
Tidak mau mengurusi ‘tamu kehormatan’ yang lain, Kaito langsung bergegas ke depan.
Song Haneul yang bingung dengan teriakan Ryou bertanya padanya.
“Apa yang di depan? Mayat Jung Leon hidup lagi setelah kepalanya dipenggal?”
“Benar”
“Mana mungkin seperti itu?!”
“Lalu kau pikir yang ada di sana itu ilusi?” Ryou menunjuk arah depan dengan pisaunya
Song Haneul yang melihat itu seperti tidak percaya dengan semua pengelihatannya.
“Tidak mungkin…”
“Sudah percaya?! Itu mayat Jung Leon. Aku masih ingat dengan pakaian itu. Aku juga ingat bagaimana Kaito menendang kepalanya setelah kepala itu menggelinding ke arah kakinya”
“Apa?! Kaito menendang kepala Leon-nim?!” Song Haneul lebih syok mendengar itu
“Oops, aku kelepasan” gumam Ryou dengan wajah penuh penyesalan
Kino melihat mayat tanpa kepala itu juga.
“Ryou, kita bahas itu nanti saja. Cahaya itu mungkin adalah–”
“Benda dan tujuan kita, seperti dugaanmu Kino”
Hanya berjarak beberapa meter saja, Ryou nyaris mendapat ‘pelukan hangat’ dari ‘tamu kehormatan’ mereka.
“Ryou!!” Kino berteriak
Ryou nyaris tidak bisa menghindar karena zombie itu datang tiba-tiba. Secara reflek, Song Haneul melempar sebuah pisau di tangannya yang mengenai bagian tubuh zombie tersebut.
“Tidak kena?!” katanya
“Tidak. Itu cukup membuat mereka berhenti” Ryou langsung menebas kepalanya menjadi dua
Setelah itu, mereka bertiga berhenti berlari. Mereka telah berada di dekat pos penjaga tempat kunci gerbang itu berada dan hanya beberapa meter lagi, mereka bisa langsung menyentuh pintunya.
Tapi itu baru bisa dilakukan jika tidak ada barikade berbentuk mayat hidup di depannya.
“Song Haneul, kerja bagus. Terima kasih”
“Aku hanya berusaha untuk tidak menyusahkan”
“Tapi sekarang kita susah bersama-sama”
“Di depan sana, sepertinya pergerakan zombie-zombie itu berbeda dengan yang lain. Mereka bisa bergerak sampai hampir menangkap Ryou seperti itu” Kino mengamati pergerakan zombie di depan
Dari belakang, Kaito tidak berhenti dan melewati Kino serta Song Haneul.
“Aku akan mengatasi mayat tanpa kepala itu! Sebaiknya kalian cepat ke pos!”
“Kaito-san!”
“Jangan buang-buang waktu! Matahari hampir terbenam dan kita bisa berada dalam posisi kurang diuntungkan jika malam tiba!”
“Kaito benar, Kino. Kita maju sekarang!” ucap Song Haneul dengan wajah yakin
Mereka mulai berlari kembali.
Tidak mudah melawan zombie di depan. Mereka lebih menyulitkan karena gerakan mereka lebih cepat dan agresif.
‘Aku yakin mereka tidak mungkin memakan manusia. Mungkin mereka seperti yang ada di gerbang satu lagi itu. Tapi dengan gerakan agresif itu, aku yakin mereka masih bisa kutebas dengan mudah. Yang jelas, targetku hanya satu yaitu mayat Jung Leon!’ kata Kaito dalam batinnya
-GRAAA
Zombie-zombie itu mulai bisa berlari ke arah Kaito. Bukan hanya satu tapi hampir semuanya. Tampaknya mereka sangat bersemangat memberikan ‘pelukan’ untuk Kaito.
Ryou sempat terkejut dan berubah pucat.
“Kaito! Kau harus ingat bahwa sebesar apapun rasa haru yang kau miliki atas sambutan itu, jangan sampai kau jatuh ke pelukan mereka atau kau akan langsung pindah alam!”
“Jangan membuatku tertawa! Aku juga tidak ingin dipeluk oleh mereka! Jangan banyak komentar dan cepatlah, Ryou!”
“Kaito-san, tolong berhati-hatilah!”
“Jangan pikirkan aku!”
Mereka mulai bekerja secara terpisah. Kaito fokus pada urusannya sendiri, sedangkan tiga lainnya menuju pos.
Normalnya, jika hanya menuju pos mereka hanya perlu berjalan santai, tapi untuk mereka yang sekarang tidak bisa. Berjalan kaki saat ini berarti mati.
“Sudah hampir sam…oi!!” Ryou menghindari sebuah serangan zombie
Ada zombie yang mencoba menyentuhnya. Ryou mundur dan menebasnya, namun dari sisi samping ada yang melompat untuk memberikan ‘kejutan dan pelukan’ padanya.
-BUUK
Kino reflek melakukan tendangan berputar dengan keras hingga zombie itu terjatuh dan membuat zombie lainnya terdorong.
“Kita pergi sekarang!”
Song Haneul sebelumnya sempat terpaku melihat gerakan cepat dan tendangan Kino.
‘Aku tidak tau orang selembut Kino bisa melakukan pertahanan diri seperti itu!’ gumamnya dalam hati sambil tersenyum
Mereka hampir sampai di pos.
“Kino, Song Haneul…pergilah duluan! Aku akan melindungi jalan kalian!”
“Kami mengerti! Song Haneul-san, ayo”
Song Haneul mengangguk. Sekarang, Kino yang berada di depan sambil membunuh para zombie yang mencoba mendekat. Song Haneul yang sekarang hanya memiliki sebuah pisau di tangannya mencoba tidak melakukan tindakan gegabah.
‘Leon-nim, Seung Chan…aku hampir mengakhiri semua ini. Aku mohon tolong lihat aku di sana dan doakan kami berhasil!’
Barikade itu sedikit demi sedikit berhasil dikurangi walaupun jumlahnya terlihat tidak jauh berbeda.
Akhirnya, setelah melakukan banyak sekali perjalanan panjang menuju pos, keduanya berhasil sampai dan masuk ke dalam.
-Creek…Creek…
Song Haneul mencoba membuka pintu posnya.
“Kenapa justru terkunci di saat seperti ini!” Song Haneul mulai panik
Kino memiliki firasat tidak baik tentang hal ini.
“Song Haneul-san?”
“Terkunci! Bagaimana ini!!” Song Haneul berteriak
Ryou yang mendengar hal itu mulai kesal.
“Dasar keberuntungan yang tidak berguna! Kenapa tidak pernah bekerja di saat seperti ini, dasar sial!”
Kino yang berada di dekat Song Haneul mencoba menendang-nendang pintunya namun gagal. Jika menghancurkan knop pintunya dengan tongkat pelnya sekalipun, hal itu mungkin sulit karena tongkat pelnya bisa saja patah.
“Tidak terbuka”
Masih belum menyerah, kali ini Kino mencoba menendangnya dengan kekuatan penuh dan berhasil. Pintu terbuka.
Begitu Song Haneul masuk ke dalamnya, dari arah belakang sesosok zombie mulai berlari ke arah Kino yang belum sempat berbalik.
“Kino!!” teriak Ryou dengan panik
**
Sementara itu, Kaito masih menghadapi semua ‘tamu kehormatan’ miliknya.
“Aku tidak punya waktu melayani mereka semua!”
Kaito menebas kepala mereka tanpa berhenti dan melihat ke depan gerbang. Itu adalah mayat tanpa kepala Jung Leon yang memiliki cahaya di saku celananya.
“Permata itu benar-benar mengendalikannya. Kekuatan itu pasti yang menggerakan mayat itu kembali. Aku harus segera menghabisinya sebelum malam tiba”
Sama seperti dua permata lain yang seakan tidak ingin kembali pada Kaito, permata itu juga tampaknya enggan sekali kembali padanya.
Mayat tanpa kepala milik Jung Leon mundur dan seakan meminta perlindungan dari yang lainnya, mayat lain mulai secara agresif menyerangnya.
“Aku tidak pernah berpikir ingatanku bisa berubah menjadi anak yang nakal” ujarnya kesal
Karena sudah muak dengan semua itu, Kaito mencoba berlari untuk menghentikan gerakan mayat Jung Leon. Tapi, dia melihat ada seekor zombie yang hendak menyerang Kino.
‘Kino!’ Kaito seakan berteriak dalam hati
Ryou yang berada di posisi yang cukup jauh saat itu hanya bisa berteriak sambil berusaha menghampiri sang kakak.
“Kino!!”
Kino menengok dan mendapat sebuah cipratan darah yang mengotori wajahnya.
Ada sebuah kepala melayang dan bersamaan dengan itu, Kaito berdiri di depannya
“Kau baik-baik saja?”
“Terima…kasih…” Kino sempat terkejut hingga tidak bisa mengatakan apapun sekali ucap
“Aku senang aku tidak terlambat”
“Kaito-san, bagaimana dengan mayat Jung–”
Tidak lama setelah itu, Song Haneul berteriak di dalam sambil memegang kuncinya.
“Ketemu! Dengan ini kita bisa mengakhiri permainan!”
******