergi membelinya. Kalian tunggu di sini. Aku akan segera kembali”


“Hati-hati, Kaito-san”


“Ingat ya, jangan kembali kalau tidak membawa obat itu!!”


“Ryou, tidak boleh berkata begitu pada Kaito-san”


“Pokoknya kau harus membawanya! Jangan kembali dengan tangan kosong, Kaito!”


“Ryou” Kino mencoba menenangkan adiknya


“Aku tau. Aku akan membawanya, jangan khawatir. Aku pergi dulu”


Kaito keluar dari ruangan itu menyisahkan Yuki bersaudara sekarang. Ryou kembali duduk di tempat tidur Kino dan mengelus lengan kirinya yang diperban.


“Apa…itu masih sakit?”


“Sudah tidak” Kino tersenyum


“Kau bohong. Mana mungkin itu sudah tidak sakit”


“Kalau aku mengatakan ini sakit, Ryou pasti akan semakin cemas. Aku tidak ingin adikku menjadi cemas dan menyalahkan dirinya lagi”


“……”


Ryou memeluk sang kakak lagi dengan wajah sedih.


“Nii-san…”


“Kenapa kembali ke mode manja seperti ini?”


“Maafkan aku”


“Aku tidak menghitung kata maaf dari Ryou, tapi aku yakin jumlahnya pasti sudah melebihi angka sepuluh” Kino tertawa kecil sambil mengelus rambut sang adik


Ryou melepaskan pelukannya dan menundukkan kepalanya. Kino mencoba menghibur sang adik dan sepertinya ada topik bagus yang mungkin bisa mencairkan suasana tersebut.


“Ryou, selama aku tertidur tadi aku bermimpi”


“Mimpi?” Ryou langsung mengangkat kepalanya dan terlihat penasaran


“Benar. Sepertinya itu bukan sepenuhnya mimpi karena kejadian itu benar-benar pernah terjadi pada aku dan Ryou”


“Apa itu?”


“Ingat saat masih kecil, ketika liburan musim panas? Saat itu, usia Ryou 10 tahun dan kamu pernah marah padaku karena meninggalkanmu dan keluar sendirian. Lalu–”


“Lalu aku marah padamu karena game milikku tertinggal di rumah”


“Ryou ingat?”


Di dalam hati Ryou, dia bergumam.


‘Tidak mungkin aku melupakan hal itu! Gara-gara aku, kau jadi terluka di pantai hingga pingsan demi menemukan bola pantai hadiah dari ayah! Aku sudah bersumpah sejak itu untuk lebih memperhatikanmu dan melindungimu agar kau tidak terluka lagi! Tapi, aku tidak pernah melakukannya dengan benar’


“Ryou?” Kino melihat wajah murung sang adik dan memanggilnya


“Aku…aku hanya ingat bagian itu saja. Setelah itu, aku hanya ingat kita baikan dan tidak pernah bertengkar lagi sejak saat itu”


Ryou berbohong pada Kino. Kino hanya tertawa mendengar hal itu dan membenarkannya.


“Ada satu mimpi lagi yang sepertinya tidak asing juga untuk Ryou”


“Apa?”


“Mimpi tentang kamu yang dipanggil ke ruang konseling dan dimarahi oleh Sakizawa-sensei karena memecahkan kaca jendela sekolah. Ingat tidak?”


“Oh, soal itu. Tentu saja ingat! Pria gemuk berambut palsu! Ahaha, aku ingat Higurashi-sensei memberinya julukan itu! Pfft…ahahaha!” Ryou mulai tertawa keras


Kino mulai tersenyum karena berhasil merubah suasana mendung itu menjadi ceria kembali.


“Apa kau benar-benar memimpikan semua itu barusan, Kino?”


“Benar. Kurasa selama dua hari aku tertidur, aku seperti kembali ke masa lalu”


“Begitu”


“Jadi, apakah itu artinya kita telah berada di ‘dunia’ aneh ini selama lima hari?” tanya Kino


“Yap, tepat sekali. Tidak terasa, kan? Ini seperti kita menjadi kamikakushi atau semacamnya”


“Jangan menakut-nakuti. Kita masih hidup, Ryou”


“Aku tau kita masih hidup. Kita menjelajah tempat seperti dunia fantasi ini juga tidak seperti anime isekai. Biasanya mereka harus tertabrak truk dulu atau tiba-tiba ada lingkaran sihir yang muncul. Atau yang paling mengerikan seperti anime corpse party. Yang jelas, pergi ke dunia fantasi dengan jam saku itu nyaris tidak ada dalam daftar anime yang pernah kutonton”


“Be–begitu” Kino merespon dengan senyum tipis


Bisa dikatakan, Kino tidak begitu paham dengan perkataan sang adik tapi dia mencoba untuk setuju.


“Mungkin kalau kita kembali ke Jepang nanti dan mengirimkan pengalaman kita ini dalam bentuk novel atau video animasi, bisa saja diangkat menjadi anime atau manga! Kita bisa kaya setelah itu! Ide bagus, kan?” Ryou menjadi antusias


“Kurasa itu bisa dilakukan setelah kita menemukan cara kembali ke Jepang, ya”


“Kau benar”


Keduanya terdiam untuk beberapa saat. Akan tetapi, keheningan itu tidak berlangsung lama. Ryou mulai memikirkan hal yang lebih serius.


“Kino, mengenai pembicaraan kita tadi mengenai permata ingatan Kaito…apakah kau memiliki tebakan atau sesuatu terkait hal itu? Mungkin saja masih ada yang tidak kau bahas barusan”


“Aku tidak memiliki tebakan mengenai dimana atau siapa yang memiliki ingatan Kaito-san. Aku hanya yakin bahwa salah satu diantara anak-anak itu yang memiliki atau berhubungan langsung dengan lokasinya”


“Aku tidak ingin membayangkan hal ini, tapi mungkinkah permata itu ada di pasar gelap?”


“Pasar gelap?”


“Bagaimana menurutmu?”


Kino terdiam dan tidak mengatakan apapun. Seakan masih ada hal yang membuatnya ragu, dia hanya bisa berpikir ulang kembali.


******