
“Kino, Ryou, kita pergi dari sini”
“Kenapa, Kaito?! Aku ingin melihatnya lagi!”
“Aku tidak suka pemandangan ini. Ini mungkin berlebihan tapi tidak ada satupun dari mereka yang mau menghentikan pertarungan sihir itu. Bukankah itu aneh?”
Dari arah belakang, Kaito merasakan ada sesuatu yang mencoba mendekati saku celana Kino. Dengan reflek cepat, Kaito langsung menendang orang tersebut.
-BRUUK
“Kaito-san?!”
“Sudah kuduga ada yang tidak beres”
Mata Kaito berubah tajam. Ternyata, ada seseorang yang tiba-tiba muncul dan terlihat.
“Beastman? Selain itu, dia transparan! Apa itu juga sihir?!” Ryou terkejut
Mendengar ucapan Ryou, kelompok beastman dan perempuan itu langsung berhenti bertarung dan semua penduduk kota yang melihat itu menyingkir.
Gerakan penduduk kota sangat aneh karena seakan mereka seperti dikendalikan.
“Aku merasa ada yang aneh dengan penduduk kota saat ada keributan, ternyata ini alasannya. Kalian menggunakan semacam kemampuan untuk membuat mereka seperti ini dan menggunakan penyamaran untuk mengecoh kami. Sayang sekali instingku lebih tajam dari otak bodoh kalian”
Kaito mengeluarkan pedangnya dan bersiap menyerang beastman yang ingin mencuri tadi.
“Dia tidak terkena [Mind Control]! Lindsey, hati-hati!” teriak beastman yang berlari dari arah depan
Ryou melihat itu dan langsung mengepalkan tangannya. Dengan gerakan tinju, dia mencoba menyerangnya. Beastman itu dengan cepat menyilangkan tangannya dan menahan tinju tersebut, tapi Ryou mulai melakukan pukulan bertubi-tubi hingga membuatnya mundur sedikit demi sedikit.
“Kh! Dasar bocah!”
[Armstrong Hand]
“……!!” Ryou yang nyaris mendaratkan sebuah tinjut lain mundur
Beastman itu menyerang dengan tangannya yang berubah besar dan saat pukulan hendak diarahkan kepada Ryou, Kino menahannya dengan melakukan tendangan berputar ke arah perut.
“Kgh…” serangan itu gagal dilakukan
“Kino, kau baik-baik saja?!”
“Aku tidak apa-apa. Mereka memiliki sihir rupanya. Sepertinya ledakan itu hanya pengalihan”
Perempuan setengah elf itu mengeluarkan sihir es yang membuat jalan di sekitar mereka membeku.
“Padahal jika berhasil, bukan hanya mendapatkan hasil curian tapi bisa menjual mereka semua. Ini menyebalkan! Kita bunuh ketiga orang itu! [Fire Ball]”
‘Dua elemen dalam sekali serang itu benar-benar bagaikan kecurangan dalam game! Kenapa kami yang tidak punya sihir justru harus berurusan dengan sihi segala!!’ Ryou bergumam dalam hati dengan wajah panik
Dari kejauhan, ada seseorang yang menyerang kelompok tersebut.
[Light Barrier]
Sesuatu telah mengubah tempat itu. Tiba-tiba tidak ada penduduk lain kecuali beastman dan perempuan setengah elf itu serta Kaito dan Yuki bersaudara.
Suara lainnya mulai terdengar.
[Heartless Damage: Curse of Earth]
Kaito sempat nyaris melukai beastman itu namun tiba-tiba tanah bergetar.
“Apa yang terjadi?!”
Semua orang bingung termasuk kelompok yang menyerang mereka. Tanah tempat mereka berpijak mulai bergetar. Kaito berteriak kepada kedua kakak beradik itu untuk mundur dan hal itu merupakan langkah yang tepat.
Dari bawah kaki perempuan dan para beastman itu muncul sebuah dinding dari bawah tanah yang memiliki tiap sisi runcing di dalamnya bagaikan suatu alat penyiksaan.
“Ini sihir tingkat atas! Kalian semua, lari!!” teriak gadis setengah elf itu
Ketiga remaja itu hanya bisa berlari lalu melihat dari jauh. Anehnya, mereka bertiga tidak menjadi sasaran dari serangan tersebut.
“Apa yang terjadi? Kukira tanah itu mau membuat kita seperti kulit pangsit” kata Ryou
“Aku tidak tau, tapi dari arah sana aku mendengar ada seseorang yang mengatakan sesuatu. Mungkin saja itu sihir”
Ryou dan Kaito melihat Kino menunjuk ke arah pepohonan di sisi lain taman. Belum ada sosok yang keluar saat itu namun, teriakan dari kelompok tersebut mulai terlihat.
-CRAAASH
“Akh!!”
Teriakan terdengar. Tanah tersebut mengurung mereka dan menyempit hingga beberapa warna tanah berubah menjadi kemerahan.
“Mereka terkurung di dalam tanah tersebut dan…mati” Kino mematung karena syok
Ryou mulai merasakan keanehan di sini. Dia yakin kalau itu mungkin saja sihir, tapi dia tidak menyangka akan melihatnya secara langsung seperti ini.
Ketiganya melihat tanah tersebut kembali lagi ke posisinya semula, seakan mereka sudah hancur dan rata dengan tanah.
“Tanahnya…”
“Kembali seperti semula”
Tidak lama setelah itu, keluar seseorang yang menggunakan seragam berwarna hitam dengan lambang yang tidak dikenali ketiga.
Itu adalah seorang remaja laki-laki yang kira-kira seusia dengan Yuki bersaudara. Tatapan yang begitu tajam dan sangat dingin.
Dia melihat ketiga remaja dunia lain itu lalu berkata pada mereka.
“Kalian baik-baik saja?”
“Kami…sudah tidak apa-apa” jawab Kino
“Begitu. Mereka itu adalah organisasi pencuri dan penjual manusia. Mereka sering melakukan aksinya namun tidak pernah ada pasukan penjaga yang menghentikan mereka lantaran tidak kuatnya bukti”
“……” ketiganya hanya diam
“Aku mengikuti mereka dan yakin bahwa mereka pasti akan melakukannya lagi. Kebetulan sekali kalian tidak terkena sihir pengendalinya”
Kino mencoba untuk mencari alasan.
“Kami hanya…kebetulan ada di tempat ini”
“Aku tau. Tapi itu sangat membantu. Terima kasih banyak. Dengan ini, mereka sudah lenyap sepenuhnya dan tidak perlu lagi ada laporan orang hilang”
Remaja laki-laki itu tersenyum. Dia melihat ketiganya dengan wajah yang lembut. Tapi, Kaito tetap merasakan sesuatu.
“Aku ingin tau, jika mereka adalah buronan dan pasukan penjaga tidak menangkap mereka karena kurang bukti…lantas kenapa jadi kau yang melakukannya?”
“Aku mendapatkan laporan dari beberapa orang bahwa ada yang melihat kelompok tersebut melakukan hal buruk seperti mencuri dan membawa orang-orang yang melihat pengalihan mereka ke suatu tempat. Lalu, bersamaan dengan itu selalu ada laporan orang hilang di kota ini”
“Kenapa begitu yakin dengan laporan itu? Apakah kau bisa mengetahui semuanya hanya dari laporan seperti itu?”
“Itu bukan laporan biasa. Itu adalah laporan yang diberikan untuk Akademi Sekolah Sihir”
Mendengar ucapan pemuda itu, Kino bergumam dalam hati.
‘Sekolah sihir katanya. Aku ingat penjaga yang kami temui juga mengatakan soal sekolah sihir dan ujian masuk. Tapi…’
Kino mulai berjalan sedikit ke arah pemuda itu.
“Maaf, tapi jika boleh tau apakah Akademi Sekolah Sihir itu memiliki otoritas yang tinggi sampai bisa membunuh dan melenyapkan kriminal? Bukankah aneh jika hal tersebut dilakukan?”
“……” remaja itu menatap Kino dengan tatapan aneh
“Beberapa waktu lalu, kami bertemu seorang pencuri yang hendak mencuri seorang penduduk dan dengan cepat pasukan penjaga datang kemudian menangkap mereka. Bukankah hal yang sama juga berlaku dengan kelompok tersebut?”
Pertanyaan Kino yang memiliki makna pernyataan itu memang masuk akal. Jika melihat dari kejadian sebelumnya, seharusnya pasukan penjaga yang mengurusnya.
Akan tetapi, remaja itu berkata lain.
“Aku yakin aku sudah mengatakannya. Tugas melenyapkan mereka itu datang karena ada laporan yang diberikan untuk Akademi Sekolah Sihir, dengan kata lain itu permintaan khusus kepada kami”
“Apakah setinggi itu otoritasnya?”
Remaja itu mendekati Kino dan mengamatinya baik-baik.
“Kau…bukan orang dari Negara ini ya?”
“Eh?”
“Jika kalian berasal dari Negara ini, seharusnya hal seperti ini bukanlah hal aneh”
“Apa…maksudnya?”
“Di dunia ini, sihir adalah yang berkuasa dan Akademi Sekolah Sihir adalah tempat yang memiliki otoritas tertinggi”
“Sekolah sihir memiliki otoritas seperti itu? Negara macam apa ini?” gumam Ryou pelan
“Seperti layaknya Guild hunter, Akademi Sekolah Sihir juga menerima permintaan seperti membunuh atau melenyapkan organisasi dan kriminal berbahaya. Karena itu, semua tindakan yang datang untuk kami tidak akan dianggap sebagai tindak kejahatan” lanjut remaja itu
“……” ketiganya terdiam
“Tempat ini adalah tempat dimana sihir adalah yang terkuat. Dunia dimana sihir bebas digunakan untuk semuanya dan hampir menguasai semuanya”
Sekarang, ketiganya sudah tidak bisa lagi memikirkan hal lain. Terutama Ryou yang mulai menatap Kaito dengan tatapan sinis.
“Kaito, sudah kuduga kalau keberuntunganmu itu jeleknya bukan main. Padahal aku sudah memujimu karena membawa kami berdua ke dunia fantasi. Siapa yang menyangka ujung-ujungnya jadi terlibat dengan pembunuhan seperti ini”
“Maafkan aku. Salahkan permataku yang membawa kita sampai ke sini”
******