Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 231. Informasi Tentang Dunia Penuh Sihir bag. 1



Ucapan remaja itu bagaikan sebuah tanda buruk bagi Kaito dan Yuki bersaudara.


“Tempat ini adalah tempat dimana sihir adalah yang terkuat. Dunia dimana sihir bebas digunakan untuk semuanya dan hampir menguasai semuanya”


Mendengar itu, Kino yang tepat berada di hadapannya langsung bertanya seolah memojokkan.


“Itu artinya tidak ada hukum pasti tentang pembunuhan yang dilakukan Akademi Sekolah Sihir. Bukankah itu terlalu seenaknya? Apa gunanya petugas penjaga yang kami temui sebelumnya? Jika seperti itu, sebaiknya sistem di Negara ini tidak perlu memiliki pasukan penjaga. Karena membunuh dengan sihir saja diperbolehkan, untuk apa ada hukum?”


Pemuda itu tampak terlihat sedikit emosi.


“Kau masih belum mengerti ya? Sihir adalah yang terpenting dan perintah itu mutlak. Selain itu, ini adalah tugas yang diberikan untukku jadi suka atau tidak suka…itu bukan urusan kalian”


“Sihir mungkin penting tapi apakah memang harus seperti ini caranya?”


“Aku tidak paham pikiran orang luar. Aku tau kalian itu tidak punya sihir tapi bukan berarti…sebentar. Aku tidak mengerti. Kalian tidak punya sihir dan bukan dari tempat ini, tapi kenapa kalian tidak terkena sihir [Mind Control] yang dilakukan kelompok itu?”


Ketiganya terdiam.


Remaja itu mulai berpikir.


‘Aku yakin sihir [Mind Control] itu akan mempengaruhi siapapun targetnya. Mengingat mereka terlihat seperti orang biasa dan tidak punya sihir, seharusnya sihir itu berpengaruh pada mereka. Ini aneh’


Remaja itu mulai menggunakan mata sihirnya.


[Senri Eye]


Bola mata remaja itu berubah menjadi warna biru terang. Dari sisi matanya, dia melihat bahwa ketiga orang itu tidak memiliki sihir atau item sihir.


‘Mereka tidak memiliki sihir. Ternyata benar, mereka tidak bukan dari Negara ini. Mungkin mereka dari Negara yang masih menganut paham sihir kuno atau okultisme’


‘Di benua ini, Negara tanpa sihir juga banyak. Jadi tidak heran jika ketiganya tidak memiliki sihir sama sekali. Mungkin mereka adalah pendatang’ pikirnya


Namun, tidak lama kemudian remaja itu mendeteksi sesuatu. Mata biru terangnya berubah menjadi warna kuning terang.


‘Apa?! Item sihir?!’


Remaja itu melihat ada cahaya aneh yang dipancarkan dari pedang yang dipegang Kaito beserta sarung pedangnya, jubah miliknya serta dua benda di dalam saku celana Kaito dan Kino. Dia bahkan menunjuk Kino.


“Kalian tidak memiliki sihir tapi rupanya kalian pengguna item sihir ya. Aku tidak menyangka akan bertemu dengan pengguna item sihir di sini”


“Item?”


“Pedang dan jubah orang itu serta benda kecil yang ada di saku celanamu, itu item sihir kan?”


Kaito terkejut dengan perkataannya. Dia jelas tau kalau ‘orang itu, Shirogane Ru Lan memang memberikan sihir kepada jam saku, jubah dan pedang yang dibawa olehnya, sehingga setelah berpindah dan sampai di ‘dunia’ lainnya, ketiga benda tersebut tidak akan hilang dan terpisah darinya.


Tapi, jam saku milik kedua kakak beradik itu mengandung sihir? Itulah yang membuatnya cukup terkejut.


‘Jam saku mereka memang memiliki ikatan denganku. Tapi kalau benda itu mengandung sihir juga, apakah mungkin ada orang lain yang memberikan sihir itu agar terhubung denganku?’


Kaito terdiam dan mengingat kembali kejadian di waktu lalu.


‘Aku ingat kedua kakak beradik itu datang karena jam saku itu terkena darah Kino. Apa mungkin darah mereka memiliki semacam magis?’ pikirnya dalam hati


Ryou yang terkejut mendengarnya mulai mendekati sang kakak dan menariknya ke belakang.


“Kino, jangan bicara lagi dengannya! Dan kau, aku peringatkan kepadamu…jangan coba-coba menggunakan sihir untuk mengintip seseorang. Kalau kami wanita, kau akan mendapatkan tamparan dariku!”


Mata remaja itu kembali menjadi warna matanya semula. Dia menatap Ryou dengan tatapan dingin.


“Siapa kau?”


“Jangan bertanya dengan nada sok dingin begitu. Sebelum memperkenalkan diri, sebaiknya sebutkan dulu namamu! Aku ingat seharusnya orang elit dengan otoritas tinggi itu memiliki sopan santun. Kalau kau tidak memilikinya, berarti kau bukan orang elit sesungguhnya”


Mulut Ryou memang cukup bisa diandalkan. Tidak heran beberapa kali, Kaito sangat mengharapkan mulut Ryou beraksi di beberapa kesempatan. Tapi dia juga berharap mulutnya berhenti bicara jika digunakan untuk menyerang mentalnya.


Remaja itu menghela napas dan memberi salam dengan terhormat.


“Maafkan aku, kau benar. Aku harus memperkenalkan diriku. Namaku Xenon van Houdsen, putra kedua dari Marquis van Housen, siswa tingkat 3 di Akademi Sekolah Sihir sekaligus anggota Pertahanan Sekolah Sihir di Divisi Eksekutor”


“Divisi Eksekutor? Pantas saja kamu mengatakan bahwa itu bukanlah tindak kriminal”


“Aku sudah katakan siapa namaku, sekarang sebutkan siapa kalian”


“Yuki Ryou dan ini kakakku Yuki Kino. Di sana adalah Kaito”


“Yuki? Kalian berasal dari Negara di benua timur? Apa mungkin kalian juga ingin mendaftar ke sekolah sihir?”


“Hah?” Ryou bingung


Dia berbisik ke telinga sang kakak.


“Kino, dia gila?”


“Ryou…”


“Aku serius bertanya. Kenapa semuanya itu dikaitkan dengan sihir?”


“Aku tidak mengerti tapi kita mungkin bisa mengamati situasinya. Selain itu, kita juga tidak tau dimana keberadaan permata milik Kaito-san”


“Aku rasa begitu”


“Ok, serahkan padaku”


Ryou melihat remaja bernama Xenon dan berkata, “Kami berasal dari Negara timur dan ingin mengetahui tentang item sihir dan sihir itu sendiri”


“Meskipun kalian tidak punya sihir?” tanya Xenon


“Memang ada diskriminasi juga di tempat ini? Bukankah kalian saja tinggal dengan ras lain, artinya tidak ada diskriminasi seperti kulit hitam dan kulit putih, kan?”


Xenon terdiam. Dia merasa ucapan pemuda di depannya ini tidak bisa dianggap remeh.


“Kau benar. Tidak ada rasisme dan diskriminasi di sini jadi tidak perlu khawatir. Kalau begitu, aku akan mengantar kalian untuk mendapatkan informasi terlebih dahulu”


Xenon mengangkat tangannya dan mengatakan sebuah mantra.


[Nox]


Seketika semuanya kembali semula. Yang awalnya hanya mereka berempat, sekarang menjadi seperti sebelumnya. Ketika Kaito dan kedua kakak beradik itu melihat pemandangan sekeliling, semua orang-orang yang baru saja terlihat aneh, kini menjadi normal kembali.


“Penghalangnya sudah hilang ya”


“Tampaknya begitu”


“……!!” Xenon terkejut mendengarnya


Dia merasa aneh karena tampaknya kedua orang di depannya mengetahui cukup banyak tentang sihir.


“Kalian bertiga, ayo ikut denganku”


Kaito menatap remaja itu dari belakang dan memasukkan kembali pedangnya. Dia sempat berpikir sendiri.


‘Jam saku ini membawaku ke tempat ini. Itu artinya permataku ada di sini. Selain itu, aku ingin sekali mengetahui ‘orang’ yang ada di ingatan itu. Aku benar-benar mengenalnya tapi aku masih belum mengingatnya. Aku harap ingatan yang ada di tempat ini memberiku sedikit petunjuk mengenai orang tersebut’


Kino dan Ryou yang ada di depan Kaito berbisik-bisik sendiri.


“Ryou, semua tampak seperti tidak terjadi apapun”


“Benar. Ini mungkin karena sihir dari pemuda bernama Xenon itu”


“Tapi, bukankah itu sedikit…kejam?”


“Dia dari Divisi Eksekutor jadi wajar saja. Yang tidak wajar itu, kenapa murid tingkat 3 sudah jadi anggota divisi yang suka membunuh kriminal. Ini benar-benar tidak bagus. Kalau sampai dia tau aku pernah memenggal kepala mayat beberapa waktu lalu, dia mungkin akan menghukumku juga”


“Ryou…jangan bicara begitu”


Xenon tampak tidak mendengar percakapan itu dan dia juga tidak begitu peduli. Dia berjalan dan mengantar mereka ke sebuah kantor besar.


“[The Office of The Magic Departemen]?”


“Di sini, kalian bisa mencari tau segala hal mengenai sihir. Jika kalian ingin mendaftar sekolah sihir, masih ada waktu sampai besok sore. Untuk alamatnya, bisa ditanyakan di dalam. Aku harus kembali untuk melapor. Sampai bertemu lagi”


“Terima kasih banyak, Xenon-san”


Xenon hanya tersenyum dan pergi meninggalkan mereka bertiga.


“Baiklah, ini langkah pertama kita untuk menemukan petunjuk”


Ketiganya masuk dan langsung ke meja resepsionis. Mereka bertanya mengenai seluruh infomasi terkait Akademi Sekolah Sihir yang dimaksud.


“Untuk informasi tersebut, bisa mengaksesnya di meja nomor 23. Silahkan kuncinya” kata wanita resepsionis


Kino menerima sebuah batu berwarna ungu. Mirip dengan permata yang membuat mereka sempat kaget.


“Kaito, ini permatamu? Coba kau lihat baik-baik!” Ryou sampai menunjukkannya kepada Kaito


“Ini bukan permataku”


“Akh, kukira kita bisa pindah alam setelah ini!!”


“Ryou, kita pergi ke mejanya dan cari informasinya” Kino menarik tangan sang adik


Sepertinya, Kino harus berjuang menjaga sang adik agar tidak berulah lagi kali ini.


Mereka sampai di sebuah meja nomor 23 dan ada sesuatu seperti slot kosong di tengahnya.


“Apa batu ini harus diletakkan di sana?”


Begitu Ryou meletakkannya, terlihat sebuah cahaya yang muncul dan terdengar seperti suara kunci terbuka.


-Creek


“Apa itu?”


Tiba-tiba ada sebuah laci yang terbuka dan sebuah buku keluar dari meja tersebut.


******