
“Mereka sudah pergi?”
Song Haneul mengumpulkan semua keberaniannya untuk membuka mulutnya dan bertanya.
“Sepertinya belum semua, tapi setidaknya untuk saat ini mereka berhenti memukul dan mendorong pintunya”
Kaito menjawab Song Haneul. Namun, dia tetap terlihat begitu waspada. Sesekali dia berjalan dengan tenang dan memastikan kembali suara zombie di balik pintu.
‘Tampaknya mereka sudah tidak lagi peduli pada ruangan ini. Langkah kakinya juga semakin terdengar jauh. Seharusnya mereka sudah pergi’ pikirnya
Dengan melihat Kaito yang memasukkan pedang ke dalam sarungnya kembali, Kino dan Ryou mulai menghela napas lega. Keduanya menurunkan senjatanya dan terlihat lebih baik.
“Aku senang kita bisa selamat untuk sekarang” kata Ryou lega
Kino langsung berlutut menghampiri Song Haneul yang menghapus air matanya.
“Kamu baik-baik saja, Song Haneul-san?”
“Aku tidak…apa-apa. Terima kasih”
“Tenangkan dirimu dulu. Di dalam tas ada air, kan? Minumlah dulu. Sebaiknya duduk di kursi yang ada di sana”
Kino membantu Song Haneul berdiri. Dengan mengantarnya untuk duduk di kursi yang dimaksud, Kino menemani Song Haneul sebentar. Membuka tas dan mengambil botol air yang dibawa, Song Haneul minum dengan tangan gemetar.
“Semua akan baik-baik saja Song Haneul-san. Jangan khawatir, tidak apa-apa”
“Aku hanya…terkejut. Bukan, aku syok. Aku tidak menyangka bahwa bertemu dengan zombie asli akan semenakutkan ini. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana mereka yang harus mati dimakan oleh makhluk itu. Aku jadi…aku jadi ingat hal mengerikan yang dialami oleh Leon-nim”
Tangannya semakin gemetar. Song Haneul bahkan nyaris menjatuhkan botol air yang dipegangnya. Jika Kino tidak reflek menangkapnya, akan timbul suara yang bisa saja memancing zombie datang kembali.
Song Haneul menyadari hal itu dan langsung panik.
“Aku minta maaf!”
“Tidak apa-apa. Tenanglah” Kino masih berusaha menenangkannya
Ryou menyadari sesuatu.
“Kaito, kau sudah mendapatkan permatanya?”
“Aku tidak…mendapatkannya”
Kaito terlihat kecewa dan sontak hal itu membuat Ryou penasaran.
“Setelah kau kabur meninggalkan kami karena tidak menyerah mengenai mayatnya dan kau gagal? Memang ada tikus yang tertarik dengan permata itu?”
“Bukan. Mayatnya hilang”
“Eh?”
Kino dan Ryou terlihat syok, sedangkan Song Haneul mulai menunjukkan ekspresi bingung.
“Apa? Hilang? Kau yakin? Ada yang salah dengan ingatanmu tidak?”
“Kaito-san, apa itu benar? bagaimana bisa mayatnya hilang?”
“Aku tidak berbohong. Hanya mayat tanpa kepala milik Jung Leon yang hilang”
Mendengar nama Jung Leon, Song Haneul terkejut.
“Jung Leon?! Apa kalian bertiga sedang membahas Jung Leon?! Apa yang kalian ketahui? Apa kalian bertemu dengan Leon-nim?”
Ekspresi Song Haneul yang panik dan cemas membuat ketiganya ragu untuk bercerita. Akan tetapi sekalipun disembunyikan, mereka yakin dia juga tau kalau Jung Leon bernasib sama dengan temannya yang lain, Lee Seung Chan.
“Saat kami bertiga bersama empat mahasiswa lain menuju gedung arsip, kami sempat dikejar zombie dan bersembunyi di perpustakaan. Begitu sampai di lantai dua gedung tersebut, zombie Jung Leon muncul sehingga kami terpaksa memenggal kepalanya” jelas Kaito
Song Haneul terdiam. Sesak rasanya begitu mendengar nama temannya yang lain telah dipenggal. Lebih sesaknya lagi setelah dia mendengar kelanjutan penjelasan Kaito.
“Setelah memenggalnya, kami sempat membawa kepalanya untuk melakukan sedikit ancaman pada Baek Hyeseon di gedung arsip. Biarpun pada akhirnya kepala itu hanya berakhir menjadi tontonan”
“Leon-nim, kenapa malang sekali nasibmu…”
“Tapi ketika aku kembali untuk mengambil permata yang dibawa olehnya, mayatnya hilang”
“Hilang? Mayat Leon-nim hilang? Bagaimana bisa?”
“Itulah yang ingin aku cari tau. Aku benar-benar tidak menyangka akan terjadi seperti ini”
Wajah kecewa Kaito menandakan bahwa semua itu benar. Tidak ada kebohongan pada kalimatnya. Kino dan Ryou benar-benar tidak mengerti tentang keanehan tersebut.
‘Permata Kaito-san adalah penyebab kenapa kondisi ini terjadi dan tidak menutup kemungkinan mayat Jung Leon yang memiliki permata itu dikendalikan oleh kekuatan misteriusnya. Tapi sekalipun benar, kemana mayat itu pergi?’
Sungguh situasi yang semakin sulit untuk mereka. Ditambah lagi, hari sudah mulai sore dan malam akan
tiba beberapa jam lagi. Ini mungkin akan semakin tidak terkendali.
Di saat yang sama, Kino juga ingat dia ingin memastikan sesuatu kembali.
“Song Haneul-san, apakah aku bisa meminjam laptopmu kembali dan membaca keseluruhan naskah yang kamu buat?”
“Ten–tentu saja”
Song Haneul mengeluarkan laptopnya dan memberikannya pada Kino. walaupun tanpa pencahayaan yang memadai namun itu bukanlah masalah.
Kino membuka laptopnya dan membuka file yang ditunjukkan oleh Song Haneul sebelumnya. Dengan teliti dia membacanya kembali baik-baik.
Kino mulai berpikir.
‘Jika Song Haneul-san mengatakan dia tidak ingat kenapa bisa mengirimkan foto-foto itu dalam kondisi aman tanpa dikejar zombie, kemungkinan besar penjelasannya ada di sini’
‘Sejauh ini, bagian awal dari kejadian di event ini sama seperti yang tertulis. Namun belum ada penjelasan mengenai foto-foto yang dikirimkan oleh…apa ini?’
Terdapat beberapa paragraf yang menarik perhatian Kino.
[Ketika sudah ada banyak zombie yang muncul, nantinya akan ada seseorang yang mengirimkan informasi berupa info atau foto untuk memberitaukan pemain hidup bahwa zombie lain sudah mengepung mereka]
[Foto tersebut nanti akan disebarkan oleh orang yang dipilih. Rencana awalnya pemain tersebut bisa siapa saja (Song Haneul). Setelah itu, nanti pemain itu segera pergi ke gedung asrama untuk bersembunyi]
[Akan ada momen semua zombie berkumpul untuk mendengarkan instruksi dari pemain terpilih tersebut. Catatan : sementara namaku dulu yang dimasukkan. Nanti bisa diganti setelah daftar pesertanya sudah ada di chat grup]
[Poin pentingnya nanti, si pemain terpilih itu akan memberitaukan peserta hidup lain cara untuk menghentikan permainan. Dan setelah mereka berhasil keluar asrama bersama pemain terpilih itu, mereka berhasil lolos dari semua zombie dan mendapatkan kunci untuk mengakhiri event]
“Song Haneul-san mendiskusikan semua alur event ini bersama Jung Leon-san dan Lee Seung Chan-san di hari yang sama saat hadiah kalung liontin permata itu diperlihatkan, benar kan?”
“Benar. Beberapa kali alurnya sempat diubah oleh kami di hari itu juga dan jadinya seperti yang tertulis di sana”
“Ternyata begitu. Karena itu Song Haneul-san bisa ada di gedung asrama. Karena ini juga, kenapa Song Haneul-san bisa mengirimkan foto-foto itu. Walaupun tidak dijelaskan detailnya, tapi kemungkinan karena naskah ini, kamu tidak dikejar zombie saat mengambil foto”
“Apa maksudnya?” Song Haneul tidak mengerti ucapan Kino
Ryou dan Kaito penasaran dengan kalimat Kino sehingga mereka mendatanginya. Begitu membaca apa yang ada di layar, mereka akhirnya bisa paham semuanya.
“100% sama rupanya” mata Ryou berubah tajam
“Saat Song Haneul membicarakan ini, di saat yang sama permataku aktif dan membuat semua yang tertulis menjadi kenyataan”
Kino menggeser kursor ke bawah dan melihat bahwa ada penjelasan mengenai zombie yang muncul sebelum acara dimulai.
[Pintu gerbang nantinya akan dijaga oleh zombie yang sebelumnya sudah diinfeksi terlebih dahulu oleh pemeran zombie utama (kita bisa bekerjasama dengan seluruh teman sekelas untuk menjadi pemeran zombie dan mereka yang akan menjaga pintu gerbang) sebelum acara dimulai]
[Lalu pada saat momen pemain yang telah menjadi zombie berkumpul di depan asrama menunggu instruksi selanjutnya, pintu gerbang tetap dijaga agar pemain hidup tidak mencoba meloloskan diri]
[Poinnya di sini mungkin bisa menambah sedikit jumlah zombienya. Staff atau yang lainnya bisa berpartisipasi juga. Hal ini mengingat kemungkinan pemain hidup mungkin tersisa banyak]
“Teman sekelas? Jadi yang ada di video itu memang sudah menjadi zombie sebelum acara dimulai?” gumam Ryou pelan
“Karena tertulis demikian, artinya itu benar. Berarti sesuai tulisan ini, kita akhirnya bisa mengetahui semua misteri di balik semua zombie yang menjaga gerbang itu”
“Ini gila. Seperti semuanya ternyata telah diatur dalam naskah event. Kalau begini, sama saja nasib kita telah digariskan dalam tulisan ini. Benar-benar menggelikan” Ryou bergumam karena kesal
Kaito menekan tombol geser kursor ke halaman sebelumnya dan menunjuk poin sebelumnya.
“Di sini sudah tertulis bahwa pemain terpilih akan memberitaukan peserta hidup lain cara untuk menghentikan permainan. Dan setelah mereka berhasil keluar asrama bersama pemain terpilih itu, mereka berhasil lolos dari semua zombie dan mendapatkan kunci untuk mengakhiri event”
Ryou menunjuk baris akhir poin tersebut.
“Hanya bagian ini yang belum sepenuhnya terpenuhi, meskipun kita baru saja lolos dari kejaran mereka”
“Benar. Dan jika tulisan ini benar, maka kita akan selamat selama bersama pemain terpilih”
“Pemain terpilih di sini adalah dirimu, Song Haneul-san”
“Apa? Aku pemain terpilih?!”
******