
Setelah Theo mengingat kejadian tersebut, dia hanya bisa diam mematung sambil berkata dalam hati dengan keringat yang keluar dari keningnya. Tentu saja perasaan takut juga ikut menyelimuti.
‘Aku dalam masalah sekarang. Bagaimana aku bisa mengatakan pada Kino-nii bahwa akulah yang mencuri sesuatu darinya?! Kenapa takdir begitu kejam padaku!’
Kino menatap wajah anak itu dengan tatapan seolah semua normal layaknya dua orang yang baru bertemu pertama kali dan tidak tau apapun sama sekali, tetapi Theo tidak bisa seperti itu.
“Ki–Kino-nii…” Theo memanggil Kino dengan bibir gemetar
“Ya? Ada apa, Theo-kun?” Kino melihat wajah Theo dengan senyumannya
“……”
Setelah memanggil nama Kino, Theo hanya diam seribu bahasa tanpa mengatakan apapun lagi. Kino terlihat cemas melihatnya diam tanpa bicara dan bertanya kepadanya.
“Theo-kun, ada apa? Apa kamu sakit perut? Kalau Theo-kun sakit, aku akan mencari benda itu sendirian. Ah, Theo-kun tetap boleh menyimpan uangnya. Aku tidak–”
“Aku akan melakukannya! Aku akan membantu Kino-nii, jangan khawatir!. Aku akan menemukan jam saku milikmu, Kino-nii. Percayalah padaku!”
Sebelum kalimat Kino dilanjutkan, Theo tiba-tiba bicara dengan keras lalu berteriak. Seakan ingin membuatnya lebih yakin, dia juga memberikan wajah penuh semangat yang terlihat dipaksakan kepada Kino. Tentu saja Kino menyadarinya, namun Kino tetap membalasnya dengan senyuman.
Setelah membereskan sisa-sisa bungkus makanan dan minuman, mereka memutuskan untuk duduk kembali dan berpikir kemana tujuan mereka pergi.
“Hmh, menurut Theo-kun kemana aku harus mencarinya? Sebelumnya aku sudah keliling kota untuk mencarinya, namun aku sama sekali tidak mendapatkan petunjuk apapun sampai kemarin”
“Apa…Kino-nii ingat dimana kau…kehilangan benda itu?”
“Aku tidak begitu ingat. Awalnya aku berpikir bahwa jam saku itu kemungkinan terjatuh karena kecerobohanku. Namun, setelah mendengar kabar burung saat ke altar hari ini aku berpikir mungkin jam saku milikku bukan hilang karena terjatuh”
“Kabar burung?! Kabar burung apa itu?!” Theo langsung berubah panik mendengar ucapan Kino
“Hari ini aku mendengar dari seseorang yang kukenal bahwa di altar sudah seminggu terjadi kasus kehilangan. Tetapi setelah mengetahui jenis barang yang hilang, sepertinya benda-benda tersebut tidaklah hilang tanpa sebab melainkan telah dicuri”
“……!!” Theo langsung berubah pucat
“Seandainya benar ada pencurian, aku mulai berpikir bahwa kemungkinan jam saku milikku juga dicuri, walaupun aku masih bertanya-tanya kenapa pencurinya mau mengambil jam tua tersebut”
-Deg
Mendengar semua perkataan Kino, Theo langsung seperti terkena sambaran petir lain di dadanya. Detak jantungnya langsung berdegup kencang seakan bisa berhenti sewaktu-waktu.
Dalam hatinya, Theo memikirkan banyak hal.
‘Kabar burung tentang barang hilang di altar sudah menyebar?! Baru saja tadi pagi Fabil memperingatkanku tentang hal ini. Apa Stelani dan yang lain sudah mengetahuinya juga? Untung aku tidak pergi ke altar dan mencuri lagi di sana hari ini. Kalau seandainya aku melakukan itu, aku yakin Stelani, Fabil dan anak-anak lain akan mulai dicurigai. Aku beruntung telah mendengar hal ini dari Kino-nii!’
Tetapi di saat yang sama, Theo juga melirik wajah Kino dengan raut wajah sedih dan mata yang terlihat sendu.
‘Setelah tau kenyataan ini, apanya yang bisa berubah?. Pada kenyataannya, akulah orang yang menyebabkan Kino-nii susah. Aku benar-benar tidak menyangka akan seperti ini jadinya. Bagaimanapun juga aku tidak ingin dibenci oleh Kino-nii, tapi kalau aku jujur tentang jam saku itu, Kino-nii mungkin tidak akan memaafkanku’
Theo yang diam tanpa mengatakan apapun setelah mendengarnya bicara membuat Kino jadi harus bertanya lagi kepadanya. Pertanyaan yang bisa dibilang sia-sia karena tidak pernah dijawab dengan benar oleh anak itu.
“Theo-kun, apa kamu baik-baik saja?”
“Ah…um…” Theo mengangguk
“Kalau begitu, apa menurutmu kita bisa mencarinya di sekitar altar lagi?”
“……!!”
Mata Theo melebar karena kaget dan dia jadi lebih salah tingkah.
‘Tidak, tidak, tidak! Jam saku itu kemungkinan ada bersama si gorilla jadi percuma saja Kino-nii mencarinya di sana! Bagaimana aku bisa mengambil benda itu dari si gorilla di bar setelah insiden pembunuhan semalam?! Dan lagi, bagaimana aku mengatakannya pada Kino-nii sekarang?’
Seperti tidak ingin membuang waktu lagi, Kino mengajak Theo untuk berdiri dan berjalan bersamanya ke altar.
“Sebaiknya kita pergi sekarang, Theo-kun. Hari sudah mulai siang dan akan lebih panas lagi setelah ini”
“Ah, aku–”
“Ada apa?”
“Tidak. Bukan apa-apa. Aku akan membantu Kino-nii menemukan jam itu” Theo tersenyum dengan senyum yang dipaksakan
Mendengar hal itu Kino membalasnya dengan senyuman.
Dari kejauhan, terlihat sosok yang memperhatikan mereka dari jauh. Ketika kedua orang yang duduk di kursi taman itu berdiri dan memutuskan untuk pergi, salah satu dari mereka melihatnya dengan sorot mata tajam.
“……”
“Ada apa?”
“Sepertinya kali ini aku tidak salah lihat. Kita beruntung karena memutuskan untuk ke sini”
******
Di perjalanan menuju jalan belakang altar, semua anak-anak kecil yang manis itu terus tersenyum sambil mengingat apa yang mereka alami pagi ini.
“Enak ya, aku baru pertama kali ini makan daging seenak itu!”
“Rasanya lezat! Sepertinya seumur hidup aku baru pertama kali memakan makanan seenak itu”
“Semua kuenya juga enak dan manis. Es krimnya juga enak!”
“Senangnya~ Rasanya seperti mimpi bisa bertemu orang sebaik Kino-niichan”
Stelani dan Fabil yang mendengar percakapan mereka tersenyum satu sama lain. Tidak pernah terpikirkan juga oleh mereka bahwa mereka bisa kembali ke tempat asing itu dalam keadaan kenyang dan bahagia seperti ini.
Michaela yang menggandeng tangan Stelani bertanya padanya.
“Stelani-neechan, kita benar-benar bisa bertemu lagi dengan Kino-niichan kan?”
“Tentu. Kino-niisan bilang dia senang bertemu dengan kita juga tadi jadi kita akan bisa bertemu kembali dengannya selama dia masih di kota ini”
“Eh~ Kino-niichan tidak akan tinggal di kota ini selamanya?” Michaela bertanya dengan nada kecewa
Mendengar ucapan Michaela, anak-anak lain berhenti dan menengok ke arah Stelani dan Fabil sambil merengek.
“Kino-niichan tidak tinggal di sini?”
“Aku mau Kino-niichan tinggal selamanya di sini! Tidak bisakah kita memohon padanya untuk tinggal, Fabil-niichan?”
“Eh….” Fabil yang mendengar itu menjadi bingung
Stelani mencoba menengangkan semua anak-anak itu dengan mengatakan mereka bisa memakan semua kuenya begitu sampai di rumah. Meskipun tidak merubah rengekkan mereka mengenai Kino tapi melihat kantong kue di tangan Stelani dan Fabil, mereka sedikit tersenyum dan berjalan kembali. Anak-anak lugu dan polos yang sangat mudah dirayu dengan gula dan kue.
Rengekkan anak-anak tadi membuat Stelani dan Fabil tidak berhenti untuk terus berbisik agar tidak diketahui Michaela dan anak-anak lainnya.
“Sejujurnya aku juga tidak ingin Kino-niisan pergi dari kota ini, Fabil. Setelah sekian lama, akhinya aku bisa bertemu dengan orang dewasa yang bisa kupercaya” Stelani bicara dengan nada sedih dan kecewa
“Aku juga tapi kita juga tidak bisa melakukan apapun. Selain itu, kau tidak lupa apa yang Kino-niichan tanyakan sebelumnya, bukan? Dia sedang mencari tau tentang kejadian di altar. Pasti ada sesuatu yang menimpa dirinya hingga dia bisa bertanya seperti tadi pada kita”
“Kau benar. Seperti yang sebelumnya kita bicarakan di restoran tadi, begitu Theo pulang nanti kita harus membicarakan hal ini kepadanya” Stelani bicara dengan nada serius pada Fabil
Perjalanan mereka menghabiskan waktu sekitar lima belas menit untuk sampai ke jalan di belakang altar. Setelah itu, mereka berjalan lurus menuju tempat terasing di kota. Suasana suram dengan berbagai aroma tidak menyenangkan tercium. Seperti makanan sehari-hari, tidak ada dari mereka yang mempermasalahkan hal itu.
Mereka terus berjalan lurus hingga sampai ke bangunan yang mereka anggap rumah tersebut.
“Kalian tidak perlu ikut kami ke bar ya. Bawa makanan ini dan masuklah ya. Tunggu di dalam dan jangan ada yang keluar, mengerti?” pesan Fabil kepada mereka
“Fabil-niichan, Stelani-neechan, kalian yakin ingin menghadap Justin-sama sendirian?” Michaela terlihat mencemaskan mereka
“Jangan cemas. Berkat bantuan Kino-niichan tadi, kita sudah mendapatkan uang yang cukup untuk ditukar dengan roti” Fabil mengelus-elus rambut Michaela
“Aku tidak mau roti kotor dari Justin-sama. Aku ingin kalian berdua kembali dengan selamat. Karena Theo-niichan tidak ada maka Justin-sama pasti akan memukul kalian nanti”
Michaela memeluk Fabil dengan tubuh gemetar. Anak-anak lain juga memeluk Stelani dan Fabil. Tentu saja kedua anak yang lebih besar dari mereka tau apa yang akan mereka hadapi nanti.
“Kalian semua tenanglah. Kami berdua tidak akan apa-apa sekalipun Theo belum kembali” Stelani berusaha menenangkan mereka
“Aku memang tidak sekuat Theo tapi jika hanya melindungi Stelani dari Justin-sama aku akan melakukan sesuatu. Aku tidak akan menangis di belakang seperti kemarin jadi jangan mencemaskan kami ya” Fabil dengan senyum percaya diri mengusap-usap kepala anak-anak itu sebagai penyemangat
Semua anak-anak itu tidak begitu paham namun berbeda dengan Michaela. Dia tau bahwa tidak akan berakhir baik jika berhubungan dengan Justin. Walau begitu dia tetap tersenyum.
Michaela memasang senyuman berkata kepada mereka.
“Aku akan menunggu kalian pulang dan kita makan kue bersama dengan Theo-niichan”
Stelani dan Fabil memeluk semua anak-anak itu dan melihat mereka masuk membawa kantong berisi makanan dan kue ke dalam rumah mereka. Setelah semua anak-anak itu masuk, mereka berdua berjalan menuju bar tempat Justin berada.
“Theo memang tidak mengatakan kapan dia akan kembali pagi ini tapi kita hanya bisa percaya padanya” Stelani bicara pada Fabil sepanjang jalan
“Kuharap dia tidak bertindak gila seperti mencuri atau lainnya. Di kota banyak anak-anak seperti kita juga, namun mereka lebih suka mencuri. Aku sangat yakin lukanya kemarin ada hubungannya dengan itu semua”
“Kita sudah membeli obat tapi dia malah menolak untuk diobati. Aku tidak bisa berhenti mencemaskannya, Fabil”
“Bukan hanya kau, Stelani. Aku juga cemas padanya. Hanya dia yang bisa bertindak gegabah. Kuharap dia tidak terlibat masalah”
Hari sudah semakin siang meskipun cahaya matahari tidak bisa memasukki tempat itu dengan baik. Setelah menghabiskan beberapa menit untuk berjalan, mereka hampir sampai di depan pintu masuk bar. Begitu tegang dan takut, mereka memutuskan untuk berhenti sejenak dan menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya.
“Kau siap, Stelani?”
“Aku siap, Fabil. Ingat, kita sudah mendapatkan uang yang cukup banyak berkat Kino-niisan. Seharusnya Justin-sama tidak akan marah pada kita”
“Stelani, bagaimana sekarang? Mengingat apa yang dilihat Theo dan apa yang kita dengar dari anak buah Justin-sama semalam membuatku ragu untuk masuk” Fabil terlihat gemetar sekarang
“……” Stelani terdiam
Mematung tanpa bisa mengatakan apapun, jantung mereka nyaris berhenti ketika pintu bar terbuka. Kedua anak itu langsung teriak sekeras-kerasnya melihat ada seseorang yang keluar membawa kantong plastik besar berwarna hitam.
“Waaa!!!”
“Waaa!!! Apa?. Apa gorilla itu kembali!!”
Tidak kalah panik, orang yang membuka pintu bar itu juga berteriak dengan mengatakan hal aneh yang tidak asing di telinga keduanya.
‘Gorilla katanya? Telingaku tidak salah dengar kan? Itu benar kata gorilla’
‘Ada orang selain Theo yang memanggil Justin-sama dengan sebutan gorilla’
Ketiga orang itu masing-masing saling menatap satu sama lain dengan tatapan aneh tanpa kedipan.
“Haa, membuatku kaget”
“A–Arkan-niisan” Stelani melihat sosok yang membuka pintu dan membawa kantong platik besar
Arkan melihat kedua anak itu dengan tatapan tanpa ekspresi. Meskipun dia baru membuat wajah aneh karena kaget beberapa waktu lalu tapi sekarang dia kembali dengan wajah acuhnya.
“Kenapa kalian diam di sini? Tidak mau masuk?” Arkan bertanya kepada mereka berdua
“Ka–kami ingin…bertemu dengan Justin-sama” Fabil menjawabnya dengan terbata-bata
“Sebaiknya kalian pulang. Justin-sama baru saja keluar beberapa waktu lalu. Kalau kalian ingin memberikan uangnya sendiri, kalian bisa datang lagi nanti malam”
“Pe–pergi?” Stelani terkejut mendengar jawaban Arkan
“Ya, baru saja pergi sekitar tiga puluh menit lalu”
Kedua anak itu langsung menatap satu sama lain. Stelani bahkan tidak bisa berhenti bertanya dalam hati.
‘Tidak biasanya Justin-sama keluar sebelum kami datang. Kemana dan apa yang Justin-sama lakukan?. Apakah ini ada hubungannya dengan apa yang kami dengar semalam dari anak buahnya?’
Arkan menatap mereka kembali seakan menunggu respon dari keduanya. Setelah diam beberapa saat, Fabil bertanya kepada Arkan.
“Ka–kalau begitu…apakah bisa kami menitipkan uangnya saja kepadamu, Arkan-niichan?”
“Tentu. Kurasa sebaiknya begitu. Sejak semalam, sepertinya perasaan Justin-sama sedang memburuk. Bahkan sejak pesta semalam, aku masih harus kerja keras untuk membersihkan semua sisanya. Dasar gorilla botak menyebalkan”
Lupakan soal kata-kata hinaan dari Arkan, mereka berdua fokus pada kata ‘pesta semalam’ yang dikatakannya. Dengan berpura-pura bodoh, Fabil bertanya kepada Arkan.
“Me–memangnya semalam ada pesta di sini?”
“Ah, kalian belum dengar dari Theo. Kurasa dia memang tidak akan bisa menceritakan hal seperti itu kepada siapapun mengingat dia sendiri bahkan tidak bisa bergerak saat hal itu terjadi”
“Hal…hal apa yang kau maksud, Arkan-niichan?”
“Tidak ada yang istimewa. Hanya pembunuhan yang dilakukan oleh Justin-sama kepada dua anak buahnya dan tiga wanita yang sering menemaninya tidur. Mayat mereka baru diambil oleh Riz dan aku masih harus membersihkan noda darah di dalam, karena itu aku menutup barnya sementara”
“……!!!” kedua anak itu langsung berubah pucat
Arkan masih melanjutkan kalimatnya tanpa memedulikan wajah kedua anak tersebut.
“Lihat, sampah ini adalah sampah yang ada di ruangan Justin-sama. Aku baru bisa mengeluarkannya begitu dia pergi”
Semua yang diucapkan Arkan dikatakan dengan wajah datar tanpa ekspresi seakan-akan pembunuhan itu memang bukanlah hal penting, namun tidak bagi kedua anak itu.
Mereka kembali mengingat semua yang dikatakan Theo kemarin malam.
[Aku sudah bertemu dengannya. Gorilla itu baru saja membunuh banyak orang di bar]
[Aku mendengar suara tembakan dari ruangannya. Ketika pintu terbuka, para wanita yang tadi pagi kita lihat berlarian ke bar dan menangis. Saat aku melihat apa yang ada di balik pintu itu, gorilla itu baru saja membunuh dua orang anak buahnya sendiri. Dan saat dia keluar, dia juga membunuh semua wanita yang bersamanya dengan menembak leher mereka berkali-kali]
Mereka berdua bisa membayangkan seperti apa kejadian sesungguhnya hanya dari rekam ingatan yang pernah Theo ceritakan kepada mereka. Sudah tidak mau berdiri di tempat itu lebih lama karena syok, Fabil langsung mengeluarkan uang yang ada di saku celananya dan memberikannya kepada Arkan.
Arkan menerima uang itu sambil bertanya kepada mereka.
“Kalian baik-baik saja? Kalian pucat seperti itu? Apa kalian membayangkan apa yang kukatakan barusan?”
“Ti–tidak. Kami hanya sedikit terkejut” Stelani berusaha mengendalikan bibirnya yang gemetar saat menjawabnya
“Hmm…”
Ketika memasukkan uang tersebut ke dalam saku celananya, Arkan juga mengeluarkan jam saku yang ada di dalamnya dan melihat waktu yang ditunjukkan jam tersebut. Stelani dan Fabil hanya terpaku melihat Arkan yang tenang sambil melihat jam saku yang ada di tanganya.
“Jam 09.00. Sepertinya jam saku ini memang berfungsi. Padahal sebelumnya sama sekali tidak terlihat bergerak. Aneh sekali. Ah, kalian anak-anak malang boleh pulang sekarang. Jangan sampai kalian mengganggu pekerjaanku. Uangnya akan aku berikan kepada Justin-sama begitu dia pulang nanti”
“Baiklah kalau begitu. Kami…kami permisi dulu Arkan-niisan”
Stelani menarik tangan Fabil dan mereka berjalan dengan sangat cepat meninggalkan bar. Setelah beberapa langkah, Stelani mulai melepaskan tangannya dan mereka mulai berlari menjauh dan terus berlari semakin cepat dengan wajah panik.
Sedangkan Arkan yang melihat dari kejauhan hanya memasukkan jam saku tersebut ke dalam saku celananya kembali sambil menutup pintu bar dan pergi untuk membuang sampah ke botol ke bangunan kosong bagian depan bar.
“Aku tidak mau membuangnya ke belakang karena masih teringat pemandangan buruk semalam, meskipun mayatnya sudah diambil Riz. Selain itu orang yang seharusnya mengambil sampah minggu ini juga belum datang. Sebaiknya kuletakan di depan bangunan kosong saja agar tidak menumpuk di belakang”
Selesai dengan sampahnya, Arkan kembali masuk ke dalam bar untuk kerja rodi kembali.
******
Sepanjang jalan, Theo terus melirik ke arah Kino sambil menyembunyikan wajah paniknya. Bukan hanya perasaan, tapi Kino merasa anak di sampingnya terus melihatnya. Kino bertanya kepada Theo.
“Apa ada sesuatu di wajahku, Theo-kun?”
“Ah! Aku…aku hanya berpikir kemana adikmu itu, Kino-nii”
Pengalihan yang bagus dari Theo. Pertanyaan yang masuk akal mengingat bahwa pertemuan pertamanya dengan Kino kemarin karena kakak baik di sampingnya itu sedang menunggu adiknya.
“Dia pergi mencari jam saku kami yang hilang sebelumnya”
“Begitu. Apa dia pergi sendiri?” Theo memberanikan diri untuk bertanya kepadanya
“Aku tidak tau kalau sekarang, tapi sebelum berpisah denganku di kolam air mancur dekat altar pagi ini dia pergi bersama teman kami”
“Teman…”
Theo ingat ketika dia melihat Kino di dekat anak tangga menuju tempat terasing di kota kemarin sore. Dia jelas mengingat bahwa ada seorang lagi yang ikut berdiri bersama Kino selain sang adik.
‘Pria dengan pedang tanpa sarung pedang itu!’
Theo seakan berteriak dalam hatinya. Dia yakin bahwa pria itu juga ikut mencari jam saku milik Kino. Mengingat bahwa Kino memiliki hubungan dengan orang yang dicari Justin membuatnya semakin gemetar.
‘Masalah ini terlalu rumit dan terlalu kebetulan! Bagaimana mungkin hanya dalam waktu satu hari, aku dan Kino-nii sudah memiliki masalah yang berkaitan satu sama lain seperti ini?! Ini seperti takdir yang disengaja!!’
Sepanjang jalan, Theo terlihat tidak tenang. Padahal sebelumnya dia begitu senang bertemu dengan kakak baik yang sudah memberinya roti kemarin tetapi sekarang hanya ada perasaan takut di dalam hatinya. Ketakutan akan dibenci, ketakutan terhadap hubungan antara Kino dan pria berpedang tanpa sarung pedang itu dan ketakutan tentang insiden semalam yang ada kaitannya dengan pencarian Justin terhadap pria berpedang tersebut.
Kino terdiam memperhatikan anak di sampingnya dan menghela napas sebentar. Setelah itu, dia berhenti dan mengusap-usap kepala Theo.
“Theo-kun, semua akan baik-baik saja. Tidak ada yang perlu kau takutkan, Theo-kun. Jangan khawatir, ya”
Mata Theo berkaca-kaca seakan menahan tangis mendengar kalimat tersebut. Dia membenci dirinya sendiri karena sudah membuat orang yang telah menolongnya susah seperti ini. Dalam dirinya sekarang, dia bermaksud kembali ke bar untuk mengambil jam saku yang dimaksud Kino dari Justin.
‘Aku harus segera mengambil kembali benda yang kucuri dari Kino-nii dari gorilla itu apapun yang terjadi!’
Perjalanan mereka memakan waktu sekitar 20-25 menit menuju altar karena Kino sering berhenti dan mengajak Theo melihat-lihat toko yang mereka lewati. Sampai akhirnya mereka sampai di altar.
“Kino-nii, aku rasa aku akan membantumu mencarinya di sekitar altar. Sebaiknya Kino-nii tetap mencari di sekitar air mancur” Theo mengajukan dirinya untuk pergi ke altar
“Eh? Kenapa kita tidak mencarinya bersama?”
“Tidak masalah. Bukankah Kino-nii menyewa jasaku untuk membantumu? Biarkan aku melakukan tugasku dan aku pasti akan menemukan jam saku milikmu apapun yang terjadi”
Sungguh kalimat yang begitu meyakinkan meskipun sebenarnya kalimat itu juga sangat meragukan di saat yang sama.
Kino sepertinya cemas mendengar Theo berkata seperti itu dan bermaksud untuk menolaknya. Namun karena anak itu bersikeras maka Kino hanya mengijinkannya ke altar selama sepuluh menit.
Sebenarnya, Kino tau mencari ke altar itu hanya sebuah kesia-siaan sejak dia sudah menemukan semua ‘benang yang terhubung’ itu dengan usahanya sendiri. Dia membawa Theo ke altar hanya untuk sebuah alasan saja tetapi anak yang bersamanya justru meminta mereka saling berpencar.
Theo akhirnya berlari menuju altar. Sambil sesekali melirik, dia berlari seolah hampir sampai di anak tangga menuju pintu masuk altar. Theo menyadari bahwa Kino terus memperhatikannya, sampai sebuah kesempatan datang untuknya lolos dari pandangan Kino.
Kino tidak sengaja disenggol oleh salah satu penduduk yang berjalan di sekitar kolam ari mancur tersebut. Hal itu membuat pandangannya teralihkan dan dia berpikir Theo sudah berlari menaiki tangga menuju altar.
“Aku harus berpikir ulang untuk membuatnya bicara nanti” kata Kino seolah bergumam
**
Theo yang telah berhasil meloloskan diri dari pengawasan Kino akhirnya telah menetapkan hatinya untuk kembali ke bar melewati jalan di belakang altar. Setelah berlari secepat yang dia bisa, dari arah belakang dia ditangkap oleh seseorang.
Betapa terkejutnya Theo saat melihat siapa yang menangkapnya.
“Yo, akhirnya kita bertemu lagi”
******