
Di pagi itu, Xenon dan ketiga remaja dari dunia asing sampai di sebuah tempat. Tempat itu di dekat sebuah tepi sungai dan lokasinya di sebuah hutan yang sangat terpencil.
“Kita sampai”
Xenon membiarkan mereka melihat apa yang ada di depannya.
“Ini…ini tidak ada di London!” ucap Ryou dengan wajah terkejutnya
“Aku tidak tau apa itu London, tapi tempat ini adalah tempat rahasia untukku. Tidak ada yang suka ke sini. Di sini ada banyak elemen yang bisa dipakai. Sungai itu juga bersih, mengalir sampai ke kota dan memenuhi bendungan. Dengan kata lain…”
“Tempat ini sangat cocok untuk latihan kita. Benar begitu kan, Xenon-san?”
“Benar. Kau bisa meningkatkan kembali penggunaan sihir airmu di sini, Kino. Dan untuk dua orang menyebalkan di sana…”
“Hah?! Siapa yang kau maksud?! Jangan sembarangan bicara ya!”
Ryou tampaknya tidak terima dengan semua ucapan itu, tapi itu tidak digubris oleh Xenon.
“Kalian berdua…aku akan membuat kalian menyesal karena telah membuatku kehilangan jam tidurku semalam”
“Itu bukan salahku! Aku sudah bilang kalau Kaito yang salah, kan?! Kenapa masih menyalahkanku juga!”
“Sudah berapa kali kubilang kalau kau nyaris memanggangku semalam, dasar bocah keras kepala!!”
******
Ini adalah kelanjutan dari insiden ‘pesta penyambutan’ semalam…
“Kino, sekarang tarik napasmu dan mari ucapkan selamat tinggal waktu tidurku”
“Xenon…-san?”
Kino melihat wajah Xenon yang tampaknya tidak begitu bersahabat. Sihir air Kino masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti dan entah dari mana, semua air itu terus keluar layaknya air terjun.
“Kakakku yang paling baik di dunia!” teriak Ryou, “Jika ini adalah salah satu caramu untuk menunjukkan betapa kau mencintai adikmu yang paling keren ini, maka aku tidak butuh cinta itu! Kau nyaris membuatku mati tenggelam dan terkena thalassophobia!!”
“Ryou, jangan mengatakan hal yang tidak-tidak! Siapa itu Thala Sophobia?!” Kaito bertanya yang tidak-tidak sekarang
“Itu bukan nama orang! Itu artinya kau akan takut pada air yang banyak! Lihat air yang benar-benar banyak itu! Aku seperti melihat air terjun dalam jarak dekat!”
“Bukan saatnya bicara begitu, Ryou!! Aku sedang mencobanya!” Kino tidak kalah paniknya
Ryou melihat ke arah Xenon yang masih meratapi nasibnya dan berteriak.
“Oi, calon penguji ujian masuk! Kalau kau tidak bisa menghentikan air terjun itu untuk membunuh kita semua, kau akan kuanggap gadungan dan kesepakatan kita batal!!”
“Hah?” Xenon melihat Ryou dengan ekspresi bringas
“Dengar, kan?” Kau akan ku cap sebagai gadungan dan kesepakatan kita batal sampai di sini! Di akhirat nanti, akan aku tarik kakimu sampai ke Sungai Sanzu dan akan kutenggelamkan dirimu!”
Kino mematung. Dia mulai memikirkan bagaimana caranya untuk membuat mulut adiknya itu jinak, dibandingkan menghentikan air yang jumlahnya banyak tersebut.
‘Kami-sama, aku harus bagaimana sekarang? Ryou dan teriakannya itu semakin membuatku semakin tidak bisa tenang’ gumam Kino dalam hati
Kaito mencoba untuk mulai berkonsentrasi kembali.
‘Angin yang keluar dari batu sihir di dalam tubuhku sebelumnya bisa semakin membesar saat hawa panas dari api yang keluar dari tangan Ryou bertemu. Hal itu menciptakan badai api. Tapi, angin dan air juga memiliki kecocokan, iya kan? Mungkin bisa berguna!’
Kaito mulai berkonsentrasi dan membayangkan angin keluar dari tangannya. Dia membayangkan bahwa ada pusaran angin yang muncul di tengah-tengah air dan mengangkatnya sehingga mereka bisa terbebas dari kekhawatiran akan tenggelam.
‘Pusaran angin…aku harus menciptakan pusaran angin…’
Xenon yang sudah siap dengan sihirnya justru terkejut dengan sesuatu.
“Perasaan apa ini?”
Xenon merasakan ada hawa sihir yang muncul dan ketika dia melihat ke sampingnya, ada sesuatu yang berputar.
“Airnya…berputar?”
Dengan sedikit pengamatan, akhirnya Xenon melihat apa yang menyebabkan hal itu terjadi.
“Kaito…”
Kino di tempatnya saat ini berusaha untuk tetap mengapung. Ketinggian air saat ini sudah nyaris setinggi dada orang dewasa.
‘Aku mohon berhentilah. Berhentilah keluar! Aku berhasil melakukannya tadi, kenapa aku sulit sekali mengendalikannya sekarang?’
Baru mencoba memusatkan pikirannya kembali, Kino merasa airnya mulai sedikit.
“Eh? Apa airnya sudah…keluar? Sekarang jadi tidak begitu tinggi…” Kino melihat ke arah air itu berputar
Betapa terkejutnya dia melihat ada pusaran kecil yang terbentuk. Tampaknya Kaito mulai memperlihatkan bakatnya.
Bakat untuk membuat Xenon kembali dalam masalah.
“Kaito, berhenti sekarang juga! Jangan membuat pusaran angin di saat kau nyaris membunuh kita tadi!” teriaknya
“Tapi, dengan pusaran ini kita mungkin bisa melakukan sesuatu!” balas Kaito
“Kau bisa melakukan sesuatu tapi membuatku dalam masalah lain! Berhentilah bertingkah macam-macam dan biarkan aku bekerja sekarang!”
Kaito mencoba menenangkan dirinya dan menghentikan pusaran airnya. Kino juga berusaha keras untuk menghentikan air yang keluar dalam jumlah banyak itu.
“Sekarang dengarkan aku, kalian berdua. Kino, Kaito, tenangkan pikirkan kalian. Jangan pernah berpikir untuk menghentikan sihir yang sudah kalian buat, tapi berpikirlah untuk menyatu dengan elemen tersebut. Dengan begitu kalian bisa mengendalikannya sesuka hati”
“Menyatu?”
“Benar. Kaito sedikit lebih unggul karena batu elemennya telah melebur jadi satu dan menjadi sihir miliknya sendiri. Seharusnya, dia bisa lebih mudah untuk menyatu dengan elemennya”
“Sedangkan Kino, batumu itu masih merupakan batu sihir. Jika mengatakan [Sortie], maka sampai kapanpun kau tidak akan bisa mengendalikan sihir itu. Belajarlah tenang dan anggaplah ini adalah pelajaran pertamamu”
“Tapi, Xenon-san…aku bisa mengendalikannya beberapa waktu lalu”
“Baik”
Kedua orang itu patuh. Ryou tidak begitu mengerti, tapi dia berusaha mendengarkan arahan Xenon juga.
“Kalian harus merasakan sihir itu mengalir dalam diri kalian. Berpikirlah hal yang paling kalian inginkan. Semakin kuat keinginan itu, semakin besar kekuatan untuk mengendalikannya”
“Bayangkan kalian dan elemen itu satu kesatuan. Kalian ada di dalamnya, tapi tidak tenggelam karenanya”
“Api adalah kekuatan tekad, air adalah ketenangan pikiran dan angin adalah kebebasan. Elemen itu adalah wujud dari diri kalian sendiri. Bagaikan cermin, elemen itu adalah pantulan diri kalian. Mereka tidak boleh menguasai kalian tapi kalian lah yang harus menguasai mereka”
“Meskipun begitu, elemen itu akan mengalir di nadi, darah, masuk ke saraf dan akhirnya menjadi sebuah napas yang hidup berdampingan”
“Tenangkan dan jangan menjadi panik. Sihir itu akan mulai mengikuti ritme kalian dan akan menjadi sebuah senjata terkuat kalian. Tarik napas kalian dan hembuskan perlahan”
“……”
Sedikitnya, penjelasan Xenon itu benar-benar seperti puisi. Tidak mudah dimengerti kalau hanya didengarkan.
Ketiganya bukanlah orang yang bodoh, tapi juga bukan seorang puitis. Mereka masih menebak petunjuk tersebut. Namun, setidaknya ada gambaran jelas yang mudah dipahami oleh ketiganya.
[Berpikirlah hal yang paling kalian inginkan. Semakin kuat keinginan itu, semakin besar kekuatan untuk mengendalikannya]
[Api adalah kekuatan tekad, air adalah ketenangan pikiran dan angin adalah kebebasan. Elemen itu adalah wujud dari diri kalian sendiri]
Dua kalimat itu adalah yang paling mendominasi.
‘Keinginan kuat dan elemen adalah wujud dari diriku. Aku selalu ingin menemukan ingatanku. Aku ingin bebas dari rasa takut akan kehilangan jati diriku. Aku ingin menemukannya dan untuk itulah aku di sini. Aku dan kebebasanku…’
‘Api adalah tekad. Aku selalu memiliki tekad untuk melindungi Kino sejak kejadian di pantai saat itu. Aku bersumpah untuk menjadi lebih kuat dan melindunginya. Sejak terjebak di tempat ini, aku selalu gagal melakukannya dan kini…aku tidak boleh gagal!’
‘Air adalah ketenangan pikiran. Aku mungkin tidak kuat, tapi aku memiliki ketenanganku untuk memberiku kekuatan. Sihir dan ketenangan ini adalah sebuah irama dan harmoni. Tenangkan dirimu dan kamu akan bisa menyatu dengannya’
Ketiga remaja dunia lain itu menerima konsep puitis milik Xenon dengan baik. Mata [Senri Eye] Xenon melihat ada sesuatu yang berbeda.
‘Batu sihir Kino semakin lama semakin hancur. Sihirnya…mengalir bersamanya! Ini tidak normal! Mereka bertiga jelas bukan manusia biasa’
‘Aku tidak tau bagaimana memberikan penjelasan ini, tapi jika kecocokan seperti ini berlaku….maka mereka memiliki potensi tidak terbatas untuk kombinasi elemen sihir!’
Tidak lama setelah itu, Kino berhasil menyelaraskan pikirannya. Dia berhasil membuat dirinya setenang mungkin. Ada sebuah kalimat yang berbisik di telinganya.
[Water Art: The Ruler of Waterfalls]
Terbentuk lingkaran sihir berwarna biru di sekeliling mereka. Perlahan-lahan air yang keluar layaknya air terjun itu mulai mengecil dan menghilang. Semua air yang menggenangi tempat itu perlahan mulai menyusut.
Xenon cukup terkesan. Dia melihat Kino cukup mahir mengendalikan pikirannya. Xenon lalu melirik Kaito yang tampaknya juga sudah bisa mengendalikan anginnya. Perlahan-lahan angin tersebut mulai menghilang.
“Kalau kalian siswa di sekolah sihir sungguhan, aku yakin kalian akan menjadi si jenius pertama, kedua dan ketiga di sana” gumamnya
Membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit bagi Kino dan Kaito untuk benar-benar menghilangkan efek sihir yang dibuatnya.
Begitu selesai, rasa lelah sudah pasti menyerang.
“Kalian cukup membuatku terkesan” puji Xenon
Dengan napas terengah-engah, mereka berusaha untuk mengaturnya kembali.
“Aku rasa sudah cukup dengan semua ini. Aku benar-benar harus mengajari kalian dari dasar agar tidak membunuh orang lain saat ujian masuk”
“Xenon, aku merasa kekuatan itu benar-benar mengalir dalam tubuhku!” seru Ryou dengan senang
“Benarkah? Kurasa itu karena…oi!! Apa yang mau kau lakukan?!”
“Aku mendengar suara itu dengan jelas. Itu adalah sihir apiku. Akan kutunjukkan kepadamu!”
“Jangan macam-macam malam i–”
[Fire Blast]
“Berhenti seka–”
-BOOOM
Sebuah ledakan ‘kembang api’ yang menutup ‘pesta penyambutan’ di malam itu akhirnya telah berbunyi.
“Ryou!! Kau ingin menjadikanku sebagai daging panggang!!”
“Hebat kan? Ahahaha, aku bisa mengedalikan apinya. Huwaa!! Dia membesar sendiri! Aku harus melakukan apa?!”
Ryou seketika panik dengan api yang dia keluarkan. Tampaknya urat kesabaran Xenon sudah cukup malam ini.
“Aku sudah cukup dengan kalian semua! Kembalikan waktu tidurku!!”
Dengan teriakan Xenon, api Ryou semakin membesar. Dia yang sudah sangat lelah akhirnya menggunakan cara yang seharusnya dia lakukan sejak awal.
[Magic Jammer]
Seketika semua sihir itu menghilang. Dengan tatapan dinginnya, Xenon melihat ketiganya.
“Aku seharusnya melakukan ini untuk menyelamatkan waktu tidurku yang berharga. Percuma mengajarkan kalian bertiga tengah malam begini”
“Xenon…-san?”
“Terima kasih kepada kalian bertiga, aku sudah mengucapkan selamat tinggal pada waktu tidurku. Akan kupastikan di pagi hari nanti, aku akan melempar kalian semua, wahai pembuat onar. Terutama kau, Ryou!!”
“Hah?!”
Sepanjang malam, Xenon hanya menghabiskan semua energinya untuk memberikan pidato dan ‘dongeng’ sebelum tidur untuk ketiganya sampai dia sendiri tertidur karena kelelahan.
******