
Saat ini, ada seseorang yang berdiri dengan wajah begitu merendahkan tiga orang yang tersungkur tak berdaya di tanah.
Bersama dengan beberapa monster [Earth Armor Ninja], dia terlihat begitu angkuh dan berkata dengan nada meremehkan.
“Jadi? Kalian sudah kehabisan imajinasi atau apa?”
Mendengar orang yang menatapnya bicara dengan nada sombong seperti itu, Ryou berteriak karena kesal.
“Xenon, kau gila ya! Kami ini amatir dan kau itu sudah veteran! Kau mencoba membunuh kami ya?!”
“Aku sudah katakan sebelumnya bahwa aku akan mencoba membuat ini seperti sungguhan. Aku akan mencoba membunuh kalian dan untuk lolos dari seranganku, kalian harus melawanku dengan sihir”
“Kh! Aku sudah kesal dengan wajah menyebalkanmu itu!”
Ryou berdiri dan berlari ke arah Xenon. Dengan mengarahkan satu tangannya ke depan dan merapalkan sihir untuk menyerang Xenon, Ryou berteriak untuk mengaktifkan sihir api yang diingatnya.
[Fire Blast]
Bola api besar ditembakkan dan Ryou menyebut sihir api [Fire Blast] itu beberapa kali. Setiap dia menyebut sihir itu, sebuah bola api langsung keluar dan terlontar ke arah Xenon.
“Ryou!” Kino berteriak setelah berhasil bangun
Kaito yang sudah berhasil bangkit akhirnya memejamkan matanya. Dia mencoba berkonsentrasi.
‘Bertarung dengan sihir adalah satu-satunya cara untuk mengimbangi gerakan Xenon. Aku harus melakukannya’
‘Seandainya memungkinkan, aku ingin mengalirkan sihirku ke dalam pedang ini. Bayangkan sihirku mengalir ke pedang ini. Aku harus bisa!’
Kino mulai berlari dan mencoba menyerang Xenon menggunakan pedang bambunya. Namun, pasukan monster ninja itu dengan mudah memblokir serangan pedang tersebut sebelum sampai pada Xenon.
“Apa?!”
Monster ninja tersebut langsung melemparkan kunai mereka. Memang Kino berhasil menghindar dan menangkisnya, tetapi dari arah depan tiba-tiba tanah yang ada di sana membentuk sebuah tangan dan meninju perutnya.
“Kagh!”
“Kino!” teriak Ryou
Kaito yang mendengar itu langsung membuka matanya dan bermodalkan imajinasi yang masih diragukannya, dia berlari untuk membunuh monster ninja tersebut.
‘Aku tidak yakin apakah ini akan berhasil atau tidak, tapi jika hanya membunuh monster yang bisa ditebas sekali ayunan pedang, hal ini tidak masalah!’
Kaito mulai mengatakan sesuatu.
“Apapun itu, selama angin dari pedangku bisa memberikan efek serangan jarak jauh, aku akan memanfaatkannya”
[Wind Art: Storm Blade]
Sebuah teknik sihir yang sama sekali berbeda dari yang dibayangkan oleh Kaito, lebih tepatnya nyaris membunuh dirinya sendiri juga.
Bagaimana tidak, begitu dia mengatakan sihir itu dan melakukan tebasan untuk membunuh monster ninja, dari hasil tebasan itu keluar angin yang semakin besar membentuk badai.
Seperti namanya, badai dengan serangan pisau angin yang mengarah ke seluruh tempat itu termasuk dirinya.
Ryou berhenti menembak dan menghindari serangan pisau angin itu.
“Kaito! Jangan menjadikanku targetmu juga!” teriaknya
“Aku tidak membayangkan ini! Ini di luar kendaliku!”
“Lalu kenapa kau pakai?! Hentikan pisau angin yang keluar atau kau akan membunuhku dan Kino!”
Di saat Kaito ingin membayangkan cara menghilangkan anginnya, sebuah guncangan dari tanah terasa dan bersamaan dengan itu, muncul sesuatu seperti lembing dari bawah kaki Kaito.
“Sial!” Kaito melompat dan mencoba menghindari lembing yang muncul dari tanah itu. Bukan hanya Kaito, Ryou juga mendapatkan ‘hadiah kejutan’ yang sama.
Kino yang baru berdiri harus menerima ‘hadiah’ itu juga, tapi sedikit ‘lebih beruntung’ dalam arti sebaliknya. Pahanya tertusuk dari bawah dan menyebabkan teriakan yang begitu keras dengan darah yang menetes.
“Aaaaah!!!”
“Kino!!” Ryou melewati semua lembing dari tanah itu dan mulai berlari sekuat ke arah Kino
“Kino! Kino, kau tidak apa-apa?! Kino!”
“Ukh…kaki kananku…”
Ryou berubah pucat. Melihat darah yang begitu banyak keluar dari paha kanan sang kakak membuatnya panik. Dia segera mengupayakan cara untuk melepaskan lembing itu dari kaki Kino namun tidak semudah itu.
Lembing lain keluar dari dalam tanah dan siap untuk menyerang mereka. Dengan sigap Kaito langsung berlari dan mengatasi semua lembing tersebut dengan pedangnya.
Kaito menyadari bahwa lembing itu masih terhubung dengan tanah. Dia memotong bagian bawah lembing yang masih tertancap di tanah dan menggendong Kino ke tempat yang aman.
Ryou begitu panik hingga langsung mencabut lembing yang memancap di paha Kino tanpa berpikir dahulu.
“Aaakh!” teriak Kino
“Apa yang kau lakukan! Jika mencabutnya seperti itu, Kino bisa saja mati!”
“Aku tidak punya pilihan!” Ryou merobek pakaiannya untuk menutupi luka di paha Kino
‘Aku harus memikirkan cara untuk menghentikan sihirku sendiri, tapi Kino benar-benar terluka sekarang! Tampaknya Xenon benar-benar berniat membunuh kami dalam latihan ini jika kami semua tidak bisa mengendalikan sihir!’
Ryou memeluk sang kakak.
“Maafkan aku” bisiknya
“Jangan lengah, Ryou. Aku tidak apa-apa”
Begitu Ryou melepaskan pelukannya dari sang kakak, dia berdiri dan mengambil lembing yang sebelumnya menancap di paha sang kakak.
Dari sisi berlawanan, Xenon tampak tidak mengalami perubahan ekspresi wajah meskipun sudah mendengar teriakan Kino.
“Apa kalian sudah selesai?”
Pisau angin Kaito masih mengarah ke semua sisi termasuk ke arah Xenon, namun tampaknya dia tidak mengalami masalah berarti karena dia bisa menepisnya dengan perisai pelindung yang dipasangnya.
‘[Earthshaker Javelin] akan membuat lembing muncul dari dalam tanah. Aku sedikit merasa kasihan pada Kino, tapi aku tidak bermaksud untuk mengalah kali ini’
‘Jika mereka gagal dengan sihir mereka, aku mungkin akan membunuh mereka secara tidak sengaja’ pikir Xenon
Tampaknya keadaan ini telah berubah menjadi sebuah kejadian serius. Xenon bermaksud mengeluarkan sihir lainnya. Namun, sepertinya hal itu dibatalkan setelah dia merasakan hawa panas.
“Panas…”
Dari sisi lain, tampaknya Ryou sudah cukup dengan keadaan ini.
“Aku sudah cukup. Baru dua hari kami di sini dan aku harus melihat Kino terluka. Jangan bercanda. Persetan dengan yang namanya sihir. Aku akan membuatmu menyesal”
Dari tangan Ryou yang memegang lembing, keluar sebuah api yang awalnya kecil namun tiba-tiba menjadi seperti senjata. Yang lebih menakjubkan lagi, tangan Ryou tidak terbakar sedikit pun.
“Ryou…” Kaito yang sibuk memblokir serangan pisau angin terkejut melihatnya
Hawa panas semakin terasa dan setelah itu di sekitar tubuh Ryou keluar api merah besar yang semakin besar karena kekuatan angin dari sihir Kaito yang tidak terkendali.
“Ryou…Ryou!!” sang kakak berteriak di belakangnya
Panasnya api terasa sampai ke tempat Xenon dan tanpa aba-aba, Ryou langsung melempar lembing api itu lurus ke arah Xenon.
[Fire Javelin]
-WOOSH
Begitu dilemparkan, bagaikan tidak ada penghalang sedikit pun, lembing itu tembus melewati angin yang membatasi mereka dengan Xenon dan langsung menuju tepat ke arah Xenon.
“Apa?!”
Xenon berubah panik dan langsung memasang penghalang kembali. Tapi tampaknya itu tidak begitu berguna.
Mungkin karena sudah emosi, lembing api itu tidak bisa ditahan oleh penghalang sihir tipis milik Xenon. Alhasil, penghalang itu langsung hancur dan Xenon terpaksa melompat ke sisi samping.
“Dia sudah mulai serius ya”
Baru berkomentar, dari sisi sampingnya Ryou ternyata sudah siap mendaratkan sebuah serangan ke arah wajah Xenon.
“Aku sudah cukup bermain-main dengan penguji gadungan sepertimu!!”
[Fire Art: The Ruler of Inferno Blast]
“Ini…”
-BLAAAST
Sebuah serangan api dari tangan kosong milik Ryou benar-benar mengarah pada Xenon.
Itu bukan hanya sebuah semburan api besar, tapi seperti sebuah ledakan.
Tanah di sekitar tempat itu terlihat seperti mendidih bagaikan kawah gunung berapi. Panas dan benar-benar memberikan efek yang cukup terasa.
Air sungai yang ada di sekitar tempat itu juga jadi sedikit menguap karena panasnya. Ini bisa dikatakan, Ryou menyatukan semua emosi kemarahannya ke dalam setiap serangan sihirnya.
Xenon tidak begitu mengalami dampak serius karena ternyata dia berhasil menghindarinya, namun separuh dari pakaiannya rusak akibat api itu.
Pada bagian pakaian bawahnya, api milik Ryou masih belum padam hingga terpaksa dirobek olehnya.
‘Dia benar-benar serius ingin membunuhku juga sekarang. Sihir apinya berasal dari kebencian dan kemarahannya padaku. Apakah aku sudah keterlaluan?’ pikir Xenon
Xenon sempat berpikir demikian, namun melihat keseriusan mata itu membuatnya menarik pikiran itu kembali.
“Tidak, ini yang terbaik. Memaksa mereka menyatu dengan sihir melalui emosi adalah hal yang tercepat. Tampaknya aku harus berterima kasih pada Kino yang terluka nanti” gumamnya pelan
Senyum penuh rasa senang terlihat dari wajah Xenon dan mata dingin penuh dengan hawa membunuh terlihat pada ekspresi Ryou.
“Akan kubuat kau menyesal karena sudah menyakiti Kino. Bahkan, sekalipun kau minta maaf padanya, aku tidak akan pernah memaafkanmu”
******