Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 48. Pencarian Informasi bag. 4



Kino berhasil membujuk gadis kecil itu untuk memaafkan Stelani dan Fabil meskipun dia masih belum melepaskan pelukannya. Namun dengan keadaan yang tetap dalam suasana canggung, Kino masih harus menemukan cara untuk membuat suasana itu kembali membaik.


Dia bisa melihat anak-anak lain berubah menjadi suram dan keadaan nyaman yang berhasil dibangun olehnya lenyap seketika.


‘Aku harus melakukan sesuatu dengan ini semua. Tapi, bagaimana?’


Kino benar-benar bingung. Di saat kebingungan itu masih berada dalam pikirannya, Stelani bicara kepadanya.


“Aku minta maaf, Kino-niisan. Lagi-lagi kami membuatmu dalam masalah”


“Stelani-chan, itu tidak benar. Aku yang harusnya minta maaf”


“Itu tidak benar. Semua itu bukan salahmu, Kino-niisan. Ini semua karena mulutku. Seharusnya aku tidak mengatakan hal yang bukan-bukan”


“……” Kino diam sesaat


Dia akhirnya yakin bahwa kemungkinan hal yang tidak beres itu berada pada kata ‘Justin-sama’ yang dikatakan Stelani beberapa waktu lalu dan ditambah dengan keterangan Michaela sudah membuktikannya. Hanya saja tidak mungkin dia, orang yang baru mereka temui kurang dari satu jam bisa mencampuri urusan pribadi anak-anak itu.


Tidak ingin membuat anak itu merasa bersalah dengan apa yang terjadi, Kino memberikan jawaban.


“Stelani-chan, aku tidak akan bertanya apapun tentang hal yang memang tidak ingin kalian katakan. Aku juga tidak kenal siapa Justin-sama yang kalian maksud atau apakah yang dikatakan Michaela-chan tadi itu benar atau tidak. Karena itu jangan terlalu dipikirkan”


“……” semua anak-anak terdiam


Suasana tidak berubah baik-baik saja meskipun kalimat menenangkan jiwa dari Kino sudah diucapkannya. Wajah tertekan Kino mulai menyerahkan semuanya pada pelayan restoran.


‘Kumohon, tolong cepat antar makanannya sekarang agar aku bisa melakukan sesuatu dengan suasana tertekan ini’


Hanya selang beberapa menit setelah Kino berdoa dalam hatinya, dua pelayan datang dengan membawa pesanan mereka.


“Maaf karena sudah lama menunggu. Ini pesanan menu pembuka dan utamanya, tuan”


“Lihat itu, makanan datang!”


“Wah, makanan! Ada dagingnya juga!”


Anak-anak yang tadinya murung dan tidak mau bicara akhirnya terlihat bahagia kembali. Stelani dan Fabil yang beberapa waktu lalu terlihat khawatir juga mulai ceria.


“Lihat, Michaela-chan. Sarapan sudah datang” Kino melihat gadis kecil yang masih belum melepaskan pelukannya sama sekali


Mendengar itu, Michaela langsung melihat makanannya dan berubah ceria seakan tidak pernah terjadi apapun.


“Kino-niichan, apa itu semua daging yang kami pesan?!”


“Benar. Kalian harus makan dengan benar jadi bisa kembali ceria dan kuat. Karena itu jangan menangis lagi dan makan yang banyak, ya?”


“Umm!!” Michaela mengangguk senang


Kedua pelayan wanita itu membagikan makanannya kepada mereka semua. Fabil bahkan menelan ludahnya karena tidak tahan mencium aroma makanan yang ada di depan matanya. Semua terlihat lezat dan tentu saja aromanya begitu menggoda selera.


“Untuk makanan penutupnya akan diantar setelah ini jadi mohon ditunggu”


“Terima kasih banyak”


Setelah pelayan itu pergi, Kino mulai mendapatkan kepercayaan dirinya untuk mulai mencairkan suasana. Terima kasih untuk semua makanan di meja karena berkat kalian semua akhirnya Kino bisa kembali ke topik yang dia butuhkan.


“Nah , silahkan dimakan semuanya” Kino mempersilahkan mereka untuk menyantapnya


Tanpa banyak basa-basi, anak-anak itu makan dengan lahap. Wajah bahagia mereka terlihat di setiap kunyahan pada mulutnya. Seakan memang pertama kalinya mereka memakan makanan seenak itu, bahkan Fabil sampai tidak bisa menahan air matanya.


Stelani yang melihat Fabil menangis karena senang sudah bisa membayangkan betapa enaknya makanan itu, namun dia terdiam saat melihat ke depan. Menyadari ada yang aneh di hadapannya, Stelani bertanya kepada Kino sebelum makan.


“Kenapa Kino-niisan tidak ikut makan bersama kami? Apa makanannya belum datang?”


“Aku sudah sarapan sebelumnya dan perutku masih sangat kenyang untuk makan lagi jadi jangan pikirkan aku”


“Begitu. Kalau begitu kami makan. Terima kasih banyak Kino-niisan”


“……”


Kino tersenyum namun tidak lama kemudian dia mulai memperhatikan semua makanan yang disantap anak-anak tersebut. Dia merasakan ada yang mengganggu pikirannya melihat semua itu.


‘Aku benar-benar merasa bahwa aku bukan manusia lagi sekarang. Begitu banyak makanan lezat di depan mataku sekarang tetapi semua itu tidak membuatku lapar sama sekali. Tampaknya semakin lama di ‘dunia’ ini kondisi tubuhku semakin aneh. Apakah Ryou dan Kaito-san juga menyadari hal itu?’


Pikiran aneh itu segera di simpan dalam hatinya dan dia mulai menggali informasi lain.


“Mengenai hal yang tadi kudengar barusan, aku akan anggap aku tidak pernah mendengarnya. Jadi, kita bicara hal yang ringan saja ya”


“Baiklah. Apa ada hal lain yang ingin diketahui oleh Kino-niisan tentang kota ini?”


Nada Stelani sudah mulai membaik. Kekuatan makanan restoran itu benar-benar seperti sihir yang mampu meluluhkan hati siapapun yang sedang lapar. Ini merupakan kesempatan baik untuk Kino dan dia tidak akan melewatkan semua kesempatan itu.


“Kalau boleh aku tau, dimana kalian tinggal? Ah, kebetulan aku sedang menginap di sekitar kawasan perumahan tepatnya di [Hébergement Clarks]. Kalau kalian ingin bertemu denganku lagi, kalian bisa mampir ke tempat itu”


Salah satu cara Kino untuk mendapatkan informasi tentang mereka adalah dengan menyebutkan dimana dia tinggal terlebih dahulu. Dengan begitu, mereka juga akan memberitau dimana mereka tinggal sekarang.


Rasio keberhasilannya memang hanya sekitar 51% karena pada kenyataannya sangat jarang ada orang yang mau jujur tentang hal seperti itu, tapi angka rasio tersebut masih lebih baik daripada tidak sama sekali.


Tapi ternyata responnya begitu positif.


“Kami tinggal di suatu daerah di kota ini. Tempat kami tinggal hampir tidak pernah dikunjungi oleh penduduk kota karena terlalu asing”


“Tempat asing? Dimana itu?”


“Dari belakang altar, Kino-niichan bisa melewatinya dengan berjalan lurus. Itu lebih dekat dengan tempat tinggal kami. Namun jika melewati kawasan perumahan penduduk, Kino-niichan bisa melewatinya dengan menuruni anak tangga yang ada di sekitar sana” Fabil menjawab semua itu dengan lancar tanpa beban


Sekali lagi Kino mencocokannya dengan pernyataan Lily.


[Saat pertama datang aku pernah bertanya pada mereka dimana letak tempat tinggal mereka tapi tidak ada yang menjawab satupun]


Informasi kedua yang tidak kalah penting sudah didapatkan.


‘Ini bisa diteruskan. Aku hanya perlu tenang dan mengembalikan suasana nyaman sebelumnya untuk mendapatkan lebih banyak informasi. Aku yakin pada akhirnya, semua benang itu akan saling terhubung dan aku bisa meyakinkan hatiku tentang pikiranku sebelumnya’


Pada kalimat terakhir dari isi hati Kino masih terasa ambigu dan belum terlihat apa maksudnya, namun dia yakin semua hal tersebut akan saling berhubungan.


Sekarang Kino terdiam sebentar untuk berpikir setelah mengingat jawaban Fabil.


‘Tangga menurun di sekitar kawasan perumahan penduduk?. Rasanya aku tidak asing dengan itu. Dimana aku mengetahuinya–’


Tidak membutuhkan waktu lama, Kino langsung menyadari bahwa anak tangga yang dimaksud itu adalah anak tangga yang ditemukan Kaito kemarin.


[Sampai kemarin, anak tangga ini dan jalan lurus ke bawah itu tidak ada sama sekali]


[Aku sudah pergi ke sana dan itu bukanlah tempat yang menyenangkan. Tempat itu begitu lembab, kumuh, pencahayaan yang kurang dan penuh dengan orang-orang tidak ramah. Kurasa mereka bahkan tidak suka berhubungan dengan penduduk kota ini]


Kino menemukan adanya kecocokan dengan semua itu. Wajahnya sekarang berubah pucat.


‘Anak-anak ini berasal dari tempat yang dimaksud Kaito-san?! Kenapa mereka bisa tinggal di tempat berbahaya seperti itu?’


Sekali lagi Kino memperhatikan detail mereka satu persatu mulai dari Michaela yang berada di sampingnya lalu terus sampai anak terakhir.


‘Kenapa aku tidak menyadarinya lebih cepat? Mereka memakai pakaian lama yang kotor, wajah lelah dan tubuh kurus. Melihat cara mereka makan, sepertinya mereka hampir tidak pernah makan makanan seimbang dan yang paling tidak biasa dari semua itu…ada sedikit bekas lebam di balik kerah baju mereka’


‘Melihat tubuh mereka seperti itu, aku akan menganggap apa yang Michaela-chan katakan itu adalah kebenaran. Orang yang dipanggil Justin-sama adalah orang yang jahat. Mereka meminta sumbangan di altar bukan untuk sumbangan panti asuhan melainkan untuk diberikan kepada Justin-sama itu’


Tanpa disadari, Kino bergumam dengan pelan.


“Tampaknya benang masalah ini akan sangat panjang”


Gumaman itu terdengar oleh Michaela yang duduk di samping kirinya.


“Kino-niichan, ada apa? Apanya yang panjang?”


“Ah, bukan apa-apa. Apa makanannya enak, Michaela-chan?” Kino mencoba mengalihkan pembicaraan


“Enak! Aku suka makan di sini. Terima kasih, Kino-niichan!”


“Syukurlah”


Pelanggan yang ada di sana terkadang melirik ke tempat mereka. Tampaknya seiring dengan suasana baik di sana, tatapan sinis dan aneh sudah mulai berganti dengan tatapan dan kesan normal.


Kembali lagi dengan perasaan Kino yang justru berubah menjadi khawatir.


Dia akhirnya melihat adanya hubungan anak-anak ini dengan tangga asing yang dikatakan Kaito. Tak menutup kemungkinan mereka juga merupakan ‘bagian’ yang tercipta dari ‘dunia’ aneh tersebut.


Kino mengingat sesuatu yang dia dengar kembali dari Lily di altar.


[Biasanya ada satu orang lagi anak laki-laki yang sepertinya seusia dengan dua anak yang lebih tua di luar]


“Benar juga. Aku ingin tau, bukankah tadi Michaela-chan mengatakan Theo-niichan. Apakah hari ini dia tidak bersama kalian?”


“Umm, hari ini teman kami sedang mencari pekerjaan lain di kota. Dia berkata ingin melakukannya untuk mendapatkan uang yang lebih banyak untuk membantu sumbangan kami semua. Meskipun sebenarnya aku juga berpikir ingin melakukan sesuatu seperti yang dilakukannya”


Fabil bicara dengan nada sedikit sedih dan ekspresi wajah yang mewakili nada bicaranya. Stelani yang mendengar itu juga berhenti makan sejenak dan melihat ke arah Fabil. Namun hanya selang beberapa detik, Kino tidak membiarkan keadaan itu berubah suram.


“Tapi bukankah Fabil-kun sudah melakukan yang terbaik? Saat di luar barusan juga Fabil-kun yang meyakinkan Stelani-chan untuk menerima tawaranku makan di tempat ini, iya kan? Lihat, kamu bisa membuat mereka semua tidak terluka dan masih memperhatikan keadaan mereka dengan baik. Fabil-kun melakukan semua yang Fabil-kun bisa. Itu sangat hebat. Aku bangga padamu”


Kino tersenyum dan mengatakan hal yang sangat ingin didengar Fabil sejak lama. Mendengar kata-kata pujian dari Kino membuat wajah Fabil memerah dan hampir menangis karena senang. Tentu saja anak-anak lainnya menggodanya sehingga momen tangis haru batal terjadi.


Kembali ke topiknya, Kino melanjutkan pertanyaannya.


“Jadi, hari ini anak bernama Theo tidak bersama kalian karena ingin bekerja di kota ya. Apakah sebelumnya dia juga selalu melakukannya?”


“Biasanya Theo bersama kami di altar” Stelani menjawab pertanyaan Kino


“Begitu. Hari ini aku dengar dari seseorang saat aku di dalam altar bahwa anak yang sering ke dalam untuk meminta sumbangan tidak datang. Apakah itu adalah anak bernama Theo yang bersama kalian?”


-Deg


Stelani dan Fabil langsung merasa seperti terkena serangan tepat di jantung mereka.


Dalam hati, mereka mulai panik dan pikiran jernih mereka berubah menjadi sebuah prasangka yang tidak-tidak pada Kino. Dimulai dari Stelani yang mematung dengan segala pikirannya.


‘Kenapa Kino-niisan bisa bertanya seperti itu?! Apa aku harus menjawab pertanyaan itu? Tidak, ini tidak mungkin! Tidak mungkin Kino-niisan sedang mencari tau tentang Theo. Itu sama sekali tidak seperti Kino-niisan tau apa yang Theo lakukan di altar. Selain itu, dia baru berada di kota ini dua hari, mustahil ada kabar aneh di altar yang terdengar oleh Kino-niisan’


Tidak kalah panik dengan Stelani, Fabil tampaknya juga memikirkan banyak prasangka dan kemungkinan.


“Apakah ada kabar buruk tentang Theo yang didengar Kino-niichan? Aku yakin Stelani juga sama paniknya denganku sekarang? Aku tidak bisa bilang kalau Theo selalu masuk ke dalam altar untuk mencuri iya kan?! Bisa berbahaya bagi kami semua jika hal itu sampai diketahui yang lain, termasuk oleh Kino-niichan! Aku harus melakukan sesuatu untuk mengalihkan pembicaraan ini!’


Mereka berdua melihat Kino yang tampaknya masih menunggu jawaban dari mereka. Stelani melirik Fabil dan memberi kesempatan padanya untuk mengalihkan pembicaraan ini.


“Be–begitulah. Oh iya, tadi Kino-niichan bilang kau datang ke kota ini bersama adik dan temanmu. Dimana mereka sekarang?”


“Mereka? Mereka ada urusan lain dan kami berpencar. Tadi temanku juga memintaku untuk pergi berbelanja karena aku bermaksud akan memasak makan malam hari ini”


“Jadi setelah ini Kino-niichan akan pergi berbelanja?”


“Benar. Kurasa aku harus berkeliling tempat ini agar tau semua seluk beluk kota. Bagaimanapun, kota ini begitu luas jadi aku merasa aku bisa menemukan banyak hal selama aku berada di sini”


“Begitu. Semoga kau suka dengan kota ini, Kino-niichan”


“Kuharap begitu”


‘Pengalihan selesai. Dengan begini, pembahasan tentang Theo tidak akan keluar dari mulut Kino-niichan’


Itulah yang dipikirkan oleh Fabil. Tapi tampaknya pikiran anak kecil seperti mereka tidak akan bisa mengalahkan jenius seperti Kino. Dengan mudah Kino membalikkan topik pembahasan miliknya kembali.


“Jadi, intinya hari ini anak bernama Theo tidak bersama kalian. Aku ingin tau, ada gosip aneh juga yang kudengar. Tampaknya ada beberapa jamaah dan penduduk kota yang kehilangan benda milik mereka saat di altar. Apakah kalian tau sesuatu tentang itu?”


-Deg


“Uhuk…uhuk…uhuk…!”


“Kalian berdua kenapa? Cepat minum air kalian!”


Mendengar pertanyaan Kino barusan seperti menekan mental mereka sampai ke dasar. Kedua anak itu langsung tersedak dan batuk dengan keras. Anak-anak lain yang melihatnya langsung terdiam, termasuk Michaela. Kino segera meminta mereka untuk minum agar mereka lebih baik.


Setelah meminum air dan tidak lagi batuk, mereka tampak pucat seperti mayat.


“Ada apa? Apakah airnya kurang? Aku akan pesankan lagi. Permisi…”


Kino memanggil pelayan dan meminta air minum untuk masing-masing anak tersebut. Tidak lama setelah air datang, mereka langsung meminumnya kembali.


“Sudah lebih baik?” Kino menatap mereka dengan tatapan khawatir


“Su–sudah. Maaf karena tidak sopan dan membuat kaget” ucap Stelani


“Aku yang seharusnya minta maaf karena mengajak kalian bicara saat makan. Aku tidak akan mengajak kalian mengobrol lagi. Habiskan makanannya dan setelah itu sisakan ruang untuk makanan penutupnya ya”


“……” kedua orang itu diam sesaat sebelum melanjutkan makannya


Kino memperhatikan gerak dan cara mereka makan dan menyimpulkan sesuatu.


Satu per satu ingatan dari semua yang dikatakan Ryou kemarin dan pernyataan Lily pagi ini telah terhubung pada suatu kebenaran.


[Kau anak yang tadi pagi menabrak kami di altar kan?]


[Aku ingat dengan jelas. Dia yang menabrak kita dan kau yang membantunya berdiri tadi pagi]


[Dia dan teman-temannya itu berdiri di depan altar tadi pagi]


[Anak laki-laki itu sering memakai topi coklat, dia adalah anak yang sering meminta sumbangan di dalam altar ini]


[Anak itu memakai baju orange dan punya rambut hitam yang bagus sekali. Apa kamu bertemu dengannya juga kemarin?]


‘Anak yang sering masuk ke dalam altar itu adalah Theo, anak yang tidak sengaja menabrak aku dan Ryou kemarin. Juga….’


Kino terdiam dengan senyum kecewa di wajahnya.


‘Ini benar-benar di luar dugaanku’


******